Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HONEYMOON PHASE - Part 2
Senin pertama setelah libur UTS terasa lebih lengang. Tidak ada latihan futsal untuk Jay,
tidak ada agenda rapat di himpunan, dan kuliah pun selesai sejak jam dua siang. Memanfaatkan
waktu senggang yang jarang mereka miliki, Jay berencana mengajak Gea nonton dan makan di
luar. Maklum, sejak resmi jadian kemarin, mereka belum sempat berkencan secara formal.
Selama ini, waktu mereka selalu habis disita oleh rapat dan kegiatan himpunan. Pacaran
mereka pun ya tidak jauh-jauh dari sekedar makan di kantin kampus, pulang-pergi bareng, atau teleponan saat mereka sudah sampai rumah.
Oleh karen itu, sejak pagi Gea sudah sibuk memilih *outfit* dan menata rambutnya yang
biasanya hanya digerai atau diikat asal. Bahkan, sebelum mereka pergi tadi, Gea kembali
mengecek penampilannya di toilet dan re-touch makeup-nya yang mulai memudar.
Sepanjang perjalanan, jantung Gea berdetak lebih cepat dari biasanya. Rasanya benarbenar berbeda. Mungkin karena ada *tittle* “kencan” yang melekat pada agenda mereka. Jay pun sengaja memilih membawa mobilnya ketimbang motor kesayangannya hari ini.
“Mau *popcorn* gak?” tanya Jay setelah mereka mendapatkan tiket bioskop.
Pria itu menyuruh Gea untuk duduk menunggu, sementara dirinya mengantre di barisan refreshment untuk membeli camilan dan minuman. Begitu Jay kembali dan duduk di samping Gea, gadis itu langsung menatap wadah popcorn besar rasa asin di tangan kekasihnya. Sebenarnya, Gea tidak terlalu menyukai popcorn asin; ia adalah tim pecinta popcorn karamel. Namun, karena Gea juga belum pernah memberitahukan hal itu, ia memilih diam dan menghargai usaha Jay yang sudah terlanjur membeli.
“Kenapa, Ya?” tanya Jay mendapati Gea menatap popcorn yang ada di tangannya.
“Ah? Gak apa-apa,” jawab Gea buru-buru menyembunyikan keterkejutannya, lalu mengambil satu minuman dari tangan Jay . “Makasih ya, Ay.”
Selama dua jam lebih mereka menikmati film, disusul dengan mengitari pusat perbelanjaan yang semakin sore semakin ramai. Akhirnya, mereka memilih untuk makan di Imperial Kitchen. Untuk menghibur perutnya yang lapar, Gea memesan kwetiau sapi goreng, sedangkan Jay memesan nasi ayam ala Hainan.
“Kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Jay saat mendapati Gea menatap ponsel ponselnya dengan binar jenaka.
“Ini, Papa sama Ibun lagi pacaran di luar. Nanyain aku mau nitip makanan apa,” sahut Gea tanpa
mengalihkan pandangan dari layar.
“Seru ya, orang tua kamu masih pacaran,” kata Jay tersenyum lebar.
“Iya. Mereka mah dari dulu emang pasti suka tiba-tiba ngilang. Dulu kata Abang, aku selalu nangis kalo Ibun sama Papa mau pergi berdua. Mau ikut terus katanya,” kenang Gea.
Jay tertawa, “umur berapa itu?”
“Berapa, ya? Pas SD deh kayaknya. Kalo kamu berapa bersaudara, sih? Kayaknya aku belom
pernah nanya, ya?”
“Aku anak pertama, Ay. Aku ada adek cowok.”
“Oh ya? Deket gak kalian?”
Jay tertawa kecil lalu menggelengkan kepalanya, “enggak terlalu.”
“Gak pernah ngobrol?”
“Ya seperlunya aja, sih. Gak pernah yang ngobrolin soal hari-hari kita atau sampe curhat. Kamu deket banget ya sama abang kamu?”
Gea menganggukkan kepalanya mantap. Dia menceritakan kedekatan dia dengan kedua
kakaknya yang berusia jauh di atasnya—kakak pertamanya berusia dua puluh tujuh tahun
sedangkan kakak keduanya dua puluh lima tahun. Sebagai anak bungsu perempuan satu-satunya, Gea memang terbiasa manja dan mendapatkan limpahan kasih sayang yang penuh, baik dari kedua orang tua maupun kedua abangnyanya.
“Ay, Kak Tia ngabarin besok mau ketemu sama pembicara. Besok aku bakal nemenin Kak
Tia,” kata Gea membuka suara di dalam mobil saat perjalanan pulang. Matanya masih fokus
membaca dan membalas pesan dari seniornya tersebut.
“Oh ya? Sama siapa aja besok?” tanya Jay, menghentikan laju mobilnya saat lampu merah
menyala.
“Hem?” Gea dengan jemarinya yang masih sibuk mengetik di ponsel menyahut tanpa menoleh,
“katanya sih aku, dia, Kak Abas, sama Mas Karis.”
“Mas Karis ikut? Anak danus ngapain ikut?” alis Jay langsung bertaut.
Nama Karis -salah satu kating yang cukup popular di kalangan mahasiswi arsi- jelas memicu alarm di kepalanya.
“Katanya besok ketemuannya emang pas ada acara ngumpul alumni, Ay. Jadi sama Bang Lubis di suruh bawa jualan kita.”
Bang Lubis adalah seorang alumni arsitektur yang ditunjuk menjadi salah satu pembicara di acara orientasi himpunan nanti.
