NovelToon NovelToon
Sembilan Tahun Pelarian

Sembilan Tahun Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Lari Saat Hamil
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Demi menyelamatkan diri dan bayinya, Arin memilih pergi dari suaminya dan mengubur rapat masa lalu kelam mereka. Ia mengungsi ke sebuah kampung terpencil dan menyambung hidup sebagai tukang cuci keliling demi membesarkan putra semata wayangnya.

Tapi, Takdir membawa Arin berhadapan kembali dengan laki-laki dari masa lalu yang paling ia benci dan tak ingin ia temui lagi seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Tiga hari telah berlalu setelah kejadian itu, tiga hari itu pula Zayyan tak mau sekolah. Arin juga tak bisa memaksanya. Jelas ia tahu bagaimana perasaan putranya. Rasa takut di hina dan di kucilkan itu memang nyata dampaknya dan tidak bisa semudah itu di sembuhkan.

Tapi hari ini Arin membujuk putranya agar mau kembali sekolah, karena hari ini Zayyan akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Arin tak mau putranya tinggal kelas karena tak mengikuti ujian. Kemarin waktu Arin mempermisikan Zayyan pada wali kelasnya, wali kelas Zayyan mengatakan agar Zayyan kembali sekolah hari ini tak lupa memberikan jadwal ujian agar Zayyan bisa belajar.

Zayyan sudah berdiri di dekat pintu, dengan seragam merah putih yang sudah Arin setrika dari kemarin. Tas ransel hitamnya juga sudah bertengger di punggungnya. Tapi, wajahnya tampak cemas, seperti memikirkan sesuatu yang akan terjadi nantinya.

Arin mendekat dan berlutut di depan putranya. Merapikan sedikit dasi dan menyisir rambut Zayyan ke samping. Dia lalu mengusap bahu putranya yang tampak tegang.

"Anak ibu ganteng banget ih." ucap Arin, lalu mencium kedua pipi putranya.

Zayyan menatap mata ibunya. "Ibu, nanti di sekolah kalo mereka ledek Zayyan dan panggil Zayyan dengan sebutan itu lagi gimana?."

Arin menarik nafas dalam-dalam, dan menatap pada manik putranya yang tampak ketakutan. Lalu menggenggam tangannya yng mulai dingin.

"Zayyan dengarin ibu ya.."

"Setiap orang punya pandangan masing-masing terhadap kita, ada yang pandang kita baik ada juga yang buruk. Tapi satu hal yang harus Zayyan tahu, kita fokus saja pada orang yang memandang kita baik. Emang Zayyan mau, tenaga Zayyan habis buat orang-orang yang ngga suka sama Zayyan. Ngga kan.?" ucap Arin penuh dengan nada lembut. Sesekali tangannya mengalus rambut putranya.

Zayyan tampak berpikir keras mencerna setiap ucapan ibunya itu. Mata bulatnya mengerjap pelan. Tapi, setelah itu kepalanya mengguk mengerti.

"Iya Bu, Zayyan paham. Jadi, nanti kalo mereka ledek aku lagi berarti aku harus diam ngga usah di dengerin ya." ucap bocah itu.

Arin lalu mengguk, meski tak sepenuhnya. "Iya nanti kalo mereka ledek Zayyan lagi ngga usah di dengerin. Anggap aja mereka fans sama Zayyan. Oke"

Arin mengusap pipi Zayyan dengan ibu jarinya.

" Nanti di kelas fokus saja sama ujiannya, kan dari semalam ibu udah bantu Zayyan belajar. Jadi nanti juga harus dapat nilai yang bagus."

"Ibu ngga malu punya Zayyan jadi Zayyan juga ngga boleh malu punya ibu." pungkas Arin lalu mengecup dahi putranya sebelum berangkat.

Zayyan mengangguk paham. " iya Bu, nanti Zayyan fokus ujian aja."

lalu Zayyan mengambil tangan kanan Arin dan mengalaminya dengan takzim.

" Zayyan pamit ya Bu. Assalamualaikum" pamit Zayyan lalu mulai berjalan menuju sekolahnya.

"Waalaikumsalam. nanti langsung pulang ya" ucap Arin.

"Hati-hati di jalan. Semangat ujiannya anak ganteng ibu." lanjut Arin setengah berteriak agar di dengar oleh Zayyan.

Pandangan Arin tak lepas dari punggung putranya yang mulai menjauh menyusuri jalan. Hati cemas, tentu saja. Dia takut kejadian beberapa hari yang lalu menumbuhkan trauma Zayyan lagi.

