NovelToon NovelToon
Sinyal Terakhir

Sinyal Terakhir

Status: tamat
Genre:Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Fantasi / Tamat
Popularitas:262
Nilai: 5
Nama Author: Mirage Ink

SINYAL TERAKHIR

Sinopsis

Tahun 2487.

Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?

Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.

Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 – Orang Pertama yang Terbangun

Keempat orang itu berdiri di tengah ruang hibernasi.

Seratus dua belas kapsul tersusun rapi di hadapan mereka.

Tidak ada suara.

Hanya dengungan pelan dari sistem penunjang kehidupan.

Lyra masih memeriksa panel di samping salah satu kapsul.

"Semua fungsi biologis stabil."

"Detak jantung normal."

"Sirkulasi darah normal."

Kael melihat ke arah deretan kapsul.

"Kalau mereka memang masih hidup..."

"...apa mereka bisa dibangunkan?"

Lyra tidak langsung menjawab.

"Aku belum tahu."

Di ESS Horizon, Mira ikut memantau hasil pemeriksaan melalui kamera.

"Perbesar panel medis."

Rina memperbesar gambar.

Mira membaca satu demi satu data yang muncul.

"Suhu tubuh dijaga konstan."

"Metabolisme diturunkan hampir nol."

"Teknologi hibernasi ini jauh lebih canggih daripada milik PPM."

Darius bersiul pelan.

"Seratus dua puluh enam tahun..."

"...dan mereka masih hidup."

Kapten Idris berjalan menyusuri deretan kapsul.

Ia berhenti di depan kapsul bernomor satu.

Di dalamnya terbaring seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun.

Di panel informasi tertulis.

Nama: Dr. Sofia Marin

Jabatan: Kepala Penelitian

Status: Hibernasi Stabil

Kael memperhatikan wajah Idris.

"Kau mengenal nama itu?"

Idris menggeleng.

"Tidak."

Namun raut wajahnya menunjukkan ia sedang memikirkan sesuatu.

Robot kecil kembali bergerak.

Ia mendekati kapsul Dr. Sofia.

Lalu memancarkan cahaya biru ke panel kendali.

Panel yang semula terkunci perlahan berubah warna menjadi hijau.

Lyra segera maju.

"Panelnya aktif."

"AURA."

"Ya."

"Bisa diterjemahkan?"

"Sebagian."

Beberapa simbol asing berubah menjadi Bahasa Standar PPM.

Di layar muncul dua pilihan.

LANJUTKAN HIBERNASI

BANGUNKAN SUBJEK

Semua saling berpandangan.

Reza langsung angkat bicara.

"Kita tidak tahu akibatnya."

Lyra mengangguk.

"Benar."

"Kalau prosesnya gagal, orang di dalam bisa meninggal."

Mira menyela dari kapal.

"Tunggu."

"Aku ingin melihat parameter medisnya lebih dulu."

Beberapa menit berlalu.

Mira mempelajari semua data yang dikirim Lyra.

"Luar biasa..."

"Apa?"

"Mesin ini melakukan pemeriksaan otomatis setiap enam jam."

"Selama seratus dua puluh enam tahun?"

"Ya."

"Dan tidak pernah gagal."

Kael tersenyum tipis.

"Berarti pembuat tempat ini benar-benar memperhitungkan segalanya."

Mira menarik napas.

"Secara medis..."

"...subjek bisa dibangunkan."

"Tingkat keberhasilan?"

"Sembilan puluh enam persen."

Reza masih tampak ragu.

"Empat persen sisanya?"

"Risiko komplikasi."

Kapten Idris mengambil keputusan.

"Kita bangunkan satu orang."

"Tidak lebih."

Lyra menekan pilihan kedua.

Panel langsung menyala terang.

Suara lembut terdengar di seluruh ruangan.

"Proses terminasi hibernasi dimulai."

Cairan bening di dalam kapsul mulai turun perlahan.

Beberapa selang otomatis terlepas.

Udara hangat memenuhi bagian dalam kapsul.

Seluruh kru memperhatikan tanpa berkedip.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lalu...

kelopak mata Dr. Sofia bergerak.

Lyra langsung mendekat.

"Detak jantung meningkat."

"Pernapasan normal."

Perlahan...

mata perempuan itu terbuka.

Tatapannya kosong selama beberapa detik.

Ia menarik napas panjang.

Kemudian melihat empat orang asing di hadapannya.

"Siapa..."

Suaranya serak.

"...kalian?"

Kael menjawab dengan tenang.

"Kami kru ESS Horizon."

"Kami berasal dari Persemakmuran Persatuan Manusia."

Dr. Sofia memejamkan mata sebentar.

"Berarti..."

"...bantuan akhirnya datang."

Ia mencoba duduk.

Reza segera membantunya.

"Waktu..."

"...berapa lama kami tertidur?"

Ruangan menjadi hening.

Tidak ada yang ingin menjawab.

Kapten Idris akhirnya berkata pelan.

"Seratus dua puluh enam tahun."

Dr. Sofia tidak menunjukkan keterkejutan.

Ia hanya menatap langit-langit ruangan.

Seolah-olah sudah memperkirakan jawaban itu.

Beberapa saat kemudian ia kembali memandang Idris.

"Dewan..."

"...akhirnya tetap mengirim ekspedisi."

Idris mengangguk.

"Ya."

Dr. Sofia mengembuskan napas panjang.

"Lalu..."

"...berapa nomor ekspedisi kalian?"

Kael menjawab.

"Dua puluh empat."

Mata Dr. Sofia langsung berubah serius.

"Dua puluh empat?"

Ia memandang mereka satu per satu.

"Kalau begitu..."

"...dua puluh tiga ekspedisi sebelumnya..."

"...semuanya gagal."

Tidak ada seorang pun yang menjawab.

Karena mereka memang belum mengetahui nasib dua puluh tiga ekspedisi yang hilang.

Dr. Sofia menutup matanya sesaat.

Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan kembali sunyi.

"Kalau kalian ingin mengetahui siapa yang mengirim sinyal itu..."

"...kalian harus bersiap menerima kenyataan bahwa manusia bukan pihak pertama yang menemukannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!