Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : PAMANAH RASA
Debu perlahan turun ke tanah. Keributan sudah mereda. Prajurit Kadipaten duduk tidak beraturan di sana-sini. Ada yang memegangi kaki, mengusap bahu, ada yang masih kebingungan menatap senjata mereka yang terbelah atau patah di tengah. Tak ada darah yang mengalir, tak ada luka mengancam nyawa. Tapi kekuatan mereka seolah hilang semua, diganti rasa takut menghadapi sesuatu yang tak mereka pahami.
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar napas berat dan rintihan pelan. Bayu berdiri tegak di samping pedagang tua yang kini duduk lebih tenang. Matanya tetap waspada menyapu sekeliling, memastikan tak ada yang menyerang lagi dari balik pepohonan.
Larasati menurunkan kuda-kuda tarungnya. Ia menyelipkan kembali keris kecil di pinggangnya perlahan. Sementara lelaki tua itu tetap bersandar tenang pada tongkatnya, seolah tak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi.
Karta berdiri agak ke samping, dekat sekelompok prajurit yang berusaha bangun. Tiba-tiba telinganya menangkap suara bisikan halus. Salah satu prajurit merangkak mendekati temannya yang terbaring, lalu membungkuk rendah.
“Cepat bangun… jangan lama di sini,” bisiknya gemetar. “Lihat caranya bertarung… senjata yang melumpuhkan tanpa menyentuh kulit… itu pasti dia. Si Pamanah Rasa yang dicari Ki Jaka atas perintah Adipati Rangga.”
Telinga Karta yang terlatih mendengar suara hutan sejak kecil menangkap semua kata itu jelas sekali. Ia seketika membeku. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka tak percaya. Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk Bayu, lalu kembali menatap prajurit itu.
Tak lama tawa meledak keluar, keras dan renyah memecah keheningan. Ia melangkah cepat mendekat sambil menepuk-nepuk bahu Bayu riang.
“Wah, Kang Bayu!” serunya di sisa tawa. “Ternyata kita sudah terkenal sampai ke telinga orang penting! Si Pamanah Rasa… bunyinya hebat sekali! Tak disangka nama itu sudah sampai ke Kadipaten, sampai mereka mencarinya ke mana-mana!”
Kata-kata itu bagaikan guntur di siang bolong. Bayu tertegun kaku, wajahnya seketika pucat. Ia menatap Karta lekat-lekat, berharap ini cuma gurauan. Tapi melihat senyum polos anak itu, ia tahu itu kenyataan. Rahasia yang dijaga sekuat tenaga, yang hanya diketahui dia dan Mbah Karsa, kini terungkap begitu saja di hadapan musuh dan orang asing.
Ia segera menoleh ke lelaki tua dan Larasati. Lelaki tua itu tersenyum lebar, matanya berbinar bangga. Tapi Larasati berdiri terpaku, mulutnya ternganga lebar, menatap Bayu dari ujung kaki sampai kepala. Heran, curiga, dan takjub bercampur jadi satu di wajahnya.
“Si Pamanah Rasa?” ulangnya pelan suaranya bergetar. “Yang dicari ke seluruh wilayah Kadipaten sampai ke istana?”
Ia menunjuk Bayu dengan jari gemetar.
“Itu nama yang sering ada di laporan rahasia ayahku. Katanya sosok misterius pelindung rakyat tertindas, kekuatannya tak biasa… dan kau… kau adalah orang itu?”
Bayu menggeleng kuat-kuat, tapi keraguannya terlihat jelas di mata.
“Aku… aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku cuma pemuda desa biasa yang tak tega melihat ketidakadilan. Tak ada nama besar, tak ada gelar istimewa…”
“Jangan menyangkal, Nak,” potong lelaki tua lembut tapi tegas.
“Nama itu bukan kau buat, tapi rakyat yang pernah kau tolong.”
“Setiap kali ketidakadilan berakhir tanpa darah, setiap kali yang lemah selamat karena bantuan tak terlihat, nama itu berbisik dari mulut ke mulut. Menjadi legenda sebelum kau sadari.”
Bayu terdiam. Ia teringat kejadian di kampung saat Ki Jaka menaikkan pajak, bagaimana panahnya melumpuhkan tanpa melukai, tatapan harap warga yang tak berani bertanya siapa pelindungnya. Ternyata ke mana pun ia melangkah, jejak itu tertinggal, dan nama itu sudah terbang lebih jauh dari kakinya sendiri.
Prajurit yang tersisa saling pandang pucat pasi. Mendengar nama itu disebut jelas, rasa takut makin besar. Mereka tahu betul sosok ini bahkan ditakuti petinggi Kadipaten, tak bisa dilawan senjata biasa. Tanpa perintah mereka saling bantu berdiri, menyeret temannya, lalu lari ke arah kuda yang tertambat.
“Cepat! Harus lapor ke Adipati Rangga sekarang!” teriak salah satu sambil naik pelana gemetar.
