Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Aman Yang Menjebak.
Orang tua kandung Seolhwa. Setelah mereka hidup berkecukupan, tidak pernah sekalipun mereka berhenti berusaha mencari putri mereka.
Namun, usaha itu seperti selalu berujung pada jalan buntu.
Alamat rumah Seolhwa di Seoul yang dahulu ditinggalkan oleh orang tua angkatnya saat proses adopsi,ternyata sudah berubah. Tidak ada lagi jejak yang bisa mereka ikuti.
Mereka sudah mencari ke mana-mana, tetapi seolah-olah dunia sengaja menyembunyikan keberadaan Seolhwa dari mereka.
***
Hari ini aku sudah janjian dengan Minseo untuk "girl’s time". Pertama, kami pergi ke salon kecantikan. Aku ingat bahwa Bora eonnie adalah seorang dokter kecantikan di daerah Gangnam, karena itu aku meminta kontaknya pada Hwi Sol oppa. Tapi bukan untuk melakukan operasi plastik, melainkan hanya untuk treatment kulit wajah biasa.
“Eonnie,” kataku sambil melambaikan tangan dan menghampiri Bora eonnie yang baru saja menyelesaikan pasiennya.
“Eoh, Seolhwa…” sahutnya sambil melontarkan senyumannya padaku.
Kami pun saling memberi salam akrab di pipi satu sama lain dan aku juga memperkenalkan Minseo, sahabatku, padanya.
Karena salon kecantikan Bora eonnie cukup ramai hari itu, kami hanya bisa berbicara singkat. Bora eonnie juga menanyakan kabar Hwi Sol oppa padaku.
Sampai ketika aku dan Minseo sudah selesai treatment, eonnie berkata padaku,
“Terima kasih ya kalian sudah mampir. Oh ya, Seolhwa, apakah lusa kamu senggang? Eonnie ingin mengajakmu makan malam berdua,” tanyanya.
“Oh benarkah, Eonnie? Aku bisa kok eonnie” jawabku dengan senang.
“Baiklah, lusa eonnie jemput ya.”
***
Sepulangnya aku dan Minseo dari klinik, kami bergegas ke Itaewon untuk makan malam. Itaewon tidak pernah sepi, banyak sekali anak-anak muda yang berkumpul di sana, ditambah lagi dengan turis-turis mancanegara.
“Kita mau makan apa ya?” tanya Minseo sambil melihat restoran yang ada di sebelah sisi kanan dan kiri kami.
“Aku lagi ingin makan dakgalbi pedas deh,” jawabku.
“Dakgalbi? Wah kedengarannya enak. Oke! Ayo kita cari restoran Korea saja,” ujarnya.
Setelah menelusuri hampir 10 menit jalanan Itaewon, akhirnya kami menemukan restoran Korea yang belum pernah kami datangi. Tapi sepertinya masakan di sini cukup lezat. Mengapa aku bisa bilang begitu? Karena cukup banyak pengunjung yang makan di sini, dan aku juga memperhatikan mimik wajah mereka, hehe.
Makanan pun datang. Satu porsi dakgalbi pedas jumbo untuk kami makan berdua, dua susu stroberi dingin sebagai penetral pedas, dan dua gelas air putih dingin yang segar.
“Wah, kita tidak salah memilih tempat ini. Ini lezat sekali, Minseo!” ujarku sambil terus makan satu per satu potongan ayam pedas itu.
“Iya benar. Ini lezat sekali. Oh ya, tapi bukannya kamu tidak boleh makan pedas ya? GERD kamu kan sudah cukup parah, Seolhwa,” sahutnya dengan raut wajah cemas.
“Tenang saja, aku membawa obat di tasku kok. Jadi aman, hehe.”
Aku masih ingat, dulu waktu kita kelas satu SMA, GERD kamu kambuh dan Hwi Sol oppa yang mendengar itu langsung berlari ke kelas kita dan menggendongmu dengan wajah paniknya ke UKS,” jawab Minseo.
“Hahaha, iya aku juga ingat. Dan kamu tahu, Minseo? Oppa sangat khawatir padaku. Kejadian itu adalah pertama kalinya aku melihat oppa marah padaku karena ia sangat takut aku kenapa-kenapa.”
“Apa aku boleh jujur?” tanya Minseo dengan perubahan mimik wajah yang sedikit serius.
“Jujur apa?” balasku penasaran.
“Kamu dan Hwi Sol oppa sebenarnya sangat cocok kalau menjadi pasangan kekasih, Seolhwa. Aku tahu mungkin ini terdengar sedikit gila, tapi memang kalian berdua menurutku punya energi yang sulit untuk dipisahkan.”
Mendengar pernyataan Minseo, aku jadi kembali teringat tentang bagaimana sebenarnya perasaan oppa padaku.
