"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keterkejutan elio
Tanpa membuang waktu sedetik pun, keputusan bulat Aratala langsung dieksekusi. Dibantu oleh Bi Nisa yang bergerak sigap, Riyah dipindahkan secara hati-hati dari ranjang panti menuju mobil sedan putih Aratala. Selang oksigen portabel yang telah dipersiapkan pihak panti dipasang dengan benar agar napas bocah mungil itu tetap stabil selama di perjalanan.
Aratala mengemudikan mobilnya dengan ekstra hati-hati, memastikan tidak ada satupun guncangan berarti yang bisa membuat Riyah merasa kesakitan di kursi belakang, di mana Bi Nisa setia menemani sambil memeluk tubuh kecil itu penuh kasih.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka akhirnya memasuki area pelataran IGD sebuah rumah sakit swasta terkemuka di kota itu—rumah sakit yang sama yang selama ini merawat rekam medis jantung Riyah, tempat di mana dokter spesialis anak dan bedah toraks berpraktik.
Begitu mobil berhenti di depan lobi, para perawat dan petugas medis yang sigap langsung mendatangi kendaraan dengan membawa brankar darurat.
"Tolong, dok! Kondisinya sempat sesak sejak kemarin malam, jadwal operasinya harus segera disetujui hari ini!" ucap Bi Nisa dengan napas terengah-engah, cemas luar biasa saat perawat memindahkan Riyah ke atas brankar.
Aratala melangkah cepat di sisi brankar, menggenggam tangan Riyah erat-erat untuk memberikan ketenangan pada anak itu sebelum dibawa masuk ke ruang tindakan awal. "Sst, Riyah tenang ya. Sebentar lagi dokter periksa, habis itu kita langsung beresin semuanya."
Riyah hanya bisa mengangguk lemah, matanya menyiratkan rasa takut yang langsung diusap lembut oleh Aratala.
Setelah brankar meluncur masuk melewati pintu otomatis ruang pemeriksaan, Aratala dan Bi Nisa dipersilakan menunggu di ruang administrasi. Petugas front office langsung menyambut mereka dengan berkas-berkas persyaratan operasi yang jumlahnya setebal kamus.
"Baik, Bu. Berdasarkan rincian dari dokter spesialis jantung, total estimasi biaya operasi, tindakan pasca-operasi, dan ICU untuk pasien Riyah adalah sekitar Rp 450.000.000. Apakah administrasi ini akan menggunakan asuransi atau pembayaran mandiri?" tanya petugas rumah sakit itu dengan nada formal.
Bi Nisa yang duduk di sebelah Aratala langsung menelan ludah susah payah. Angka nyaris setengah miliar itu terasa sangat abstrak dan mustajab bagi wanita tua tersebut. Baru saja ia hendak membuka suara untuk meminta keringanan atau opsi cicilan, Aratala sudah lebih dulu bergerak.
Dengan gerakan tenang dan tanpa ragu, Aratala merogoh tas tangannya, mengeluarkan dompet, lalu menarik keluar kartu black card logam milik Elio yang berkilau di bawah lampu putih ruangan administrasi. Ia menyerahkan kartu itu bersama KTP-nya di atas meja.
"Pembayaran mandiri, full pelunasan hari ini juga. Gesek pakai kartu ini," ucap Aratala dengan suara mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun di manik matanya.
Petugas administrasi itu sedikit tertegun saat melihat jenis kartu yang diserahkan Aratala—bukan kartu kredit biasa, melainkan kartu eksklusif kaum elite yang jarang sekali terlihat melintas di meja kasir rumah sakit tersebut. Dengan sigap, sang petugas memproses transaksi itu melalui mesin EDC.
Beberapa detik kemudian, suara cetakan mesin EDC berbunyi nyaring, disusul selembar struk pembayaran bertuliskan “APPROVED” dengan nominal lunas terpampang di sana.
Mata Bi Nisa membelalak lebar, menatap struk kertas di tangan petugas lalu beralih menatap Aratala dengan rasa tidak percaya. Air mata wanita paruh baya itu kembali tumpah, bukan lagi karena putus asa, melainkan karena kelegaan luar biasa yang menghantam dadanya telak.
"Aratala... Nak... uang sebanyak ini..." bisik Bi Nisa terbata-bata, nyaris bersimpuh karena terlalu bersyukur.
Aratala merangkul pundak Bi Nisa, tersenyum tipis sembari menepuk-nepuk punggung wanita itu menenangkan.
