NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Jerat Hasrat.

***

Rasa perih dan panas di bibir Freya kian menjadi saat lumat4n Galen terasa semakin menuntut.

Sialan.

Ini adalah kali kedua pria itu merebut paksa kesucian bibirnya tanpa izin. Kedua tangan mungil Freya bergerak brutal, memukul dan mendorong dada bidang Galen yang terbalut kemeja hitam, mencoba mencari celah udara.

Namun, entah dorongan dari mana, Galen justru semakin memperdalam pagut4nnya. Cengkeraman tangan kekar sang duda di tengkuk Freya kian mengunci, merampas seluruh pertahanan diri gadis remaja itu hingga tak bersisa.

Harusnya ini tidak boleh terjadi. Hubungan mereka berdua hanya sebatas saudara angkat. Di dalam kabin mobil yang sempit itu, Freya merasa harga dirinya telah diinjak-injak sampai ke titik terendah. Rasa terhina yang luar biasa perih menyerang dadanya, membuat air mata Freya menetes begitu saja melewati pipinya yang memerah.

Bruk!

Dengan sisa tenaga terakhir yang ia kumpulkan dari seluruh amarahnya, Freya menyentak keras dada bidang Galen. Dorongan tiba-tiba itu berhasil membuat pautan bibir mereka terlepas kasar.

Napas Freya memburu pendek, dadanya naik turun dengan cepat. Ia langsung mengusap bibirnya yang membengkak dengan punggung tangan berulang kali sembari menatap Galen dengan kilat kebencian yang mendalam.

"Kak Galen benar-benar sakit jiwa!". Raung Freya dengan suara yang serak dan bergetar menahan tangis yang pecah. "Hukuman macam apa ini, hah?! Kenapa Kakak selalu melecehkanku seperti ini?! Aku ini adik angkatmu, Kak!".

Galen menarik tubuh tegapnya mundur setapak, bersandar kaku pada roda kemudi. Napasnya ikut memburu pendek. Sepasang mata elangnya menatap datar ke arah bibir ranum Freya yang basah, sebelum beralih menatap lurus ke depan jalanan. Wajah tampannya kembali bertransformasi menjadi topeng es yang sedingin kutub.

"Itu adalah hukuman karena kau sudah berani menampar saya, Freya!". Jawab Galen, suaranya terdengar bariton rendah, kaku, dan seolah tanpa dosa.

"Hukuman?! Menjijikkan!". Pekik Freya tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria di sampingnya. "Otak Kakak benar-benar sudah rusak! Menghukum orang dengan cara menciumnya?! Kakak benar-benar monster tanpa hati!".

Galen tidak memedulikan makian kasar yang keluar dari mulut Freya. Tanpa membalas sepatah kata pun lagi, ia memutar kunci kontak secara kaku. Mesin Mercedes-Benz hitam itu kembali menderu halus. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu langsung menginjak pedal gas, melanjutkan kembali perjalanan mengendarai mobil mewahnya membelah keheningan malam yang basah.

Namun, di balik wajah datarnya yang acuh tak acuh, sebuah badai berkecamuk hebat di dalam dada sang duda. Galen merutuki dirinya sendiri dengan perasaan frustrasi yang amat pekat.

Pikiran dan tubuhnya benar-benar tidak sejalan malam ini. Logika dewasanya dengan tegas mengatakan bahwa ia membenci gadis ini. Freya adalah parasit pembawa sial yang merenggut nyawa istrinya.

Sialan.

Lalu kenapa tubuhnya justru berkhianat?

Kenapa hasrat binal di dalam dirinya selalu bangkit setiap kali melihat bibir Freya mengoceh menantangnya?

Galen mencengkeram erat setir mobil hingga buku jarinya memutih, menyadari bahwa fokus profesionalnya malam ini telah hancur total akibat ulah seorang gadis remaja.

Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada lagi yang berbicara. Kabin mobil kembali diliputi oleh keheningan yang kaku dan mencekam. Freya memilih memalingkan wajahnya lurus ke arah jendela kaca, menyembunyikan isak tangis membisunya di balik bungkusan jas besar milik Galen.

Tepat pukul 18.00, mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah megah keluarga Danendra. Suasana di sekitar rumah berlantai dua itu terasa teramat sepi dan sunyi.

Tidak ada mobil lain yang terparkir di garasi. Rupanya, Mama Kirana serta Papa Baskoro belum pulang karena sedang menghadiri pesta pernikahan kolega bisnis mereka.

Begitu mobil berhenti sempurna, Freya tidak menunggu sedetik pun. Ia langsung melepaskan sabuk pengamannya, mendorong pintu mobil dengan kuat, lalu turun dengan langkah kaki yang dihentakkan lebar-lebar. Jas milik Galen ia biarkan terjatuh begitu saja di atas jok kulit sebagai tanda penolakan mutlaknya.

