Ketika langit malam berkedip dan suara mekanis yang dingin bergema di benak miliaran manusia, Bumi tidak lagi sama. Kiamat tidak datang membawa api dari neraka atau wabah mematikan, melainkan sebuah layar biru transparan yang melayang di udara.
Era damai telah dihancurkan oleh "Sistem". Manusia secara paksa ditarik ke dalam arena kelangsungan hidup semesta, di mana monster bermunculan dari bayang-bayang dan hukum rimba menjadi satu-satunya aturan. Beradaptasi, berevolusi, atau mati.
Yudha, seorang mekanik penyendiri yang lebih nyaman berbicara dengan mesin daripada manusia, secara tidak sengaja meretas anomali sesaat sebelum kiamat dimulai. Berkat sebuah kubus hitam misterius yang ia temukan di pasar loak, Sistem salah mengidentifikasinya dan memberikannya kelas yang belum pernah tercatat dalam sejarah integrasi: Mekanik Kosmik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Kumbang Pengepul dan Pusat Perbelanjaan
Kabut ungu di jalanan perlahan menipis seiring dengan matinya sang penguasa wilayah. Cahaya matahari pagi mulai menembus sela-sela awan abu-abu, menyinari pemandangan mengerikan di perumahan yang telah hancur lebur tersebut.
Yudha berdiri tenang di depan bangkai Algojo Zirah Tulang. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah batu kristal seukuran kepalan tangan balita yang memancarkan pendaran merah pekat—Inti Energi Padat Tingkat 5. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gulungan kertas perkamen tua yang terbuat dari bahan aneh, tidak bisa basah maupun sobek.
Ia membuka antarmuka Sistem di benaknya. Dengan lima poin atribut bebas dari kenaikan tingkat sebelumnya, ia tidak ragu untuk mengalokasikannya.
"Sistem, masukkan semua poin ke Kecerdasan."
[Distribusi poin dikonfirmasi.]
[Kecerdasan: 23 -> 28]
[Batas Daya Komputasi Meningkat: 150 -> 200]
Rasa dingin yang menyegarkan kembali menyapu otaknya. Pandangannya menjadi sangat tajam, hingga ia bisa melihat detail retakan rambut pada lempeng tulang raksasa di depannya tanpa harus berjongkok. Pikirannya bekerja sangat cepat, menyusun rencana pembangunan dan taktik pertarungan dalam sepersekian detik.
Yudha kemudian mengalihkan perhatiannya pada gulungan di tangannya. Begitu matanya menatap benda itu, teks biru keemasan muncul.
[Benda Terdeteksi: Gulungan Cetak Biru Peringkat Menengah]
[Apakah Anda ingin mempelajarinya?]
"Pelajari."
Gulungan itu hancur menjadi debu cahaya dan melesat masuk ke tengah alis Yudha. Segera setelah itu, sebuah rancangan mekanis yang rumit tergambar di dalam benaknya.
[Cetak Biru Terbuka: Kumbang Baja Pengangkut (Peringkat Menengah)]
Fungsi: Mesin otonom berkaki enam yang dirancang khusus untuk membawa beban berat dan mengumpulkan material di medan perang. Memiliki ruang penyimpanan internal yang dapat memampatkan benda tak bernyawa.
Material yang Dibutuhkan: 500 Kilogram Baja/Besi, Motor Penggerak Ganda, Jaringan Kabel Tembaga, Inti Energi Tingkat 4.
Biaya Perakitan: 150 Daya Komputasi.
Mata Yudha berbinar pias. Ini adalah benda yang sangat ia butuhkan. Masalah terbesar dalam ekspedisi pengumpulan sumber daya di era kiamat ini adalah keterbatasan daya angkut manusia dan risiko diserang monster saat membawa beban berat. Dengan mesin ini, efisiensi perburuannya akan berlipat ganda.
Yudha menyimpan rancangan itu di kepalanya, lalu menoleh ke arah Bara dan tiga mantan preman yang masih berdiri gemetar.
"Bara!" panggil Yudha tajam.
Pria botak itu tersentak, buru-buru berlari mendekat dengan kepala tertunduk. "S-siap, Ketua!"
"Zirah tulang di tubuh raksasa ini sekeras baja murni," ucap Yudha, menunjuk bangkai sang Algojo. "Gunakan parang dan pipa besi kalian. Congkel semua tulang putihnya. Kumpulkan menjadi satu tumpukan. Jangan sampai ada yang terlewat."
"B-baik, Ketua. Tapi... bagaimana cara kita membawanya kembali ke markas? Tulang-tulang ini pasti sangat berat," Bara memberanikan diri untuk bertanya.
"Itu bukan urusanmu. Lakukan saja tugasmu," balas Yudha dingin.
Bara tidak berani membantah lagi. Ia segera mengerahkan tiga anak buahnya untuk mulai membongkar tulang-tulang sang monster. Pekerjaan itu sangat sulit karena sisa-sisa daging dan otot raksasa itu sangat liat, namun di bawah tatapan mematikan Yudha, mereka bekerja sekuat tenaga hingga tangan mereka berdarah.
