NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

‎Kania masih tertegun, matanya menyipit menatap sosok pria itu di tengah guyuran hujan yang makin deras. Keraguan menguasai hatinya. Siapa dia? Apakah ini jebakan lain? Namun saat suara teriakan dan langkah kaki berat semakin mendekat dari balik kegelapan, ia sadar jika ia tak punya pilihan lain.

‎‎Tanpa menunggu jawaban, pria itu mengulurkan satu tangannya. Telapak tangannya luas, kokoh, dan terasa keras seperti batu. Tatapannya tetap datar, dingin, tak ada sedikit pun simpati yang terlihat di balik matanya yang tajam.

‎‎"Masuk. Aku tidak mengulang perintah dua kali," perintahnya dingin.

‎‎Dengan tangan gemetar karena kedinginan dan ketakutan, Kania akhirnya meraih ujung telapak tangannya. Begitu kulit mereka bersentuhan, pria itu menariknya dengan satu gerakan cepat dan kuat, bukan tarikan yang lembut, melainkan tarikan yang bertujuan memindahkan tubuh itu saja. Kekuatan itu membuat keseimbangan Kania hilang, dan ia terjatuh tepat ke pangkuan pria itu.

‎‎Sopir yang mengintip dari spion tengah terkejut sampai matanya terbelalak. Selama bekerja bertahun-tahun, ia tak pernah melihat tuannya bersentuhan fisik dengan siapa pun, apalagi membiarkan orang asing terbaring di tubuhnya. Namun ia tak berani berkomentar, hanya menggenggam setir lebih erat.

‎‎Pria itu tak bergerak sedikit pun. Ia tidak merangkul, tidak menopang dengan lembut, hanya membiarkan tubuh basah dan dingin itu tergeletak di atasnya. Saat ia menunduk sekilas, mendapati kelopak mata Kania terpejam rapat, napasnya melemah dan tubuhnya menjadi lemas.

‎‎"Jalan cepat. Jangan berhenti, dan pastikan tak ada yang mengikuti." Ia memberi perintah kepada sopir dengan suara dingin dan berwibawa.

‎‎"Siap, Tuan," jawab sopir segera, lalu menginjak gas hingga mobil melesat membelah hujan yang makin lebat.

‎‎Di dalam kabin yang mulai terasa hangat, pria itu mengangkat satu tangan dengan gerakan malas dan terukur. Ia meraih selimut tebal dari samping, lalu menyelimuti tubuh Kania sekedar menutupinya saja. Baginya itu bukan tindakan perhatian, melainkan kewajiban agar orang yang dibawanya tidak mati di dalam mobilnya.

‎‎Ia kembali duduk tegak, menatap keluar jendela yang berkabut, pikirannya terfokus pada rute perjalanan dan keamanan, bukan pada wanita yang terbaring di pangkuannya. Bagi seorang Victor Adrian Blackwood, ini hanyalah gangguan tak terduga di malam yang basah.

‎‎Mobil itu melaju terus tanpa berhenti, melewati gerbang besi tinggi yang terbuka otomatis, lalu memasuki kawasan luas yang dikelilingi pagar dan pohon-pohon besar. Di ujung jalan terhampar sebuah rumah megah bergaya modern dan kokoh.

‎‎Begitu kendaraan berhenti tepat di depan teras, lampu-lampu terang menyala menerangi seluruh area. Sekelompok orang sudah berdiri rapi menunggu, empat orang pelayan berpakaian seragam, serta seorang dokter pribadi yang membawa tas medis. Semua menunduk hormat begitu melihat tuannya turun.

‎‎Victor membuka pintu dengan gerakan tenang namun berwibawa. Ia turun terlebih dahulu, lalu menoleh sekilas ke dalam tanpa menunduk terlalu dalam.

‎‎"Bawa dia masuk. Letakkan di kamar tamu utama. Periksa kondisinya." Suaranya tetap dingin dan datar, hanya memberi perintah singkat.

‎‎Ia melangkah masuk lebih dulu seolah hal itu sudah selesai menjadi urusannya. Dua pelayan pria segera mendekat, mengangkat tubuh Kania yang masih tak sadarkan diri dengan hati-hati namun tetap teratur, mengikuti langkah tuannya. Dokter segera berjalan di samping mereka, siap bertindak.

‎‎Begitu masuk ke dalam ruangan yang luas, hangat, dan mewah, suara hujan seolah teredam total. Victor berhenti di ruang tengah, berdiri tegak sambil meluruskan lengan bajunya yang sedikit basah, tanpa menoleh ke arah proses penanganan Kania.

‎‎"Demam tinggi, kelelahan ekstrem, dan luka lecet di lutut serta telapak tangan," lapor dokter sepuluh menit kemudian setelah memeriksa, mendekat sambil tetap menjaga jarak hormat. "Perlu istirahat total, obat penurun panas, dan perawatan luka. Tidak ada bahaya serius, tapi butuh waktu pulih."

‎‎Victor hanya mendengarkan dengan wajah tanpa ekspresi, matanya menatap nyala api kecil di perapian.

