NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Secangkir coklat hangat

Malam semakin larut ketika mobil sedan hitam Mas Arkan akhirnya kembali terparkir dengan aman di area parkir bawah tanah apartemen. Gerimis tipis yang sejak sore mengguyur kota kini telah sepenuhnya mereda, meninggalkan aroma tanah basah yang khas dan udara malam yang bertiup jauh lebih dingin dari biasanya.

Kami berdua berjalan beriringan menyusuri koridor sunyi lantai lima belas menuju unit 1507.

Mas Arkan membawa dua kantong belanja besar yang sarat akan bahan makanan segar di kedua tangan kekarnya, sementara aku berjalan di sebelahnya sembari memeluk erat satu kantong plastik kecil berisi stok camilan keripik kentangku dengan perasaan yang sangat gembira.

Begitu pintu unit terbuka dengan bunyi klik otomatis, kehangatan pendingin ruangan yang menyala pelan langsung menyambut kedatangan kami.

"Letakkan camilan kamu di atas meja tengah, Karin. Lalu bantu saya merapikan bahan makanan ini ke dalam kulkas," ujar Mas Arkan sembari melangkah lebar menuju area dapur bersih dan meletakkan kantong-kantong belanjaan di atas meja konter marmer hitam.

"Siap, Mas!" sahutku bersemangat.

Aku segera meletakkan kantong camilanku di atas sofa krem, lalu berlari kecil menghampiri Mas Arkan di dapur. Kami mulai membagi tugas dengan sangat kompak tanpa perlu banyak bicara lagi. Mas Arkan bertugas mengeluarkan wadah-wadah plastik kedap udara dari lemari gantung, sedangkan tugas pribadiku adalah mencuci beberapa sayuran hijau, tomat, dan wortel yang baru kami beli di bawah aliran air wastafel yang dingin sebelum disimpan.

Suasana dapur yang sunyi itu hanya dihiasi oleh suara gemercik air wastafel dan sesekali bunyi gesekan wadah plastik yang saling bersentuhan.

Saat aku sedang sibuk mengeringkan beberapa buah tomat merah segar menggunakan selembar tisu dapur, aku tidak sengaja melirik ke arah Mas Arkan yang berdiri tepat di sebelahku. Pria itu tampak sangat fokus menyusun potongan daging ayam yang sudah dibersihkan ke dalam kotak penyimpanan dengan gerakan tangan yang sangat teratur dan rapi—persis seperti seorang dokter bedah yang sedang melakukan operasi penting.

Ganteng banget ya kalau lagi serius kayak gini, batinku spontan tanpa sadar, memandangi rahang kokohnya yang tegas dari samping dan beberapa anak rambut basahnya yang kini sudah mulai mengering acak-acakan di dahinya.

"Karin," panggil Mas Arkan tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari kotak daging di hadapannya.

"E-eh! Iya, Mas?" jawabku tersentak kaget, merasa ketahuan karena memperhatikannya terlalu lama untuk kesekian kalinya hari ini.

"Tomatnya sudah cukup kering. Jangan dilap terus-menerus sampai kulitnya mengelupas seperti itu," ujarnya dengan sudut bibir yang berkedut halus menahan senyum geli.

Aku menurunkan pandanganku ke arah tanganku sendiri. Benar saja, tomat merah di genggamanku sudah sangat bersih dan hampir hancur karena terus-menerus kuusap dengan tisu dapur sejak dua menit yang lalu akibat melamun memandangi wajah suamiku sendiri.

"A-ah! Iya, Mas. Maaf, Karin agak melamun tadi," sahutku buru-buru menaruh tomat malang itu ke dalam wadah penyimpanan dengan wajah yang mendadak kembali memerah sempurna karena malu.

Mas Arkan meletakkan kotak daging terakhir ke dalam kulkas, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku yang sedang menundukkan kepala berpura-pura sangat sibuk membersihkan sisa tisu dapur di wastafel.

"Melamunkan apa? Masih memikirkan kejadian di kampus tadi siang?" tanyanya dengan nada suara yang terdengar sangat lembut, kehilangan seluruh wibawa dingin khas dosennya.

Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaannya. Keheningan malam di dapur ini mendadak terasa sangat intim dan sarat akan emosi yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Getaran debaran jantungku saat berhimpitan di balik lemari arsip siang tadi rasanya kembali menyeruak naik ke permukaan, membuat dadaku terasa sangat sesak karena gugup.

"Nggak kok, Mas. Cuma... Karin masih agak merasa aneh aja," jawabku jujur sembari meremas ujung kardigan rajut kuning kunyit yang kupakai.