“Ini berita yang bisa merubah segalanya!”
Derap kuda terdengar memburu, hilang bersama kepulan debu tebal. Kabar identitas Bayu kini terbang ke pusat kekuasaan. Mereka tak lagi sekadar dicurigai orang asing tapi kini jadi sasaran utama yang akan diburu segala cara.
Larasati masih tak tenang. Ia melangkah mendekat, menatap wajah Bayu lekat-lekat seolah ingin membaca setiap garis di sana.
“Selama ini, yang aku mendengar cerita tentang Si Pamanah Rasa. Ada yang bilang pahlawan, ada yang bilang penyihir, ada yang bilang musuh Kadipaten.”
“Tak pernah terbayang… orang yang kukira licik dan kurang ajar, ternyata yang paling dicari karena kebaikannya.”
Bayu menghela napas panjang, pundak terasa berat memikul gunung.
“Saya tak bermaksud sembunyi lari dari tanggung jawab, Tuan Putri. Saya cuma takut kalau tahu identitas ini, orang di sekitar saya jadi celaka.”
“Saya cuma ingin berbuat baik tanpa dipuji atau dicari. Tapi sepertinya takdir berkata lain.”
“Kekuatan begini tak bisa disembunyikan selamanya,” ujar lelaki tua sambil menatap bayangan busur di punggung Bayu.
“Busur itu tidak memilih pemilik dengan sembarangan. Jatuh ke tanganmu karena hatimu bersih, karena kasihmu pada sesama.”
“Dan nama itu? Bukan sekadar sebutan. Itu amanah rakyat yang dipercayakan padamu.”
Karta menyela dengan wajah berseri, tak sepenuhnya paham beban yang dirasakan Bayu.
“Amanah yang hebat, Kakek! Nanti kalau ada yang berani ganggu orang lemah, kita bilang saja: ‘Hati-hati, ini teman Si Pamanah Rasa!’ Pasti mereka langsung lari terbirit-birit!”
“Tak semudah itu, Karta,” sahut Bayu pelan.
“Nama besar bawa bahaya besar. Sekarang Bupati Ranga Sasmita, Ki Wira Kusuma, dan semua penguasa yang jalan salah akan menganggapku musuh utama.”
“Mereka akan melakukan apa saja untuk menangkapku, bahkan membunuhku. Dan tak segan menyeret siapa saja yang bersamaku.”
Senyum Karta perlahan hilang. Ia menunduk sebentar, lalu menatap Bayu dengan tekad bulat.
“Aku tidak takut, Kang. Ke mana pun Kakang pergi, aku ikut. Kalau ada bahaya, kita hadapi bareng-bareng. Lagipula pisaupun sudah kenal baik sama kebenaran, kan? Selama kita tak salah jalan, dia tak akan khianati kita.”
Larasati mengangguk pelan. Keraguan yang memenuhi hatinya kini luntur berganti rasa hormat dalam.
“Aku juga tak akan pergi. Jika benar kau Si Pamanah Rasa pelindung rakyat tak bersalah, maka tugasku sebagai putri Galuh adalah mendukung kebenaran.”
“Aku mungkin tak setuju caramu sembunyi, tapi tak akan kubiarkan kau sendirian melawan keserakahan mereka.”
Lelaki tua tersenyum puas melihat kebersamaan yang mulai terbentuk.
“Begitulah seharusnya. Kabar yang terbang tadi bukan cuma ancaman, tapi panggilan.”
“Kau tak bisa lagi berjalan dalam bayang-bayang. Harus berani tampil secara nyata, buktikan nama Si Pamanah Rasa adalah harapan, bukan ketakutan.”
Bayu menatap jalan yang dilalui prajurit tadi, ke arah Istana Kadipaten berdiri megah namun penuh kebusukan. Pintu yang selama ini ditutup rapat kini terbuka lebar. Tak bisa kembali jadi pemuda desa tak dikenal. Tapi ada rasa lega samar menyelinap—akhirnya tak perlu berbohong, tak perlu sembunyi dari orang baik.
Ia menarik napas dalam, kumpulkan sisa tenaga dan keteguhan hati.
“Baiklah,” ucapnya mantap.
“Jika nama ini sudah terdengar, jika rahasia sudah terkuak, aku akan menggunakanya dengan jujur.”
“Aku Bayu Suta dari Kampung Cikabuyutan, dan aku adalah Pamanah Rasa. Tak akan kubiarkan nama ini ternoda kejahatan, dan akan kubela keadilan sampai akhir.”
Matahari makin condong ke barat, menyebar cahaya keemasan menyelimuti keempat sosok itu. Di ujung jalan bahaya mungkin menanti, tapi jalan menuju kebenaran kini tampak lebih terang dari sebelumnya. Nama yang terdengar di telinga musuh ternyata adalah panggilan untuk menyatukan kekuatan, melangkah beriringan menuju takdir yang sudah ditetapkan sejak lama.