Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24: Sandiwara yang Mulai Pudar
Pernyataan mutlak Adrian di samping piano malam itu bergema seperti ikrar baru yang mengunci takdir mereka.
Genggaman jemarinya yang menyusup di antara jemari Gisella terasa begitu posesif, menghancurkan sisa-sisa jarak yang selama ini coba dipertahankan oleh ego masing-masing.
Di bawah pendar lampu ruang tengah yang mulai meredup digantikan keheningan malam, Gisella menyadari satu hal yang menakutkan:
sandiwara sebagai istri kontrak yang dingin dan penuh perhitungan kini telah pudar sepenuhnya, menyisakan perasaan nyata yang kian tak terkendali.
Senin pagi bergulir dengan ritme yang jauh lebih intim.
Saat Gisella sedang menata beberapa potong buah apel dan anggur untuk pencuci mulut di meja makan, Adrian melangkah masuk.
Pria itu tidak langsung duduk di kepala meja seperti biasanya.
Dia berjalan mendekati Gisella yang berdiri di dekat konter, lalu dengan gerakan alami—hampir tanpa ragu—mengambil sepotong apel dari mangkuk yang dipegang Gisella dan memakannya.
"Kadar glukosaku pagi ini stabil, Nyonya Arthur. Kau tidak perlu menatapku seolah aku adalah pasien darurat,"
goda Adrian dengan nada suara rendah yang kini terdengar sangat familiar di telinga Gisella.
Gisella menarik mangkuknya sedikit menjauh, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak terbit di pipinya.
"Aku hanya memastikan subjek eksperimenku mematuhi protokol kesehatan, Profesor. Jangan terlalu percaya diri."
Dari ambang pintu ruang makan, Valerie yang baru saja masuk menyaksikan interaksi itu. Alih-alih mendengus kesal atau melayangkan sindiran tajam seperti minggu lalu, gadis muda itu justru tersenyum geli.
Dia berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di samping kakaknya, lalu menatap Gisella dengan binar mata yang ramah.
"Gisella, apakah hari ini kau ada acara? Teman-teman kuliahku di jurusan seni ingin melihat pameran sketsa klasik di galeri kota sore ini. Jika kau tidak sibuk... maukah kau ikut bersamaku?"
tanya Valerie, suaranya terdengar agak canggung namun sarat akan harapan.
Gisella tertegun sejenak. Undangan ini adalah bukti nyata bahwa dinding permusuhan di antara mereka telah runtuh sepenuhnya berkat sepiring iga bakar kemarin.
"Tentu saja, Valerie. Aku akan sangat senang menemanimu."
Adrian mendongak dari cangkir teh krisan-nya, menatap adiknya dengan alis yang terangkat.
"Pastikan kau menjaga kakak iparmu dengan baik, Valerie. Jangan biarkan dia kelelahan, dan ingat... pukul lima sore dia harus sudah berada di depan piano."
"Aku tahu, Kak! Kau protektif sekali belakangan ini,"
balas Valerie sembari menjulurkan lidahnya jenaka, membuat atmosfer ruang makan itu dipenuhi oleh tawa hangat yang semakin mengaburkan batas antara fiksi dan kenyataan hidup mereka.
Pukul tiga sore, Galeri Seni Kota Aethelgard tampak cukup ramai oleh para pencinta seni dan mahasiswa.
Gisella berjalan berdampingan dengan Valerie di koridor galeri yang sunyi, menikmati deretan sketsa arang abad pertengahan yang dipajang di dinding putih yang megah.
Gisella mengenakan gaun terusan panjang berwarna biru dongker yang dipadukan dengan mantel wol tipis berwarna putih gading.
Di dadanya, bros perak berbentuk kunci G pemberian Adrian berkilau lembut di bawah lampu sorot galeri. Anggun, tenang, dan berwibawa—sosoknya menarik perhatian beberapa pengunjung paruh baya yang mengenali wajahnya sebagai menantu
keluarga Arthur.
"Sketsa ini menggunakan teknik chiaroscuro yang sangat kuat, bukan?"
komentar Valerie, menunjuk sebuah gambar katedral tua dengan gradasi gelap terang yang dramatis.