“Ooh…pantes,” Jay berusaha menstabilkan suaranya.
“Kata Kak Tia besok siang ngumpul dulu di kampus. Mau ngebahas soal materi pembicara.”
“Oke,” sahut Jay pendek. “Besok jadinya kamu bawa motor?”
“Ha?” Gea yang masih bertukar pesan dengan seniornya itu tidak terlalu mendengar pertanyaan sang pacar.
Jay menghembuskan napas pelan, dan berkata, “besok aku jemput? Atau kamu besok bawa motor sendiri ke kampus?”
“Gak bawa motor, Ay. Kata Kak Tia kantornya Bang Lubis lumayan jauh. Jadi nanti kita bonceng-boncengan aja.”
Mendengar kata bonceng-boncengan, Jay seketika terdiam. Tanpa sadar, jemarinya mencengkram setir mobil jauh lebih erat hingga urat-urat tangannya menegang.
“Nanti kabarin ya gimana-gimana besok,” ucap Jay, berusaha terdengar setenang mungkin.
“Iya, Ay Sayang,” sahut Gea manis sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah sang kekasih yang mendadak mengeras di balik remangnya cahaya lampu jalan.
...****************...
Jay menjemput Gea keesokkan paginya dengan niat mengajak pacarnya untuk sarapan
bareng. Dari banyaknya pilihan sarapan mereka dari mi ayam, bubur ayam, nasi uduk, ketoprak,
dan hingga nasi bakar, mereka akhirnya memutuskan untuk menyantap nasi uduk yang lokasinya tak jauh dari rumah Gea.
Sembari makan, Jay bercerita kalau nanti sore dia ada latihan futsal, jadwal rutin latihan
mingguannya. Gea juga menceritakan kehebohan di daerah rumahnya karena ada maling yang
tertangkap basah saat hendak mencuri motor tetangga. Pembicaraan mereka pun terus mengalir hangat di sepanjang jalan hingga mereka tiba di kampus.
Siang harinya, Jay dan Gea bersama dua orang seniornya yang juga anggota divisi acara -
Aksa dan Julian- berkumpul dengan divisi acara di kantin. Mereka makan siang dengan Tia yang
sedang memimpin briefing. Selain membahas follow-up tugas yang sudah Tia bagikan kepada
anggotanya, mereka juga mematangkan rencana pertemuan dengan pembicara sore nanti serta
simulasi games yang akan dilakukan minggu ini.
“Udahan rapatnya, Ge?” tanya Risa saat Gea akhirnya kembali ke kelas.
“Udah. Nin sama Kayin mana?”
“Nin lagi keliling jualan sama Mas Karis. Kalo Kayin lagi briefing sama maba di sekre.”
Bersamaan dengan itu, Malik datang dan mengambil tempat duduk di depan mereka. Malik adalah salah seorang pria yang dijuluki pria paling tampan se-arsitektur di angkatan mereka.
“Lo gak briefing sama maba, Mal?” tanya Gea kepada Malik yang juga merupakan anggota divisi humas bersama Karin.
“Udahan, kok. Kalo lo nyari Karin, dia masih di sekre tadi. Anyway, jadwal pekan olahraga udah
keluar, nih.”
“Iya? Mana coba liat,” ucap Risa semangat.
Malik membuka *folder* foto dan memperlihatkan selembar pengumuman yang tadi sempat dia potret dari mading.
“Minggu depan udah ada babak awal voli,” ucap Risa setelah membaca pengumuman
tersebut.
“Lo kapan mainnya, Ris?” tanya Gea
“Jadwal kita Selasa minggu depannya lagi. Ngelawan anak Ekonomi,” sahut Risa dengan wajah berbinar.
Risa adalah mantan atlet voli saat SMA. Voli sendiri menjadi olahraga yang cukup digandrung di Universitas Toho dan rutin diadakan saat pekan olahraga kampus. Risa pun dengan senang hati mendaftarkan dirinya sebagai salah satu pemain yang mewakili jurusan Arsitektur sejak saat acara pekan olahraga diumumkan.
Sore pun tiba. Sebelum Jay berangkat ke lapangan futsal, ia menyempatkan diri duduk
bersama Gea di sekre. Jay ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan sang kekasih
sebelum dia latihan futsal dan Gea berangkat menemui pembicara.
“Kamu gak latian, Ay?” tanya Gea lembut.
Baru saja Jay hendak menjawab pertanyaan pacarnya, suara Tia sudah lebih dulu menggema di ruangan tersebut.
“Guys, berangkat yuk!” ajak Tia sembari berjalan menyambar tasnya yang ada di salah satu sisi
himpunan.
“Nah, pas banget. Nanti kalo butuh jemput atau ada apa-apa, kabarin aku ya, Ya. Aku paling jam
delapan masih di kampus,” kata Jay sambil menggendong tas ranselnya. Mereka lalu berjalan beriringan keluar dari himpunan.
“Ge, lo sama Karis, ya,” instruksi Tia yang sudah duduk nyaman di jok belakang motornya
Abas, sang ketua pelaksana. Sore itu, Gea baru mengetahui kalau ketua himpunan mereka, Yoga, juga turut serta dalam rombongan.
Jay membuntuti dari belakang mereka sampai berpisah di gerbang kampus. Ia sempat
melambaikan tangannya kepada Gea, yang langsung dibalas dengan lambaian manis gadis itu. Setelah rombongan Gea menjauh, barulah Jay membelokkan motornya menuju lapangan futsal yang terletak di bagian belakang area kampus.
...****************...