Bara, hantu pemula dengan nilai pas-pasan, mendapat tugas akhir: meneror penghuni apartemen dalam 30 hari atau turun derajat jadi hantu kelas teri. Masalahnya, korbannya adalah Dinda, content creator horor yang skeptis dan malah mengkritik teknik menakut-nakuti Bara karena "kurang estetik".
Di tengah tekanan KPI dari supervisor hantu yang toksik dan tuntutan algoritma media sosial, Bara justru terjebak menjadi asisten pribadi Dinda. Akankah Bara berhasil menyelesaikan magangnya, atau malah gagal total karena terlalu asyik berdebat soal lighting dan angle kamera?
Sebuah komedi horor segar tentang hantu yang takut PHK dan manusia yang takut unfollow.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Basement De Factorij dan Mantra Biometrik
Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, tampak anggun namun sunyi di sore hari itu. Bangunan abad ke-18 peninggalan VOC yang dulunya merupakan rumah tinggal Gubernur Jenderal Reinier de Klerk ini kini berfungsi sebagai museum dan ruang budaya. Bagi pengunjung biasa, ini adalah destinasi sejarah yang tenang. Namun bagi Bara, Dinda, dan Mbak Siti, gedung tua ini adalah medan tempur pertama mereka.
"Jam operasional tutup pukul 15.00," bisik Dinda sambil mengecek jam tangannya. Pukul 14.45. "Kita punya lima belas menit sebelum petugas keamanan mulai patroli malam."
Mereka berdiri di dekat pintu masuk samping yang jarang digunakan, sebuah celah strategis yang telah dipetakan oleh Mbak Siti berdasarkan ingatan arsipnya tentang denah bangunan era kolonial.
"Basement De Factorij tidak ada di peta publik modern," jelas Siti, suaranya hanya terdengar di telinga Bara dan Dinda melalui koneksi energi gaib. "Pintu aslinya disembunyikan di balik panel kayu di koridor belakang lantai dasar. Panel itu dilapisi mantra pengikat yang hanya bisa dibuka dengan resonasi darah keturunan Penjaga... atau dalam kasusku, resonasi memori purba."
Bara mengangguk, clipboard-nya bergetar pelan menandakan deteksi energi tinggi di area tersebut. "Aku merasakan aura pengikatnya. Sangat kuat. Tapi juga... rapuh. Seolah sudah lama tidak dirawat."
"Mereka lupa cara merawatnya," gumam Siti dengan nada sedih. "Itulah mengapa fragmen itu masih tersimpan di sini. Bukan karena penjagaan yang baik, tapi karena kelalaian."
Dinda mengambil napas dalam, lalu melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Ia mengenakan seragam magang museum palsu yang ia buat semalam—cukup meyakinkan untuk melewati sekuriti pagi yang sedang mengantuk, tapi tidak akan bertahan lama jika diperiksa detail.
"Rencana A: Masuk sebagai tim dokumentasi interior," bisik Dinda pada Bara yang melayang tak kasatmata di sampingnya. "Kamu scan area basement dari atas. Jika ada jebakan energi, beri kode dua kedipan lampu ponselku. Mbak Siti, kamu fokus pada panel kayu. Aku akan mengalihkan perhatian siapa pun yang lewat."
Mereka bergerak cepat melalui koridor belakang yang remang-remang. Bau kayu tua dan debu abadi memenuhi udara. Di ujung koridor, tepat seperti yang dikatakan Siti, terdapat panel kayu ukiran Belanda yang tampak menyatu dengan dinding. Namun bagi mata gaib Bara, panel itu bersinar redup dengan pola mantra Kawi yang hampir pudar.
"Sekarang," desis Siti.
Ia melayang mendekat, tangan transparannya menyentuh permukaan kayu. Matanya tertutup, bibirnya bergerak tanpa suara, mengucapkan mantra pembukaan yang telah ia simpan selama seabad. Energi putih keemasan mengalir dari tubuhnya ke panel kayu. Pola mantra di permukaan kayu mulai menyala, berdenyut selaras dengan detak jantung Dinda yang berdiri di dekatnya sebagai anchor fisik.
Klik.
Panel kayu bergeser perlahan ke samping, mengungkapkan tangga batu spiral yang turun ke kegelapan. Udara dingin dan lembap naik dari bawah, membawa aroma logam tua dan sesuatu yang lebih tajam—aroma waktu yang terperangkap.
"Turun," perintah Siti, napasnya (meski ia tidak bernapas) terdengar berat. "Mantra ini hanya bertahan tiga menit sebelum reset otomatis."
Dinda menyalakan senter ponselnya, cahayanya memantul di dinding batu yang berlumut. Tangga itu sempit dan licin. Bara melayang di depan, memindai setiap langkah dengan sensor gaibnya.
"Aman. Tidak ada jebakan aktif. Tapi... ada residu energi negatif di anak tangga ketiga dari bawah. Bekas seseorang yang pernah mencoba masuk dengan paksa."
"Mereka gagal," kata Siti singkat. "Dan mereka meninggalkan jejak kemarahan yang masih menempel."
Di dasar tangga, terbentang ruangan basement yang luas. Langit-langitnya rendah, ditopang pilar-pilar batu besar. Di tengah ruangan, berdiri sebuah brankas besi cor berukuran raksasa, permukaannya dipenuhi ukiran naga dan singa yang saling membelit. Brankas itu bukan brankas biasa. Itu adalah Lemari Penyimpanan Jiwa, artefak hibrida antara teknologi Eropa abad 18 dan sihir Nusantara kuno.
"Itu dia," bisik Dinda, matanya terpana. "Fragmen Mata Barong."
