Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : BISIKAN YANG MULAI TERDENGAR
...BAB 9...
...BISIKAN YANG MULAI TERDENGAR...
Seminggu itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Dulu, kejanggalan kecil hanya dianggap kesalahan sistem. Kecerobohan data. Sekarang, semua kejanggalan itu duduk berderet. Rapi. Seperti puzzle yang akhirnya membentuk gambar.
Bukti-bukti palsu. Ditanam satu per satu. Malam demi malam. Oleh tangan orang kepercayaan Raka.
Tidak meledak. Hanya bergema. Pelan. Sampai akhirnya seluruh ruangan mendengar.
Di kantor hukum tempat Alina mengabdi, suasana yang dulu selalu hangat dan penuh rasa hormat menyapanya, kini perlahan berubah dengan sikap yang dingin.
Di sudut‑sudut ruangan, di antara tumpukan berkas, saat istirahat minum kopi, mulai terdengar bisikan‑bisikan pelan yang tak pernah ada sebelumnya. Ada yang bercerita soal catatan akses aneh atas nama Alina pada jam‑jam dini hari. Ada yang mempertanyakan kemiripan aneh antara tanda tangan digitalnya dengan yang tercantum dalam perjanjian‑perjanjian samar di berkas Pradana Group. Dan tiba-tiba ada yang berkomentar pelan, terdengar.
“Wah, kalau benar begitu, hebat sekali ya dia bisa menang terus‑menerus, ternyata ada jalur lain juga.”
Awalnya Alina berusaha menanggapi dengan kepala dingin, persis seperti yang diajarkan guru‑gurunya di Al‑Azhar, jangan menjawab fitnah dengan emosi, jawablah dengan ketenangan dan kebenaran yang nyata.
Dia jelaskan berulang kali bahwa dia tidak pernah mengakses sistem di jam‑jam itu, tidak pernah menandatangani dokumen aneh itu, dan sama sekali tidak tahu‑menahu soal aliran dana yang dimaksud. Dia ubah sandi akun berkali‑kali, minta bagian IT untuk memeriksa sampai tuntas, tapi selalu saja ada celah baru yang muncul entah dari mana itu, selalu saja jejak aslinya lenyap tak bersisa seolah tidak pernah ada.
Semakin dia berusaha membersihkan namanya, semakin banyak hal aneh yang bermunculan seolah sengaja menantangnya.
Sampai suatu pagi, ketua kantor memanggilnya masuk ke ruang kerja dengan wajah yang sangat berat. Di atas meja sudah tergeletak berkas tebal yang isinya seluruh rangkaian data aneh itu, disusun berurutan rapi dari yang paling tua sampai yang terbaru.
“Alina… kamu tahu betul aku sangat menghargai integritas mu, akhlakmu, dan cara kamu bekerja,” ucap ketua kantor pelan namun terdengar berat sekali. “Tapi semua ini kalau disatukan, ceritanya sangat meyakinkan. Orang luar tidak akan melihat prosesnya. Mereka hanya akan melihat angka, tanggal, dan nama yang tertulis jelas di sana. Sampai kapan pun kita harus hati‑hati. Untuk sementara, kamu kami lepaskan dulu dari penanganan perkara besar, termasuk kasus Arka Pradana. Sampai semuanya benar‑benar jelas.”
Kalimat itu menghantam dada Alina sekeras‑kerasnya. Bukan karena takut kehilangan jabatan atau kepercayaan. Tapi karena dia sadar sempurna, ini baru permulaan. Inilah yang direncanakan Raka Haris sedemikian rupa, merusak perlahan, membuat orang lain meragukan sedikit demi sedikit, sampai pada puncaknya nanti saat dia menjatuhkan pukulan terakhir, semua orang akan langsung percaya begitu saja tanpa perlu bertanya lagi.
Sore harinya Farhan datang menjemput seperti biasa. Begitu melihat wajah calon istrinya yang pucat dan lelah sekali, dia langsung paham segalanya tanpa perlu banyak bicara. Dia mengajak Alina berjalan kaki mengelilingi taman kota yang luas dan berangin kencang—tempat paling aman untuk berbicara jujur tanpa takut ada alat apa pun yang mendengar. Di sana Alina mencurahkan semuanya, sampai air matanya akhirnya menetes juga, lelah menahan segala tuduhan tak berdasar itu. Farhan berdiri di hadapannya, tangannya mengepal erat menahan amarah yang mendidih, tapi suaranya tetap lembut menenangkan.
“Dia tidak sedang membuktikan kamu bersalah, Lin. Dia sedang membangun persepsi. Dia tahu betul hukum itu tidak hanya soal bukti materiil, tapi juga soal apa yang dipercaya orang banyak. Dan karena dia sudah lima tahun menyiapkan semuanya, jejak aslinya dia hapus sampai ke akar‑akarnya,” ucap Farhan pelan, sorot matanya tajam memikirkan setiap kemungkinan.
