NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Malam itu, tidur enggan menghampiri Putri Hikari. Meski tubuhnya berbaring di atas ranjang yang nyaman, pikirannya terus dipenuhi oleh berbagai rumor buruk yang beredar tentang Sang Ratu. Setiap bisikan yang didengarnya sepanjang hari seakan berulang tanpa henti di dalam benaknya.

Matanya tampak sayu, kehilangan cahaya ceria yang biasanya menghiasi wajahnya. Tatapannya kosong menembus kegelapan langit malam, seolah mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan.

Dengan langkah pelan, dia menyingkap selimut dan turun dari ranjang. Heningnya malam menyelimuti istana ketika dia membuka pintu kamarnya. Angin dingin segera menyapa kulitnya, membuat helaian rambutnya bergoyang lembut. Dia berjalan menuju teras istana. Di sana, dia berdiri seorang diri di bawah cahaya rembulan.

"Apakah semua itu benar?" gumamnya lirih.

Suara malam menjadi satu-satunya jawaban. Namun, semakin lama dia menatap kegelapan, semakin berat pula kegelisahan yang menyesakkan dadanya. Rumor tentang Sang Ratu bukan hanya mengusik pikirannya, tetapi juga menggoyahkan keyakinan yang selama ini ia pegang erat.

Sambil menangis dia berkata "Kenapa ibu selalu ditimpa masalah bahkan sampai detik ini, maafkan aku karena tidak bisa melindungi ibu."

Tiba-tiba, Putri Hikari mendengar teriakan wanita tak jauh dari dia berdiri.

"Siapa tadi" ucapnya sambil mengusap air mata.

Karena rasa penasarannya lebih besar, dia mencari sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, sesuatu menarik perhatian Putri Hikari dari kejauhan. Di antara bayang-bayang gelap taman istana, dia melihat sosok seorang pelayan yang berdiri sempoyongan. Tubuh pelayan itu gemetar hebat seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Mata Putri Hikari membelalak.

Di belakang pelayan tersebut berdiri sesosok makhluk mengerikan berbalut kabut hitam pekat. Tangan-tangannya yang kurus dan panjang mencengkeram tubuh sang pelayan, sementara cahaya samar berwarna biru layaknya energi perlahan keluar dari tubuh pelayan dan tersedot ke dalam tubuh makhluk itu.

Pelayan itu berusaha berteriak, tetapi tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Wajahnya semakin pucat, dan tubuhnya kian melemah seiring jiwanya yang terus terkuras.

Putri Hikari refleks menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit. Dengan tangan gemetar, dia segera berjongkok di balik semak dan bersembunyi. Napasnya ditahan sekuat mungkin. Dari celah pilar, dia mengintip makhluk kutukan itu dengan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Makhluk kutukan.. kenapa ada makhluk seperti itu di dalam istana?" batinnya panik.

Dia memejamkan mata sesaat, berharap apa yang dilihatnya hanyalah mimpi buruk. Namun ketika kembali mengintip, makhluk itu masih berada di sana terus melahap jiwa pelayan malang tersebut di bawah cahaya rembulan yang suram.

"Hahaha, manusia lemah" ejek makhluk kutukan sambil tertawa terbahak-bahak.

makhluk itu melihat sekeliling.

"Hmm aku mencium darah segar disini.." ucapnya sambil memerhatikan semak tempat Putri Hikari bersembunyi.

Putri Hikari tercengang mendengarnya. Dengan panik dia berkata lirih "Bagaimana ini.. tolong.."

Setelah selesai melahap jiwa pelayan malang itu, makhluk kutukan tersebut perlahan menoleh. Kepalanya bergerak dengan gerakan yang tidak wajar, seolah sedang mengendus keberadaan sesuatu di sekitarnya.

Jantung Putri Hikari seakan berhenti berdetak.

Makhluk itu kemudian melangkah menuju semak-semak di dekat teras, tepat ke arah tempat persembunyiannya. Setiap langkahnya terasa seperti hentakan yang menghantam keberanian Hikari sedikit demi sedikit.

Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan suara napasnya yang memburu. Namun ketika sosok mengerikan itu semakin dekat, dia menyadari bahwa bersembunyi bukan lagi pilihan.

Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Putri Hikari bangkit dari tempat persembunyiannya dan berlari sekuat tenaga menyusuri koridor istana.

"Tolong! Tolong!" teriaknya panik.

Gaun tidurnya berkibar mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat rasa takut menguasai seluruh tubuhnya.

"Tolong! ada makhluk kutukan!" serunya lagi dengan suara bergetar.

