NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Keheningan masih menyelimuti ruangan itu lama setelah kalimat terakhir terucap. Di antara kami kini tak lagi ada kebingungan yang samar, tak lagi ada rasa yang dipendam dalam diam. Segalanya sudah terang. Aku sudah mengatakannya. Dan Aira sudah memberikan jawabannya-bukan penolakan, namun sebuah tantangan sekaligus harapan buktikan.

Dua kata itu terasa begitu sederhana, namun aku tahu betapa berat dan panjang jalan yang harus kutempuh di belakangnya. Aku tahu betapa dalam luka yang masih membekas di hatinya, betapa sulitnya baginya untuk kembali membuka hati dan percaya pada rasa cinta.

Luka masa lalu yang ditorehkan orang lain masih terasa nyata, ketakutan akan dikhianati dan dikecewakan kembali masih begitu kuat menguasai dirinya.

Aku tak bisa memaksanya. Aku tak bisa menuntutnya untuk percaya dalam sekejap mata. Kata-kata manis saja tak akan cukup untuk menghapus segala rasa takut itu.

Aku sadar sepenuhnya, bahwa mulai hari ini, tugas utamaku bukan lagi sekadar menyayanginya dalam diam, melainkan berjuang sepenuh hati untuk menjadi bukti bahwa tidak semua rasa itu berujung pada luka. Bahwa aku berbeda. Bahwa aku sungguh-sungguh.

Aku menatapnya lekat-lekat. Ia masih berdiri di sana, wajahnya masih tampak ragu, matanya masih menyimpan kewaspadaan yang tinggi, persis seperti seseorang yang takut terluka kembali. Ia menungguku. Menunggu apakah aku akan mundur, atau tetap bertahan dan memulai langkah itu.

Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, membawa serta segala rasa cemas dan gugup yang tersisa. Aku melangkah maju sedikit, cukup dekat agar ia bisa merasakan ketulusanku, namun tak sedekat dulu hingga membuatnya merasa terdesak atau terancam. Aku mengerti, ia butuh ruang. Ia butuh waktu. Dan aku akan memberikannya itu, sebanyak apa pun yang ia butuhkan.

"Baik, Ra..." suaraku terdengar tenang, rendah, namun penuh ketegasan dan kesungguhan yang mendalam.

"Aku terima syarat itu. Aku nggak bakal minta kamu buat percaya sekarang, aku nggak bakal minta kamu buat nerima aku sekarang. Aku ngerti semua rasa takut kamu, aku ngerti kenapa kamu jadi begini. Dan aku bakal hargai itu semua."

Aku berhenti sejenak, menatap matanya yang masih menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan-campuran antara harapan dan keraguan.

"Mulai hari ini, aku nggak bakal cuma ngomong. Aku bakal tunjukin semuanya lewat tindakan. Pelan-pelan. Seiring waktu. Sampai kamu sendiri yang yakin, sampai kamu sendiri yang percaya, kalau apa yang aku rasain ini beneran tulus, beneran serius, dan nggak bakal berubah," lanjutku lagi, tegas dan mantap.

Aira mengangguk pelan. Tak ada senyum yang merekah, namun raut tegang di wajahnya sedikit melunak. Ia seolah lega mendengar ucapanku, lega karena aku mengerti kondisinya dan tak memaksanya.

"Ingat ya, Arjun..." suaranya terdengar pelan namun tegas, matanya menatapku tajam seolah ingin menanamkan pesan itu jauh di dalam hatiku.

"Aku nggak gampang percaya lagi. Dan kalau kamu cuma main-main, atau nanti kamu bosan, atau kamu berubah di tengah jalan... aku nggak bakal maafin kamu. Dan kita mungkin nggak bakal bisa kayak dulu lagi."

Kalimat itu terdengar seperti sebuah ancaman, namun aku tahu itu hanyalah bentuk pertahanan dirinya. Ia hanya ingin memastikan agar ia tak terluka kembali. Ia hanya ingin melindungi hatinya yang rapuh itu sebaik mungkin.

Aku tersenyum tipis, senyum yang penuh keyakinan dan kesabaran. Aku mengangguk mantap.

"Aku ingat, Ra. Aku ingat banget. Dan aku janji, aku bakal bikin kamu nggak pernah nyesel udah kasih aku kesempatan ini. Aku bakal buktiin, kalau ada rasa yang nggak bikin sakit, ada rasa yang tulus, dan ada orang yang bakal tetep ada, mau kayak apa pun keadaannya."

Hari itu berakhir dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Tak ada lagi kebingungan di antara kami, namun suasana menjadi lebih hati-hati, lebih lembut, dan penuh dengan makna baru.

Aira kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya, namun aku sadar, ia sesekali melirik ke arahku, seolah mulai mengamati, mulai menilai, dan mulai melihat perubahan apa yang akan kubawa ke dalam hidupnya.