" bibi tenang aja ini uang dari mas Elio buat tala"
Di dalam hatinya, Aratala bergumam penuh kemenangan. Terima kasih, Tuan Elio Sagara. Uang suapanmu hari ini resmi menyelamatkan nyawa seorang anak.
🌴🌴🌴
Sementara suasana di ruang administrasi rumah sakit diliputi kelegaan dan air mata haru, di sudut seberang jalan raya yang ramai, terparkir sebuah mobil sedan hitam berbobot berat dengan kaca one-way yang gelap gulita.
Di dalam kabin kemudi, seorang pria berbadan tegap mengenakan setelan jas kasual tengah menyipitkan mata, mengamati setiap gerak-gerik Aratala melalui teropong digital kecil. Jari jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel pintar, mengetikkan laporan singkat kepada sang tuan besar.
" nyoya aratala di Rumah Sakit Medika Sentra, Tuan. Transaksi pembayaran medis barusan telah disetujui menggunakan kartu sekunder milik Anda.”
Di lantai paling atas Elcorp Tower, keheningan ruang kerja Elio mendadak terusik oleh getaran singkat dari ponsel di atas meja. Pria itu, yang tengah menatap layar komputer sambil memegang dokumen laporan keuangan, melirik sekilas ke arah layar ponselnya yang menyala.
Sebuah pesan dari pengawal kepercayaannya yang bertugas mengawasi Aratala masuk. Alis tebal Elio langsung bertaut tajam begitu membaca deretan kalimat di sana: laporan pembayaran medis bernominal fantastis di sebuah rumah sakit, lengkap dengan informasi bahwa Aratala berada di sana.
Elio tertegun sejenak. Sorot matanya yang dingin berubah menyipit, dipenuhi rasa terkejut yang tertahan.
Untuk apa Aratala ke rumah sakit? Apa luka fisik akibat kelancangannya beberapa hari lalu kambuh? Atau wanita itu sakit?
Segala pertanyaan bernada kekhawatiran yang dibalut rasa penasaran itu mendadak bergejolak di dalam dada Elio. Tanpa sadar, bayangan wajah pucat Aratala saat mereka bersitegang tadi pagi kembali melintas di kepalanya.
Belum sempat Elio menarik napas, ponselnya kembali bergetar. Pesan susulan masuk, mengonfirmasi lokasi spesifik tempat Aratala berada saat ini: Rumah Sakit Medika sentra.
Seketika itu juga, rasa abai yang tadi ia pasang runtuh berkeping-keping. Pria itu tidak lagi memperdulikan setumpuk dokumen penting di hadapannya atau jadwal rapat sore yang masih mengantre. Dengan gerakan cepat, Elio menyambar jas hitam yang tadi ia lemparkan ke sandaran kursi, mengenakannya asal-asalan sambil melangkah lebar meninggalkan meja kerjanya.
Pintu kaca ruang kerja terbuka dengan dentuman pelan. Nathan, sang sekretaris yang baru saja hendak melangkah masuk membawa berkas tambahan, langsung terlonjak kaget melihat bosnya melenggang keluar dengan aura mendesak yang begitu pekat.
"Tuan Elio? Mau ke mana? Jadwal evaluasi dengan direksi sebentar lagi—" seru Nathan setengah berlari mengejar langkah panjang bosnya menuju lift pribadi.
"Batalkan semuanya," potong Elio dingin tanpa sedikit pun menoleh, suaranya menggelegar tegas. "Saya ada urusan mendesak. Jangan biarkan siapapun mengganggu saya sisa hari ini!"
Tanpa menunggu jawaban Nathan lagi, pintu lift pribadi bergeser menutup. Elio menekan tombol ground floor dengan rahang mengeras, sementara pikirannya hanya tertuju pada satu hal: meluncur secepat kilat ke Rumah Sakit Pelita Indah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh istri nekatnya itu.
🌴🌴🌴
Mobil sedan hitam milik Elio berhenti mendadak di pelataran parkir Rumah Sakit. Pria itu bahkan tidak menunggu sopirnya membukakan pintu; ia langsung mendorong pintu kemudi dan melangkah keluar dengan tergesa. Aura dingin dan mendesak menguar dari setiap langkah kakinya, membuat beberapa pengunjung rumah sakit yang berpapasan dengannya langsung refleks menepi.
Begitu memasuki lobi utama berkat arahan cepat dari pengawalnya yang menunggu di area sekitar, Elio langsung menyusuri koridor lantai dua menuju ruang tunggu VIP dekat ruang bedah anak.