Jalanan pagi yang dilalui Zayyan masih sepi, bukan karena tak ada orang yang beraktivitas. Tapi, karena dia memilih menggunakan jalan pintas setapak dari belakang-belakang rumah warga. Bukan tanpa alasan, melainkan dia takut bertemu dengan orang-orang yang tak menyukai dia dan ibunya.

Jantungnya berdetak kencang seiiring gerbang sekolah yang mulai terlihat. Rasa cemasnya kembali muncul, membuatnya meremas erat tali ranselnya.

"woi." panggil seseorang dan langsung merangkul bahu Zayyan. Meski tubuh Zayyan lebih tinggi darinya.

"kemana aje lu tiga hari ngga masuk sekolah, tahu ngga aku di kelas ngga ada teman."

Itu Ujang. Teman satu-satunya yang Zayyan miliki di kampung sekaligus di kelasnya. Ujang adalah anak seorang buruh serabutan yang badannya sedikit lebih bongsor, berwajah dekil karena hobi main layangan, tapi memiliki hati yang paling tulus.

"Aku kamarin sakit jang, makanya ngga masuk sekolah. Badan aku panas." jelas Zayyan memberi alasan.

"iya kah, tumben kamu sakit. Jangan-jangan kamu takut ya, bentar lagi kan kita ujian. Hayoo benar kan." ledek Ujang sambil tersenyum meledek ke arahnya.

"Tenang aja, tak usah khawatir. Ada temanmu namanya si Ujang anak pak Dahlan sama Bu Sarmi. Nanti pas ujian, kalau kamu udah selesai, kasih kode ya? Batuk dua kali kek, atau geser kertas lu dikit ke kiri. Biar aku bisa nyontek dikit, hehe."

Zayyan mendengus pelan, tapi dia juga tersenyum penuh arti. " itu mah sama aja. Kirain kamu yang mau kasih contekan sama aku."

......................

Tak terasa dua Minggu telah berlalu begitu cepat. Akhirnya hari ini adalah hari pembagian raport dan yang menentukan apa Zayyan naik atau tinggal di kelas. Dua Minggu itu juga para pembully tak menggangu Zayyan.

Arin duduk di salah satu bangku kayu di dalam ruang kelas 2 B yang terasa agak sesak oleh riuh rendah suara para orang tua murid. Sementara para ibu sibuk mengobrol dan mengipas diri dengan buku, Arin hanya diam, menatap ke arah meja guru dengan jemari yang saling bertautan di atas pangkuan

Zayyan memilih berdiri di dekat pembatas koridor, memandangi lapangan upacara yang gersang. Di sampingnya, Ujang sedang asyik mengunyah es mambo warna-warni yang baru dibelinya dari kantin.

"Zay, lu rasa lu ranking berapa?" tanya Ujang, bibirnya belepotan warna merah es mambo.

"Nggak tahu, Jang. Yang penting naik kelas aja aku udah syukur," jawab Zayyan pelan.

"Halah, lu kan pintar. Pasti masuk tiga besar. Kalau gue mah, yang penting gak ada angka merah aja emak gue udah kagak bakal ngangkat rotan," kekeh Ujang santai.

Tawa kecil Zayyan mendadak pudar saat sudut matanya menangkap tiga bocah berjalan angkuh ke arah mereka. Itu Doni, anak Bu RT, bersama dua temannya yang biasa. Tampaknya libur panjang yang sudah di depan mata membuat keberanian mereka untuk mengusik orang lain kembali bangkit.

"Eh, ada anak haram penunggu koridor," celetuk Doni sengit begitu jarak mereka tinggal dua langkah.

Zayyan menarik napas dalam-dalam. Kata-kata ibunya dua minggu lalu langsung terngiang di kepalanya. Anggap aja mereka fans. Fokus sama yang mandang kita baik. Zayyan memilih memalingkan wajah, berpura-pura mengabaikan kehadiran Doni dan melihat ke arah lapangan lagi.

Melihat reaksi dingin Zayyan, Doni merasa diremehkan. Ia melangkah lebih maju, sengaja menyenggol bahu Zayyan agak keras.

"Heh! Ditanyain malah sok budeg lu! Punya kuping kagak?!"

Zayyan tetap diam, meskipun rahangnya mulai mengeras. Dia berjanji pada ibunya untuk tidak membuang tenaga pada orang yang tidak menyukainya.