Sementara itu, Yudha menatap Lin Tian dan Lin Chen yang sedang membalut luka memar mereka menggunakan sisa kain.
"Berapa banyak energi yang masih kalian rasakan di tubuh kalian?" tanya Yudha.
Lin Tian berdiri tegak. "Napas saya sudah kembali normal, Ketua. Tulang yang terbentur tadi masih nyeri, tapi saya bisa bertarung seratus persen."
"Bagus. Berjaga di sini bersama mereka. Aku akan memeriksa pusat celah dimensi di ujung jalan sana," kata Yudha sambil menunjuk ke arah retakan bercahaya ungu yang melayang di atas sebuah bangunan besar, sekitar lima ratus meter dari posisi mereka.
Bangunan itu dulunya adalah sebuah pusat perbelanjaan grosir bertingkat tiga yang terkenal di kota ini. Tempat itu pasti dipenuhi oleh makanan kaleng, air bersih, perkakas, dan pakaian—harta karun yang tak ternilai bagi kelangsungan hidup Tatanan Besi Hitam.
"Sendirian, Ketua? Biarkan kami ikut," tawar Lin Chen cemas.
"Tidak perlu. Makhluk Tingkat 5 tadi adalah penguasa wilayah ini. Makhluk-makhluk kecil lainnya sudah lari ketakutan atau bersembunyi. Lagipula, aku hanya memantau. Tetap di sini dan selesaikan pekerjaan kalian."
Tanpa menunggu jawaban, Yudha melangkah pergi menembus sisa-sisa kabut ungu. Lengan mekanis peleburnya kembali menjadi warna hitam pekat, namun siap diaktifkan dalam hitungan milidetik jika ada ancaman mendekat.
Sepuluh menit kemudian, Yudha tiba di pelataran parkir pusat perbelanjaan tersebut.
Retakan dimensi melayang sekitar sepuluh meter di atas atap bangunan. Retakan itu panjangnya mencapai belasan meter, tampak seperti luka robek di udara itu sendiri. Energi ungu terus menetes dari celah tersebut, menyatu dengan udara bumi. Dari apa yang Yudha baca di pengumuman Sistem, celah seperti ini adalah gerbang satu arah tempat monster dari dimensi lain dijatuhkan ke Bumi.
Pintu masuk utama pusat perbelanjaan itu terbuat dari kaca tebal yang kini telah hancur berantakan. Noda darah segar dan jejak seretan panjang terlihat jelas di lantai keramik putihnya.
Yudha melangkah masuk tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Agilitasnya yang berada di angka 12 membuatnya bergerak seringan bulu.
Udara di dalam bangunan itu pengap dan berbau busuk. Rak-rak barang dagangan berserakan, dan banyak produk berhamburan di lantai. Namun, insting Yudha segera menangkap sesuatu yang tidak beres.
Di lantai dua bangunan tersebut, sayup-sayup terdengar suara benturan logam dan isak tangis tertahan.
Mata Yudha menyipit. Ada penyintas lain.
Ia berjalan menyusuri eskalator yang mati, melangkah naik dengan penuh kehati-hatian. Sesampainya di lantai dua, yang dulunya merupakan area swalayan dan peralatan rumah tangga, ia melihat sebuah pemandangan yang menarik.
Sekitar dua puluh orang manusia—pria, wanita, dan beberapa anak-anak—terpojok di area gudang belakang yang dilindungi oleh barikade kasar berupa tumpukan rak piring dan kulkas.
Di luar barikade itu, empat ekor Anjing Neraka Mutan (Tingkat 2) dan dua ekor Pengintai Kulit Besi (Tingkat 3) sedang memutari mereka, mencari celah untuk masuk. Monster-monster ini tampaknya lari ke dalam gedung saat Algojo Zirah Tulang berkuasa di jalanan, dan kini mereka menemukan mangsa empuk yang terkurung.
Tiga orang pria dewasa dari kelompok penyintas itu berdiri di balik barikade, mati-matian menahan serangan monster dengan menggunakan tombak pel lantai dan palu martil. Lengan salah satu pria itu telah robek parah, darahnya mengalir membasahi lantai, membuat monster-monster di luar barikade semakin beringas akibat bau amis tersebut.
"Tahan! Jangan biarkan mereka masuk!" teriak pria yang terluka itu, wajahnya pucat pasi di ambang kematian.
Seekor Pengintai Kulit Besi mendesis keras. Makhluk ramping bersisik tebal itu mengambil ancang-ancang, bersiap melompat melewati tumpukan kulkas untuk membantai orang-orang di dalam sana.
Yudha bersandar pada dinding di dekat eskalator, menyilangkan lengannya di dada. Ia sama sekali tidak berniat untuk langsung menolong mereka layaknya pahlawan berhati suci.
Sebaliknya, senyum dingin mengembang di wajahnya. Dua puluh orang pekerja tambahan dan sebuah pusat perbelanjaan utuh yang berisi berton-ton sumber daya.
"Sepertinya Tatanan Besi Hitam akan mendapatkan banyak darah baru hari ini," gumam Yudha pelan, sembari mengalirkan energi ke lengan mekanisnya.