NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 aturan pertama dirumah

Sinar matahari pagi yang cerah menembus gorden tipis di kamar utama Penthouse Lavender, menghangatkan wajah Alya. Ia menggeliat pelan di atas kasur sutra yang sangat empuk, merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Tidak ada suara bising knalpot motor tetangga kos, tidak ada bau apek dari dinding lembap. Yang ada hanya keheningan eksklusif lantai 45.

Namun, kedamaian pagi itu langsung buyar saat sebuah suara kekanak-kanakan yang familier menggema di kepalanya.

> *[Ibu, bangun! Pria berjas dingin itu sudah menunggumu di meja makan sejak tiga puluh menit yang lalu. Dia membawa selembar kertas yang baunya seperti aturan-aturan diktator. Cepat mandi dan pakai baju yang rapi!]*

Alya membuka matanya lebar-lebar. "Hah? Devan sudah bangun?" bisiknya panik.

Ia segera melompat dari tempat tidur, membersihkan diri dengan cepat di kamar mandi mewah yang luasnya hampir menyamai kos-kosan lamanya, lalu memilih pakaian dari lemari besar yang ajaibnya sudah terisi penuh. Sesuai dengan kenyamanan dirinya, Alya memilih kaos putih polos berbahan premium yang dipadukan dengan celana jeans biru yang pas di tubuhnya.

Begitu melangkah keluar ke ruang makan, Alya disuguhi pemandangan yang memanjakan mata sekaligus mengintimidasi. Devan Dirgantara sudah duduk di sana, mengenakan kemeja hitam formal dengan koran bisnis digital di tangannya. Di depannya, meja makan panjang itu dipenuhi oleh berbagai menu sarapan sehat, mulai dari buah-buahan segar, roti gandum, hingga susu kehamilan premium.

Di tengah meja, terdapat selembar kertas dokumen resmi yang langsung menarik perhatian Alya.

"Duduk," perintah Devan dingin tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.

Alya menarik kursi marmer di seberang Devan dan duduk dengan canggung. Bibi Nunung segera menuangkan susu hangat ke gelas Alya sebelum berjalan mundur dengan sopan.

"Tuan Devan... ada apa sepagi ini?" tanya Alya, mencoba memecah kekakuan.

Devan meletakkan tabletnya, lalu menggeser kertas dokumen di atas meja ke hadapan Alya. "Itu adalah daftar aturan selama kamu tinggal di penthouse ini. Aturan pertama dan yang paling mutlak di rumah ini."

Alya mengambil kertas itu dan membacanya keras-keras. "Aturan Domestik Penthouse Lavender. Pasal 1: Pihak Kedua (Alya Putri) dilarang keras mencampuri urusan pribadi Pihak Pertama. Pasal 2: Dilarang memasuki sayap kiri penthouse (area kerja dan kamar pribadi Devan) tanpa izin tertulis. Pasal 3: Jam malam adalah pukul sembilan malam, tidak ada pengecualian."

Alya mengernyitkan dahinya. "Ini sih bukan aturan rumah, ini aturan penjara!" protesnya.

> *[Hmph! Dasar CEO kuno. Aturan macam apa ini? Ibu, lihat Pasal 4 di bagian bawah. Dia mencoba membatasi asupan makananmu juga!]*

Alya segera menggulirkan matanya ke bawah. Benar saja, di sana tertulis: *Pasal 4: Seluruh menu makanan Pihak Kedua harus berdasarkan rekomendasi ahli gizi keluarga Dirgantara. Dilarang keras mengonsumsi makanan instan, pedas, atau junk food.*

"Tunggu dulu!" Alya menggebrak meja makan pelan. "Aku bisa maklumi aturan privasi, tapi melarangku makan makanan pedas? Tuan Devan, aku ini sedang hamil muda! Terkadang aku mengidam sesuatu yang segar dan pedas. Kalau aku tidak boleh makan baso aci atau seblak, anakmu di dalam sini bisa ileran!"

Devan menatap Alya dengan tatapan tajam dan datar. "Kesehatan janin itu adalah prioritas nomor satu. Aku tidak akan membiarkan pewaris Dirgantara Group terkontaminasi oleh makanan sampah yang tidak higienis. Aturan itu mutlak dan tidak bisa diganggu gugat."