Freya melangkah cepat menerobos pintu utama, menaiki anak tangga marmer dengan terburu-buru, dan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Brak!

Ia membanting pintu kamarnya, lalu menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang kencang. Freya melemparkan tas sekolahnya secara asal ke atas sofa, lalu duduk di tepi ranjang sembari memegangi kepalanya yang terasa pening luar biasa.

"Sial sekali nasibku hari ini! Sialan!". Oceh Freya frustrasi, menumpahkan seluruh sisa kemarahan yang membakar batinnya.

Ia benar-benar merasa kesal setengah mati. Dimulai dari tindakan Raisa yang menguncinya di toilet dan menyiram seragamnya dengan es kopi susu, ditambah lagi dengan sikap posesif dan tindakan ciuman paksa dari Galen yang merenggut harga dirinya di jalanan tadi. Hari ini benar-benar berjalan seperti neraka bagi kebebasan masa mudanya.

Sementara itu di luar kamar, suasana rumah yang sepi menyambut kedatangan Galen yang baru saja melangkah masuk dari arah garasi. Langkah kaki tegapnya yang berat bergerak menaiki tangga menuju kamarnya pribadi yang bernuansa maskulin gelap.

Pria itu melangkah kaku melewati ranjang besarnya, membuka pintu kaca ganda, lalu berjalan menuju ke area balkon kamar yang menghadap langsung ke arah halaman belakang yang luas.

Embusan angin malam yang dingin menerpa wajah tampannya, namun tidak mampu mengikis hawa panas yang membakar rongga dadanya.

Klik. Fyuuuu…

Galen menyalakan sebatang rokok menggunakan korek logamnya. Ia menyesap batangan tembakau itu dalam-dalam, lalu menghembuskan asap putihnya ke udara malam secara perlahan.

Pikirannya benar-benar kacau—berantakan, dan diacak-acak secara brutal. Dan semua kekacauan ini, bersumber dari satu nama: Freya Anindita.

Untuk mengusir gejolak asing yang merusak logikanya, Galen merogoh ponsel pintarnya dari dalam saku kemeja hitamnya. Jemari kekarnya bergerak kaku membuka aplikasi galeri, menggulir layar hingga matanya terkunci pada barisan foto masa lalu.

Sebuah foto kemesraan bersama mendiang istrinya, Elena, terpampang di layar. Di dalam foto itu, Elena tampak tersenyum manis sembari merangkul manja lengan Galen di bawah menara Eiffel satu tahun lalu.

Foto yang harusnya memberikan ketenangan, malam ini justru terasa seperti hantaman godam yang menyakitkan.

Mata elang Galen menggelap pekat. Rasa panas akibat tamparan Freya di pipinya seolah kembali berdenyut, beradu dengan rasa bersalah yang teramat besar kepada jasad istrinya yang telah membusuk di dalam tanah.

"Andai saja kau tidak ada di rumah ini, Elena masih ada di samping saya". Desis Galen tajam pada kesunyian balkon, suaranya sarat akan racun yang mematikan.

Lagi-lagi, Galen menyalahkan Freya atas seluruh penderitaan hidupnya. Ia membakar kembali gejolak hasrat dan cemburunya menggunakan api dendam yang terdalam.

Galen mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap dinding kamar Freya di sebelah dengan kilat amarah yang kian menggelap, bersumpah di dalam hati tidak akan pernah membiarkan gadis pembawa sial itu hidup bahagia di luar sana.

***

1
Alissia
gengsi amat bang kalau bilang suka🤭🤭
Giarty gia: duda satu ini pokoknya gengsi nya yang di gedein. 😄
total 1 replies
Giarty gia
hai... jangan lupa tinggalkan jejak ulasan dan bintang 🌟 nya ya guyss di kolom ulasan. supaya saya juga semangat update bab setiap hari. karena bab selanjutnya akan banyak kejutan. happy reading 🥰
Alissia
awas lo galen,jangan gengsi di gedein ayo nyatain pereasan dong 🤭🤭
Alissia
udah jatuh cinta sama freya tapi gengsi setinggi langit dan keras kepala 🤭🤭🤭
Giarty gia: Ahahaha ketahuan banget ya gengsinya setinggi langit! Freya deket sama Rendy udah ketar-ketir tuh si duda, cuma gengsi aja gak mau ngaku. Siap-siap liat si duda makin tersiksa sama perasaannya sendiri ya! 🤣 Dudanya lagi mode denial maksimal
total 1 replies
Giarty gia
Terima kasih banyak ya, teman-teman, sudah membaca kisah ini! Kalau cerita ini berhasil menghibur atau menyentuh hati kalian, yuk dukung author dengan memberikan ulasan terbaik dan rating bintang 5. Setiap dukungan dari teman-teman adalah energi luar biasa bagi saya untuk terus berkarya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!