Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.
Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat tinggal masa lalu
"Sejak kapan kalian memiliki hubungan?" tanya Luna dingin dan nyaris tanpa emosi.
Suasana membeku seketika.
Ruangan tamu yang sebelumnya dipenuhi keheningan kini terasa semakin menyesakkan. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang terdengar samar. Raka dan Vanessa saling berpandangan sesaat, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang membuka mulut. Wajah keduanya juga terlihat menegang.
Luna memandangi mereka bergantian. Tatapannya tenang, tetap sorot matanya menyimpan luka yang begitu dalam.
"Aku rasa sudah lama," ucap Luna pelan.
PROK … PROK …
Tepukan tangan Luna menggema di dalam rumah itu.
Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi senyum itu sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan. Senyum yang lahir dari kekecewaan, dari hati yang perlahan hancur berkeping-keping.
"Kalian benar-benar hebat," kata Luna lirih penuh sindiran.
"Luna dengar …." Raka mencoba menjelaskan.
Namun kalimat itu terhenti begitu melihat tatapan Luna yang begitu asing. Tatapan wanita yang selama ini selalu memandangnya penuh cinta kini hanya menyisakan kedinginan.
"Kenapa berhenti? Ayo bicara. Aku ingin mendengar kisah cinta kalian," ucap Luna dengan senyum getir.
"Luna —" Raka belum sempat menyelesaikan ucapannya, tetapi Vanessa sudah lebih dulu menyelanya.
"Kamu ingin tahu, Luna?" sela Vanessa. Kedua tangannya terlipat di dada. "Baik, aku akan katakan yang sebenarnya."
Vanessa mengangkat dagunya dengan penuh kemenangan.
"Jangan kira, aku orang ketiga di antara kalian! Karena pada kenyataannya kamulah orang ketiga di antara kami," ungkap Vanessa.
Ucapan itu bagai pisau tajam yang menghujam dada Luna.
Namun, alih-alih membalas Vanessa, Luna justru melihat ke arah Raka. "Benar begitu, Mas?"
Raka diam, tak berani menjawab. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.
"Diammu menjawab semuanya!" ucap Luna lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Vanessa dan Raka.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia menahannya sekuat tenaga. Ia tidak ingin menangis di depan dua orang yang telah menghancurkan kepercayaannya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu punya wanita lain?" Suara Luna mulai bergetar.
"Bukankah aku sudah katakan dulu, jika kamu memiliki wanita lain aku akan merelakan kamu dengan dia. Kita bisa berpisah pada waktu itu. Tidak harus sampai sejauh ini."
Vanessa tertawa kecil.
"Itu karena ibunya mengancam, jika Raka menolak maka dia tidak akan mendapatkan harta keluarganya."
Luna menghembuskan napas pelan. "Jadi … karena harta."
Ia kembali memandang Raka. Untuk sesaat ia masih berharap pria itu membantah semua ucapan Vanessa. Namun harapan itu sirna.
"Kamu pikir karena apa? Aku mencintaimu?" Raka akhirnya bersuara. "Tidak, Luna."
"Dan … satu lagi, Luna," lanjut Vanessa. Ia lalu merangkul lengan Raka. "Raka tidak impoten." Vanessa tersenyum penuh kemenangan. "Dia hanya mau aku."
Luna mengangguk dengan senyum getir. Meskipun berusaha tegar, tetapi mendengar ucapan Vanessa hati Luna tetap saja sakit. Ia menutup mata bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mata. Ia baru sadar bertapa bodoh dirinya, bertahan dengan cinta sendiri selama bertahun-tahun.
Kini semuanya terasa jelas. Selama ini sebenarnya bukan karena Raka tidak mampu menjadi suami, melainkan karena pria itu memang tidak menginginkannya.
Perlahan, ia mengusap air matanya, lalu berdiri. "Baiklah."
Ia lalu melihat ke arah Raka dan Vanessa tanpa keraguan sedikit pun. "Kita bercerai, Mas."
Raka terbelalak, lantas tersenyum sinis. "Kamu tidak akan berani."
Vanessa ikut tersenyum mengejek.
"Kalau kamu sampai meninggalkan Raka, kamu akan hidup menderita," imbuh Vanessa.
