NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Gaun Sutra

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:69.5k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.

Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.

Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.

Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.

Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....

"Apa salahku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantra penyiksa jiwa

"Tidak mungkin..."

Arkan mencengkeram dadanya sendiri, menggelengkan kepala dengan brutal di dalam kabin mobil yang terasa mendadak kekurangan oksigen.

Pikirannya menolak dengan keras kenyataan yang tersaji di depan mata. Logikanya berteriak bahwa Salsa sudah mati enam tahun yang lalu.

Ia sendiri yang melihat batu nisan itu. Ia sendiri yang memandangi kain gaun sutra kelam yang menjadi saksi bisu akhir hidup sang mantan istri. Wanita berambut gimbal di seberang jalan itu tidak mungkin Salsa. Itu pasti hanya seseorang yang memiliki kemiripan wajah belaka.

Namun, ada sepasang rantai tak kasat mata yang seolah menarik paksa tubuh Arkan. Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan luar biasa mendorongnya untuk membuka pintu mobil, mengabaikan klakson kendaraan lain yang mulai bersahutan karena lampu lalu lintas telah beralih warna.

Langkah kaki Arkan terasa berat, gemetar, dan limbung saat ia menyeberangi jalur pembatas jalan, membelah kerumunan aspal yang bising menuju ke kolong jembatan layang.

Setiap jengkal langkah yang mengikis jarak di antara mereka terasa seperti hitungan mundur menuju penghakiman absolut. Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, langkah kaki Arkan terkunci mati. Pria itu terpaku di atas trotoar yang berdebu.

Wanita tunawisma itu mendongak. Ia sedang menatap lurus ke arah Arkan.

Detik itu juga, runtuh sudah seluruh penyangkalan Arkan. Sepasang mata cekung di balik helaian rambut gimbal itu menatapnya.

Namun, tidak ada lagi binar keangkuhan, tidak ada lagi tatapan penuh cinta yang memuja, atau binar mata yang meledak-ledak seperti enam tahun yang lalu.

Tatapan mata itu kosong, hampa, namun memancarkan sebuah kilatan trauma dan ketakutan yang luar biasa dalam. Tubuh wanita itu seketika gemetar hebat begitu bayangan tubuh tegap Arkan menghalangi cahaya matahari di depannya.

"Arkan...?" Bisik Salsa lirih, menyebut nama itu dengan nada yang sangat parau, nyaris tenggelam oleh deru mesin truk yang melintas di dekat mereka.

Namun, sedetik kemudian, pupil mata Salsa melebar dipenuhi kepanikan massal. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat-kuat hingga rambut gimbalnya yang kotor mengibas ke udara.

"Bukan... bukan! Aku bukan Salsa! Aku sudah pergi... aku sudah mati! Jangan bawa aku lagi... tolong, jangan ikat aku! Jangan suntik lagi... jangan..."

Salsa menjerit pelan, suaranya tersendat di tenggorokan. Dengan gerakan yang teramat memilukan, ia langsung memeluk boneka plastik kumalnya erat-erat ke dada, lalu meringkuk di atas lantai semen yang dingin dan kotor, mencoba menyembunyikan seluruh tubuh kurusnya di balik punggung kecil anak perempuan yang berdiri di depannya.

Arkan merasa dunianya benar-benar berputar dengan sangat brutal. Rasa pening yang hebat menghantam kepalanya, membuat paru-parunya seolah menyempit hingga ia kesulitan untuk sekadar menarik napas.

"Salsa...? Ini... ini benar kamu?" Suara Arkan bergetar hebat, pecah oleh gelombang emosi yang tak terbendung. Arkan semakin yakin karena Salsa mengenalinya.

Air mata hangat mulai merebak dan mengaburkan pandangannya. Ia menatap lekat wanita yang dulu sangat sombong, wanita yang selalu menuntut pelayanan terbaik nomor satu, dan tidak akan sudi menyentuh barang-barang murah.

Kini, wanita yang sama sedang meringkuk tak berdaya di atas debu jalanan kota Jakarta, gemetar ketakutan layaknya seekor binatang buruan yang terpojok.

Namun, perhatian Arkan yang sedang didera syok berat mendadak teralihkan ketika sebuah tubuh mungil bergeser, sengaja menghalangi jalannya untuk mendekati Salsa.

Anak perempuan kecil yang mengenakan baju kaus pudar itu berdiri dengan kokoh. Ia mendongak, menatap lurus ke arah wajah Arkan dengan sepasang mata yang berani, tanpa ada rasa takut sedikit pun terhadap pria asing berbadan besar yang mengenakan setelan mewah di depannya.

"Jangan ganggu ibuku!" Teriak gadis kecil itu dengan lantang, merentangkan kedua tangan kurusnya ke samping untuk melindungi wanita di belakangnya.

"Pergi! Orang jahat jangan mendekat! Jangan sakiti ibuku!"

Arkan mematung seketika. Amarah yang sempat terbit di hatinya karena mengira anak ini ditelantarkan langsung menguap, berganti dengan hantaman petir yang meremukkan kesadarannya.