‎‎"Lakukan apa yang perlu. Berikan semua yang dibutuhkan agar dia tidak mati di sini," jawabnya singkat, nada dingin yang tak menyembunyikan bahwa ini bukan tindakan kebaikan hati, melainkan tanggung jawab atas apa yang ia bawa masuk. "Setelah sadar, kabari aku. Tapi jangan biarkan dia berjalan bebas ke seluruh bagian rumah."

‎‎"Siap, Tuan," jawab dokter dan kepala pelayan bersamaan.

‎‎Victor melangkah naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya, meninggalkan perintah terakhir yang menggema di ruangan itu.

‎‎"Jangan bertanya, jangan bergosip, dan jangan berikan perlakuan istimewa. Dia hanya orang asing yang kebetulan aku angkat dari jalanan."

‎-

-

‎Kesadaran Kania perlahan kembali merayap masuk. Yang pertama ia rasakan adalah kehangatan yang menyelimuti seluruh tubuhnya, menggantikan dingin menusuk yang terasa berjam-jam lamanya. Matanya terbuka perlahan, menyipit menyesuaikan diri dengan cahaya lembut di ruangan luas yang terlihat sangat mewah dan bersih.

‎‎Ia mencoba menggerakkan tubuh, namun terasa berat dan lemah. Lutut serta telapak tangannya sudah dibalut perban, dan rasa nyerinya terasa jauh berkurang. Baru saja ia ingin duduk, suara langkah kaki berat dan teratur terdengar mendekat dari arah pintu.

‎‎Pintu terbuka lebar. Victor berdiri di ambang pintu, tampak lebih gagah dalam kemeja katun gelap dan celana panjang yang rapi, rambutnya tersisir rapi, wajahnya tanpa ekspresi sedikit pun. Ia berjalan masuk dengan langkah pasti, seolah setiap gerakannya sudah dihitung, lalu berhenti di sisi tempat tidur dengan jarak yang cukup jauh, tak mau mendekat secara berlebihan.

‎‎Kania menegang, memeluk selimut erat-erat, tatapannya waspada dan takut. "Kamu… siapa? Dan di mana ini?"

‎‎Victor menatapnya sekilas, lalu membuang muka sebentar memandang ke luar jendela sebelum menjawab dengan suara rendah, datar, dan dingin.

‎"Namaku Victor. Ini rumahku. Kau ada di sini karena aku mengangkatmu dari pinggir jalan sebelum orang yang mengejarmu berhasil menangkapmu kembali."

‎‎"Kenapa? Mengapa menolong orang asing sepertiku?" tanya Kania dengan suara masih serak, matanya menyelidik penuh keraguan. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja di jalan!"

‎‎Victor membalikkan badannya perlahan, tatapannya tajam menusuk. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, berdiri tegak bagaikan tiang besi yang tak tergoyahkan.

‎‎"Aku tidak menolongmu karena rasa kasihan, apalagi berharap kau berterima kasih," jawabnya dingin, suaranya datar tanpa nada lembut sedikit pun. "Aku hanya tidak suka melihat keributan terjadi di wilayah yang sering aku lewati. Itu saja."

‎‎Ia melangkah sedikit mendekat, tapi tetap menjaga jarak yang aman, seolah tak ingin ada udara yang sama terhirup terlalu dekat.

‎‎"Dan jangan bicara omong kosong soal membiarkanmu mati. Kalau aku ingin membiarkanmu mati, aku cukup membiarkanmu tergeletak di sana, atau bahkan menyerahkanmu kembali ke tangan mereka yang mengejarmu. Itu lebih mudah dan tidak menyusahkanku."

‎‎"Istirahatlah. Besok aku akan kembali untuk mendengar ceritamu." ucapnya singkat, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh kembali.

‎‎Pintu ditutup dengan bunyi yang lembut namun pasti, meninggalkan Kania sendirian di ruangan yang luas dan sunyi. Saat kesendirian itu menyelubungi, ia akhirnya melepaskan tangisan yang sudah lama ditahan. Tubuhnya terkulai di atas tempat tidur, air mata meluap deras, menyampaikan semua rasa sakit, kecewa, dan rasa terlantar yang menyakitkan hati.

-

-

‎Jam dinding di sudut ruangan perlahan menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana di dalam kamar itu sunyi senyap, hanya terdengar suara detak jarum jam yang berirama pelan. Sesuai perintah yang diberikan Tuan Victor, seorang pelayan wanita berjalan mendekat dengan langkah hati-hati, membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sedikit biskuit ringan. Ia mengetuk pintu pelan dua kali, namun tak ada jawaban dari dalam.

‎‎Dengan ragu namun tetap menjalankan tugasnya, pelayan itu memutar gagang pintu perlahan dan mendorongnya terbuka. Begitu pandangannya masuk ke dalam ruangan, tangannya yang memegang nampan terhenti mendadak, napasnya tercekat di tenggorokan. Wajahnya langsung pucat dan ia hampir berteriak tertahan.

‎‎"Nona... Apa yang sedang Nona lakukan?!"

-

-

-

Bersambung...

1
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
〈⎳ FT. Zira
menjelang pertemuan besar.. harus datang loh dirimu Har
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!