Lorong-lorong istana yang biasanya terasa aman kini tampak begitu panjang dan mencekam. Hikari terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang. Yang dia tahu hanyalah satu hal dia harus menemukan seseorang sebelum makhluk itu berhasil menangkapnya.

Namun di tengah langkahnya yang terburu-buru, dia mendengar suara gesekan yang aneh dari belakang. Suara itu semakin dekat.

Sangat dekat.

Makhluk kutukan berkata "Hahaa jangan lari Tuan Putri.."

Sayangnya semua orang sudah tertidur dan tidak ada orang yang mendengar Putri Hikari.

Putri Hikari terjatuh diarea dekat danau.

"Aduh.. kenapa harus jatuh" ucapnya sambil menoleh ke belakang.

Saat hendak berdiri, tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya.

Dia menelan ludah. Putri Hikari terdiam kaku dan tidak berani menatap ke belakang.

Namun dengan sedikit keberanian, dia menoleh kebelakang.

Betapa terkejutnya dia, ternyata bukanlah makhluk kutukan. Melainkan sang Ratu yang ada dibelakangnya.

Dengan terbata-bata Putri Hikari berkata "Hah.. I..ibu?."

Ratu tersenyum lalu membantu berdiri Putri Hikari.

"Kenapa kau ada disini?" ucap Ratu sambil memegang pipi Putri Hikari.

Putri Hikari tidak bisa berkata apa-apa. Dia yang sangat merindukan ibunya langsung memeluk erat Ratu.

"Ibu aku merindukanmu.." ucapnya sambil meneteskan air mata.

"Jangan menangis putriku, kau seorang Tuan Putri. Kau harus kuat" ucap Ratu sambil membelai rambut putri Hikari.

Ratu melepaskan pelukan Putri Hikari dan menatap matanya lalu berkata "Ayo ikuti ibu."

"Kemana ibu akan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri."

Ratu mengusap air mata Putri Hikari lalu berkata "Percayalah dengan ibu, kau pasti akan sangat senang, ikutilah ibu."

Putri Hikari pun mengikuti kemana Ratu berjalan.

Entah kenapa, Yua merasa tubuhnya sangat dingin. Dia ingin minum teh hangat, tetapi para pelayannya sudah tidur. Yua tidak tega membangunkan mereka. Alhasil, Dia pergi sendiri membuat teh di dapur istana. Suasana tidak membuat Yua takut. Dia segera pergi menuju dapur istana.

Saat itu, Yua berpapasan dengan Master Seijun yang baru kembali menemui Kaisar. Yua memberi salam kepada Master.

Master Seijun berkata "Darimana dirimu Yua? apa kau tidak takut jika bertemu dengan Makhluk Kutukan itu?."

Yua tertawa sambil berkata "Aku akan pergi ke dapur istana untuk membuat teh, lagi pula jika aku takut aku tidak akan menjadi pemburu hahaha."

"Itu baru muridku, baiklah berhati-hatilah."

Mereka pun pergi melanjutkan tujuan mereka masing-masing.

Diperjalanan, Yua melihat sekeliling dan tidak melihat seorang pun. Dia telah sampai di dapur istana dan langsung membuat teh sendiri.

Sembari menuangkan air panas Yua berkata "Siapa orang yang dengan tega membawa-bawa nama Ratu atas kejadian-kejadian ini."

Tak lama tehnya sudah siap, Yua membawanya dan meninggalkan dapur.

Dari POV Yua, saat melewati danau istana dia mendengar suara cekikikan wanita. Dia menghentikan langkahnya dan melihat sekeliling. Betapa terkejutnya dia sampai menjatuhkan tehnya ketika dia melihat Tuan Putri Hikari berjalan menuju danau sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tuan Putri.. awas danau di depan mu" teriak Yua.

Yua langsung berlari menghampirinya. Putri Hikari tidak sadar jika didepannya danau dan terus berjalan sehingga hampir mendekati air. Untungnya, Yua datang tepat waktu. Yua menarik tangan Putri Hikari sampai mereka terjatuh ke tanah.

"Tuan Putri.. sadarlah".

Putri Hikari tersadar dan membuka matanya.

Dengan linglung Putri Hikari berkata "Mengapa aku ada disini? Dimana ibu?."

"Ini pasti ulah Makhluk Kutukan" jawab Yua.

Yua membantu Putri Hikari berdiri. Namun, mereka malah melihat Makhluk Kutukan Wanita Pendendam didepannya.

