Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Gadis Manusia yang Menyedihkan
"Sejatinya, jika seorang manusia memiliki pasangan dari kaum Merman, setelah mereka terikat oleh takdir The Heart Pearl, mereka tidak akan pernah bisa berjauhan! Kau tidak bisa membohongi indra penciumanku sebagai Siren."
Elara menjauhkan wajahnya, menyandarkan tubuh ringkihnya ke dinding sel sambil terus menyeringai puas. "Itu artinya, pasangan takdirmu adalah seorang Merman, Gadis Bodoh! Maka dari itu lautan menyeretmu ke sini walau itu bukan kemauanmu sendiri. Hahaha! Menarik sekali... mari kita lihat bagaimana akhir dari lelucon takdir ini."
Gadis manusia bernama Evelyn itu menggelengkan kepala dengan cepat, menepis ucapan Elara. "Kau mungkin salah dengar atau salah cium! Aku tidak tahu apa pun tentang dunia kalian. Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan seorang Merman atau manusia ikan sejenisnya. Bagaimana bisa aku memiliki pasangan seorang Merman? Hah, ini benar-benar lelucon yang sangat lucu. Aku tidak tertarik dengan urusan cinta-cintaan. Hidupku saja sudah sangat menderita, tidak ada waktu untuk memikirkan kekasih!"
Dari balik jerujinya, Elara mendengus geli melihat bantahan keras kepala si gadis fana. Namun, Zephyr menyela dengan tatapan lurus pada Evelyn. "Aku juga merasa ada yang ganjil, Elara. Bagaimana bisa seorang manusia fana murni bernapas dengan bebas di dalam air palung pekat ini?"
"Tentu saja ada cara, dan gadis itu adalah buktinya sekarang!" jawab Elara bersikeras. Elara tahu sihir kuno bawah laut tidak pernah salah memilih korbannya.
"Ssst... ada yang datang," bisik Zephyr mendadak menegang.
Trang! Trang! Trang!
Suara mata tombak besi yang digesekkan ke sepanjang jeruji koridor terdengar bergema nyaring. Suaranya kian mendekat, memotong ketegangan di antara mereka dan menembus lorong penjara yang pengap.
Elara segera menarik tubuhnya mundur ke sudut sel yang paling gelap, menyipitkan mata saat sesosok Merman berwajah luar biasa tampan muncul dari balik kegelapan lorong.
Dia tidak lain adalah Kaelen, sang pangeran. Elara menatapnya dengan kilatan kebencian yang samar; darah keluarga Marine selalu memicu dendam lamanya.
Langkah pangeran itu terhenti tepat di depan sel Evelyn. Sirip dan ekornya yang indah bergerak pelan, menyapu air yang menggenangi lantai lorong bawah tanah, sementara sorot matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat kumuh itu dengan rasa jijik yang telanjang.
Tanpa permisi, Kaelen merebut kunci dari penjaga, membuka jeruji besi sel Evelyn, lalu melangkah masuk ke dalam ruang sempit tersebut.
Di seberang sana, Elara menyaksikan Evelyn hanya diam membeku di sudut dinding, memandangi makhluk berekor ikan itu dengan kening berkerut dalam.
"Siapa kau?!" tuntut Evelyn ketakutan.
Kaelen tidak menjawab. Sebaliknya, dari pengamatan Elara, pangeran itu langsung mengunci kembali pintu sel dari dalam dan mengarahkan ujung tombaknya yang tajam tepat ke hadapan Evelyn.
Jleb!
Tanpa ada aba-aba ataupun belas kasihan, Kaelen menusukkan mata tombaknya tepat menghujam lengan kiri Evelyn.
"Arghhh!"
Jeritan kesakitan Evelyn menggema di dalam air, sementara cairan merah segar mulai merembes keluar membasahi pakaiannya, menodai kejernihan air di sekitar mereka. Gadis itu mencengkeram lengannya yang terluka seraya menatap Kaelen berang. "Kenapa kau menusukku, bajingan?!"
Pada detik berikutnya, Elara menangkap sesuatu yang menarik. Tubuh Kaelen mendadak menegang. Pangeran Merman itu meringis pelan, seolah-olah ujung tombaknya sendiri baru saja menggores kulitnya sendiri.
Elara menyeringai tipis di kegelapan; hukum kualifikasi takdir sedang bekerja. Namun, rasa benci rupanya telah mendarah daging di dalam jiwa pangeran muda itu, membakar habis rasa sakit fisik yang mendadak menyerangnya akibat ikatan takdir.
"Gadis sialan! Kau benar-benar membuatku murka!" desis Kaelen, napasnya memburu di dalam air. "Aku tidak sudi hidup berdampingan denganmu, apalagi melihat wajahmu! Aku tidak peduli jika harus mati. Melihatmu tersiksa seperti ini jauh lebih memuaskan bagiku. Jika aku harus mati perlahan karena takdir sialan ini, maka aku juga akan membuat hidupmu sekarat setiap saat!"
Elara mengamati Evelyn yang sontak tertegun. Di tengah rasa perih yang membakar lengan kirinya, gadis fana itu tampak terpaku mendengar suara bariton Kaelen—seolah suara itu memicu sebuah kilasan ingatan asing di kepalanya. Atmosfer di dalam penjara mendadak hening mencekam.
