Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Tanpa Nama
Malam itu, Aluna tidak bisa tidur.
Tatapannya terus tertuju pada layar ponsel yang kini telah kembali kosong.
Pesan misterius itu memang sudah menghilang.
Namun isi pesannya masih jelas terngiang di kepalanya.
"Jauhi Niel jika kamu tidak ingin menyesal."
Aluna mencoba berpikir logis.
"Mungkin hanya orang iseng..."
Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir rasa gelisah.
Namun entah mengapa, hatinya mengatakan bahwa pesan itu bukan sekadar lelucon.
Keesokan paginya, Aluna datang ke toko sedikit lebih awal.
Siska yang baru tiba langsung menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.
"Kamu kenapa?"
"Hm?"
"Kok kelihatan kurang tidur?"
Aluna memaksakan senyum.
"Nggak apa-apa."
"Kamu bohong."
Siska mengenal Aluna terlalu baik.
Kalau Aluna mengatakan "nggak apa-apa", biasanya justru ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
"Mau cerita?"
Aluna ragu beberapa saat.
"Lupakan saja."
"Belum tentu aku bisa bantu, tapi setidaknya kamu nggak mikir sendirian."
Aluna akhirnya menghela napas.
"Semalam aku dapat pesan aneh."
"Pesan apa?"
Aluna menceritakan isi pesan tersebut.
Siska langsung mengernyit.
"Nomornya?"
"Hilang."
"Hilang?"
"Pesannya juga ikut hilang."
Siska mulai terlihat serius.
"Itu aneh."
"Iya."
"Tapi jangan panik dulu."
"Mungkin memang cuma orang iseng."
Aluna mengangguk pelan, meski kegelisahannya belum benar-benar hilang.
Di kantor...
Niel sedang menghadiri rapat bersama beberapa direktur.
Salah seorang staf masuk dengan tergesa-gesa.
"Maaf mengganggu, Pak."
Niel mengangkat pandangan.
"Ada apa?"
"Kami menerima kiriman anonim."
"Isinya?"
Staf itu menyerahkan sebuah amplop cokelat.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada alamat.
Hanya nama Niel yang tertulis rapi di bagian depan.
Niel membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya terdapat selembar foto.
Foto itu memperlihatkan Aluna yang sedang menunggu bus beberapa hari lalu.
Wajah Niel langsung berubah dingin.
Di balik foto tersebut terdapat tulisan tangan.
"Kalau ingin dia tetap selamat, berhentilah mencarinya."
Ruangan mendadak sunyi.
Semua orang dapat merasakan perubahan aura Niel.
"Tuan..."
Darren berdiri di sampingnya.
Niel menggenggam foto itu hingga sedikit kusut.
"Siapa pun yang mengirim ini..."
"...sudah mulai menyentuh orang yang tidak seharusnya."
Nada suaranya tenang.
Namun justru itu yang membuat Darren tahu...
Atasannya benar-benar marah.
Sore harinya...
Untuk pertama kalinya sejak bertemu kembali dengan Aluna...
Niel tidak datang ke toko buku.
Aluna beberapa kali melirik ke arah pintu setiap kali bel berbunyi.
Namun yang datang hanyalah pelanggan biasa.
Siska memperhatikan tingkah sahabatnya.
"Nunggu seseorang?"
Aluna langsung menggeleng.
"Nggak."
"Oh ya?"
"Iya."
"Tapi dari tadi lihat pintu terus."
Aluna tersenyum canggung.
"Mungkin dia lagi sibuk."
Tanpa disadari, ada sedikit rasa kecewa di dalam hatinya.
Ia sudah mulai terbiasa melihat Niel datang setiap sore.
Dan hari ini...
Rasanya ada yang kurang.
Di sisi lain kota...
Niel berdiri di dalam ruang keamanan perusahaan.
Di layar monitor terpampang rekaman CCTV dari berbagai lokasi.
"Dapat sesuatu?"
tanya Niel.
Seorang petugas menggeleng.
"Pengirim memakai topi, masker, dan sarung tangan."
"Jejak kendaraan?"
"Plat nomornya palsu."
Darren menatap layar lain.
"Orang ini profesional."
Niel mengepalkan tangannya.
"Kalau target mereka aku..."
"...kenapa harus membawa nama Aluna?"
Tidak ada yang mampu menjawab.
Malam mulai larut.
Setelah memastikan keamanan di sekitar toko buku secara diam-diam melalui anak buah yang ia percaya, Niel akhirnya merasa sedikit tenang.
Ia sengaja tidak datang menemui Aluna hari itu.
Bukan karena tidak ingin.
Melainkan karena ia takut...
Kehadirannya justru akan membawa bahaya.
Di rumah, Niel membuka ruang obrolan dengan Aluna.