Dari jarak yang teramat dekat ini, di bawah terik matahari siang, Arkan menatap lurus ke arah wajah anak perempuan itu.

Garis rahang yang tegas itu, bentuk hidung yang mancung, dan belahan bibir yang tipis, itu adalah replika sempurna dari wajahnya sendiri.

Namun, ketika mata mereka beradu, sepasang mata bulat indah milik anak itu memancarkan binar yang sangat spesifik. Itu adalah mata Salsa. Mata yang dulu selalu memancarkan binar cinta sebelum direnggut paksa oleh kekejamannya. Mata yang sama persis seperti milik ibunya.

"Siapa namamu Nak?" Tanya Arkan dengan suara yang parau, nyaris hilang tertelan angin jalanan.

"Namaku Ayu!" Jawab anak itu ketus, sorot matanya tetap tajam dan penuh kewaspadaan.

Deg....

Arkan merasa seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. Paru-parunya mengecil, membuat dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Otaknya yang cerdas dipaksa untuk melakukan perhitungan matematis dengan sangat cepat.

Enam tahun. Anak ini berusia sekitar lima atau enam tahun.

Malam itu, malam kelam yang satu tahun lalu ia anggap sebagai sebuah jebakan murahan dari Salsa untuk mengikatnya. Malam di mana ia melimpahkan seluruh kemarahan, nafsu, dan kebenciannya untuk menodai Salsa sebelum melemparkannya ke jalanan subuh harinya.

Ternyata, malam terkutuk yang penuh dengan kemarahan itu meninggalkan sebuah jejak kehidupan yang nyata. Seorang anak perempuan.

Darah dagingnya sendiri, yang tanpa ia ketahui telah tumbuh dan berkembang di dalam rahim wanita yang telah ia hancurkan hidupnya hingga kehilangan akal sehat.

"Salsa..." Dengan seluruh tubuh yang bergetar karena rasa bersalah yang membakar jiwanya, Arkan mengulurkan tangan kanannya, mencoba menyentuh ujung bahu Salsa yang kurus di balik baju compang-campingnya.

Namun, begitu ujung jari Arkan baru saja menyentuh helai kain kotor itu, Salsa langsung menjerit histeris. Suaranya melengking memecah hiruk-pikuk perempatan jalan, penuh dengan nada penderitaan yang teramat dalam.

"Ampun! Ampun, Mas! Apa salahku?! Aku hanya ingin tidur dengan suamiku! Aku hanya ingin disentuh oleh pria yang memegang ragaku!" Teriak Salsa sembari menangis sesenggukan, menutup kedua telinganya dengan bahu seraya merapatkan tubuhnya ke pilar beton.

"Jangan bilang aku wanita murahan, aku bukan jalang Mas. Aku bukan wanita murahan! Aku hanya ingin dicintai, aku hanya ingin dicintai oleh suamiku sendiri. Apa salahku Mas? Apa salahku?!"

Salsa terus berteriak, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang kotor oleh daki dan debu, menciptakan garis-garis bersih di pipinya yang kempot.

Kalimat permohonan ampun itu diulang-ulang oleh bibir pucatnya seperti sebuah mantra penyiksa jiwa yang terus berdengung tanpa henti. Apa salahku? Apa salahku?

Setiap kata, setiap jeritan, dan setiap rintihan yang keluar dari mulut Salsa yang telah gila itu meluncur layaknya ribuan mata sembilu yang menyayat dan mencabik-cabik hati nurani Arkan tanpa ampun.

Dadanya terasa sangat perih, sebuah rasa sakit fisik yang nyata akibat hantaman penyesalan yang tiada tara tepat di ulu hatinya.

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Salsa, wanita yang dulu selalu dipuja karena kecantikan dan kekayaannya, kini duduk di atas tanah, mendekap erat sebuah boneka plastik kumal seolah-olah benda mati itu adalah seorang bayi yang harus dilindungi dari kejamnya dunia.

Sementara di sisi lain, putri kandungnya yang asli, darah daging mereka yang murni, berdiri dengan tubuh kurusnya yang kotor, bertindak sebagai perisai hidup untuk menjaga sang ibu yang sudah kehilangan seluruh kewarasannya.

Pikiran Arkan berputar kembali pada subuh kelam enam tahun lalu. Bayangan dirinya sendiri yang menyeret Salsa dengan kasar, menjambak rambutnya, dan menghinanya dengan kata-kata kotor sebagai wanita murahan tepat sebelum melemparkannya ke atas aspal basah di bawah guyuran hujan, kini berputar seperti film horor yang menyiksa batinnya.

Ia telah membiarkan wanita yang tulus mencintainya itu menghilang ditelan malam tanpa pernah peduli lagi, membiarkannya melahirkan di dalam kondisi yang tidak manusiawi hingga jiwanya hancur total.

"Maafkan aku... Salsa, maafkan aku..."

Bruk...

Arkan menjatuhkan kedua lututnya ke atas trotoar yang kotor dan penuh debu. Pria terpandang yang biasanya selalu menjaga wibawa dan penampilannya itu kini sama sekali tidak memedulikan setelan jas mahal seharga puluhan juta rupiah yang kini kotor bersinggungan dengan tanah. Ia menekuk lututnya, bersujud di hadapan wanita yang dulu sangat ia benci dan ia anggap sebagai parasit di dalam hidupnya.