Putri Hikari berkata "Oh tidak dia lagi.."

"Dia adalah makhluk kutukan yang menyebabkan kekacauan di istana."

"Aku melihatnya menghisap jiwa pelayan tadi."

Makhluk Kutukan berkata "Hahaha mau pergi kemana gadis-gadis cantik? ayo ikutlah denganku dan merasakan penderitaan yang kualami selama ini!!"

Putri Hikari berkata "Ayo lari.."

"Kau lari sekencang-kencangnya dan mintalah bantuan kepada para pemburu! aku akan menghabisi makhluk itu, cepat lari dan jangan menoleh kebelakang!!"

Putri Hikari menganggukkan kepalanya.

Makhluk Kutukan mengejar Putri Hikari dengan berkata "Aku tidak akan membiarkanmu hidup!!"

Yua mengeluarkan katana lalu berkata "Lawanmu adalah aku makhluk jelek."

Yua menghadang makhluk itu dan menyerangnya dengan kekuatan air. Berkat latihannya saat hujan-hujanan tempo hari, Yua menebas tetesan gerimis hujan yang jatuh dengan katana sehingga menimbulkan gelombang getaran yang besar sehingga makhluk kutukan terpental.

Makhluk kutukan tertawa sambil berkata "Boleh juga."

Makhluk kutukan kembali bangkit dan mengeluarkan serangan mawar hitam kepada Yua. Yua berhasil menangkis serangan tersebut, namun makhluk itu mencekik Yua lalu mendorongnya sampai ke tengah danau. Karena kekuatan airnya, Yua tidak bisa tenggelam dan bisa berjalan di atas air.

Disisi lain, Putri Hikari pergi menemui Master Seijun untuk meminta bantuan. Dia mengetuk pintu kediaman Master Seijun sambil memanggil-manggilnya. Master Seijun membukakan pintu dan terkejut melihat Tuan Putri panik.

Putri Hikari berkata "Tolong Yua, dia bertarung dengan makhluk kutukan itu di danau istana."

Tanpa basa-basi, Master Seijun langsung bergegas menuju danau istana. Putri Hikari lalu menemui Ryujin dan Haru.

Putri Hikari mengetuk pintu, Ryujin terkejut melihat Tuan Putri Hikari.

Dengan kesal Ryujin berkata "Kau ingin mengelabuhiku lagi? sekarang kau menyamar menjadi Tuan putri Hikari?."

Mendengarnya Putri Hikari menjawab "Apa maksudmu?? tolong, Yua sedang bertarung melawan makhluk itu sendirian di danau istana!! sekarang aku meminta bantuanmu."

Mendengar itu, Ryujin langsung pergi menuju danau istana. Setelah itu Putri Hikari pergi menemui Haru.

Saat itu Jinsei tidak bisa tidur, teringat dengan mimpinya. Jinsei mengkhawatirkan Yua. Karena merasa cemas dia pergi menemui Yua untuk memastikan keadaannya. Saat di perjalanan, Jinsei melihat Tuan Putri Hikari dengan raut wajah cemas.

Putri Hikari melihat Jinsei di depannya dan berlari memeluknya, dengan menangis Putri Hikari memeluk Jinsei sambil berkata "Jinsei... aku takut sekali".

Dengan ragu Jinsei menjawab "Apa kau benar Tuan Putri?."

Tuan Putri berkata "Aku baru saja diteror oleh makhluk itu. Untungnya Yua melihatku dan langsung menolongku."

Mendengar itu, spontan Jinsei khawatir lalu bertanya, "Benarkah? lalu dimana Yua sekarang?."

"Dia ada di danau istana sekarang."

Jinsei langsung pergi menyusul dan meninggalkan Putri Hikari sendiri.

"Jinsei jangan tinggalkan aku."

Sementara itu, Yua kewalahan menyerang. Tubuhnya dipenuhi goresan kuku tajam makhluk kutukan.

Yua memikirkan strategi untuk membunuh Makhluk itu. Dia teringat ide jenius yang bisa mengalahkan Makhluk Kutukan sembari menunggu para pemburu lainnya tiba.

Dia menatap air danau sambil melihat bayangannya di air.

Makhluk kutukan berkata "Apa yang sedang dia lakukan?."

Tiba-tiba muncul pusaran air yang menutupi tubuh Yua sampai ke atas. Tak tinggal diam, makhluk kutukan menyerang Yua seolah ingin menggagalkan rencana Yua. Namun, makhluk itu justru terpental saat mendekati pusaran air itu.

