Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Pertama
Beberapa minggu sejak mereka resmi pindah rumah, waktu berjalan dengan sangat lambat bagi Laila. Suasana rumah dua lantai yang sepi, ditambah jadwal dinas Arjuna yang sedang padat-padatnya memimpin latihan penerbangan dari subuh hingga sore, membuat Laila merasa terkurung dalam sangkar emas.
Aktivitasnya hanya berputar di antara membaca buku, menerjemahkan beberapa artikel daring, dan menatap deretan pohon dari jendela balkon lantai dua.
Pukul dua siang, rasa bosan itu mencapai puncaknya. Laila meraih ponselnya dari meja nakas dan membuka grup obrolan bersama dua sahabatnya.
"Gue bisa gila kalau cuma diam di rumah ini sendirian. Tasya, Kei, gue meluncur ke rumah Keira sekarang ya!" tulis Laila cepat.
Tanpa menunggu balasan lama, Keira langsung mengiyakan dan menyebutkan bahwa ia dan Tasya sedang berada di rumahnya, siap menyambut Laila dengan aneka camilan dan drama Korea terbaru.
Laila bergegas ganti baju. Ia mengenakan celana kulot hitam, kaus putih simpel, dan kardigan rajut berwarna krem. Sebelum meninggalkan rumah, sesuai dengan kebiasaannya untuk mengabaikan gangguan suara luar saat bersama teman-temannya, Laila menekan tombol volume ponselnya hingga masuk ke mode silent total, tanpa getar sedikit pun, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tas selempangnya.
Laila memesan taksi online dan meluncur menuju rumah Keira dengan perasaan bebas yang meluap-luap.
Rumah Keira siang itu terasa seperti surga bagi Laila. Begitu tiba, ketiga sahabat itu langsung menggelar karpet di ruang keluarga Keira, membuka tiga kotak martabak manis dan gurih, lalu mulai mengobrol tanpa jeda. Dari mulai membahas pendaftaran lowongan kerja di Kedutaan Australia yang berkasnya sudah dikirim, menguliti gosip teman-teman angkatan kuliah.
"Tapi jujur ya, La," ujar Keira sambil memotong martabak keju.
"Gue salut sama lo. Lo masih bisa tahan tinggal satu atap sama Arjuna dengan ketengilannya tiap hari," sambung Keira.
Laila tertawa renyah, menyesap teh hangatnya. "Tipsnya cuma satu Kei, anggap aja dia itu suara radio yang gak bisa dimatiin. Dengar sekilas, senyumin, terus kunci pintu kamar atas. Beres."
"Halah, awas loh, radio kalau diputar terus lama-lama lagunya bisa terngiang-ngiang di kepala," goda Tasya disambut tawa kompak dari Keira.
Obrolan yang seru, gelak tawa yang tak henti-hentinya pecah, serta alur drama Korea yang menegangkan membuat waktu mengalir tanpa terasa. Cahaya matahari yang semula terang benderang perlahan meredup, berganti menjadi temaram jingga, lalu sepenuhnya gulita ditelan malam. Lampu-lampu jalan mulai menyala, namun ketiga gadis itu masih sibuk mendebatkan alur cerita di layar televisi.
Hingga akhirnya, jam dinding kayu di rumah Keira berdentang delapan kali.
Laila menghentikan suapannya. Matanya melirik ke arah jam dinding. "Astaga! Udah jam delapan malam," ucap Laila terkejut.
"Eh, iya! Gila, cepat banget waktunya lalu," sambar Tasya.
Laila buru-buru menyambar tas selempangnya, meraba-raba bagian dalam dan merogoh ponselnya. Begitu layar ponselnya menyala, jantung Laila seketika berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Pada layar kunci, terpampang belasan notifikasi berwarna merah mencolok.
14 Panggilan Tak Terjawab dari Mas Arjuna.
6 Pesan WhatsApp dari Mas Arjuna.
“Dek, kamu di mana? Kok rumah gelap?”
“Dek, posisi di mana? Balas.”
“Laila, angkat teleponnya.”
“Saya cari ke sekitar kompleks ya.”
Laila menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya yang semula berseri-seri seketika berubah menjadi agak pucat.
"Kenapa, La?" tanya Keira cemas melihat perubahan drastis pada ekspresi sahabatnya.
"Gue... gue lupa kalau hp gue di silent," suara Laila agak gemetar.
"Arjuna nelpon belasan kali. Dia kayaknya udah pulang dari pangkalan dan rumah dalam keadaan kosong melompong."
"Waduh, mampus la! Buruan pulang, ntar suami lo mikir lo diculik lagi," desak Tasya panik.
