NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Gadis Desa Milik Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vinna naa

Bagi dunia luar, Justin Devano Ardiansyah adalah perwujudan dari malaikat maut. Sebagai pemimpin tertinggi The Ardiansyah Syndicate, dia adalah pria berdarah dingin yang menguasai dunia bawah tanah ibu kota dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan darah, pengkhianatan, dan kemewahan yang hampa. Namun, sebuah konspirasi besar dan pengkhianatan anak buahnya membuat Justin terdesak, terluka parah, dan terdampar di sebuah desa terpencil yang jauh dari peradaban kota.

Di sanalah ia merangkak ke sebuah gubuk bambu milik Kimberly seorang gadis desa yatim piatu yang hidup sederhana sebagai penjual jamu tradisional keliling.

Kimberly tidak tahu siapa pria bertato naga yang sekarat di dapurnya. Yang dia tahu, pria itu membutuhkan pertolongan. Dengan ketulusan dan keberanian yang murni, Kimberly merawat sang mafia, menjahit lukanya dengan alat seadanya, dan memberikan ketenangan yang belum pernah Justin rasakan sepanjang hidupnya. Mata polos dan ketulusan Kimberly berhasil mencairkan gunun

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vinna naa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Badai Di Dalam Lemari Pakaian

Pagi hari di mansion Ardiansyah selalu dimulai dengan aroma yang kontradiktif, di satu sisi, ada wangi kopi espresso pahit milik Justin, dan di sisi lain, ada aroma jamu kunyit asam segar yang disiapkan Kimberly.

Namun, ketenangan pagi itu mendadak pecah karena masalah pelik yang bersumber dari lantai dua tepatnya di dalam walk-in closet alias lemari pakaian raksasa milik mereka.

Justin yang baru saja selesai mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, pria bertubuh kekar itu berdiri kaku di ambang pintu lemari raksasanya dengan kening berkerut dalam.

Sepasang mata elangnya menatap deretan pakaian yang tergantung rapi dengan pandangan tidak percaya.

"Kimberly," panggil Justin, suaranya yang berat menggema, memanggil sang istri yang sedang merapikan tempat tidur.

"Iya, Mas? Ada apa?" Kimberly melangkah masuk ke dalam lemari raksasa tersebut, masih memegang kemoceng di tangannya.

Justin menunjuk ke arah deretan gantungan pakaian di sisi kanannya, di sana, di antara setelan jas custom-tailored berharga ratusan juta rupiah milik sang Tuan Besar Mafia, terselip tiga lembar kemeja flanel kotak-kotak murah berwarna merah, biru, dan hijau terang.

Tidak hanya itu, di bagian bawah rak sepatu kulit premium buatan Italia milik Justin, kini bertengger sepasang sandal jepit karet berwarna hijau cerah yang biasa dipakai bapak-bapak di pos ronda desa.

"Bisa kau jelaskan... benda apa yang menyusup ke dalam lemariku ini, Istriku?" tanya Justin dengan nada sedatar mungkin, meskipun matanya menatap sandal jepit itu seolah-olah itu adalah paket bom kiriman musuh, Kimberly berkacak pinggang, menatap suaminya dengan pandangan protes.

"Itu kemeja flanel dan sandal jepit baru buat Mas Justin. Kemarin waktu aku ke pasar tradisional sama Marco, aku lihat ada toko baju yang jual itu. Bahannya katun adem, Mas. Bagus buat dipakai santai di rumah." Justin menelan ludah.

"Kim, aku seorang Ardiansyah. Pakaian santaiku adalah kaos polo sutra atau jubah tidur satin. Aku tidak bisa memakai... kain kotak-kotak penebang pohon ini di dalam rumahku sendiri."

"Mas Justin," ucap Kimberly dengan nada memperingatkan, mata bulatnya menyipit tajam.

"Baju-baju Mas itu warnanya hitam, abu-abu, kalau tidak navy. Suram sekali seperti mau melayat terus setiap hari. Mas itu masih muda, tampan lagi. Sekali-kali pakai warna cerah biar aura rumah ini tidak ikutan tegang. Dan itu sandal jepitnya dipakai ya, Mas, kalau mau jalan-jalan ke kebun belakang. Biar kaki Mas tidak lecet kena kerikil."

Justin menatap kemeja flanel merah di depannya, lalu menatap wajah Kimberly yang sudah melipat kedua tangannya di dada, ancaman terselubung 'tidur di sofa' kembali terbayang di benak sang mafia.

Dengan helaan napas pasrah yang sangat berat, Justin meraih kemeja flanel merah tersebut.

"Baik. Tapi hanya untuk di dalam kamar ini, Kim. Jika Marco melihatku memakai ini, reputasiku sebagai pemimpin The Syndicate akan hancur dalam semalam."

"Iya, iya, Mas. Dipakai sekarang ya, aku mau lihat," tagih Kimberly dengan mata berbinar senang.

Lima menit kemudian, transformasi paling bersejarah di mansion Ardiansyah terjadi, Justin Devano Ardiansyah, pria yang ditakuti seluruh dunia bawah tanah ibu kota, kini berdiri di depan cermin besar mengenakan kemeja flanel kotak-kotak merah yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana pendek hitam santai, dan... sepasang sandal jepit karet hijau di kakinya.

Kimberly menahan napas, lalu meledak dalam tawa renyah yang sangat puas.