Namun, Ujang yang berdiri di sebelah Zayyan langsung meletakkan sisa es mambonya ke lantai koridor. Wajahnya memerah menahan kesal. "Woi, Doni! Mulut lu bener-bener kagak pernah disekolahin ya? Pergi kagak lu sebelum gue laporin ke guru!"

"Kagak usah sok pahlawan lu, Ujang dekil! Bapak lu cuma buruh, lu mau belain anak yang kagak jelas bapaknya siapa?" sahut teman Doni yang kurus sambil tertawa mengejek.

"Kurang ajar lu ya!" Ujang sudah hendak maju dan melayangkan pukulan, namun tangan Zayyan menahan lengan sahabatnya itu. Zayyan menggelengkan kepala, memberi kode agar Ujang tidak terpancing.

Melihat Zayyan yang hanya diam dan menahan Ujang, Doni semakin melonjak. Dia merasa di atas angin. Menurutnya, Zayyan adalah pengecut yang bisa ditindas sesuka hati.

"Lagian ya, kasihan banget sih lu, Zayyan. Lu tahu gak kenapa emak lu kerjanya cuma babu cuci keliling?" Doni mendekatkan wajahnya ke telinga Zayyan, membisikkan kalimat dengan nada yang sangat menjijikkan. "Kata emak gue di rumah, emak lu itu perempuan murahan. Makanya ditinggalin sama laki-laki karena lu itu cuma anak haram yang gak diinginkan. Emak lu itu....."

Bukk!

Kata-kata Doni terputus seketika. Sebuah hantaman keras mendarat tepat di rahangnya.

Itu bukan pukulan Ujang, melainkan kepalan tangan Zayyan.

Mendengar ibunya, wanita yang paling ia hormati, wanita yang tangannya lecet-lecet demi menyuapinya nasi, dihina sebagai perempuan murahan, Zayyan kehilangan seluruh akal sehatnya. Semua nasihat tentang 'diam dan mengabaikan' menguap digantikan oleh kemarahan yang luar biasa.

"Jangan berani-berani kamu menghina ibuku!" teriak Zayyan histeris, suaranya melengking tinggi, memecah keramaian koridor sekolah.

Sebelum Doni yang terhuyung bisa menyeimbangkan badannya, Zayyan menerjang maju bak singa kelaparan. Ia mendorong tubuh Doni hingga jatuh telentang di lantai koridor, lalu naik ke atas perut bocah gempal itu. Dengan air mata amarah yang mengalir deras di pipinya, Zayyan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah dan dada Doni.

"Zay! Zayyan! Sudah, Zay!" Ujang yang awalnya ingin ikut memukul justru kaget melihat sahabatnya mengamuk sekeras itu. Dia berusaha menarik baju Zayyan dari belakang, namun tenaga Zayyan mendadak menjadi berkali-kali lipat lebih kuat karena dikuasai amarah.

"Lu yang haram! Mulutmu yang haram, Doni! Jangan sebut ibuku lagi!" teriak Zayyan di sela-sela tangis dan pukulannya.

Doni yang biasanya sok jagoan kini hanya bisa menjerit ketakutan, mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis meminta ampun. Dua teman Doni yang lain langsung lari tunggang langgang ketakutan melihat Zayyan yang seperti kesurupan.

Kegaduhan hebat di luar koridor itu seketika menghentikan aktivitas di dalam kelas. Pintu kelas 2 B terbuka lebar, dan Arin bersama wali kelas serta orang tua murid lainnya berhamburan keluar karena mendengar jeritan histeris anak-anak.

Arin membeku di ambang pintu saat melihat putranya sendiri sedang menduduki anak Bu RT sambil memukulnya tanpa ampun.

1
Anonim
ANJING PENGEN BUNUH REGAN ... DEMI TUHAN PENGEN BUNUH REGAN
Lina Asm
lanjut kak
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
🤣🤣 didikan mu jelek rin 🤣 pantes anak mu berontak harusnya klo ada yg nginjak lawan. bego bukan diem😒 di bully diem. ya bloon
falea sezi
lagian goblok nya harusnya pergi dr suami bawa uang banyak biar anak mu gk menderita bawa fto nikah di pajang gede biar orang kampung tau lu bersuamii😒 begooo MC nya menye
falea sezi
anak g tau diri😒 baru baca uda kesel anak gk pernah di didik. ya gini
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🌹
Mutaharotin Rotin
mampir thor 🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰😭😭
Mutaharotin Rotin
karya baru ya🥰🥰🥰 mampir ya 🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!