"Guru besarku bilang, bagian tersulit adalah mempertahankan konsistensi bayangan agar objek tidak terlihat mati."
Gisella mengamati gambar tersebut, lalu tersenyum lembut.
"Sama seperti kehidupan, Valerie. Terkadang kita terlalu fokus pada bagian yang gelap, hingga lupa bahwa bayangan itu ada justru karena ada cahaya yang sedang menyinari objek tersebut dari arah lain."
Valerie menoleh, menatap Gisella dengan pandangan takjub.
"Kau... selalu punya cara pandang yang filosofis, Gisella. Kadang aku berpikir, benturan di kepalamu itu bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah berkat yang membuka jiwa sejatimu."
Kata "jiwa sejati" seketika menusuk dada Gisella dengan rasa bersalah yang samar.
Dia teringat pada pengakuannya yang jujur kepada Adrian di kamar nomor dua.
Pria itu tahu dia adalah "orang asing", namun pria itu memilih untuk mengabaikan logika sains demi mempertahankannya.
Di depan Valerie yang tulus ini, sandiwaranya terasa semakin berat untuk dipikul.
Sebelum Gisella sempat membalas, sebuah suara bariton yang sangat akrab menginterupsi mereka dari arah belakang.
"Filosofi yang sangat indah, Nyonya Arthur. Aku tidak menyangka akan menemukanmu di tempat yang penuh dengan ekspresi emosional seperti ini."
Gisella dan Valerie berbalik bersamaan.
Adrian berdiri di sana, hanya berjarak dua meter dari mereka.
Pria itu tampaknya baru saja menyelesaikan urusan akademisnya di dekat area galeri.
Dia tidak mengenakan jas laboratoriumnya, melainkan mantel parit (trench coat) berwarna hitam yang membuatnya tampak sangat maskulin dan menonjol di antara kerumunan pengunjung galeri.
Sepasang matanya yang tajam di balik kacamata perak langsung terkunci pada sosok Gisella, mengabaikan deretan karya seni bernilai tinggi di sekeliling mereka.
Bagi Adrian, mahakarya sesungguhnya sore ini sedang berdiri mengenakan gaun biru dongker dengan bros peraknya.
"Kak Adrian? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Valerie terkejut.
"Aku ada pertemuan dengan dewan kurator universitas di gedung sebelah,"
jawab Adrian, langkah kakinya bergerak mendekat hingga dia berdiri tepat di samping Gisella.
Aroma mint dan kayu cendana yang familiar seketika mengepung indra penciuman Gisella.
Adrian mengulurkan tangan kanannya, dengan gerakan yang sangat alami dan penuh kelembutan, dia melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang ramping Gisella, menarik tubuh wanita itu sedikit lebih dekat ke sisinya.
Sesuai dengan Poin Ketiga aturan mereka tentang "Interaksi Publik dan Keluarga",
kontak fisik minimal ini adalah sebuah
kewajiban untuk menampilkan citra harmonis.
Namun, begitu telapak tangan Adrian yang hangat menyentuh pinggangnya melalui kain gaun, Gisella bisa merasakan sengatan listrik yang familier.
Jantungnya berpacu menggila.
Dia melirik Adrian, mencoba membaca apakah ini hanya bagian dari sandiwara publik, namun yang dia temukan di mata elang pria itu adalah binar kepemilikan yang teramat nyata.
Ini bukan lagi sandiwara demi meyakinkan publik.
Adrian benar-benar menggunakan aturan itu sebagai legalitas untuk menyentuhnya, untuk mendekapnya.
"Apakah kunjungan galerinya menyenangkan, Sayang?" tanya Adrian, sebutan
"Sayang" (my dear) keluar dari bibirnya dengan nada yang begitu berat, serak, dan sangat memikat, hingga membuat lutut
Gisella terasa lemas seketika.
Gisella menelan ludah, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya di depan Valerie yang kini sedang menahan senyum di samping mereka.
"Y-ya. Sangat menyenangkan, Profesor. Valerie menunjukkan banyak hal menarik hari ini."
"Baguslah," ucap Adrian.