Alya mengerucutkan bibirnya, bersiap untuk berargumen lebih jauh, namun suara Baby El di kepalanya tiba-tiba tertawa licik.

> *[Ibu, tenang. Biarkan aku yang menangani pria keras kepala ini. Serahkan padaku. Coba Ibu ambil gelas susu itu, lalu tatap matanya.]*

Alya menuruti instruksi bayinya. Ia mengambil gelas susu kehamilan dan menatap Devan dengan pandangan menantang.

Detik berikutnya, Devan yang baru saja hendak meminum kopi hitamnya mendadak membeku. Gelombang energi spiritual tak kasatmata kembali menyergap otaknya. Suara jernih Baby El bergaung dengan nada yang sangat tegas, meniru gaya negosiasi tingkat tinggi.

> *[Ayah, mari kita revisi aturan konyolmu ini. Jika kau melarang Ibuku makan makanan yang dia inginkan, aku akan melakukan aksi mogok menyerap nutrisi dari dalam rahim. Kita lihat saja apakah kau mau memiliki anak yang lahir kurang gizi karena keegoisanmu.]*

Devan hampir saja tersedak kopinya. Ia buru-buru meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar, membuat bunyi *denting* yang cukup keras. Matanya menatap perut Alya dengan pandangan tidak percaya sekaligus dongkol. Janin ini benar-benar tahu bagaimana cara mengancamnya tepat di titik lemah!

> *[Selain itu, Ayah, aturan mengenai jam malam dan pembatasan wilayah itu sangat tidak efisien. Bagaimana jika di tengah malam Ibu butuh sesuatu yang darurat? Bagaimana jika aku ingin mendengar detak jantung ayahku agar jiwaku tenang? Kontrak ini dibuat untuk melindungiku, bukan untuk mengurung Ibuku.]*

Devan mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang CEO yang selalu menang dalam negosiasi bisnis baru saja diinjak-injak oleh segumpal daging berusia empat minggu. Namun, ancaman tentang "mogok menyerap nutrisi" itu benar-benar mengusiknya. Ia tidak bisa mempertaruhkan kesehatan calon pewarisnya.

Alya yang melihat perubahan ekspresi Devan—dari dingin menjadi gusar dan akhirnya pasrah—hanya bisa menahan tawa di balik gelas susunya.

"Bagaimana, Tuan Devan? Apakah ada kelonggaran untuk aturan makanannya?" tanya Alya dengan nada polos yang sengaja dibuat-buat.

Devan menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan denyutan di pelipisnya. "Yudha," panggilnya dengan suara tertahan.

Yudha yang entah sejak kapan berdiri di sudut ruangan langsung mendekat. "Ya, Tuan Muda?"

"Ambil kembali kertas itu. Hapus Pasal 4. Ganti dengan ketentuan bahwa Nona Alya boleh memakan makanan apa pun maksimal dua kali seminggu, dengan pengawasan ketat dari koki pribadi rumah ini untuk memastikan kebersihannya," ujar Devan dengan nada berat, seolah-olah ia baru saja menandatangani kekalahan bisnis terbesar dalam sejarah hidupnya.

Yudha berkedip sesaat, terkejut dengan perubahan sikap bosnya yang biasanya sekeras batu, namun segera mengangguk. "Baik, Tuan Muda. Segera saya revisi."

Alya tersenyum kemenangan. "Terima kasih, Tuan Devan. Anda ternyata cukup pengertian."

> *[Kerja bagus, Ibu! Skor sekarang: Kita 1, Ayah Dingin 0. Langkah pertama untuk menjinakkan monster ini berjalan dengan sangat sempurna.]*

Devan berdiri dari kursinya, merapikan jas hitamnya dengan ekspresi kaku. Ia menatap Alya untuk terakhir kalinya pagi itu. "Aku harus pergi ke kantor. Jangan membuat masalah selama aku tidak ada di rumah. Dan kamu..." Devan menjeda kalimatnya, matanya tertuju pada perut Alya, "...jangan mengajari ibumu hal-hal yang aneh dari dalam sana."

Setelah mengatakan itu, Devan berbalik dan melangkah pergi dengan langkah lebar yang terkesan buru-buru, menyisakan Alya yang akhirnya tertawa lepas di ruang makan yang mewah itu.

1
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!