Tanpa membuang waktu lagi, Laila berpamitan dengan terburu-buru, memesan taksi panggil cepat, dan berdoa sepanjang jalan agar pintu rumah tidak digembok dari dalam oleh Arjuna.
Perjalanan dari rumah Keira menuju kompleks perumahan Arjuna terasa seperti berjam-jam bagi Laila. Pikiran buruk mulai berkecamuk di kepalanya. "Arjuna marah gak ya? Tapi kan gue bukan anak kecil lagi yang harus laporan tiap mau kemana-mana! Lagi pula dia juga gak bilang kalau mau pulang cepat hari ini!" batin Laila, mencoba membangun tembok pembelaan diri di dalam otaknya.
Mobil taksi berhenti di depan pagar hitam rumah Arjuna. Laila melihat mobil Arjuna sudah terparkir rapi di garasi. Lampu teras depan menyala terang, namun suasana di dalam rumah terasa sangat hening dari luar.
Dengan langkah ragu-ragu, Laila memutar gagang pintu utama.
Klek.
Suasana di dalam rumah sangat terang. Arjuna tidak sedang menonton TV atau duduk di sofa. Pria itu berdiri membelakangi pintu di dekat konter dapur, masih mengenakan celana seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan) hitam dan kaus oblong tentara berwarna biru tua. Bahunya yang tegap tampak tegang.
Mendengar suara pintu terbuka, Arjuna berbalik secara perlahan.
Laila menahan napas. Untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, tidak ada seringai tengil, tidak ada senyum jenaka di wajah Arjuna. Matanya yang tajam menatap Laila lurus-lurus dengan tatapan dingin.
"Dari mana, Laila?" tanya Arjuna. Suaranya tidak keras, namun nada baritonnya yang berat dan berwibawa bergema menekan di ruangan yang luas itu.
Laila menelan ludah, mencoba membusungkan dadanya agar tidak terlihat terintimidasi. "Dari... dari rumah Keira. Tadi main sama Tasya juga."
Arjuna melangkah mendekat. Setiap derap langkah kakinya di atas lantai terasa seperti hitungan mundur ledakan. Ia berhenti tepat tiga langkah di depan Laila, melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa telepon tidak diangkat? Kenapa pesan tidak dibalas satu pun dari jam enam sore?" desak Arjuna, matanya menyipit menuntut jawaban.
"Ponsel gue di silent," jawab Laila dengan suara yang agak ditinggikan untuk menutupi rasa gugupnya. "Gue gak dengar ada panggilan masuk karena lagi asyik ngobrol tadi."
Arjuna mengembuskan napas pendek dari hidungnya, sebuah tawa dingin yang hampa keluar dari bibirnya. "Asyik ngobrol sampai lupa waktu? Sampai lupa kalau kamu itu punya rumah? Sampai lupa kalau ada orang di rumah ini yang nyariin kamu?"
Nasihat Arjuna mulai merambat naik, nadanya semakin tegas dan tajam. "Laila, dengerin Mas. kamu keluar rumah tanpa pamit, pergi sampai jam sembilan malam tanpa bisa dihubungi sama sekali, kamu pikir Mas harus tenang-tenang saja duduk di sini?"
"Gue bukan anak kecil yang harus diawasi 24 jam ya," potong Laila, emosinya mulai tersulut karena merasa disudutkan seperti seorang tersangka pidana.
"Ini bukan soal anak kecil atau bukan!" tegur Arjuna, suaranya menggelegar menembus langit-langit rumah, membuat Laila sempat tersentak kaget.
"Ini soal tanggung jawab dan keselamatan. Kamu itu seorang istri. Mas pulang dari pangkalan jam setengah tujuh, nemuin rumah ini gelap gulita, pintu dikunci, dan kamu hilang tanpa jejak." Arjuna menjeda omongannya.
"Mas telepon kamu berkali-kali, gak diangkat. Mas tanya pos penjagaan depan, gak ada yang tahu kamu ke mana. Kamu tahu gak gimana rasanya Mas kepikiran kalau kamu kenapa-kenapa di jalan? Kalau kamu kecelakaan? Atau yang paling buruk ada orang jahat yang macam-macam sama kamu."
Mendengar kata-kata 'tanggung jawab' dan 'istri', benteng ego dan pertahanan Laila yang selama ini ditahannya rapat-rapat seketika meledak. Rasa bersalah yang sempat hinggap di hatinya kini sepenuhnya terbakar oleh rasa tidak terima dan kekesalan yang sudah menumpuk sejak hari pertama perjodohan absurd ini dimulai.
Laila melangkah maju satu langkah, menatap tepat ke dalam mata Arjuna dengan tatapan menyala-nyala penuh amarah.
