NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Air Mata Darah

​Waktu seolah membeku di angka setengah empat pagi. Gerimis di luar telah berhenti, meninggalkan keheningan yang jauh lebih pekat dan menekan di dalam rumah mewah Pondok Indah.

Ruang tengah lantai satu kini bermutasi menyerupai liang lahat yang lembap. Sisa-sisa cairan hitam muntahan Maya yang menggenang di lantai mulai mengering, meninggalkan lapisan berserat yang lengket dan berbau busuk.

​Aryo masih terduduk di lantai ubin yang sedingin es, punggungnya bersandar pada kaki sofa yang bergoyang setiap kali tubuh Maya yang berada di atasnya mengejang samar.

Ponselnya yang retak seribu di pojok ruangan sudah tidak lagi berdering. Kematian Hendra dan Pak Mansur telah menyisakan ruang hampa yang mengerikan di dalam benak Aryo. Ia merasa terisolasi, dikepung oleh dosa-dosanya sendiri yang kini mewujud menjadi hening yang mematikan.

​Krrrkkk ....

​Suara gesekan kaku memecah kesunyian. Aryo menegakkan tubuhnya dengan sentakan instan. Senter dari ponsel pintarnya yang tersisa di lantai memancarkan berkas cahaya yang mulai meredup, bergoyang searah dengan pergerakan di atas sofa.

​Maya bergerak. Wanita muda itu tidak lagi meronta histeris, melainkan bangkit secara perlahan dengan gerakan yang patah-patah, seolah setiap sendi di tubuhnya telah digantikan oleh engsel kayu yang kering.

Pakaian tidurnya yang berbahan sutra kini compang-camping, menempel erat pada kulit perutnya yang membuncit aneh dengan formasi urat-urat hijau kehitaman yang berdenyut konstan.

​"Maya ...?" bisik Aryo, suaranya parau, dipenuhi rasa ngeri sekaligus iba yang mendalam.

​Maya tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan, tertuju pada sebuah cermin berbingkai kristal yang tergantung di dinding seberang sofa—satu-satunya cermin di ruang tengah yang sengaja ditutup kain mori hitam oleh Danu sebelumnya, namun kini kain penutupnya telah merosot jatuh ke lantai akibat guncangan energi gaib tadi.

​Dengan langkah kaki yang kaku dan diseret, Maya turun dari sofa. Setiap kali telapak kakinya yang kurus menginjak lantai marmer, terdengar bunyi denting logam halus yang keluar dari balik kulit pergelangan kakinya. Klang ... dring ... jarum-jarum berkarat yang tertanam di dalam dagingnya bergesekan dengan tulang.

​Aryo mencoba bangkit untuk menahannya, namun tubuhnya sendiri terlalu lemas. Ia hanya bisa merangkak mengikuti pergerakan Maya dari belakang.

"Maya, jangan berkaca! Mas Danu bilang jangan lihat cermin!" jerit Aryo, mengingat peringatan dingin sang detektif di malam pertama.

​Namun, Maya seolah tidak mendengar. Kekuatan tak kasat mata yang masif tampak sedang menuntun raganya.

Ia berhenti tepat di depan cermin tua itu. Tangannya yang dipenuhi ujung-ujung rebung dan paku tajam terangkat, menyentuh permukaan kaca yang berdebu.

​Prang ... krak ....

​Cermin itu seketika retak menjadi belahan-belahan vertikal yang presisi, membentuk pola yang menyerupai rumpun bambu yang pecah.

Di dalam pantulan kaca yang terdistorsi itu, Aryo melihat sesuatu yang membuat seluruh bulu kuduknya berdiri dan jantungnya seakan berhenti berdetak.

​Pantulan di dalam cermin itu bukan lagi wajah Maya. Di balik retakan kaca, tampak sesosok wanita berpakaian kebaya beludru hitam dengan sanggul konde besar khas Blambangan sedang berdiri diam.

Wajah sosok itu rata, tanpa mata, hidung, atau mulut. Namun, secara perlahan, permukaan kulit wajah yang rata itu melesak ke dalam, membentuk sepasang lubang mata yang hitam pekat dan kosong. Dari lubang itu, terpancar tatapan dingin Sekar yang langsung mengunci kesadaran Maya.

​Detik berikutnya, hal paling buruk itu terjadi tepat di depan mata kepala Aryo.

​Tubuh Maya yang asli di depan cermin mendadak menegang. Kedua matanya melotot hingga batas maksimal. Pembuluh darah di sekitar pelupuk matanya pecah secara serentak, mengubah bagian putih matanya menjadi merah saga yang pekat.

​Tesss ... tesss ....

​Darah segar berwarna merah tua yang kental mulai mengalir keluar dari sudut-sudut mata Maya, meleleh membasahi pipinya yang pucat keabu-abuan.

Itu bukan sekadar air mata darah biasa. Di dalam aliran cairan merah itu, terdapat butiran-butiran kecil pecahan beling dan jarum-jarum halus yang ikut terdorong keluar dari rongga matanya, merobek jalur kulit pipinya hingga hancur.

​"AAAAAAHHH!!! MAS ARYO!!! SAKIIIIT!!!"

​Maya menjerit melengking, sebuah lengkingan yang sangat menyayat hati hingga membuat telinga Aryo berdenging. Wanita muda itu mencengkeram wajahnya sendiri dengan tangannya yang tajam, membuat ujung-ujung tanaman gaib itu semakin menancap ke dalam daging pipinya sendiri, merobek kulit wajah cantiknya yang dulu dipuja Aryo.

