Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Malam jahanam itu akhirnya berlalu, digantikan oleh berkas cahaya pagi yang menembus jendela kamar Siska. Namun, bagi Siska, tidak ada lagi rasa hangat dari matahari. Pikirannya telanjur mati rasa oleh kengerian semalam. Bayangan Mbak Selfi yang berdiri di kegelapan kamar, mengiris tangannya sendiri, dan membiarkan darah segar menetes ke mulut bayi Doni terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Siska turun ke lantai bawah dengan kaki yang terasa berat seperti digelantungi batu. Di ruang tengah, suasana terasa begitu kontras dengan apa yang dia saksikan beberapa jam lalu.
Ferdi sudah rapi dengan kemeja kerjanya, sedang menggendong Doni sambil tertawa kecil. Sementara Selfi sibuk menuangkan teh hangat ke dalam cangkir. Wanita itu mengenakan daster lengan panjang yang longgar. Saat menuangkan teh, gerakan tangan kanannya terlihat biasa saja, seolah tidak pernah ada luka sayatan pisau di telapak tangannya semalam.
"Siska, muka kamu kok pucat banget dari kemarin? Kurang enak badan?" tanya Ferdi, menatap adiknya dengan raut wajah cemas.
Siska buru-buru menggeleng, mencoba memaksakan senyum yang terlihat wajar. "Enggak kok, Mas. Cuma agak pusing aja, tugas kuliah dari dosen lagi banyak-banyaknya."
Mata Siska diam-diam melirik ke arah telapak tangan kanan Selfi yang kini diletakkan di atas meja. Tidak ada perban. Tidak ada bekas darah. Semuanya tampak bersih dan normal. Kejanggalan ini membuat Siska merasa seperti sedang kehilangan akal sehatnya. Apakah dia gila? Ataukah rumah ini sedang memainkan trik yang sangat rapi untuk menipunya?
"Ya sudah, kalau pusing jangan dipaksain belajar dulu, Sis. Istirahat saja di rumah," kata Ferdi penuh perhatian sambil menyerahkan Doni kembali ke pelukan Selfi. Ferdi kemudian berpamitan, mengecup kening istri dan anaknya sebelum melangkah keluar menuju tempat kerja.
Setelah pintu depan tertutup dan deru motor Ferdi menjauh, keheningan yang mencekam kembali menguasai rumah. Siska menatap Selfi yang sedang menimang Doni di sofa. Suasana ini terasa begitu asing dan menakutkan bagi Siska. Dia tahu, dia tidak bisa diam saja. Jika dia bercerita pada Ferdi, kakaknya pasti tidak akan percaya. Satu-satunya orang yang mungkin tahu sesuatu adalah pria tua yang tinggal di sebelah rumah mereka.
Siska menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya. Dia berpamitan pada Selfi dengan alasan ingin membeli keperluan kuliah di warung depan gang, lalu berjalan keluar rumah.
Udara luar terasa agak dingin meskipun matahari sudah mulai meninggi. Siska berjalan mendekati pagar pembatas dan menatap rumah tua di sebelahnya. Rumah Pak Cahyo tampak sepi. Pintu depannya yang terbuat dari kayu jati berwarna cokelat kusam tertutup rapat. Gorden jendelanya pun tidak bergerak sedikit pun.
Siska melangkah melewati pagar rendah yang membatasi pekarangan mereka, lalu berjalan dengan ragu menuju teras rumah Pak Cahyo. Jantungnya berdebar kencang saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kayu tersebut.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi... Pak Cahyo..." panggil Siska dengan suara yang agak bergetar.
Tidak ada jawaban dari dalam. Keheningan yang panjang membuat Siska sempat berpikir untuk berbalik arah dan membatalkan niatnya. Namun, bayangan bayi Doni yang mengisap darah semalam kembali membakar keberaniannya. Dia mengetuk pintu sekali lagi, kali ini lebih keras.
Tok! Tok! Tok!
"Pak Cahyo... Tolong, Pak. Ini saya, Siska, tetangga sebelah."
Beberapa detik kemudian, terdengar suara grendel pintu yang digeser dari dalam. Pintu kayu itu terbuka sedikit, menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Dari balik celah yang remang-remang itu, muncul wajah Pak Cahyo. Pria paruh baya itu menatap Siska dengan sepasang mata cekungnya yang dingin dan datar. Bau asap rokok kretek yang menyengat langsung tercium dari celah pintu tersebut.
"Ada apa, Neng?" tanya Pak Cahyo dengan suara serak yang kaku. Nada suaranya tidak menunjukkan keramahan sama sekali.
Siska menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba menata kata-kata agar tidak terdengar seperti orang gila. "Pak... maaf mengganggu waktunya. Saya... saya cuma mau bertanya sesuatu tentang rumah yang sekarang kami tempati."