"Lo khawatir sama gue, atau cuma takut kena tegur Papi kalau menantu kesayangannya ini kehilangan istrinya? Jangan pura-pura peduli berlebihan deh lo!" teriak Laila, suaranya melengking menembus keheningan malam.
Wajah Arjuna membeku. Tatapan matanya yang semula marah mendadak berubah menjadi sangat terkejut mendengar tuduhan itu.
"Apa kamu bilang?" bisik Arjuna pelan, suaranya sangat dalam.
"Lo lupa ya gimana pernikahan ini terjadi," Laila terus menyemburkan amarahnya, air mata kekesalan mulai menggenang di pelupuk matanya namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak jatuh.
"Pernikahan ini tu perjodohan dan gue nerima perjodohan ini cuma buat menenangkan Papi yang lagi sakit. Jangan bertindak seolah-olah lo itu suami beneran yang punya hak penuh buat ngatur hidup gue, ngekang kebebasan gue, dan marahin gue kayak sekarang." Laila akhirnya tanpa sadar mengucapkan satu rahasia tentang mengapa ia menerima perjodohan mereka tanpa harus Arjuna pancing.
Laila menunjuk dada Arjuna dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Gue butuh keluar dari rumah ini karena gue bosan, gue tertekan tinggal di sini sendirian tiap hari. Sedangkan lo sibuk di pangkalan, terus saat gue cari hiburan sebentar sama temen-temen gue, lo malah kayak begini."
Dada Laila memburu hebat setelah meluapkan seluruh isi hatinya. Ruang tengah rumah itu mendadak diselimuti keheningan yang luar biasa tebal dan menyiksa.
Arjuna berdiri mematung di tempatnya. Jarinya yang berada di lipatan tangan perlahan terlepas dan jatuh lemas di samping tubuhnya. Kalimat yang Laila lontarkan menghantam dadanya jauh lebih menyakitkan.
Selama ini, Arjuna menahan seluruh rasa cemburunya tentang Devan. Arjuna membiarkan Laila menguasai kamar atas, menerima segala penolakan fisik dan dinginnya sikap Laila, bahkan dengan tulus mengkhawatirkan keselamatan Laila malam ini murni karena ia peduli dan menyayangi wanita itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Namun bagi Laila, semua kepedulian itu ternyata hanya dinilai sebagai bentuk kepura-puraan demi Ayah Laila.
Seringai tengil Arjuna yang biasanya selalu menjadi senjata pamungkasnya kini benar-benar sirna. Wajah tampannya terlihat sangat lelah, memancarkan luka tersembunyi yang sangat dalam.
Arjuna mendesah pelan. Ia tidak membalas teriakan Laila dengan amarah lagi. Suaranya turun ke titik paling rendah, begitu tenang namun terasa sangat hampa.
"Jadi... menurut kamu, rasa khawatir Mas malam ini cuma kepura-puraan demi Papi?" tanya Arjuna pelan, menatap Laila dengan pandangan yang sulit diartikan.
Laila terdiam sesaat, lidahnya mendadak terasa kelu melihat perubahan drastis pada raut wajah Arjuna. Ada rasa menyengat di dadanya melihat tatapan terluka dari pria tegap itu, namun egonya yang telanjur tinggi melarangnya untuk mengoreksi perkataannya.
Arjuna mengangguk-angguk pelan, seolah sedang mencerna dan menerima vonis pahit tersebut.
"Oke. Mas paham," kata Arjuna singkat. Ia berbalik membelakangi Laila, berjalan perlahan menuju kamar tidurnya di lantai satu. Sebelum memutar gagang pintu kamarnya, Arjuna menghentikan langkahnya tanpa menoleh kembali.
"Maaf kalau kepedulian Mas malam ini bikin kamu merasa terkekang, Laila," ujar Arjuna dengan nada datar yang teramat dingin. "Mas gak bakal ganggu kebebasan kamu lagi. Pintu rumah tidak akan Mas kunci dari dalam. Makanan ada di atas meja kalau kamu belum makan malam. Selamat malam."
Klek.
Pintu kamar lantai bawah itu tertutup rapat dengan bunyi yang sangat pelan namun bergema kuat di dalam dada Laila.
Laila berdiri sendirian di tengah ruang tengah yang luas dan terang benderang. Keheningan yang menyapu rumah itu kini terasa seratus kali lebih dingin dan mencekam daripada sebelumnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetas juga, membasahi pipinya.
Laila memegang dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa. Ia berhasil memenangkan perdebatan itu, ia berhasil mempertahankan egonya, namun kenapa rasanya ia baru saja melakukan kesalahan paling besar dalam hidupnya? Langkah kakinya saat menaiki tangga menuju kamar atas malam itu terasa begitu berat, meninggalkan bayangan keretakan yang semakin menganga di antara mereka.
...Bersambung......