Jarinya sempat mengetik.
Maaf hari ini aku tidak datang.
Namun beberapa detik kemudian...
Pesan itu dihapus.
"Aku tidak boleh melibatkannya..."
gumamnya pelan.
Sementara itu, Aluna memandangi layar ponselnya yang tetap sunyi.
Entah mengapa, ia merasa sedikit khawatir.
"Itu bukan sifatnya..."
"Kalau memang sibuk..."
"...setidaknya dia pasti memberi kabar."
Perasaan tidak tenang mulai memenuhi hatinya.
Di sebuah gudang tua yang gelap, pria misterius itu duduk sambil menatap beberapa foto yang ditempel di papan besar.
Foto Niel.
Foto Aluna.
Foto Darren.
Semuanya dihubungkan dengan benang merah.
Pria itu tersenyum puas.
"Bagus..."
"Dia mulai menjaga Aluna dengan cara menjauhinya."
Ia mengambil sebuah korek api, lalu membakar salah satu salinan foto Niel.
"Aku ingin melihat..."
"...berapa lama dia mampu menahan diri untuk tidak menemuinya."
Api perlahan melahap foto itu hingga menjadi abu.
Dan tanpa disadari Niel maupun Aluna...
Musuh mereka tidak hanya mengawasi.
Ia juga mulai memainkan perasaan keduanya, menjadikan kerinduan sebagai senjata pertama untuk menghancurkan mereka.
__________________________________________
Lanjutan
Malam semakin larut.
Hujan rintik-rintik kembali turun, membasahi jalanan yang mulai sepi.
Aluna masih duduk di dekat jendela kamarnya. Sebuah novel terbuka di pangkuannya, tetapi sejak tadi tak satu halaman pun berhasil ia baca.
Pikirannya terus melayang.
Biasanya, sekitar waktu seperti ini, Niel akan mengirimkan pesan singkat.
"Sudah makan?"
Atau...
"Jangan tidur terlalu larut."
Namun malam ini...
Tidak ada apa pun.
Aluna menghela napas pelan.
"Aku kenapa, sih..."
"Baru sehari dia nggak datang."
"Tapi rasanya sepi sekali."
Ia meraih ponselnya, berniat mengirim pesan lebih dulu.
Jarinya mulai mengetik.
Hari ini sibuk, ya?
Beberapa detik ia memandangi tulisan itu.
Lalu...
Pesan tersebut dihapus.
"Jangan."
"Nanti dia pikir aku mencarinya."
Aluna meletakkan ponselnya kembali di atas meja, meski dalam hati ia berharap layar itu segera menyala.
Di sisi lain kota, Niel berdiri di balkon rumahnya.
Angin malam berembus pelan menerpa wajahnya.
Di tangannya masih tergenggam foto Aluna yang dikirim oleh orang misterius itu.
Tatapannya tajam.
"Kalau target kalian aku..."
"...kenapa harus menyeret orang yang tidak bersalah?"
Darren menghampiri dengan langkah tenang.
"Tuan."
"Bagaimana?"
"Saya sudah menambah pengamanan di sekitar toko buku."
Niel mengangguk pelan.
"Jangan sampai dia tahu."
"Saya mengerti."
Darren sempat ragu sebelum akhirnya berkata,
"Tuan..."
"Kalau Anda terus menjauh seperti ini..."
"...bukankah justru dia akan bertanya-tanya?"
Niel tersenyum pahit.
"Lebih baik dia membenciku..."
"...daripada dia terluka karena berada di dekatku."
Darren terdiam.
Ia memahami alasan atasannya.
Namun untuk pertama kalinya, ia melihat Niel memilih memikul semuanya sendirian.
Keesokan paginya, Aluna berjalan menuju toko buku seperti biasa.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat sebuah kotak kecil tergeletak di depan pintu masuk.
"Siska?"
"Iya?"
"Kamu pesan sesuatu?"
Siska menggeleng.
"Bukan."
Aluna mengambil kotak itu dengan hati-hati.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya secarik kartu berwarna putih.
Perlahan ia membuka lipatan kartu tersebut.
Di sana hanya tertulis satu kalimat.
"Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk berakhir bahagia."
Senyum Aluna perlahan memudar.
Entah mengapa...
Kalimat itu membuat bulu kuduknya meremang.
Sementara itu, dari lantai dua sebuah gedung di seberang jalan, seseorang menurunkan teropongnya dan tersenyum tipis.
"Bagus..."
"Permainannya baru saja dimulai."
Tatapannya tetap tertuju pada Aluna yang kini berdiri mematung di depan toko buku, tanpa menyadari bahwa setiap rasa takut yang mulai tumbuh di hatinya adalah bagian dari rencana besar yang telah disusun dengan sangat rapi.
— Bersambung —