Arkan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis tersedu-sedu dengan bahu yang terguncang hebat. Suara tangis penyesalannya berpadu sumbang dengan bisingnya suara klakson ibu kota.

Di depan wanita yang telah ia hancurkan seluruh hidup dan masa depannya, Arkan meratapi seluruh kebodohan dan kesombongannya yang kini telah berbalik menjadi neraka bagi dirinya sendiri.

Salsa yang mendengar suara tangisan itu perlahan menghentikan jeritannya. Dengan gerakan yang kaku, ia menurunkan tangannya dari telinga, lalu menatap Arkan dengan pandangan mata yang kosong tanpa emosi. Detik berikutnya, sebuah senyuman tipis yang teramat tulus namun terasa sangat hampa mengembang di bibir pucatnya.

Salsa mengulurkan tangannya yang kotor, mengelus kepala boneka plastik di pelukannya dengan lembut, lalu berbisik kepada anak perempuannya yang masih berdiri waspada.

"Lihat Nak, orang besar ini menangis. Kasihan ya? Pasti dia juga dibuang dan dihancurkan oleh orang yang sangat dia cintai, ya?"

Mendengar ucapan polos dari mulut Salsa yang telah kehilangan akal sehatnya, tangis Arkan semakin pecah. Kalimat itu bagai tebasan pedang yang mematikan seluruh sisa harga diri di dalam jiwanya.

1
🌿🌺WINA🌸🌿
Arkan itu karma buat kamu dulu tega sekali mengusir salsa tanpa belas kasian, katanya kuat arkan menerima kebencian dari salsa dan ayu menebus semua kesalahanmu...
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...

Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...

Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....

salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...

kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
Felycia Fernandez
😭😭😭😭😭😭😭😭
Cahaya
lanjut
Cahaya
aduhh ayu 😭😭😭😭 ngga kuat tisu sampay habis ini 😭😭😭😭😭
mb peppy
ketidak berdayaan salsa dan penolakan ayu adalah hal yg teramat menyakitan buatmu arkan
Ari Atik
next.....
Ari Atik
gk bisa ngomong apa2..
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
dyah EkaPratiwi
lekas Carikan dr Arkan biar salsa bisa pulih lagi
Yeye 🐱
baru 3 hari, Sallsa aja 1 thn kamu cuekin, kamu maki2,, dih 😏
Nar Sih
penolakan lgi dan lagi ,mungkin ini lah blsan untuk mu arkann,tpi tetap lah berusaha berdoa mohon ampunan yg di atas yg maha membolak balikkan hti seseorang ,semoga usaha mu mendekat lgi dgn salsa juga putri mu sgra di kabul kan yg di atas
Linda Gunawan
pagi menjelang siang ini udah menangisi Ayu. /Sob/
Melly
masa kalah sama Salsa yg 1 tahun dicuekin, dimaki, terakhir diusir sama dibikin bangkrut
Teti Hayati
Harus tahan....
harus kuat...
sudah jadi resiko..
pecinta novel lealistis
sambil nungguin update terbaru aku baca baca ulang part nyesek
Nureliya Yajid
lanjutkan
Silvia
berusaha lebih keras lagi Arkan
Hanima
Hikssss
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
SasSya
🥺🥺🥺🥺😥😢😓
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya
Felycia Fernandez: anak jalanan emank tumbuh lebih cepat kk... karena mereka udah terlatih untuk selalu mawas diri dari mulai mengenal dunia...
aku pernah liat anak kecil manggil ibunya karena ada razia ,bahasanya itu kayak orang dewasa bagi info ke ibunya😓
total 1 replies
Agnezz
di bab Neraka, Ayu mengatakan ayahnya adalah bintang dilangit yg tidak bisa mereka jangkau. tapi disini dibilang Ayahnya hanya mau dengan wanita baik 🤔🤔 mana yg bener, mungkin Salsa suka berubah2 juga cara menerangkan pada Ayu ttg keberadaan ayahnya. 🤔🤔
Agnezz: iya ingatan Salsa terjebak di 6 th yg lalu. raganya dimasa kini, tapi jiwanya ada dimasa lalu.
total 2 replies
Agnezz
dulu kau terlalu lebay jadi laki, bagaimanapun Salsa itu perempuan lebih lemah dari kamu Arkan. Kamu boleh marah saat Salsa menjebakmu tapi gak giu caranya dengan kasar kamu menggiring Salsa keluar dari rumah. Setidaknya cukup dengan sikap tidak peduli dan pergi sementara dari rumah. itu sikap dari laki2 gentle. Kalo mau menceraikan silakan tapi tidak dengan sikap kasar seperti itu. Lagian ayahnya Salsa sudah membantu memulihkan perusahaan keluargamu dari kebangkrutan. tapi begini balasanmu Arkan.
Felycia Fernandez: balasan nya juga perih kk, kalau bisa SE umur hidup gak normal lagi.
Ayu juga nggak nerima ayahnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!