Tapi saat mereka mendekat, clipboard Bara berkedip merah darurat.
PERINGATAN: BRANKAS AKTIF. SISTEM KEAMANAN GANDA TERDETEKSI. KOMBINASI FISIK + MANTRA DARAH DIPERLUKAN. WAKTU SISA MANTRA PANEL: 60 DETIK.
"Enam puluh detik!" seru Dinda panik. "Mbak Siti, bagaimana cara bukanya?!"
Siti melayang ke depan brankas, wajahnya tegang. "Brankas ini dirancang oleh leluhurku bekerja sama dengan insinyur VOC. Kombinasi fisiknya adalah urutan angka yang mewakili tahun perang terakhir: 1-9-2-7. Tapi itu saja tidak cukup. Dibutuhkan sentuhan tangan berdarah keturunan Penjaga untuk mengaktifkan mekanisme mantra di dalamnya."
"Tapi kamu nggak punya tangan fisik!" teriak Bara.
"Aku butuh perantara," kata Siti, menatap Dinda tajam. "Dinda, berikan tanganmu. Aku akan meminjam aliran darahmu sebagai konduktor. Rasanya akan seperti disengat listrik dingin. Jangan tarik tanganmu sampai brankas terbuka."
Dinda tidak ragu. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah brankas. Siti menempatkan tangan transparannya di atas telapak tangan Dinda. Seketika, Dinda mengerang kesakitan. Tubuhnya bergetar hebat, matanya terbelalak, dan urat-urat di lengannya menonjol biru kehitaman.
"1... 9... 2... 7..." gumam Siti sambil memutar dial brankas dengan bantuan gerakan jari Dinda yang dikendalikan energinya.
Dug. Dug. Dug. Dug.
Setiap angka disertai denyutan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh Dinda. Bara ingin membantu, tapi ia tahu campur tangannya justru akan mengganggu resonansi darah murni yang dibutuhkan. Ia hanya bisa berdiri di samping, clipboard-nya mencatat setiap detik dengan presisi militer.
Sisa waktu: 15 detik.
"Terakhir..." desis Siti, suaranya parau. Dial terakhir diputar.
KA-CHUNK.
Suara mekanisme besi tua yang berkarat terdengar nyaring di keheningan basement. Pintu brankas terbuka perlahan, mengeluarkan embun putih tebal.
Di dalamnya, di atas bantal beludru hitam yang telah lapuk dimakan usia, terbaring sebuah objek kecil seukuran kepalan tangan. Bentuknya seperti mata manusia, tapi terbuat dari obsidian hitam pekat yang berkilau seperti minyak. Di tengahnya, terdapat pupil berwarna emas yang seolah hidup, berkedip pelan mengikuti ritme napas Dinda yang masih tersengal-sengal.
Mata Barong Hitam.
Fragmen pertama.
"Sempurna," bisik Siti, melepaskan tangan dari Dinda. Dinda ambruk ke lutut, napasnya memburu, tapi matanya tetap terpaku pada objek di dalam brankas.
Bara segera mendekat, clipboards-nya memindai fragmen tersebut. Tinta ungu neonnya menulis dengan kecepatan gila:
FRAGMEN KE-1: MATA BARONG HITAM.
STATUS: AUTENTIK. ENERGI PURBA TERVERIFIKASI.
PERINGATAN KRITIS: FRAGMEN INI MEMILIKI KESADARAN PARTIAL. JANGAN SENTUH TANPA SARUNG TANGAN PEREDAM.
DETEKSI ANOMALI: TIM PENJAGA MODERN TERDETEKSI DI RADIUS 500 METER. ETA KEDATANGAN: 12 MENIT.
"Dua belas menit!" teriak Bara. "Kita harus keluar sekarang!"
Dinda bangkit dengan susah payah. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengambil sarung tangan peredam khusus dari tas ranselnya—barang yang ia siapkan berdasarkan riset Mbak Siti tentang penanganan artefak berbahaya. Ia memakai sarung tangan itu, lalu dengan hati-hati mengangkat Mata Barong Hitam dari bantal beludru.
Objek itu hangat. Terlalu hangat. Dan saat Dinda memegangnya, ia mendengar bisikan samar di kepalanya. Bukan bahasa manusia. Bukan bahasa hantu. Bahasa yang lebih tua dari keduanya. Bahasa yang berbicara tentang perang, pengkhianatan, dan janji yang belum lunas.
"Aku mendengarnya," bisik Dinda, matanya berkaca-kaca bukan karena sakit, tapi karena beban ingatan yang bukan miliknya.
"Simpan di pouch peredam. Sekarang!" perintah Siti, mendorong mereka menuju tangga.
Mereka bergegas naik, menutup panel kayu tepat saat suara langkah kaki berat terdengar dari arah koridor utama. Tim Penjaga Modern telah tiba.
Di luar gedung, matahari terbenam mewarnai langit Jakarta dengan jingga kelam. Mereka berhasil. Fragmen pertama aman. Tapi kemenangan ini terasa pahit. Karena saat Dinda memasukkan Mata Barong Hitam ke dalam pouch peredam, ia menyadari satu hal:
Bisikan itu tidak berhenti.
Itu baru permulaan. Dan enam fragmen lainnya... masing-masing memiliki suara mereka sendiri.
"Ke apartemen," kata Dinda, suaranya serak tapi tegas. "Kita perlu dekripsi bisikan ini sebelum mereka menemukan kita."
Bara mengangguk, clipboards-nya sudah menyiapkan rute evakuasi alternatif. Mbak Siti melayang di samping mereka, wajahnya lelah tapi puas.
Misi pertama selesai. Tapi perang sesungguhnya... baru saja dimulai.