Pernapasannya sedikit memburu, gejolak rasa penasaran bercampur cemas yang sejak tadi mengaduk-ngaduk perutnya. Pikirannya dipenuhi asumsi buruk—apakah Aratala kesakitan? Apakah benturan beberapa hari lalu berdampak parah pada kesehatan istrinya?
Namun, begitu ia membelok ke koridor ruang tunggu dan mendapati pemandangan di depannya, langkah Elio mendadak terhenti. Manik matanya melebar tipis, diliputi rasa terkejut yang luar biasa.
Di kursi tunggu bercat putih itu, Aratala tengah duduk berdampingan dengan seorang wanita paruh baya berwajah teduh mengenakan pakaian sederhana—Bi Nisa, sosok yang sangat dikenal Elio sebagai pengurus Panti Asuhan Kasih Sari plus wali saat pernikahan mereka 2 bulan lalu.
Bi Nisa? Jadi bukan Aratala yang sakit? batin Elio, seketika disergap kebingungan yang bercampur dengan kelegaan semu.
Belum sempat otaknya merangkai alasan mengapa Bi Nisa bisa berada di sini bersama istrinya, wanita tua itu mendongak dan mendapati sesosok pria tinggi tegap berjas rapi berdiri mematung di ujung lorong dengan tatapan tajam. Bi Nisa sontak berdiri, menunjukkan gestur hormat meski matanya menyiratkan kebingungan melihat kehadiran suami dari anak asuhnya itu.
Melihat Bi Nisa bangkit, Elio tersadar dari lamunannya. Tanpa membuang sedetik pun waktu, pria itu langsung buru-buru melangkah mendekat, memecah keheningan koridor rumah sakit dengan derap sepatu mahalnya yang menggema tegas.
Derap langkah tegas Elio berhenti tepat di hadapan Bi Nisa dan Aratala. Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang di sekitar koridor rumah sakit, pria itu langsung merendahkan tubuhnya setengah membungkuk, lalu meraih tangan tua Bi Nisa dan menciumnya dengan sopan. Sebuah gestur penuh takzim yang sangat kontras dengan reputasinya yang dikenal kejam dan dingin di dunia bisnis.
Di sebelah Bi Nisa, Aratala tersentak kaget bukan kepalang. Bola matanya membelalak lebar, menatap punggung tegap Elio yang kini berdiri tegak kembali. Kenapa Pak Elio bisa ada di sini?! batin Aratala panik. Jantungnya berdegup kencang, mendadak dihantam rasa cemas bahwa penyamarannya terbongkar.
Elio mengabaikan ekspresi terkejut sang istri. Pandangannya langsung beralih menatap Bi Nisa dengan sorot penuh selidik namun tetap terdengar hormat.
"Bi Nisa... apa kabar?" sapa Elio dengan suara baritonnya yang tenang. Ia melirik sekilas ke arah pintu ruang bedah di dekat mereka sebelum kembali menatap wanita paruh baya itu. "Ada apa ini? Siapa yang sakit? Kenapa Bibi ada di rumah sakit?"
Bi Nisa mengerjap beberapa kali, tampak sangat kebingungan. Wanita tua itu tidak menyangka suami dari Aratala—pria mapan dan berwajah intimidatif yang berdiri di hadapannya ini—akan bersikap begitu santun. Ia menoleh perlahan, menatap Aratala yang berdiri mematung di sampingnya dengan wajah sepucat kapas.
"E-Eh... Nak Elio..." Bi Nisa terbata-bata, lalu kembali menatap Elio dengan kening berkerut dalam. "Bibi ke sini nemenin Riyah, anak panti... Tapi, Nak Elio... kok bisa ada di sini juga? Menyusul Aratala?"
Elio mengangguk pelan. "Ya, saya mendapat kabar kalau istri saya berada di sini."
Mendengar jawaban itu, dahi Bi Nisa semakin berkerut. Kebingungan di wajahnya berubah menjadi kecurigaan halus. Ia menatap Elio, lalu kembali menoleh tajam ke arah Aratala.
Sebuah kepingan teka-teki mendadak bergeser di kepala Bi Nisa. Tadi, Aratala bersikeras mengatakan bahwa uang ratusan juta untuk biaya operasi Riyah adalah "rezeki halal" miliknya sendiri dari suaminya. Namun, jika Elio—suami Aratala—datang dengan ekspresi terkejut dan sama sekali tidak tahu menahu soal alasan keberadaan mereka di rumah sakit... lalu, dari mana sebenarnya uang setengah miliar yang dipakai Aratala untuk melunasi biaya operasi Riyah tadi?
🌴🌴🌴