Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan maaf Vanessa
"Nyonya, apa yang sedang Anda lakukan."
Luna yang sedang mencuci piring menoleh, seorang pelayan datang menghampirinya dan mengambil alih pekerjaannya.
"Biar saya saja yang melakukannya. Nyonya duduk saja," ucap si pelayan.
"Tapi, Bi. Aku bosan tidak melakukan apa pun," ucap Luna.
"Kalau begitu Nyonya pergi belanja saja. Saya akan meminta sopir keluarga Mahendra untuk datang," usul si pelayan.
"Tidak, tidak usah," tolak Luna cepat. "Kalau begitu aku siram tanaman saja."
"Jangan, Nyonya. Jika pak Bara tahu, saya akan kehilangan pekerjaan ini," ucap si pelayan.
"Apa dia sekejam itu?" gumam Luna sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Iya, Nyonya," ucap si pelayan sambil manggut-manggut. "Jadi tolong jangan melakukan pekerjaan rumah apa pun."
"Baiklah. Aku ke kamarku saja," ucap Luna disambut anggukkan oleh si pelayan.
Pada akhirnya Luna memilih pergi, ia kembali ke kamarnya. Saat akan duduk, Luna melihat buku sketsa yang dibelinya kemarin. Untuk mengusir rasa bosan, Luna memutuskan untuk menggambar saja.
-
-
Pukul empat sore, Luna sedang berada di balkon lantai atas. Ia duduk sambil menggambar sesuatu. Angin sore itu bertiup lumayan kencang membuat sebagian rambut Luna beterbangan, menutupi sebagian wajahnya. Luna lantas memutuskan untuk mengikatnya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Ia duduk bersandar, tangannya memegang buku sketsa dan pensil. Senyum mengembang di bibirnya melihat hasil karyanya yang hampir selesai. Sudah lama ia tidak melakukan hobinya membuatnya lebih bersemangat.
Pada saat yang bersamaan, pelayan yang dipekerjakan oleh Bara datang menghampirinya.
"Nyonya," panggilnya penuh hormat.
Luna mendongak, menatap pelayan di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Luna dengan suaranya yang lembut.
"Ada wanita yang mengaku teman Anda. Namanya Vanessa. Dia ingin bertemu dengan Anda," jawabnya.
Luna terdiam sesaat. Sebenarnya ia malas bertemu dengan Vanessa karena kejadian semalam. Wanita itu membuat dirinya dan Raka salah paham hingga kekerasan itu terjadi. Namun, Luna masih mengingat setiap kebaikan Vanessa terhadapnya, membuatnya memutuskan untuk menemuinya.
"Apa anda mau menemuinya?" tanya sang pelayan. "Jika tidak saya akan menyuruhnya untuk pulang."
Luna akhirnya mengangguk setelah beberapa saat. "Bawa dia masuk."
"Baik, Nyonya." Pelayan itu kembali pergi.
Luna menghela napas sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. Senyum puas mengembang saat melihat hasil karyanya, sampai ia membayangkan memakai pakaian hasil desainnya sendiri.
"Luna."
Suara itu mengalihkan perhatian Luna. Rupanya Vanessa. Luna langsung meletakan buku desainnya dan menyambut kedatangan Luna meksipun tanpa minat.
"Hai," sapa Vanessa. Ia merentangkan kedua tangannya lantas memeluk Luna. "Kamu sedang sibuk?"
Luna mengangguk. "Ya, aku sedang menggambar."
"Menggambar?" tanya Vanessa dengan kening yang mengerut.
"Ya. Aku bosan. Jadi aku menggambar," jawab Luna. "Duduklah. Aku akan meminta bibi membuatkan kamu minum."
Vanessa mengangguk. "Baiklah."
Keduanya lantas duduk di kursi dekat balkon. Duduk saling berhadapan. Mereka mengobrol sambil menunggu minuman datang.
"Luna …" Vanessa mengenggam tangan Luna. "Aku datang ke sini untuk minta maaf padamu atas kejadian semalam."
Luna tidak langsung merespon ucapan Vanessa.
"Luna, please."
"Hufff." Luna menghela napas berat lalu memandang ke arah Vanessa dengan tatapan kecewa. "Jujur aku kecewa sama kamu, Nes. Kenapa kamu mengira aku seburuk itu," ucap Luna. Ada kekecewaan yang amat besar di matanya.
"Aku juga gak tahu, Luna. Aku melihat kamu begitu mesra dengan ayah mertuamu itu. Jadi aku mengira kamu selingkuh," jawab Vanessa.
"Tapi kamu bisa bertanya dulu padaku sebelum memberikan foto-foto itu pada mas Raka, kan?" balas Luna.
"Iya, Luna. Aku tahu aku salah. Aku sungguh menyesal," ucap Vanessa. "Aku mohon maafkan aku. Kalau kamu mau aku bersujud padamu agar kamu mau memaafkanku … aku akan melakukannya."
Tiba-tiba Vanessa berdiri, berniat bersujud di hadapan Luna, tetapi sebelum kedua lutut Vanessa menyentuh lantai, Luna mencegahnya dan membantu Vanessa untuk berdiri.
