NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Paling Kutakutkan

Ancaman itu datang lagi, tapi kali ini bukan lewat pesan di ponsel.

Aku pulang dari pertemuan dengan Pak Rusdi di kampung nelayan, larut malam, dan mendapati gang di depan rumah kami lebih sepi dari biasanya—terlalu sepi, jenis sepi yang langsung membuat bulu kudukku berdiri sebelum otakku sempat memikirkan alasannya.

Pintu rumah kami terbuka sedikit. Lampu di dalam menyala redup.

Aku berlari masuk, dan menemukan Bapak duduk di lantai, punggungnya bersandar ke dinding, wajahnya penuh memar, bibirnya berdarah. Ibu berlutut di sampingnya, tangannya gemetar mencoba membersihkan luka dengan kain basah, air matanya mengalir tanpa suara—jenis tangis yang sudah terlalu lelah untuk jadi isak.

"Bapak—" suaraku tercekat.

"Rangga," kata Bapak pelan, suaranya serak tapi masih berusaha tenang, seperti biasa. "Bapak nggak apa-apa. Cuma... ada dua orang datang tadi. Nanya-nanya soal kamu. Bapak bilang nggak tahu kamu di mana, terus..."

Ia tidak perlu melanjutkan kalimatnya. Aku sudah bisa membayangkan sisanya.

---

Aku duduk di samping Bapak sepanjang malam itu, tangan kananku menggenggam tangannya yang gemetar, sementara di dalam diriku ada dua hal yang bertarung hebat—rasa bersalah yang nyaris melumpuhkan, dan kemarahan yang lebih dingin dan lebih berbahaya daripada yang pernah kurasakan sebelumnya.

"Ini salah saya," kataku pelan, lebih ke diriku sendiri daripada ke siapa pun. "Kalau saya nggak mulai semua ini—"

"Rangga." Suara Bapak, meski lemah, cukup tegas untuk memotong kalimatku. "Dengar Bapak. Ini bukan salah kamu. Yang salah itu orang-orang yang datang ke rumah kita malam ini. Yang salah itu sistem yang bikin mereka ngerasa boleh lakuin ini ke keluarga kita, cuma karena kita nggak punya kekuatan buat lawan balik."

Ia menatapku lama, matanya yang biasanya tenang kini menyimpan sesuatu yang baru—bukan kemarahan seperti yang kurasakan, tapi semacam kepasrahan yang menyakitkan untuk dilihat.

"Dulu Bapak bilang, pilih kapan diam, kapan lari," katanya lagi. "Tapi Bapak salah, Rangga. Bapak ngajarin kamu itu karena Bapak takut. Bukan karena itu jalan yang benar."

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Bapak menangis.

---

Kabar penyerangan itu menyebar cepat di antara jaringan kami. Yanto dan Salim datang subuh itu juga, wajah mereka keras menahan amarah yang sama dengan yang kurasakan. Ujang datang membawa info yang membuat semuanya semakin jelas: dua orang yang menyerang Bapak dikenali sebagai anak buah baru Broto, tapi kali ini bergerak dengan cara yang berbeda—lebih terencana, lebih berani, seolah tahu mereka punya perlindungan lebih kuat dari sebelumnya.

"Ini bukan cuma Broto yang nekat lagi," kata Yanto. "Ini kayak ada yang kasih lampu hijau buat mereka bergerak lebih jauh."

Aku tahu siapa yang dimaksud Yanto, meski tidak ada bukti langsung. Pesan ancaman yang kuterima beberapa hari lalu, razia besar-besaran sebelumnya, dan sekarang ini—semua terasa seperti bagian dari eskalasi yang sama, satu tangga lebih tinggi dari sebelumnya, seolah seseorang ingin memastikan aku mengerti: *kamu bisa main-main dengan lentera di depan gedung pengadilan, tapi begitu kamu sentuh kepentingan kami, kami akan sentuh yang paling berharga buat kamu.*

---

Malam itu, duduk di gang buntu dekat bantaran kali—tempat yang sama, tempat yang selalu jadi saksi setiap keputusan besar dalam hidupku sejak kecil—aku menghadapi pilihan yang paling berat sejak Lentera terbentuk.

Sebagian diriku ingin membalas dengan segala cara yang kami punya, tanpa peduli lagi pada tiga aturan yang kami sepakati dulu. Sebagian lain, yang lebih tenang tapi lebih menakutkan, mulai berpikir bahwa mungkin cara terbaik melindungi keluargaku adalah dengan mundur, membubarkan semua ini, kembali jadi anak tukang sol sepatu yang tidak menarik perhatian siapa pun.

Tapi setiap kali pikiran itu muncul, aku teringat wajah Bapak malam itu, teringat kalimatnya—*itu bukan jalan yang benar, itu jalan yang lahir dari rasa takut.* Aku juga teringat Sari yang keluar dari tahanan dengan mata masih menyala, teringat Bu Marni dan Nurul, Bu Inah yang membangun ulang warungnya, Pak Rusdi dan warga kampung nelayan yang mulai berani bicara.

Mundur sekarang bukan cuma berarti menyerahkan diriku sendiri. Itu berarti menyerahkan semua orang yang sudah mulai percaya bahwa mereka tidak sendirian lagi.

Aku berdiri, menatap kali yang mengalir pelan di depanku, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku membuat keputusan bukan dari amarah, melainkan dari sesuatu yang lebih dingin dan lebih tegas—tekad yang sudah tidak bisa lagi digoyahkan oleh ancaman apa pun.

Aku tidak akan mundur. Tapi aku juga tidak akan lagi bergerak sembarangan seperti anak muda yang cuma mengandalkan amarah.

Mulai malam itu, aku berhenti jadi anak jalanan yang kebetulan memimpin sekelompok orang.

Aku mulai belajar menjadi pemimpin yang sesungguhnya—yang tahu kapan menyerang, kapan bertahan, dan yang paling penting, yang tidak akan pernah membiarkan orang-orang yang mempercayakan hidup mereka pada Lentera menanggung akibat dari amarahnya sendiri.

---

*(Bersambung ke Bab 12)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!