"Aneh kenapa?" Mas Arkan melangkah satu kali lebih dekat, bersandar pada pinggiran meja konter dengan kedua tangan terlipat di dada, menatapku lurus-lurus dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang sangat teduh.

"Ya... aneh aja. Di kampus kita harus pura-pura gak kenal dan manggil Pak Arkan dengan sangat sopan, tapi begitu sampai di rumah kita malah belanja bareng, masak bareng, bahkan berdiri sedekat ini di dapur," ujarku pelan, menuangkan seluruh kebingungan yang berkecamuk di dalam kepalaku sejak beberapa hari terakhir ini. "Karin kadang ngerasa kayak punya dua kehidupan yang berbeda dalam satu hari."

Mas Arkan terdiam mendengar seluruh keluh kesahku yang mengalir jujur. Tatapan matanya yang tajam perlahan melembut, menyiratkan pemahaman yang sangat dalam atas kebingungan yang kurasakan sebagai seorang mahasiswi muda yang mendadak harus membagi fokus hidupnya dengan status pernikahan rahasia ini.

Ia mengulurkan tangan kanannya perlahan, menyentuh puncak kepalaku dengan usapan yang sangat lembut dan hangat—sebuah gerakan yang sangat menenangkan hingga membuat seluruh ketegangan di pundakku perlahan luruh sepenuhnya.

"Saya mengerti, Karin. Ini memang tidak mudah untuk kamu, dan saya minta maaf karena harus melibatkan kamu ke dalam situasi rumit seperti ini," suaranya terdengar sangat tulus dan rendah di dalam keheningan dapur malam itu. "Tapi kamu tidak perlu cemas. Perlahan-lahan kita akan terbiasa dengan ritme ini. Selama di rumah, lupakan semua status saya sebagai dosen kamu di kampus. Di sini, saya hanya Arkan... pria yang bertanggung jawab untuk memastikan kamu selalu merasa aman dan nyaman."

Mendengar penuturannya yang begitu kokoh dan penuh dengan rasa tanggung jawab yang murni, dadaku rasanya seperti dialiri oleh aliran air hangat yang sangat menyejukkan. Sepasang mataku menatap lekat-lekat ke arah wajah tampannya, merasakan getaran kenyamanan yang sangat nyata mulai tumbuh subur di dalam sudut hatiku yang terdalam untuk sosok pria di hadapanku ini.

"Iya, Mas Arkan. Terima kasih ya..." bisikku tulus dengan seulas senyuman manis yang mengembang indah di kedua sudut bibirku.

Mas Arkan menarik kembali tangannya dari kepalaku dengan gerakan yang sangat lambat, seolah ia sendiri enggan melepaskan kehangatan sentuhan itu terlalu cepat. Ia berdeham pendek untuk mencairkan suasana canggung yang kembali menyelimuti kami.

"Ya sudah. Sekarang kamu duduk di meja makan. Saya buatkan secangkir cokelat hangat untuk membantu kamu tidur lebih nyenyak malam ini," perintahnya sembari mulai menyalakan kompor gas portabel dan meletakkan panci kecil di atasnya.

"Wah, mau banget, Mas! Makasih!" sahutku girang, langsung mengambil posisi duduk di kursi meja makan tinggi yang berada tepat di seberang meja konter dapur bersih.

Aku menopang daguku dengan kedua tangan di atas meja marmer, memperhatikan dengan seksama bagaimana Mas Arkan menyeduh bubuk cokelat premium dengan susu cair hangat ke dalam dua cangkir keramik cantik berwarna abu-abu. Gerakan tangannya yang sangat teliti dan terampil membuatku semakin yakin bahwa di balik jubah dingin dosen killer-nya di kampus, Mas Arkan adalah sosok pria yang sangat hangat, penuh perhatian, dan diam-diam sangat tahu bagaimana cara memperlakukan seorang perempuan dengan sangat lembut.

Secangkir cokelat hangat yang mengepulkan aroma manis nan pekat diletakkan di hadapanku beberapa menit kemudian.

Kami menikmati minuman hangat itu bersama-sama di bawah temaramnya cahaya lampu gantung dapur malam itu, saling berbagi cerita ringan tentang mata kuliah semester baru tanpa ada lagi sekat kecanggungan yang membatasi interaksi kami. Di luar jendela apartemen lantai lima belas, bintang-bintang malam mulai bermunculan satu per satu menghiasi langit hitam yang sunyi, menjadi saksi bisu bagaimana hubungan pernikahan kontrak kami perlahan-lapan mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata dari sekadar baris-baris kalimat tertulis di atas kertas perjanjian kulkas kami.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!