"Bahu Mas Justin terlalu lebar, jadi kemeja flanelnya kelihatan ketat sekali di bagian dada. Tapi... Mas kelihatan gagah kok! Mirip mas-mas penjaga vila di puncak." Justin menatap pantulannya di cermin dengan ekspresi horor.

"Kim, ini memalukan. Dada dan lenganku rasanya mau robek karena kain ini terlalu pas."

Tok, tok.

Pintu kamar utama mendadak diketuk dari luar. Suara Marco terdengar dari balik pintu.

"Tuan Besar, dokumen pelabuhan selatan yang Anda minta tadi malam sudah siap. Apakah saya bisa masuk untuk meminta tanda tangan Anda?" Justin seketika panik. Dia melirik sandal jepit hijaunya dengan pandangan darurat.

"Tunggu di luar, Marco! Aku sedang sibuk!"

Namun, Kimberly yang dasarnya jahil dan ingin mencairkan suasana rumah yang terlalu kaku, justru berjalan cepat ke arah pintu sebelum Justin sempat menahannya, Kimberly memutar knop pintu dan membukanya lebar-lebar.

"Masuk saja, Marco. Mas Justin ada di dalam kok," ucap Kimberly dengan senyum polos tak berdosa.

Marco melangkah masuk dengan dokumen di tangan kirinya, bersiap memberikan penghormatan formal seperti biasa.

Namun, begitu pandangan matanya jatuh pada sosok pria yang berdiri di tengah kamar, langkah kaki Marco langsung terkunci di lantai marmer.

Dokumen di tangan kiri Marco hampir saja terlepas, pria bertubuh kekar itu mengerjapkan matanya tiga kali, memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mengalami halusinasi akibat kurang tidur.

Bos besarnya, sang pencabut nyawa dari dunia malam, kini sedang berdiri kaku dengan baju kotak-kotak merah menyala dan sandal jepit karet hijau yang sangat legendaris di kalangan warga pinggiran.

Suasana kamar seketika hening mencekam. Urat di pelipis Justin tampak menegang, matanya menatap Marco dengan pandangan yang berbunyi: 'Jika kau tertawa atau membocorkan ini ke grup obrolan, besok namamu tinggal sejarah.'

Marco mati-matian menahan otot wajahnya agar tetap kaku seperti papan triplek, pundaknya bergetar hebat, dan napasnya terdengar terengah-engah karena menahan tawa yang sudah berada di ujung tenggorokan.

"T-Tuan Besar... maksud saya, Mas..." Marco berdeham keras, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak cempreng.

"Pakaian Anda... hari ini... sangat... menyatu dengan alam."

"Letakkan dokumennya di meja, Marco. Lalu keluar dan lupakan apa yang kau lihat dalam lima detik, atau aku akan mengirimmu ke distrik timur untuk memotong rumput dengan gigi," geram Justin dengan suara rendah yang sangat mengancam.

"Baik, Tuan. Permisi," ucap Marco secepat kilat.

Dia menaruh dokumen di meja nakas, berbalik, dan langsung berjalan setengah berlari keluar dari kamar.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, terdengar suara tawa Marco yang meledak hebat di koridor luar, sampai-sampai suara tawa itu teredam dinding tebal kamar.

Justin mengembuskan napas panjang, berbalik menatap Kimberly yang kini sedang terduduk di tepi ranjang sambil menutup wajahnya dengan bantal, tubuhnya berguncang hebat karena tertawa geli.

Justin melangkah mendekat dengan langkah sepatunya yang kini berbunyi 'plak-plok-plak-plok' khas suara sandal jepit karet murahan di atas lantai mewah.

Dia menarik bantal yang menutupi wajah Kimberly, menatap istrinya dengan pandangan gemas yang dipenuhi cinta.

"Kau puas mengerjaiku hari ini, Nyonya Ardiansyah?" tanya Justin, suaranya kini melunak.

Kimberly menurunkan tangannya, menatap wajah tampan suaminya yang masih cemberut, dia meraih kerah kemeja flanel merah Justin, menariknya sedikit ke bawah agar wajah mereka sejajar.

"Aku tidak mengerjaimu, Mas. Aku hanya ingin Mas Justin tahu, di rumah ini, Mas tidak perlu menjadi singa yang selalu menakutkan. Menjadi 'Mas Justin' yang memakai baju kotak-kotak dan sandal jepit ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia."

Mendengar perkataan tulus dari istrinya, hati Justin yang keras kembali melunak seketika, ego dan gengsi tingginya sebagai penguasa kegelapan menguap, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah.

Justin duduk di samping Kimberly, merengkuh pinggang ramping istrinya dan membawa gadis desa itu ke dalam pelukan hangatnya.

"Baiklah. Demi istriku, aku bersedia memakai baju penebang pohon ini setiap akhir pekan," bisik Justin di sela rambut wangi melati Kimberly.

"Tapi jika ada preman pasar atau musuh yang melihat ini, aku akan bilang kalau ini adalah tren fesyen terbaru dari istrimu."

Kimberly tertawa kecil dalam dekapan suaminya, melingkarkan lengannya di leher kekar Justin, dii dalam kamar utama yang megah itu, di antara tumpukan kemewahan kota yang kaku, kehadiran baju flanel murah dan sandal jepit hijau menjadi simbol baru bahwa kebahagiaan sejati dalam rumah tangga mereka tidak diukur dari mahalnya harga pakaian, melainkan dari tawa lepas dan kenyamanan yang mereka bagi bersama di dalam sangkar emas yang kini telah berubah menjadi rumah yang penuh cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!