Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.9 — Dunia Ilusi
Langit berwarna merah darah membentang tanpa ujung di atas dunia yang asing itu. Awan-awan gelap berputar perlahan seperti pusaran raksasa yang menutupi cakrawala, sementara angin dingin berembus membawa aroma debu, abu, dan kesedihan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di mana-mana tampak reruntuhan bangunan kuno yang telah hancur berkeping-keping, seolah sebuah peradaban besar pernah berdiri megah di tempat ini sebelum akhirnya musnah ditelan bencana yang tak terbayangkan.
Xiao Yun berdiri terpaku di tengah hamparan tanah retak yang membentang sejauh mata memandang. Jantungnya berdegup keras ketika ia menyadari bahwa altar, lorong kuno, serta ruang bawah tanah tempat dirinya berada beberapa saat lalu telah menghilang tanpa jejak. Kini hanya ada dunia sunyi yang dipenuhi kehancuran.
Angin kembali berembus.
Debu berputar di sekitar kakinya.
Kemudian pandangannya tertuju ke kejauhan.
Di sana berdiri seorang lelaki tua yang membelakanginya.
Pakaian sederhana berwarna abu-abu yang telah dikenalnya sejak kecil berkibar perlahan tertiup angin. Tubuh tua itu tampak sedikit membungkuk seperti biasa, namun tetap memberikan kesan hangat yang tidak mungkin dilupakan.
Tubuh Xiao Yun langsung membeku.
Napasnya tertahan.
Matanya membelalak.
"Kakek...?"
Suara itu keluar hampir tanpa sadar.
Sosok tua di kejauhan perlahan berbalik.
Wajah yang telah lama tersimpan dalam kenangan kembali terlihat jelas di hadapannya.
Kerutan-kerutan tua.
Tatapan hangat.
Senyuman lembut yang selalu membuatnya merasa aman ketika dunia memperlakukannya dengan kejam.
Air mata langsung memenuhi mata Xiao Yun.
"Kakek!" teriaknya sambil berlari.
Kedua kakinya bergerak secepat mungkin melintasi tanah yang dipenuhi retakan. Saat itu ia tidak lagi memikirkan altar, warisan, ataupun ujian pewaris. Semua hal tersebut seakan menghilang dari pikirannya.
Yang ada hanya satu.
Kakeknya.
Orang yang membesarkannya.
Orang yang selalu melindunginya.
Orang yang telah meninggalkannya beberapa bulan lalu.
"Kakek!" teriaknya lagi.
Namun anehnya, meski terus berlari, jarak di antara mereka tidak pernah berkurang.
Seratus langkah.
Dua ratus langkah.
Tiga ratus langkah.
Sosok tua itu tetap berada di tempat yang sama.
Tidak mendekat.
Tidak menjauh.
Seolah terpisah oleh ruang yang tidak terlihat.
Xiao Yun mulai terengah-engah.
Namun ia tetap berlari.
Air mata terus mengalir di pipinya.
"Kakek!"
"Kakek, tunggu aku!"
Akhirnya sosok tua itu tersenyum.
Senyum yang sama seperti ketika ia mengajarinya mengenali tanaman obat.
Senyum yang sama seperti ketika mereka makan bubur sederhana di rumah kayu reyot mereka.
Senyum yang sama seperti sebelum penyakit merenggut nyawanya.
"Yun'er."
Suara itu terdengar lembut.
Tubuh Xiao Yun bergetar.
Sudah terlalu lama sejak terakhir kali ia mendengar panggilan tersebut.
"Aku merindukan Kakek..." ucapnya dengan suara bergetar.
Sosok tua itu hanya memandangnya dengan tenang.
Tatapannya penuh kasih sayang.
Namun juga menyimpan sesuatu yang lain.
Kesedihan.
"Kau sudah tumbuh." kata lelaki tua itu perlahan.
Xiao Yun menggigit bibirnya.
"Tidak."
"Aku masih sama."
"Aku masih lemah."
"Aku masih tidak bisa melakukan apa-apa."
Kepalanya tertunduk.
Kenangan masa lalu kembali memenuhi pikirannya.
Malam-malam ketika ia harus menahan lapar.
Hari-hari ketika anak-anak desa menghina dan menertawakannya.
Saat-saat ketika ia hanya bisa menunduk dan berpura-pura tidak mendengar.
Kemudian muncul penyesalan yang selama ini tersimpan jauh di dalam hatinya.
"Kalau saja aku lebih kuat..."
suara Xiao Yun mulai bergetar.
"Mungkin aku bisa menyelamatkan Kakek."
"Kakek tidak akan mati."
"Kalau aku lebih berguna..."
"Kalau aku tidak menjadi beban..."
Kalimatnya terputus.
Air mata jatuh satu demi satu.
Perasaan yang selama ini dipendam akhirnya keluar seluruhnya.
Selama berbulan-bulan ia selalu berpura-pura kuat.
Berpura-pura tidak peduli.
Berpura-pura baik-baik saja.
Namun kenyataannya, kematian kakeknya telah meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada yang disadarinya.
Untuk beberapa saat dunia kembali sunyi.
Lelaki tua itu hanya memandangnya.
Kemudian perlahan menggeleng.
"Yun'er."
Suara hangat itu terdengar seperti dahulu.
"Kematian Kakek bukan salahmu."
Xiao Yun mengangkat kepala.
Matanya memerah.
"Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa."
"Kau masih anak kecil saat itu."
"Aku tetap tidak bisa melakukan apa-apa."
Lelaki tua itu tersenyum lembut.
"Kau sudah melakukan yang terbaik."
"Tidak."
Xiao Yun mengepalkan tangannya.
"Aku tidak cukup kuat."
"Kakek selalu sakit."