Aku dan Minseo makan sambil mengobrol santai. Tawa dan gurauan semua jadi satu di meja makan kami. Aku juga bercerita tentang Eun Dam padanya.
Sampai tiba-tiba perutku sakit sekali. Asam lambungku kambuh dan kini telah menjalar ke ulu hati. Ulu hatiku sangat panas, rasanya seperti sedang dibakar, diinjak, dan diremas sehingga menyulitkanku untuk bernapas, yang membuatku berakhir tak sadarkan diri.
Melihat kondisiku saat itu, Minseo sangat panik dan cepat-cepat membawaku ke IGD dengan dibantu oleh beberapa pengunjung di sana.
Sesampainya di rumah sakit, aku diperiksa oleh dokter. Tak lama setelah itu aku pun sadar. Dan Minseo masih tetap setia menemaniku sambil memegang erat tanganku.
“Seolhwa! Kamu sudah sadar? Seolhwa, kamu tidak apa-apa? Mau aku panggilkan dokter? Apa yang sakit? Jawab aku, Seolhwa…” tanyanya dengan panik.
“Aku sudah baik-baik saja. Sahabatmu ini kan wanita yang kuat, hehe,” ujarku sambil bercanda pada Minseo.
Sesaat setelah itu, langkah kaki yang kukenali dari sepatunya masuk ke ruanganku dengan terburu-buru. Dan ya, itu adalah Eun Dam. Sama seperti Minseo, Eun Dam pun sangat khawatir padaku. Ternyata ketika aku sedang ditangani dokter, diam-diam Minseo menelpon Eun Dam.
“Seolhwa… apa yang terjadi? Bagaimana bisa seperti ini? Kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Eun Dam sambil menatapku dengan tatapan tulusnya.
“Aku baik-baik saja kok. Hanya GERD-ku saja yang tadi sempat kambuh. Oh ya, kalian berdua, tolong jangan beritahu Hwi Sol oppa ya. Pasti oppa akan memarahiku kalau tahu aku pingsan karena makan pedas,” sahutku.
“Bukan oppamu saja yang akan memarahimu, tapi aku juga! Lain kali kalau makan pedas lagi, aku akan memberitahu hyung! Kamu tahu tidak? Banyak kasus kematian mendadak dari penyakitmu itu?! Kalau dokter sudah melarangmu untuk tidak makan pedas, tidak terlambat makan, dan jangan memikirkan hal-hal yang dapat membuatmu stres, maka lakukan! Jangan membantah. Jangan menganggap remeh penyakit yang kamu derita, Seolhwa…” jawab Eun Dam dengan mimik wajah serius.
Aku hanya bisa menunduk sambil mengangguk, yang mengartikan bahwa aku tidak akan mengulangi itu lagi.
Baru kali ini aku melihat Eun Dam mengeluarkan sisi seriusnya. Ia seperti marah tapi tidak juga. Yang aku bisa rasakan adalah kekhawatirannya padaku sama seperti Hwi Sol oppa.
Sepulang dari rumah sakit, aku langsung membersihkan diri, setelahnya merebahkan tubuhku ke ranjang. Aku mengecek ponselku yang ternyata sudah ada beberapa pesan masuk dari Hwi Sol oppa.
Setiap hari oppa pasti selalu menanyakan apakah aku sudah makan, aku makan apa hari ini, bagaimana perasaanku hari ini, apakah ada yang membuatku sedih, bagaimana pekerjaanku hari ini, siapa yang aku temui hari ini, dan berbagai macam pertanyaan lainnya.
Oppa benar-benar selalu memastikan kebahagiaanku. Terlebih lagi, ia juga sangat peduli pada hal-hal kecil diriku yang kadang aku saja lupa akan hal itu.
Setengah jam telah berlalu, aku pun mulai merasa mengantuk dan tertidur.
Tak lama dari tidurku, untuk kedua kalinya aku dapat merasakan bahwa Hwi Sol oppa datang ke kamarku dan mencium keningku lagi. Tapi ketika ia sedang mencium keningku, mataku yang terpejam kubuka perlahan.
Sampai akhirnya pandangan kami pun bertemu satu sama lain. Terlihat jelas wajah terkejut oppa saat itu.
Aku menatapnya dengan tatapan yang dalam, berbeda dari biasanya. Seakan rasanya ingin sekali aku menyampaikan dan bertanya akan semua hal yang selalu kutanyakan di dalam otakku namun tak kunjung ada jawaban.
Entah apa yang merasukiku malam itu, aku memeluknya erat. Rasanya aku sangat merindukannya, aku ingin berkata bahwa aku takut kehilangannya.
Hwi Sol oppa pun membalas pelukanku dengan hangat. Kami berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari lisan kami. Yang ada hanyalah rasa aman dan tenang yang aku rasakan saat itu.