Master Seijun melihat gelas teh Yua yang terjatuh di lantai. Mereka melihat Yua berada di tengah danau bersama akhluk utukan. Mereka menghampirinya sembari melepaskan serangan.

Makhluk kutukan berkata "Ternyata mereka sudah datang hahaha."

Makhluk kutukan melepaskan serangan mawar hitam kepada mereka. Haru mengendalikan angin di sekitarnya untuk membalikkan serangan makhluk utukan.

Tiba-tiba Yua berkata "Aku memahamimu tapi lebih baik ikhlaskan saja, karena mengikhlaskan juga bentuk dari cinta sejati".

Makhluk itu terdiam dan menoleh ke Yua. Dengan amarah besar, makhluk itu menyerang Yua dengan sangat brutal. Yua menyerang balik dengan tebasan gelombang air dahsyatnya. Namun, serangan mawar hitam mengenai tubuh Yua. Tubuh Yua perlahan berubah menghitam seolah racun itu menyebar ke seluruh tubuh.

"Tidak.." teriak Ryujin.

Melihat dirinya yang semakin melemah, Yua segera menggunakan Mantra Pembalik.

Mantra Pembalik adalah teknik berbahaya yang memanfaatkan energi kutukan yang telah masuk ke dalam tubuh pengguna. Dengan melukai bagian tubuh yang terinfeksi, pengguna dapat membalikkan aliran energi tersebut dan mengembalikannya kepada pemiliknya dengan kekuatan yang berlipat ganda. Namun, teknik itu sangat berbahaya. Kesalahan sekecil apa pun dapat menyebabkan tubuh pengguna hancur bersama musuh yang menjadi sasarannya.

"Wahai energi kegelapan yang mengalir dalam darahku, kembalilah kepada pemilikmu. Demi kedamaian alam semesta, aku menghakimimu!" ucapnya dengan suara yang tegas.

Angin di sekelilingnya mulai berputar. Mantra pemabalik mulai dibacakan kata demi kata. Cahaya keemasan perlahan menyelimuti tubuhnya.

"Wahai makhluk-makhluk jahat, aku melenyapkan kalian dari dunia ini!"

Saat mantra itu terucap sempurna, cahaya yang menyelimuti tubuh Yua meledak ke segala arah.

Master Seijun, Ryujin, Haru, dan Jinsei tertegun.

Jantung mereka berdetak kencang. Mereka tahu betul apa arti mantra itu. Sekali diucapkan, Mantra Pembalik tidak dapat dihentikan. Bahkan oleh pengguna itu sendiri.

Makhluk kutukan tersebut tertawa keras.

"Hahaha! nyalimu besar juga gadis muda!"

Makhluk itu mengulurkan tangannya dan energi hitam pekat kembali menyelimuti tubuhnya.

"Tapi kau terlambat. Racunku sudah menyatu dengan darahmu. Saat kau membalikkan energi itu, tubuhmu sendiri akan menjadi korban pertama!" tegas makhluk itu.

Namun Yua tetap berdiri tegak. Tidak ada sedikit pun ketakutan di matanya. Dia justru tersenyum tipis.

"Aku tahu."

Jawaban itu membuat tawa makhluk kutukan berhenti seketika.

"Apa?"

"Aku tahu risikonya."

Tiba-tiba simbol-simbol kuno berwarna emas muncul di seluruh tubuh Yua. Racun hitam yang mengalir dalam pembuluh darahnya mulai bercahaya dan bergerak berlawanan arah.

Mata makhluk kutukan itu membelalak.

"Itu tidak mungkin!"

Energi kutukan yang berada di dalam tubuh Yua mendadak terhubung dengan tubuh makhluk tersebut melalui benang-benang hitam yang tak terlihat.

Retakan mulai muncul di tubuh makhluk kutukan itu.

Kemudian di dada.

Lalu di wajahnya.

"Tidak... tidak mungkin! bagaimana kau bisa mengendalikan energi kutukanku?!" teriak makhluk kutukan.

Karena menahan rasa sakit yang luar biasa, darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Kekuatan ini bukan untuk menyelamatkan diriku."

"Tapi untuk melindungi mereka yang tidak mampu melawanmu."

BOOOM!

Yua menusukkan katananya di tubuhnya.

Cahaya keemasan semakin terang. Langit malam berubah menjadi putih menyilaukan. Ryujin, Haru, Jinsei, dan Master Seijun segera menutupi wajah mereka dari gelombang energi yang dahsyat.

Di tengah ledakan itu terdengar jeritan mengerikan dari makhluk kutukan.