Dan aku... aku pun berubah. Bukan berubah menjadi orang lain, tapi berubah menjadi versi diriku yang lebih dewasa, lebih sabar, dan lebih perhatian.

Aku sadar, perjuangan ini dimulai dari hal-hal kecil. Dari hal-hal yang mungkin tampak sepele, namun jika dilakukan terus-menerus dengan tulus, akan menjadi bukti terbesar dari kesungguhanku.

Keesokan harinya, aku datang ke kafe lebih pagi dari biasanya. Aku tak datang dengan tangan kosong. Aku membawa sebungkus sarapan dan sebotol minuman hangat, sesuatu yang biasa ia sukai dan sering ia lupakan karena terlalu sibuk bekerja.

Saat aku meletakkan bungkusan itu di meja kasir di hadapannya, Aira sedikit terkejut. Ia mengangkat wajahnya, menatapku bingung.

"Apa ini?" tanyanya pelan.

"Sarapan," jawabku singkat dan wajar, sambil duduk di kursi biasa, menjaga jarak yang aman agar ia merasa nyaman.

"Kamu kan sering lupa makan kalau lagi sibuk. Nanti sakit lagi. Makan ya, sebelum pelanggan banyak datang."

Ia menatapku lama, menatap bungkusan itu, lalu kembali menatapku. Tak ada ucapan terima kasih yang berlebihan, tak ada senyum bahagia. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mulai membukanya perlahan.

Namun di matanya, aku bisa melihat ada sedikit kilatan rasa terkejut, seolah ia tak menyangka aku akan mulai melakukan hal sekecil ini.

Hari itu berlalu dengan aku yang diam mengamatinya dari jauh. Saat ia kewalahan melayani pesanan, aku segera membantu mengangkat barang berat atau membersihkan meja tanpa diminta, tanpa menunggu ia memohon bantuan.

Saat ia berdiri terlalu lama hingga kakinya terlihat lelah, aku diam-diam mengambilkan kursi untuknya, atau menyuruhnya beristirahat sebentar sambil aku yang menggantikannya mengurus hal-hal ringan.

Aku tak banyak bicara. Aku tak sering menyapa dengan kata-kata manis. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seseorang yang peduli. Aku ada di sana. Siap membantu. Siap menjaga.

Namun tetap memberi ia ruang untuk bernapas, tetap menjaga jarak agar ia tak merasa terbebani atau terkurung.

Sore itu, saat hujan turun deras dan ia tampak cemas karena tak membawa payung, aku dengan tenang memberikan payungku, lalu berniat pulang berjalan kaki meski hujan.

"Arjun! Kamu gimana pulangnya?" tanyanya cepat, raut wajahnya tampak khawatir melihatku bersiap melangkah ke bawah rintik air.

Aku menoleh, tersenyum tenang.

"Aku kuat. Kamu kan nggak boleh kena air hujan, nanti sakit lagi.lagian rumah aku kan ada di belakang toko ra. Bawa aja, besok balikin. Hati-hati ya pulangnya."

Aku berjalan pergi di bawah rintik hujan yang mulai membasahi pakaianku, namun rasanya hatiku justru hangat. Aku tahu, hal-hal kecil seperti ini baru permulaan.

Aku tahu, satu atau dua perbuatan baik belum cukup untuk menghapus trauma bertahun-tahun. Aku tahu, Aira masih akan bersikap dingin, masih akan ragu, masih akan menguji kesabaranku berkali-kali di hari-hari mendatang.

Dan aku siap untuk itu semua.

Aku siap jika besok ia masih bersikap acuh tak acuh. Aku siap jika minggu depan ia masih menatapku dengan penuh curiga. Aku siap jika bulan depan ia masih belum mau membuka hatinya sedikit pun.

Karena aku tahu, membuktikan kesungguhan itu tak cukup sehari dua hari. Itu butuh waktu lama, butuh konsistensi, butuh kesabaran tanpa batas.

Aku berjanji pada diriku sendiri, pada hujan sore itu, dan pada hati Aira yang sedang kuselamatkan perlahan aku akan tetap sama. Aku akan tetap ada. Aku akan tetap tulus. Sampai ia lupa apa itu rasa sakit, sampai ia lupa bagaimana rasanya dikhianati, dan sampai ia sadar sepenuhnya... bahwa di sini ada aku, yang mencintainya bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan seluruh tindakan dan waktu yang kumiliki.

Ini baru permulaan. Perjalanan panjang pembuktian kesungguhan hati baru saja dimulai. Dan aku siap melangkah sejauh apa pun, demi satu wanita yang ingin kuyakinkan bahwa ia layak dicintai dengan cara yang paling indah dan tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!