Dia menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Gisella, mengabaikan beberapa pasang mata pengunjung lain yang mulai berbisik kagum melihat kemesraan pasangan Arthur yang biasanya digosipkan dingin ini.
"Karena sekarang sudah pukul empat lewat empat puluh menit sore. Dan sesuai protokol... kita harus segera pulang ke rumah untuk lagu piano mu."
Sesampainya di kediaman Arthur tepat pukul lima sore, rumah kembali diselimuti keheningan yang intim.
Valerie langsung pamit naik ke kamarnya untuk merapikan sketsa, meninggalkan Adrian dan Gisella berdua di ruang tengah yang mulai temaram oleh semburat senja.
Gisella berjalan menuju piano, bersiap untuk duduk di kursinya demi menunaikan Poin Keempat aturan mereka.
Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh tuts gading putih, Adrian menahan pergelangan tangannya.
"Tidak usah bermain piano sore ini, Gisella,"
ucap Adrian lirih, suaranya terdengar sangat rendah di keheningan ruangan.
Gisella menoleh dengan dahi berkerut.
"Kenapa? Bukankah ini bagian dari rutinitas penenang sarafmu, Adrian? Aku tidak mau melanggar protokol."
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata.
Dia menarik tangan Gisella dengan lembut, menuntun wanita itu untuk berbalik sepenuhnya menghadap dirinya.
Perlahan, Adrian melepas kacamata peraknya, meletakkannya di atas bodi piano, menampilkan sepasang mata elang yang kini sepenuhnya terbuka—tanpa batas, tanpa pelindung, memancarkan intensitas perasaan yang teramat pekat.
Adrian maju satu langkah, mengikis habis jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Kedua tangannya bergerak naik, hinggap di pinggang Gisella, menguncinya di tempat.
"Sarafku sudah sangat tenang hanya dengan melihatmu berjalan di galeri tadi, Gisella,"
bisik Adrian, suaranya parau oleh gelombang asmara yang tak lagi bisa dia bendung dengan rumus sains mana pun.
"Aku lelah bersandiwara menggunakan protokol-protokol bodoh itu sebagai alasan untuk berada di dekatmu. Aku lelah menggunakan Poin Ketiga untuk memegang tanganmu di depan publik, atau Poin Keempat untuk mendengarmu bermain piano hanya agar aku punya alasan untuk menatapmu selama beberapa menit."
Gisella menahan napasnya, dadanya naik turun dengan cepat seiring dengan degup jantungnya yang kini berdentang sangat keras di dalam rongga dadanya.
"Adrian..."
"Kau bilang kau ingin pergi dalam waktu tiga minggu karena kau merasa dirimu bukan pemilik tubuh ini,"
Adrian menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat jernih Gisella, tatapan mata yang begitu melelehkan, begitu menuntut.
"Tapi lihat aku, Gisella. Jiwa siapa pun yang ada di dalam tubuh ini... dialah wanita yang kucintai saat ini. Dialah wanita yang mengubah neraka dingin di rumah ini menjadi tempat yang ingin kudatangi setiap hari. Sandiwara kita sudah pudar, Gisella. Aku tidak sedang mengeksperimen perasaan. Aku sedang menyatakan bahwa aku, Adrian Arthur, telah sepenuhnya jatuh cinta kepadamu."
Mendengar pengakuan yang begitu masif dan tanpa sensor dari seorang pria yang dalam plot aslinya ditakdirkan untuk menderita, pertahanan psikologis Gisella runtuh berkeping-keping.
Air mata kelegaan sekaligus ketakutan merembes di sudut matanya.
Dia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.
Dia bukan lagi sekadar transmigran yang mencoba bertahan hidup dari plot tragis;
dia adalah seorang wanita yang telah
menyerahkan seluruh hatinya kepada sang profesor kaku di hadapannya ini.
Di bawah temaram lampu senja yang menyinari ruang tengah, draf perceraian dan kontrak tiga puluh hari mereka kini benar-benar telah kehilangan maknanya, terbakar habis oleh pengakuan cinta yang siap mengubah seluruh takdir dan alur cerita dunia fiksi ini menjadi sebuah keabadian yang mereka miliki berdua.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...