​Aryo berhamburan maju, tetapi berhenti tepat satu langkah di samping Maya. Tidak, Aryo tidak sanggup. Namun, seberkas keberanian muncul, ia meraih lengan Maya dengan kecepatan paling maksimal dan menariknya menjauh dari cermin.

Mereka berdua jatuh berdebam di atas lantai ubin yang kotor. Aryo menyeret tubuh Maya, lalu menyandarkannya ke sisi ranjang.

​"Maya! Lihat aku, jangan lihat kaca itu! Aku di sini!" Aryo menangis meraung-raung. Wajahnya kini ikut berlumuran darah segar karena terciprat dari mata Maya.

​Maya mencengkeram kerah kemeja Aryo yang robek dengan sisa tenaganya. Ujung-ujung rebung di jarinya menusuk kulit leher Aryo, namun Aryo tetap diam dan coba menahan.

Sepasang mata Maya yang bersimbah darah menatap lurus ke dalam mata Aryo dengan tatapan yang penuh dengan keputusasaan yang tak tertahankan.

​"Mas... bunuh aku, Mas. Aku mohon ...," ratap Maya begitu pilu, suaranya terputus-putus, tersedak oleh darah yang mulai memenuhi tenggorokannya. "Di dalam sini ... ini bukan anak ... rasanya tajam sekali. Sakit, Mas ... bunuh saja aku ...."

​Mendengar permintaan itu, seluruh dunia Aryo seakan runtuh. Jiwanya diombang-ambingkan oleh pergulatan batin yang teramat dahsyat. Di sinilah ego dan kesombongannya sebagai seorang lelaki diuji pada titik paling ekstrem.

​Di satu sisi, ia melihat wanita muda yang katanya ia cintai sedang mengalami siksaan yang begitu mengerikan akibat ulahnya sendiri. Logika manusianya meneriakkan agar ia segera mengakhiri penderitaan ini, melepaskan Maya dari jeratan kutukan Pring Sedapur.

​Bahkan di situasi semiris ini pun, ego dan keangkuhan masih tertanam di benaknya. Pria itu telah membuang Sekar, dan kini ia harus mempertahankan Maya. Wanita di hadapannya ini harus sembuh dan melahirkan seorang penerus untuknya.

Bagaiman dengan menara-menara beton itu? Perusahaan properti? Dan kekayaan bernilai ratusan miliar di Jakarta miliknya tidak akan ada artinya jika ia tidak memiliki anak kandung yang mewarisi kerajaannya.

Aryo mulai kehilangan kewarasannya.

​Bagi Aryo, menyerah dan membiarkan Maya mati sama saja dengan mengakui kekalahan total di hadapan Sekar. Itu artinya Sekar berhasil memutus garis keturunannya, membiarkan Aryo punah sebagai pecundang tanpa sisa. Kesombongannya menolak untuk membiarkan Sekar menang.

​"Nggak, Maya ... nggak boleh!" Aryo menggelengkan kepalanya dengan histeris, "Ka-kamu harus tahan. Kamu pasti bisa, Maya! Kamu harus hidup. Kamu harus memberiku keturunan. Anak ... anak kita akan menjadi miliarder hebat Jakarta. Ya, bertahan, ya ...."

Aryo menangis, tetapi juga tertawa setelahnya.

​"Aku ... aku sudah tidak sanggup lagi, Mas Aryo ...."

"Sudah cukup. Hentikan."

​Suara berat dan dingin Danu mendadak terdengar dari arah kegelapan sudut ruangan. Detektif supranatural itu melangkah mendekat dengan langkah kaki yang teratur.

"Egomu itu menjijikkan. Anda mempertahankan istri Anda bukan karena cinta, tapi karena kesombongan yang tidak mau kalah dari istri tuamu di Banyuwangi. Anda lebih memilih melihat wanita muda ini menangis darah dan membusuk hidup-hidup, asalkan ambisimu memiliki penerus bisnis tetap terpenuhi."

​"Diam kamu, Danu! Kamu tau apa tentang hidupku?!" bentak Aryo, wajahnya mendelik penuh amarah bercampur ketakutan yang luar biasa. "Saya bayar kamu untuk menyelamatkan semuanya, bukan untuk mengadiliku!"

​Danu terkekeh kering, bangkit berdiri dan memasukkan kembali alatnya ke dalam mantel cokelatnya. Ia menatap ke arah cermin yang retak seribu di dinding, di mana sisa-sisa bayangan gaib Sekar perlahan mulai memudar.

​"Saya tidak mengadili, Pak Aryo. Saya hanya berbicara fakta," ucap Danu dingin sambil melirik jam tangannya. "Malam ini menjadi bukti bahwa Sekar tidak butuh jangkar untuk menyiksa kalian. Anyaman Pring Sedapur sudah berakar di dalam sumsum tulang Maya. Pilihanmu sekarang makin sempit, Pak: lepaskan egomu dan serahkan jiwamu kembali ke Banyuwangi, atau tonton terus wanita ini memuntahkan darah dan beling sampai malam satu Suro tiba dan mencabut nyawa kalian berdua tanpa menyisakan apa pun."

​Danu berbalik dan berjalan keluar dari rumah tanpa menoleh lagi, meninggalkan Aryo dalam keheningan baru yang mencekam.

1
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Mbah Sukri tahu soal kisah hidup Sekar yaa 🤔

Apakah cerita penghianatan Aryo telah beredar luas di desa Sekar?
Buna: Mbah Sukri bukan orang biasa, Kak. Penjelasan ada di Bab selanjutnya. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!