NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: tamat
Genre:Horor / Hantu / Tamat
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30_Arisan Maut part 6

"Le...lepaskan aku!" jerit Arga sekuat tenaga. Wajahnya dipenuhi teror, sementara kedua matanya membelalak hingga hampir keluar dari rongganya.

Tangan hitam yang mencengkeram pergelangan kakinya semakin kuat.

Krek...

Terdengar suara tulang bergesekan.

"Aaaaaaa...!" Arga menjerit kesakitan. Tubuhnya berusaha merangkak menjauh, tetapi cengkeraman itu sama sekali tidak bergeming.

Rina langsung berlari beberapa langkah.

"Arga! Pegang tanganku!" teriaknya panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara tangannya terulur sejauh mungkin.

Arga menggapai.

Hampir menyentuh. Namun...

Brak!

Lantai di bawah tubuhnya kembali retak. Retakan itu membelah ruangan seperti mulut raksasa yang lapar.

Dari dalamnya muncul puluhan tangan gosong. Masing-masing memiliki kuku panjang berwarna hitam.

Mereka meraih kaki... Pinggang...Bahu...Bahkan rambut Arga.

"Tidak! Jangan!" teriak Arga histeris. Air matanya bercucuran deras, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Puluhan anak hangus tertawa bersamaan.

"Hehehehehe..."

Suara tawa mereka bergema dari segala arah.

"Kakak ikut kami..." ucap seorang anak kecil lirih. Senyumnya tampak polos, tetapi wajahnya dipenuhi luka bakar yang menganga.

"Kami kesepian..." sambung anak lainnya pelan. Bola matanya perlahan jatuh dari rongganya, lalu menggelinding ke lantai.

Nia menutup mulutnya.

"Ya Tuhan..." bisiknya lirih. Wajahnya pucat pasi, sementara tubuhnya nyaris roboh.

Pak Hasan berteriak ketakutan.

"Ini mimpi! Semua ini pasti mimpi!" ucapnya panik. Napasnya memburu, sementara dahinya dipenuhi keringat dingin.

Nenek tua itu hanya menggeleng pelan.

"Bukan..." ucapnya tenang. Wajahnya tetap datar, sementara kedua matanya menatap

kobaran api tanpa berkedip.

"Ini adalah ingatan..." lanjutnya lirih. Suaranya terdengar berat, seolah memikul kesedihan yang telah dipendam sangat lama.

"Ingatan yang selama ini kalian kubur hidup-hidup." lanjutnya.

Mendadak seluruh lampu padam. Gelap. Sangat gelap. Tidak ada siapa pun yang mampu melihat wajah orang di sampingnya.

Yang terdengar hanyalah...

Tap...

Tap...

Tap...

Suara langkah kaki kecil. Bukan satu. Puluhan. Bahkan ratusan. Mereka berjalan mengelilingi seluruh ruangan.

Lalu...Terdengar suara napas tepat di belakang telinga Wawan.

"Hiiiiih..."

Wawan membeku.

"Si...siapa di belakangku?" tanyanya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara tubuhnya kaku tak mampu bergerak.

Tidak ada jawaban. Sebagai gantinya... Sebuah suara anak kecil berbisik.

"Kakak..." panggilnya pelan.

Wawan langsung memejamkan mata rapat-rapat.

"Jangan ganggu aku..." ucapnya gemetar. Bibirnya bergetar hebat, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat.

Bisikan itu terdengar lagi.

"Kakak..."

Kini...Tepat di telinga kirinya.

"Kami terbakar karena pintunya dikunci..."

Air mata Wawan menetes tanpa sadar.

"Aku tidak kenal kalian..." ucapnya lirih. Suaranya nyaris tidak terdengar.

Mendadak...Sesuatu menjilat pipinya. Basah. Lengket. Berbau anyir. Perlahan Wawan membuka mata.

Di hadapannya...Hanya berjarak beberapa senti...Seorang anak perempuan tanpa rahang sedang tersenyum. Lidahnya yang gosong menjulur panjang hingga menyentuh wajah Wawan.

"Aaaaaaaaaaa!" Wawan menjerit sejadi-jadinya. Wajahnya dipenuhi kengerian, sementara tubuhnya jatuh terduduk.

Saat itu juga...

Seluruh lilin menyala bersamaan. Nyala apinya berubah hitam. Bayangan setiap peserta memanjang tidak wajar.

Namun... Bayangan itu tidak mengikuti gerakan pemiliknya.

Rina terkejut.

"Itu...bayanganku..." ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara napasnya mulai memburu.

Bayangan Rina justru berjalan sendiri. Selangkah. Dua langkah.

Lalu... Keluar dari lantai.

Bayangan itu perlahan berubah menjadi sosok perempuan hangus dengan rambut sangat panjang.

Ia menatap Rina.

"Kau ingat aku?" tanyanya lirih. Senyumnya tampak sedih, sementara darah hitam terus mengalir dari kedua matanya.

Rina menggeleng kuat.

"Tidak..." jawabnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi kepanikan.

Perempuan itu menangis.

"Kalian semua bilang begitu..." ucapnya pilu. Bahunya bergetar pelan, sementara isak tangisnya memenuhi ruangan.

"Kalian lupa...Kalian meninggalkan kami...Kalian menutup pintunya..."

Setiap kalimat yang diucapkannya membuat dinding rumah mulai menghitam.

Perlahan...Cat-cat dinding mengelupas. Kayu-kayu berubah gosong. Aroma asap mulai memenuhi ruangan.

Nia terbatuk.

"Asap..." ucapnya panik. Wajahnya dipenuhi kecemasan, sementara matanya mulai memerah.

Pak Hasan menunjuk ke langit-langit.

"Lihat!" teriaknya keras. Tubuhnya bergetar hebat, sementara jarinya terus menunjuk ke atas.

Semua mendongak.

Di langit-langit... Puluhan tubuh anak kecil hangus merayap seperti laba-laba. Leher mereka terpelintir. Tangan dan kaki mereka bergerak patah-patah.

Krek...

Krek...

Krek...

Setiap kali bergerak... Tulang-tulang mereka berbunyi.

Lalu...Serempak mereka berhenti. Semua kepala mereka menoleh perlahan. Menghadap tepat ke arah Arga.

"Kakak..." ucap mereka bersamaan. Senyum mereka melebar hingga robek ke kedua pipi.

"Kali ini..." ucapnya terpotong. "...jangan tinggalkan kami lagi."

Belum sempat Arga menjawab...

Dari kobaran api muncul sesosok perempuan yang menggendong seorang anak kecil hangus.

Separuh wajahnya telah meleleh. Kulitnya dipenuhi luka bakar.Namun...Sorot matanya menyimpan duka yang begitu dalam.

Ia menatap Arga tanpa berkedip.

"Masih ingat wajahku?" tanyanya lirih. Suaranya parau, sementara bibirnya bergetar menahan tangis.

Arga membeku. Matanya membelalak. Tubuhnya gemetar semakin hebat.

"Ti...tidak mungkin..." bisiknya lirih. Wajahnya berubah pucat seperti mayat.

Perempuan itu mengangkat anak yang digendongnya. Anak kecil itu perlahan membuka mata. Bola matanya kosong.

Hanya menyisakan lubang hitam yang mengeluarkan asap.

Dengan suara lirih yang menusuk hingga ke relung jiwa, anak itu berkata,

"Kakak..."ucapnya pelan. "Kenapa dulu....kalian mengunci kami dari luar?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!