NovelToon NovelToon
Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Istri Yang Kau Sebut Mandul, Kini Menjadi Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: @Pipin

Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjadi Upik Abu

​"Kerjaannya cuma cuci piring, Mbak Shella. Mau tidak?" tanyanya ramah. Pria itu kebetulan adalah teman baik dari pemilik kontrakan tempat Shella tinggal.

​Mengingat saldo ATM-nya yang sudah sekarat, Shella langsung melipat dalam-dalam gengsi besarnya sebagai mantan Nyonya Bramantyo. Sambil tersenyum manis yang sedikit dipaksakan, ia mengangguk cepat.

​Restoran ini cukup besar dan mewah. Biasanya, Shella datang ke tempat sekelas ini duduk manis sebagai tamu kehormatan, dilayani dengan senyuman, dan tinggal menunjuk menu mahal.

Namun hari ini, takdir memutarnya 180 derajat. Dia resmi menjadi warga bagian dapur—bukan sebagai koki utama, bukan pula pramusaji, melainkan kasta terendah dalam hierarki kuliner: tukang cuci piring.

​Di rumah mewahnya dulu, Shella memiliki asisten rumah tangga yang mengurus segala hal hingga urusan sendok kotor. Sekarang? Dia harus menyeka sisa bumbu rendang dan noda lemak dari piring bekas mulut orang asing.

​"Sungguh sebuah plot twist kehidupan yang sangat estetik," batin Shella miris, sambil memeras spons busa dengan beringas.

​"Mbak, karyawan baru ya?" tanya seorang gadis tiba-tiba, membuyarkan lamunan Shella. Gadis itu terlihat sangat cekatan mengelap mangkuk.

​"Eh, iya..." jawab Shella canggung.

​"Aku Nia, Mbak. Kebetulan seminggu ini aku izin karena sakit, baru masuk kerja lagi hari ini," ujar Nia ramah, lalu sedetik kemudian menyipitkan mata. "Mbak... sepertinya tidak biasa mencuci piring, ya?"

​Nia memperhatikan jemari Shella. Kuku-kukunya bersih terawat, kulit lengannya halus, dan struktur wajahnya sama sekali tidak mencerminkan raut orang susah yang terbiasa banting tulang.

​"Ah, masa sih? Aku bisa masak kok, dan kadang-kadang memang suka cuci piring," kilat Shella membela diri.

​Dia tidak berbohong. Shella memang hanya akan memasak setahun sekali—tepat di hari ulang tahun pernikahannya dengan Bram—lalu mencuci sendiri peralatan masaknya setelah selesai. Tapi sekarang, Cinderella ini sudah resmi dikutuk menjadi Upik Abu permanen tanpa batas waktu.

​Shella melirik wajah Nia yang masih tampak sedikit pucat. "Kamu sudah benar-benar sehat? Aman ngga kalau langsung bekerja berat begini?"

​Nia tertawa kecil, meskipun tubuhnya jelas masih lemas. "Alhamdulillah, aman, Mbak. Di sini pencuci piring digaji harian. Kalau aku keseringan libur, anak yatim piatu sepertiku bisa-bisa beralih profesi jadi pemakan promag selamanya karena tidak punya uang untuk beli nasi."

​Nia melanjutkan gosokannya dengan semangat. "Apalagi kalau masuk hari Sabtu dan Minggu, aduh, sayang banget kalau dilewatkan! Bonus dari Bos Besar biasanya cair dan jumlahnya lumayan gede!"

​"Bos Besar?" Shella mengernyitkan dahi. "Jadi, Pak Anto yang tadi menerimaku itu bukan pemilik asli tempat ini?"

​"Bukan, Mbak. Pak Anto itu cuma manajer operasional. Pemilik aslinya itu Bos Besar, orangnya baik banget, Mbak! Benar-benar peduli sama karyawan kecil. Kemarin waktu aku pingsan di dapur, kebetulan beliau lagi sidak. Beliau sendiri yang membawa aku ke rumah sakit dan menanggung semua biayanya. Hebatnya lagi, gajiku tidak dipotong sepeser pun!"

​"Oh ya? Kedengarannya aku tidak salah memilih tempat kerja," gumam Shella lega. "Sebenarnya, aku juga sedang menunggu beberapa panggilan kerja kantoran. Di perusahaan mana saja boleh, yang penting bisa menyelamatkan ku dari kejaran Paylater."

​Nia langsung menatap Shella dengan binar kagum. "Wah, Mbak Shella pasti lulusan sarjana, ya?"

​"Iya. Kamu sendiri?" tanya Shella sambil terus mengeringkan piring dengan lap bersih.