"Kakek selalu batuk."
"Aku bahkan tidak bisa membeli obat yang lebih baik."
Suara bocah itu mulai pecah.
Semua penyesalan yang selama ini dipendam akhirnya keluar tanpa bisa ditahan lagi.
Lelaki tua itu memandangnya lama.
Kemudian berkata perlahan,
"Kalau begitu."
"Kenapa kau ingin menjadi kuat sekarang?"
Xiao Yun terdiam.
Pertanyaan itu terasa sangat familiar.
Luo Hai pernah menanyakan hal yang sama.
Namun kali ini rasanya berbeda.
Karena yang bertanya adalah orang yang paling penting dalam hidupnya.
Angin dingin kembali berembus.
Di kejauhan, reruntuhan dunia kuno tampak semakin suram.
Xiao Yun perlahan menundukkan kepala.
Kemudian menjawab dengan suara pelan.
"Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi."
Sosok tua itu tetap diam.
Xiao Yun melanjutkan.
"Aku tidak ingin hanya bisa menonton."
"Aku tidak ingin menjadi orang yang selalu membutuhkan bantuan."
"Aku ingin melindungi diriku sendiri."
"Aku ingin melindungi orang-orang yang penting bagiku."
Untuk pertama kalinya sejak memasuki dunia aneh ini, tatapan Xiao Yun menjadi tegas.
Tidak ada lagi keraguan.
Tidak ada lagi kebimbangan.
Hanya tekad yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.
Lelaki tua itu tersenyum.
Kali ini senyumnya jauh lebih cerah.
"Itulah jawaban yang benar."
Mata Xiao Yun membesar.
Tiba-tiba.
Retakan cahaya hitam mulai muncul di seluruh tubuh sosok tua tersebut.
Seperti kaca yang perlahan pecah.
Senyuman di wajah Xiao Yun langsung menghilang.
"Kakek?"
Retakan itu semakin banyak.
Cahaya hitam keluar dari sela-selanya.
"Kakek!" teriaknya panik.
Namun lelaki tua itu tetap tersenyum.
"Yun'er."
"Dengarkan baik-baik."
Suara hangat itu perlahan bergema di dunia yang hancur tersebut.
"Jangan hidup untuk masa lalu."
"Jangan terikat oleh penyesalan."
"Teruslah melangkah ke depan."
Tubuhnya mulai berubah menjadi partikel-partikel cahaya.
Sedikit demi sedikit.
"Kakek!"
Xiao Yun berusaha berlari.
Namun kali ini kakinya tidak bisa bergerak.
Seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahannya di tempat.
Air mata mengalir tanpa henti.
Ia hanya bisa menyaksikan.
Hanya bisa memandang.
Persis seperti saat kematian kakeknya dahulu.
Namun kali ini berbeda.
Lelaki tua itu tidak tampak sedih.
Tidak tampak menyesal.
Hanya tersenyum dengan penuh kebanggaan.
"Aku selalu percaya padamu." kata sosok itu.
"Aku selalu bangga padamu."
Kalimat sederhana itu menghantam hati Xiao Yun lebih keras daripada apa pun.
Karena selama hidupnya, hanya orang tua itulah yang pernah mempercayainya tanpa syarat.
"Kakek..." bisiknya.
Tubuh lelaki tua itu akhirnya berubah menjadi cahaya yang tak terhitung jumlahnya.
Kemudian menghilang bersama angin.
Dunia kembali sunyi.
Xiao Yun berdiri sendirian.
Namun kali ini, kesedihan yang selama ini menekan hatinya terasa jauh lebih ringan.
Seolah sesuatu yang selama ini mengikat dirinya akhirnya terlepas.
Tepat pada saat itu.
BOOOOM!
Langit merah darah tiba-tiba bergetar.
Seluruh dunia mulai runtuh.
Reruntuhan bangunan hancur menjadi debu.
Tanah retak di segala arah.
Angin kencang mengamuk.
Di tengah kehancuran itu, sebuah suara kuno bergema dari langit.
"Ujian Hati..."
"Telah lulus."
Mata Xiao Yun membelalak.
Seketika ia menyadari sesuatu.
Kakeknya bukan sungguhan.
Atau mungkin lebih tepatnya...
Bukan kakeknya yang asli.
Melainkan ujian yang diciptakan oleh Altar Pertama.
Sebuah ujian yang memaksanya menghadapi luka terdalam di dalam hatinya.
BOOOOM!
Cahaya hitam turun dari langit.
Menelan seluruh tubuhnya.
Kesadarannya kembali tenggelam.
Ketika Xiao Yun membuka mata beberapa saat kemudian, ia telah kembali ke ruang altar kuno.
Tubuhnya berdiri tepat di tengah formasi.
Sementara cahaya hitam di sekelilingnya perlahan meredup.
Di hadapannya, roh penjaga kuno masih melayang dengan tenang.
Tatapan dalam itu kini mengandung sedikit penghargaan.
"Selamat." ucapnya perlahan.
"Kau telah melewati Ujian Hati."
Xiao Yun masih terdiam.
Sisa-sisa emosi dari pertemuan dengan kakeknya belum sepenuhnya hilang.
Namun jauh di dalam dirinya, sesuatu telah berubah.
Sesuatu yang tidak terlihat.
Sesuatu yang membuat tekadnya menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
Roh penjaga memandangnya beberapa saat.
Kemudian mengangkat satu tangan.
"Karena telah lulus."
"Altar Pertama mengakui keberadaan mu."
BOOOOM!
Seluruh altar kembali bergetar.
Dan jauh di dalam Nadi Kekosongan milik Xiao Yun...
Salah satu rantai kuno yang telah terkunci selama ribuan tahun...
Perlahan mulai retak.
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?