"AARRRGHHHHH!!!"

Tubuhnya mulai hancur sedikit demi sedikit, seolah energi miliknya sendiri sedang melahap keberadaannya.

Namun di saat yang sama, tubuh Yua juga mulai kehilangan keseimbangan.

Kakinya gemetar.

Penglihatannya kabur.

Dan saat cahaya perlahan memudar, tubuh Yua terjatuh ke depan.

"YUAAA!!"

Ryujin dan Jinsei berteriak bersamaan sambil berlari ke arahnya, sementara nasib makhluk kutukan itu masih tertutup oleh kabut cahaya yang belum sepenuhnya menghilang.

Sambil tergeletak lemas. Makhluk kutukan berkata, "Bisa-bisanya kau dicintai dua orang sekaligus, aku sangat iri kepadamu."

Dengan lemas Yua berkata "Hahaha sempat-sempatnya kau bicara seperti itu di tengah-tengah ajalmu."

"Kau ingin tahu siapakah dua pria yang sedang mencintaimu?."

Yua terdiam dan menatap mata makhluk itu.

Makhluk kutukan berkata "Dia adalah..."

Tak sempat mengucapkan kalimat terakhirnya. Tiba-tiba Haru memenggal kepala makhluk kutukan itu.

Haru berkata "Lihatlah dirimu sendiri, kau sudah kalah."

Tiba-tiba, cahaya muncul di atas makhluk kutukan. Membuat mereka yang melihatnya silau.

Makhluk kutukan berteriak sambil berkata "Mengapa aku harus hidup menderita..."

"Cahaya itu.. seperti tidak asing" ucap Master Seijun.

Lalu, makhluk kutukan tewas menjadi abu dan beberapa kelopak bunga mawar hitam. Semua itu menghilang seiring terpaan angin.

Yua terjatuh di tanah. Ryujin, Jinsei, Haru dan Master Seijun menghampirinya.

Sambil menangis Ryujin memeluk Yua dengan berkata "Yua.. sadarlah, aku tahu kau masih hidup."

Jinsei berdiri dan meneteskan air mata, menatap Yua seolah tidak percaya semua ini terjadi. "Tidak mungkin" ucap Jinsei di dalam hatinya lalu menghampiri Yua.

Haru dan Master Seijun saling menatap.

Master Seijun bertepuk tangan sambil berkata "Bukan main.. muridku sangat berani."

Haru tersenyum tipis menatap Master Seijun.

"Bisa-bisanya Master bicara seperti itu" jawab Ryujin.

Fajar telah tiba. Cahaya matahari menyinari mereka. Ryujin dan Jinsei masih menangisi Yua seakan tidak percaya semua ini terjadi.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari belakang Ryujin dan Jinsei.

Dia berkata "Kalian ini kenapa? cengeng sekali.."

Ryujin dan Jinsei saling beradu tatap.

"Apakah Yua berpamitan kepada kita?."

Mereka menoleh kebelakang dan terkejut melihat Yua masih hidup dan masih ada beberapa luka goresan di belakangnya. Seolah tidak percaya, Jinsei dan Ryujin bolak-balik melihat Yua yang dipeluknya dengan Yua yang berbeda di belakangnya.

Yua berjalan kedepan melewati Ryujin dan Jinsei sambil berkata "Ternyata aku bisa menggunakan mantra pembalik tanpa tubuhku yang asli ya Master."

"Aku kagum padamu, muridku.."

Haru memberi ucapan selamat kepada Yua atas kemenangan ini.

Ryujin dan Jinsei berdiri menghampiri Yua.

Dengan kebingungan, Jinsei berkata "Bagaimana ini bisa terjadi?."

Yua menunjuk dirinya yang terkapar itu sambil berkata "Lihatlah.. bayanganku memudar."

Jinsei dan Ryujin terheran-heran melihat kejadian itu.

Yua berkata "Jadi apa kalian sudah paham?."

Jinsei dan Ryujin hanya terdiam.

Dengan kesal Yua berkata "Ahh sudahlah, akan kujelaskan nanti ayo kita kembali."

Master Seijun, Haru dan Yua pergi meninggalkan Jinsei dan Ryujin yang masih terdiam bingung.

Ryujin bertanya kepada Jinsei "Aku tidak berhalusinasi kan?."

Jinsei menyubit pipi Ryujin dan sebaliknya. Mereka merasakan sakit.

Jinsei berkata "Ini nyata.."

Jinsei dan Ryujin menoleh ke Yua dan mengejarnya dengan tatapan bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!