​"Aku cuma tamatan SMA, Mbak. Otak pas-pasan," seloroh Nia jujur. "Pengen kuliah tapi tidak punya beasiswa. Mau mengadu ke orang tua, tapi orang tuaku sudah pindah alamat ke dalam gundukan tanah. Ya sudahlah, aku sudah sangat bersyukur bisa kerja di sini."

​Shella tertegun. Kalimat polos Nia menampar hatinya. Jika dibandingkan dengan Nia, Shella merasa dirinya masih sedikit beruntung. Meskipun ibunya, Helena, sudah tidak peduli dan membuangnya, setidaknya sosok sang ibu masih bisa ia lihat fisiknya di dunia ini.

​"Kamu umur berapa, Nia?" tanya Shella sambil meregangkan otot-otot punggungnya yang mulai terasa kaku. Lelahnya ternyata luar biasa.

​"Dua puluh tahun, Mbak..."

​"Masih muda banget ya. Tidak ada niat cari pekerjaan lain yang lebih ringan?"

​"Sudah coba, Mbak, tapi belum nemu yang cocok. Lagian Mbak lihat sendiri kan, tampilan fisikku modelan begini," ujar Nia merendah.

​Shella memperhatikan penampilan Nia. Memang agak kucel. Seragam restorannya tampak kedodoran, bibirnya dibiarkan polos tanpa sentuhan lipstik hingga terlihat pucat, dan wajahnya hanya dilapisi bedak padat murah yang sudah luntur terkena uap dapur.

​"Ya ampun... apakah beberapa minggu lagi penampilanku juga akan berevolusi menjadi sekering dan sepucat ini karena tidak mampu beli serum dan skincare?!" jerit Shella panik dalam hati, bergidik ngeri membayangkan masa depannya.

​Waktu berputar cepat. Jarum jam akhirnya menunjukkan pukul sepuluh malam. Pintu utama restoran resmi ditutup, dan seluruh lampu mulai dimatikan satu per satu. Shella dan Nia kini berdiri di depan lobi restoran, bersiap untuk pulang.

​Saat Shella sedang sibuk membetulkan tali tasnya yang tersangkut, Nia tiba-tiba membungkuk hormat ke arah sebuah mobil mewah yang baru saja berhenti di depan mereka.

​"Selamat malam, Pak Reygan!" sapa Nia dengan nada sangat sopan.

​DEG.

​Shella spontan menoleh. Nama itu... rasanya tidak asing di telinganya. Begitu ia menegakkan kepala, pandangannya langsung bertubrukan dengan sosok pria tinggi tegap yang baru saja turun dari mobil. Pria itu mengenakan setelan jas mahal yang super rapi, namun wajah tampannya seketika berubah masam saat melihat Shella.

​"Kamu..." seru Reygan, matanya menyipit tajam penuh dendam pada sepatu kulitnya yang mungkin masih menyisakan trauma bekas injakan maut itu.

​Mata Shella melebar. "Loh? Anda, Pak?! Wah... sang pria angkuh bermulut cabe! Kita ketemu lagi ya di tempat terhormat ini!" seru Shella tanpa beban.

​Nia yang merasakan ada aura permusuhan tingkat dewa dan kilatan petir tak kasat mata di antara keduanya langsung panik setengah mati. Takut temannya dipecat di hari pertama kerja, Nia buru-buru menarik lengan Shella dengan kuat.

​"B-Bapak mau ketemu Pak Anto ya, Pak? Pak Anto masih di dalam kok!" ujar Nia gugup, mencoba mengalihkan situasi sambil menyeret tubuh Shella agar menjauh. "Ayo Mbak Shella, kita pulang sekarang!"

​"Lepas, Nia! Kamu apa-apaan sih?" semprot Shella tak terima, menahan kakinya agar tidak bergeser. Ia menunjuk wajah Reygan dengan berani. "Kamu tahu tidak, Nia? Orang ini itu otaknya agak bergeser! Bisa-bisanya wanita muda, mandiri, dan cantik jelita seperti aku ini, dikatai mirip ibu-ibu umur empat puluh tahun! Dia perlu diperiksakan ke dokter mata terdekat!"

1
Lili Inggrid
lanjut..
Pipin: mksih udh mmpir kk, siap ☺
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
semoga shella dpt yg lebih² segalanya dari reygan
Pipin: Kedepan kita liat alur nya kak 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
shella shella bucin emang bikin orang bego sih
Pipin: Dmana aja sama kk 😂
total 1 replies
Adinda
semoga shella didekatin CEO ganteng biar Reagan cemburu
Pipin: kwkwkwk, apa msukin tokoh lain ya 😍
total 1 replies
Firmahadi
halo bos ku izin mampir
Pipin: hallo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!