Luna justru tertawa pelan. Tawa yang terdengar. Tawa yang terdengar getir. "Aku akan lebih menderita jika bersama laki-laki seperti dia."
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatan. Semua jawaban sudah ia dapatkan. Semua kebohongan akhirnya terbuka.
Luna melangkah pergi dengan amarah dan rasa sakit yang bercampur menjadi satu. Namun langkahnya kembali terhenti saat suara Raka masuk ke dalam indera pendengarannya.
"Pikirkan baik-baik, Luna. Aku janji jika kamu bertahan … aku akan bersikap adil padamu dan Vanessa," ucap Raka.
Luna mendengkus dan memejamkan matanya sesaat. "Adil?"
Luna akhirnya menoleh. Tatapannya tajam mengarah pada Raka.
"Sekarang saja kamu tidak adil padaku," ucap Luna. "Kamu membiarkan aku … istri sah kamu hidup menderita dan lebih memilih memanjakan istri simpananmu itu."
Kalimat itu membuat Vanessa mengepalkan tangannya.
"Lagi pula …." Luna menggantungkan ucapannya lalu menatap Vanessa lurus-lurus.
"Apa wanita simpanan kamu ini rela berbagi sama aku?"
Hening, tidak ada jawaban dari Vanessa. Senyum sinis terukir di bibir Luna. Meskipun Vanessa tidak menjawab, tapi dari reaksi wanita itu, Luna tahu jawabannya.
"Aku rasa tidak," lanjut Luna.
Ia lalu menghela napas panjang sebelum kembali bicara.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan menuntut apa pun dari kamu. Kamu silahkan ambil semua yang mendiang ibumu berikan padaku."
Setelah mengatakan kalimat itu, Luna kembali berbalik, melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal.
Meski Raka beberapa kali memanggil. Luna tidak akan menoleh sedikit pun. Ia tidak ingin melihat ke masa lalu. Karena di hadapannya saat ini ada pria yang akan bersiap untuk melindungi dan memanjakan dirinya.
Dan …
Pria itu tidak lain adalah Bara.
Di kejauhan sebuah mobil telah terparkir rapi. Luna berjalan dengan menatap lurus ke depan. Ia melihat Bara berdiri di samping mobil hitam miliknya. Berdiri dengan dua tangan masuk ke dalam saku celana, menunggu dengan sabar tanpa sedikit pun menunjukkan sikap tergesa-gesa.
Saat Luna mulai mendekat, Bara mengulurkan tangannya. Dengan senyuman, Luna menerima uluran tangan pria itu, membiarkan pria itu mengecup punggung tangannya.
"Sudah selesai?" tanya Bara.
Luna mengangguk. "Ayo pergi."
Luna menoleh sekilas ke arah rumah yang baru saja ia tinggalkan. "Aku sudah muak di sini."
Bara mengangguk lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan Luna untuk masuk. Setelah Luna duduk dengan nyaman, Bara berjalan memutar ke sisi lain lalu duduk di bangku kemudi.
Bara lantas menyalakan mesin mobil.
"Mau pulang?" tanya Bara.
Luna menggeleng. "Aku mau pergi dari rumah itu. Aku tidak sudi tinggal di rumah itu lagi."
Luna menunduk. "Mereka bahkan bercinta di kamarku."
"Mau ke vila?" tanya Bara dengan suara yang jauh lebih lembut.
Luna menggangguk. "Mau."
Luna lalu melihat ke arah Bara. "Boleh aku tinggal beberapa hari di sana. Aku ingin menenangkan diri."
"Tinggal saja sesuka hatimu," jawab Bara tanpa ragu.
Luna tersenyum tipis.
"Aku ingin proses perceraianku dengan laki-laki itu selesai dengan cepat."
Bara yang sedang mengemudi melirik sekilas ke arah Luna.
"Ehemm." Bara berdehem. "Kenapa? Tidak sabar untuk menjadi istriku?" ledek Bara mencoba mencairkan suasana.
"Ck …" Luna berdecak pelan. "Jangan meledekku."
Nada suara Luna terdengar manja, membuat suasana yang semula kelam perlahan mencair.
"Tapi …." Luna menggantungkan ucapannya sambil menatap lurus ke depan. "Aku lebih tidak sabar melihat reaksi anakmu saat tahu aku akan menjadi ibu tirinya."
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur