Karin mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendukung suaminya Dimas menuju kesusksesan. Setelah berada di puncak kesuksesan, Suaminya justru mengkhianatinya dengan membawa pulang wanita muda dengan berniat untuk di jadikannya istri kedua. Lebih menyakitkan nya lagi keluarga suaminya ikut mendukung dan bahkan merendahkanya. Seolah pengorbanannya selama bertahun-tahun tidaklah berarti.
Saat nyawanya berakhir karena ulah sang pelakor. Karin terbangun kembali di masa lalu tepat saat Suaminya membawa wanita itu kerumahnya. Di beri kesempatan kedua Karin berubah menjadi wanita kuat dan bersumpah akan membalas rasa sakitnya di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Karin berdiri di depan pintu utama rumah orang tuanya. Dadanya berdegup kencang saat melihat sekeliling, semuanya masih tampak sama saat terakhir kali ia melihatnya di kehidupan nya yang dulu.
Tangannya yang terangkat perlahan mulai gemetar. Hanya tinggal memencet bel itu, tetapi entah mengapa keberaniannya seakan menghilang.
Matanya kembali berkaca-kaca teringat kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah sempat pulang untuk melepas rindu. Bukan karena tidak ingin tapi Dimas selalu punya cara untuk menghalanginya. Setiap kali kedua orang tuanya mengajak bertemu, selalu saja ada alasan yang dibuat-buat oleh Dimas maupun Ibu mertunya.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa semua itu hanyalah cara Dimas menjauhkannya dari keluarganya. Hingga akhirnya Kesempatan untuk bertemu orang tuanya benar-benar hilang selamanya.
Karin menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup begitu cepat. Perlahan, ia menekan bel disamping pintu.
Tak lama kemudian, pintu perlahan terbuka. Seorang pelayan paruh tampak terkejut begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Nona Karin?"
Karin tersenyum tipis. "Iya, Mbok."
"Ya ampun, Nona benar-benar pulang." Wajah pelayan itu langsung dipenuhi kebahagiaan. "Sudah lama sekali Non Karin tidak datang. Tuan dan Nyonya pasti senang sekali."
Pelayan itu buru-buru membuka pintu lebih lebar.
"Silahkan masuk, Non Karin."
Karin mengangguk pelan sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu melangkah masuk, Karin langsung disambut oleh ruang utama yang begitu luas dan megah.
Langit-langit rumah menjulang hampir setinggi tiga lantai, membuat ruangan terasa lapang dan berkelas. Tepat di tengahnya menggantung lampu kristal berukuran besar yang memancarkan cahaya keemasan, memantul indah di lantai marmer putih berpola abu-abu yang mengilap.
Di sisi kiri, sebuah tangga marmer dengan pagar kaca bening melengkung anggun menuju lantai dua. Setiap anak tangganya tampak bersih dan berkilau, seolah tak pernah luput dari sentuhan para pelayan.
Di tengah ruangan tersusun satu set sofa berwarna krem dengan desain modern yang mengelilingi meja bundar bermotif marmer. Di atasnya, vas bunga segar selalu menjadi hiasan favorit sang ibu, menghadirkan suasana hangat di tengah kemewahan rumah.
Dinding-dinding rumah dipadukan dengan panel kayu berwarna cokelat tua yang memberikan kesan elegan, sementara jendela-jendela kaca berukuran besar menghadap langsung ke taman belakang yang hijau dan asri.
Rumah itu bukan sekadar mewah. Rumah itu dipenuhi kenangan.
Di sinilah Karin tumbuh sejak kecil. Di ruang tamu inilah ia sering menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya, menikmati teh sore sambil berbincang ringan. Di tangga itu pula sang ibu sering menunggunya pulang sekolah, selalu menyambutnya dengan pelukan hangat.
Tak ada satu sudut pun yang berubah. Melihat semuanya masih sama membuat mata Karin kembali memanas.
Ia baru menyadari bahwa selama ini bukan rumah itu yang berubah. Melainkan dirinya, yang terlalu lama menjauh hingga hampir kehilangan tempat yang selalu ia sebut sebagai rumah.
Sementara itu, pelayan tadi bergegas menuju lantai dua.
"Tuan! Nyonya!" panggilnya dengan suara lantang. "Nona Karin pulang!"
Suara itu menggema ke seluruh rumah.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah tangga.
"Karin?"
Suara lembut itu membuat tubuh Karin membeku.
Ia langsung menoleh.
Di ujung tangga berdiri seorang wanita paruh baya yang masih terlihat anggun dengan gaun sederhana berwarna biru muda. Di sampingnya berdiri seorang pria berwajah tegas yang tak kalah terkejut.
Begitu melihat putri semata wayang mereka benar-benar berdiri di ruang tamu, keduanya langsung mempercepat langkah.
"Karin... benar kamu?" suara sang ibu mulai bergetar.
"Ibu..."
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibir Karin.
Detik berikutnya, ia berlari menghampiri ibunya dan langsung memeluknya erat.
Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
"Ayah..."
Wanita itu membalas pelukan putrinya sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
"Ada apa, Sayang? Kenapa menangis seperti ini?"
Karin hanya menggeleng.
Ia tak sanggup menceritakan bahwa di kehidupan sebelumnya ia telah kehilangan mereka untuk selamanya.
Ayah Karin ikut mendekat. Tatapan pria yang biasanya tegas itu kini dipenuhi kekhawatiran.
"Kamu sudah lama tidak pulang, Nak." Suaranya terdengar berat. "Ayah dan Ibumu berkali-kali ingin menjengukmu, tapi setiap kali menghubungimu, Dimas selalu bilang kamu sedang sibuk atau tidak enak badan."
Selama ini Dimas bahkan membohongi kedua orang tuanya.
Sang ibu mengusap air mata di pipi Karin.
"Ibu sampai kepikiran terus. Apa kamu baik-baik saja? Apa Dimas memperlakukanmu dengan baik?"
Mendengar pertanyaan itu, hati Karin terasa diremas.
Dulu...
Ia selalu menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.
Ia memilih menutupi semua penderitaannya karena tidak ingin kedua orang tuanya ikut terluka.
Namun kali ini...
Ia tidak ingin lagi berbohong.