Mendengar ucapan Siska, mata Pak Cahyo menyipit. Dia tidak membuka pintunya lebih lebar, justru memegangi pinggiran pintu seolah bersiap untuk menutupnya kembali kapan saja. "Rumah itu kenapa? Atapnya bocor? Kalau ada yang rusak, hubungi saja agen yang menjualnya ke kakakmu. Saya tidak tahu-menahu soal urusan rumah itu."
"Bukan soal bangunan yang rusak, Pak!" potong Siska dengan cepat sebelum pria tua itu menutup pintu. Suaranya mulai terdengar putus asa. "Ini soal hal-hal aneh yang terjadi di dalam. Soal suara seretan di lantai bawah... dan soal Mbak Selfi. Pak, tolong saya. Waktu itu Bapak pernah bilang kalau rumah ini punya masa lalu yang kelam. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga yang tinggal di sana sebelum kami?"
Ekspresi wajah Pak Cahyo mendadak berubah menjadi sangat kaku. Gurat-gurat di dahinya menegang. Pria tua itu terdiam selama beberapa saat, menatap Siska dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa bersalah, ketakutan, namun juga sebuah ketegasan untuk menutup mulut.
Pak Cahyo mengembuskan napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Neng Siska... saya ini cuma orang tua yang numpang tinggal di sini. Urusan rumah sebelah bukan urusan saya. Apa yang kamu dengar atau apa yang kamu lihat, mungkin itu cuma karena kamu belum terbiasa tinggal di lingkungan yang sepi seperti ini."
"Tapi saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri, Pak!" desak Siska, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata karena merasa frustrasi. "Mbak Selfi... dia bertingkah aneh malam-malam. Dan cincin yang dia temukan di lemari rias itu—"
"Cukup, Neng," potong Pak Cahyo dengan nada suara yang tiba-tiba meninggi dan tegas, membuat Siska terlonjak kaget. Tatapan mata pria tua itu kini berubah menjadi sangat dingin, mengisyaratkan sebuah peringatan yang tidak ingin dibantah.
"Jangan pernah sebut-sebut soal benda itu di depan saya. Dan jangan pernah bertanya lagi tentang masa lalu rumah itu. Jalani saja hidup kalian masing-masing dengan baik. Jaga keponakanmu, itu saja tugasmu."
"Tapi Pak—"
"Sudah, saya mau istirahat. Permisi," kata Pak Cahyo dingin.
Sebelum Siska sempat mengucapkan sepatah kata lagi, Pak Cahyo menarik pintu rumahnya dengan cepat dan membantingnya hingga tertutup rapat. BRAKK! Suara dentuman pintu itu bergema di teras yang sepi, diikuti oleh suara grendel besi yang langsung dikunci dari dalam.
Siska berdiri terpaku di teras rumah Pak Cahyo dengan tubuh yang gemetar. Rasa kecewa dan putus asa yang amat sangat menghantam dadanya. Harapan satu-satunya untuk mendapatkan jawaban kini telah tertutup rapat di balik pintu jati kuno tersebut. Pak Cahyo jelas tahu sesuatu yang sangat besar, tetapi pria itu memilih untuk menyimpannya sendiri dan membiarkan keluarga Siska berjalan menuju kegelapan tanpa arah.
Dengan langkah lemah, Siska berjalan kembali ke rumahnya sendiri. Angin siang yang bertiup kencang membuat daun-daun beringin tua di pinggir jalan berguguran, menciptakan suasana sepi yang semakin menekan jiwanya.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Siska mendapati Selfi sedang berdiri di dekat meja makan, memunggungi pintu masuk. Siska berjalan pelan, mencoba tidak menimbulkan suara. Namun, saat dia mendekat, dia menyadari bahwa Selfi sedang mengaduk sesuatu di dalam cangkir susu hangat menggunakan tangan kanannya.
Dari balik lengan daster yang tersingkap sedikit, Siska melihat kulit tangan kanan Selfi kini terlihat semakin layu dan pucat, berbanding terbalik dengan warna susu putih yang sedang diaduknya. Gerakan tangan Selfi sangat mekanis, kaku, dan lambat.
Selfi tiba-tiba berhenti mengaduk. Tanpa membalikkan badannya, wanita itu berbicara dengan nada suara yang teramat sangat datar, membuat bulu kuduk Siska kembali berdiri tegak.
"Siska... dari mana saja kamu siang-siang begini? Tetangga sebelah itu... tidak suka diganggu kalau sedang istirahat."
Siska membeku di tempatnya berdiri. Bagaimana Mbak Selfi bisa tahu dia baru saja mendatangi rumah Pak Cahyo, padahal posisi meja makan sama sekali tidak menghadap ke arah jendela luar? Ketakutan baru yang jauh lebih besar kini mulai merayap di dalam hati Siska, menyadarkannya bahwa waktu mereka tidak banyak, dan teror seratus hari itu perlahan-lahan mulai mengunci mereka dari segala penjuru.