“Setiap kali aku hampir menemukan titik asal serangan data itu, selalu saja ada sesuatu yang memutus jalur tepat saat itu juga. Bukan orang sembarangan yang bisa melakukan ini. Dia mengerti sistem ini sampai ke tulang sumsumnya.”
Apa yang tidak mereka ketahui, di saat yang sama persis, di balik kaca gelap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, Raka sedang duduk sendirian memegang kepalanya dengan kedua tangannya, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit yang luar biasa.
Di layar di hadapannya terpantau jelas seluruh perkembangan hari ini, bagaimana Alina dipanggil ketua kantor, bagaimana dia berjalan keluar dengan langkah yang lebih berat dari biasanya, bagaimana air matanya jatuh di taman saat bercerita pada Farhan.
Dialah penyebab semua itu. Dialah yang setiap malam memberi perintah menanam satu per satu jejak palsu itu. Dialah yang membayar orang dalam, yang merancang setiap alur data, yang mengatur waktunya sedemikian rupa agar perlahan tapi pasti nama baik Alina akan terkikis. Tapi di saat yang sama, dialah yang paling terluka melihatnya.
Awalnya dia berjanji pada dirinya sendiri, ini semua murni dendam. Membalas apa yang dilakukan keluarga Mahendra pada ayahnya dan nama besar Haris. Tapi kini kenyataannya jauh lebih menyedihkan. Setiap kali perintah jahat keluar dari mulutnya, hatinya terasa seperti ditusuk berulang kali dengan benda tajam. Berkali‑kali jari telunjuknya melayang di atas tombol yang bisa menghapus seluruh bukti itu hanya dalam sedetik. Berkali‑kali dia ingin berhenti, ingin membuang semua rencana busuk itu, ingin lari saja sejauh‑jauhnya dan tidak pernah kembali lagi.
Tapi setiap kali matanya menangkap gambar Farhan yang selalu ada di samping Alina, yang selalu ada saat dia susah maupun senang, yang berhak berdiri di sana dengan halal dan suci—saat itulah cemburu buta dan dendam warisan itu kembali mengambil alih seluruh akal sehatnya.
Dia benci Farhan bukan karena apa yang dilakukan laki‑laki itu padanya. Tapi karena Farhan memiliki segalanya yang paling dia inginkan di dunia ini, hak untuk menyayangi Alina dengan jujur, tanpa topeng, tanpa dendam, tanpa rahasia kelam di belakang punggung.
Malam harinya, seperti biasa dia datang lagi ke rumah keluarga Mahendra dengan wajah Arka Pradana yang sempurna. Senyum ramah, rendah hati, membawa oleh‑oleh kesukaan Bu Kirana, berbicara sopan santun seolah tidak tahu apa‑apa soal keributan di kantor hukum itu. Bahkan dia berani‑beraninya berkata dengan nada prihatin sekali,
“Aku sempat denger kabar kurang enak beredar di luar sana soal Alina. Sungguh tidak masuk akal. Aku yang menjadi klien saja sangat yakin sepenuh hati, Alina tidak mungkin melakukan hal‑hal buruk seperti itu. Siapa pun yang menyebarkan atau merencanakannya, pasti orang yang sangat iri dan berhati busuk.”
Bu Kirana dan Pak Aditya mengangguk‑angguk sependapat, makin kagum dengan keluhuran hati pemuda itu. Hanya Alina yang diam memejamkan mata sebentar, menahan dada yang makin sesak.
Dia menangkap jelas sekali getaran aneh di balik suara itu. Dia tahu persis siapa yang berbicara, dan dia juga mulai mengerti sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar dendam biasa, bahwa laki‑laki di hadapannya itu, setiap kali menyakiti namanya, dia sedang menyakiti dirinya sendiri dua kali lebih dalam.
Saat berpamitan pulang, berpapasan sebentar dengan Farhan yang baru saja masuk melewati pagar, tatapan mata mereka bertemu sekilas saja. Cukup bagi Farhan menangkap kilatan cemburu yang menyala terang di dasar bola mata Arka.
Dan cukup bagi Raka sendiri merasakan dinginnya kewaspadaan mendalam dari laki‑laki itu. Tidak ada kata yang terucap diantara mereka. Tapi keduanya paham, perang sesungguhnya baru saja benar‑benar dimulai.
Dan di dalam hati Raka, pertanyaan yang sama terus berulang tanpa jawaban sampai malam itu berakhir.
Sampai kapan aku harus terus begini? Menghancurkan satu‑satunya wanita yang mulai aku cintai, hanya supaya aku tidak melihat dia bahagia bersama orang lain?
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