"Sudahlah, Vanessa. Lupakan saja. Aku memaafkanmu kali ini," ucap Luna sambil membantu Vanessa duduk di kursinya kembali.
Pada saat yang bersamaan, pelayan di rumah itu datang sambil membawa dua gelas jus mangga. Pelayan itu meletakannya di atas meja.
"Silahkan, Nyonya," ucap si pelayan.
Luna mengangguk. "Terima kasih."
Pelayan itu membungkuk hormat, sebelum pergi dari tempat itu.
"Silahkan diminum," ucap Luna.
Vanessa mengangguk lalu mengambil jus mangga yang sudah disiapkan untuknya. Sama halnya dengan Luna. Keduanya langsung meminumnya. Rasa segar langsung membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"So … sekarang kamu punya pelayan?" tanya Vanessa.
Luna mengangguk.
"Apa Raka menyetujuinya? Maksudku ... kamu pernah bilang kalian gak punya cukup uang untuk membayar seorang pekerja?" tanya Vanessa ingin tahu.
"Ayah mertuaku yang mengurus semuanya," jawab Luna.
"Ohw." Vanessa menggut-manggut. "Sepertinya ayah mertuamu sangat memanjamu."
"Ya, beliau sangat baik padaku," ucap Luna. "Aku merasa beruntung memiliki mertua yang sangat baik dan pengertian."
"Aku jadi iri deh," kata Vanessa.
Luna menanggapi ucapan Vanessa dengan senyuman yang terkesan dipaksakan.
"Vanessa, aku tinggal sebentar. Aku mau ke toilet," ucap Luna.
"Silahkan. Aku akan menunggumu di sini," ucap Vanessa.
Luna bergegas ke toilet karena kantung kemihnya yang penuh.
Sementara Vanessa masih duduk di tempatnya, sesekali pandangannya melihat sekitar. Sampai berhenti di buku sketsa milik Luna. Ia mengambilnya lantas membukanya, melihat satu persatu desain baju yang Luna buat.
Matanya berbinar melihat desain itu. "Aku gak menyangka wanita itu pintar membuat desain."
TAP TAP
Dengan tergesa Vanessa meletakkan kembali buku sketsa itu saat mendengar suara langkah kaki sesorang.
"Maaf, Nes. Aku lama ya," ucap Luna.
Vanessa menggeleng. "Gak apa-apa."
"Oh iya, sebentar lagi malam. Aku pulang dulu," pamit Vanessa. Ia mengambil tas lalu menggantungkannya di pundak.
"Kenapa gak nanti saja. Kita bisa makan malam bersama," ucap Luna. "Sekalian aku kenalkan sama ayah mertuaku."
Vanessa menggeleng. "Lain kali saja."
"Ayolah, Vanessa. Kita sudah lama loh gak makan bersama," bujuk Luna.
"Maafkan aku, Luna. Sejujurnya aku juga ingin. Tapi aku gak bisa. Ada urusan penting yang harus aku urus," tolak Vanessa.
Luna memberengut. Ia nampak kecewa dengan penolakan Vanessa. Akan tetapi Luna mencoba mengerti, sang sahabat pastinya punya urusan sendiri.
"Baiklah. Tapi lain kali kamu gak boleh nolak," ucap Luna dibalas anggukkan oleh Vanessa.
"Aku akan mengantarmu ke depan," ucap Luna.
"Ayo," balas Vanessa sambil mengangguk.
Keduanya lantas pergi dari balkon, melangkah sambil mengobrol ringan menuju teras. Sampai di lantai bawah mereka bertemu dengan Raka.
Kening Luna mengerut bingung melihat Raka pulang lebih awal.
"Mas, tumben sudah pulang?" tanya Luna sambil mencium punggung tangan Raka.
"Pekerjaanku sudah selesai," jawab Raka. "Oh iya, aku mau minum minuman soda tapi di kulkas sudah gak ada persediaan. Bahan makanan kita juga sudah habis. Kamu pergilah belanja."
"Baiklah," ucap Luna.
"Oh iya. Pakai ini." Raka memberikan kartu debit kepada Luna. "Keuangan kita sudah membaik. Kamu bisa bebas belanja apa pun."
"Syukurlah, Mas." Luna tersenyum lalu mengambil kartu debit yang Raka berikan.
"Aku gak bisa mengantarmu. Aku sangar lelah," ucap Raka. "Oh iya jangan naik taksi online. Aku sudah siapakan sopir untukmu."
Luna kembali mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengajak bibi saja."
"Bibi?"
"Papa memperkerjakan seseorang untuk mengurus rumah ini."
"Oh, baiklah. Kamu pergilah. Aku mau mandi dulu."
Luna mengangguk.
"Hati-hati." Raka mengecup kening Luna sebelum pergi ke kamarnya.
"Vanessa, ayo aku akan mengantarmu pulang," ucap Luna.
Vanessa menggeleng. "Aku sudah pesan taksi online."
"Baiklah."
"Mobilnya sepertinya sudah sampai. Aku pergi dulu," ucap Vanessa. "Sampai jumpa."
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man