Para tahanan di sel lain memilih bungkam, tidak ada yang berani bersuara atau berniat menolong di hadapan kemurkaan sang pangeran.
"Kaelen... kaukah itu?" bisik Evelyn parau.
"Tidak penting siapa aku!" sentak pangeran Merman itu dingin. "Yang jelas, kau tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Kau akan membusuk di dalam penjara ini!"
"Sampai kapan?!" tantang Evelyn. Suaranya melengking tinggi menembus dinginnya air, menahan rasa perih luar biasa yang membakar dagingnya tanpa ada satu pun tetes air mata yang jatuh.
Elara sedikit tertegun; gadis manusia ini tidak menangis sama sekali. Kekuatan mental yang langka untuk ukuran makhluk fana yang rapuh.
"Sampai kapan kau akan membenciku tanpa alasan?! Jika kau memang sangat membenciku, kenapa tidak langsung kau habisi saja nyawaku detik ini juga?!"
Sret!
"Arghhh!" Evelyn kembali menjerit tertahan saat Kaelen menarik paksa mata tombaknya tanpa belas kasihan.
Kaelen tidak sudi menjawab tantangan tersebut. Dengan tatapan sedingin es, ia berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan area penjara bawah tanah dengan gema kemurkaan mutlak.
Setelah Kaelen lenyap dari koridor, Elara melangkah maju mendekati jeruji selnya. Ia menatap tubuh Evelyn yang merosot perlahan hingga terduduk di lantai batu yang dingin sambil memegangi lengan kiri yang terus mengucurkan darah.
"Gadis kecil, kau tampak semakin menyedihkan," ucap Elara, memecah keheningan dengan suara seraknya. "Tapi, tampaknya sekarang aku tahu siapa mate-mu. Aku sungguh tidak menyangka kalau pangeran Merman yang kejam itu adalah pasangan takdirmu."
Evelyn menoleh ke arah Elara dengan raut wajah datar yang menyembunyikan rasa sakitnya. "Dia bukan pasanganku. Lagipula, dia sangat membenciku. Entah kesalahan apa yang sudah kuperbuat sampai ia bertindak sekejam ini. Dia terus mengatakan hal-hal aneh yang tidak kupahami. Dia menyuruhku memuntahkan dan mengembalikan mutiaranya. Jelas aku tidak mengerti! Seingatku... aku tidak pernah sekalipun mencuri barang berharga milik duyung sialan itu. Aku hanya berasumsi kebenciannya itu karena ia masih menyimpan dendam masa lalu kepadaku."
"Rupanya kau ini sangat bodoh!" sahut Elara, melepaskan tawa getir sambil menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi rambut kusut mirip lumut. "Kau tidak sadar kalau kau bukan sekadar mencuri barang berharga miliknya, tapi kau sudah menelan The Heart Pearl milik klan Merman! Kau tahu, mutiara itu bukan sembarang benda magis fana. Itu adalah tanda pengikat jiwa paling sakral bagi kaum kami."
Evelyn menggelengkan kepala dengan cepat, menolak percaya pada penjelasan Elara. "Apa kau bilang? Aku... aku tidak pernah memakan apa pun, apalagi mutiara miliknya!"
"Coba kau ingat-ingat lagi dengan saksama. Mana mungkin kau tidak tahu apa-apa," sela Zephyr, suaranya baritonnya mencoba meredam kepanikan Evelyn. "Barangkali kau tidak sengaja menelan benda bulat yang mirip dengan mutiara hitam. Lagipula, ini bukan sepenuhnya salahmu. Pangeran Merman itu juga bersalah karena ceroboh. Aku yakin dia telah menghilangkan The Heart Pearl miliknya sendiri, dan kau tanpa sengaja menelannya di daratan."
Elara terus mengunci pandangannya pada Evelyn yang mendadak terdiam cukup lama. Dari balik kegelapan, Elara bisa melihat sorot mata gadis itu mendadak kosong, seolah pikirannya terlempar jauh ke rentetan kejadian di daratan sebelum ia terseret ke Abyssal Trench ini.
Elara membiarkan keheningan itu bertahan, menunggu kejujuran apa yang akan terungkap dari ingatan sang manusia fana.
'Mungkinkah... benda yang diambil Sofia dari atas pasir waktu itu bukan obatku, melainkan mutiara hitam itu?' batin Evelyn berkecamuk.
'Tidak... tidak mungkin.'
Satu teka-teki lagi mendadak terjawab di kepala gadis fana itu. Ia teringat pada tanda aneh berbentuk pola sisik yang tiba-tiba muncul dan menghias pundak kirinya setelah kejadian di pantai.
"Kalau begitu... apa kalian tahu tentang pola aneh yang ada di pundakku ini?" tanya Evelyn parau. Dengan tangan gemetar, ia sedikit menyingkap sweter merah muda yang dikenakannya, memperlihatkan kulit bahunya kepada dua makhluk di sel seberang.
Dari balik jeruji gelap, sepasang mata Elara dan Zephyr membelalak sempurna secara bersamaan.
"Itu tanda mate mutlak dari klan Merman,"