NovelToon NovelToon
ISTRI PENGGANTI

ISTRI PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

.

Langit sore mendung kelabu, seolah ikut menanggung beban berat yang sedang dipikul Adelia. Saat Gyantara pulang ke rumah, suasana di ruang tamu terasa hening dan dingin. Ia segera menemukan istrinya meringkuk di sudut ruangan yang agak gelap, tubuhnya berguncang halus menahan tangis. Saat Adelia menoleh perlahan, hati Gyantara seketika terasa diremas perih—pipi kanannya memerah jelas bekas tamparan, matanya bengkak dan merah, dan tatapannya kosong seolah jiwanya sudah pergi ke tempat lain.

"Siapa yang berani menyakitimu?!" seru Gyantara dengan suara bergetar marah. Ia segera berlutut di depan Adelia, berusaha menyentuh pipi gadis itu dengan lembut, tapi Adelia menyentak mundur seolah tersengat listrik.

"Jangan sentuh aku!" bentaknya pelan namun penuh kepedihan. "Tolong jangan dekat dulu..."

Tindakan menolak itu membuat Gyantara tertegun. Tangannya menggantung di udara, lalu perlahan mengepal erat menahan amarah yang meluap. "Apa maksudmu? Aku suamimu. Aku berhak tahu siapa yang melakukan ini padamu! Apakah orang tuamu tadi datang? Apakah mereka yang memukulmu?!"

Adelia menunduk dalam, air matanya jatuh menetes membasahi lantai. Ia tak sanggup menjawab. Jika ia bicara soal permintaan uang itu, jika ia bilang orang tuanya memaksanya menipu suaminya demi harta, semuanya akan berakhir hari ini. Kebohongannya terbongkar, keluarganya hancur, dan ia pasti akan diusir dengan rasa benci yang mendalam.

"Tidak ada apa-apa," jawabnya lirih, suaranya pecah. "Aku hanya... aku hanya tidak enak badan. Biarkan aku sendiri sebentar saja."

"Tidak enak badan?" Gyantara berdiri dengan napas memburu. Ia mulai merasa frustrasi dan bingung. "Kamu pikir aku bodoh? Ada bekas tamparan di wajahmu, kamu menangis sejadi-jadinya, kamu menolak disentuh, dan kamu bilang tidak ada apa-apa? Selama ini kamu selalu menyembunyikan sesuatu dariku! Penyakitmu, kebiasaanmu, sekarang lukamu... apa sebenarnya yang kamu takutkan untuk kukatakan?!"

"Itu urusanku!" balas Adelia berani menatapnya, matanya berapi-api sekaligus putus asa. "Aku punya hak menjaga rahasia sendiri! Aku tidak harus melaporkan setiap hal yang menyakitkan hatiku padamu!"

"Rahasia sendiri?" Gyantara tertawa getir. "Kamu istriku! Hidupmu sekarang satu dengan hidupku! Apa yang menyakitimu juga menyakitiku! Kenapa kamu malah menutup diri seolah aku ini musuhmu? Atau mungkin... ada hal yang sangat buruk yang kamu sembunyikan sampai kamu takut untuk berbicara?"

Pertanyaan itu seperti pisau yang menancap tepat di dada Adelia. Ia gemetar hebat. "Kamu tidak akan mengerti! Kamu tidak pernah tahu rasanya dipaksa melakukan hal yang bertentangan dengan hati! Kamu tidak pernah tahu rasanya diancam akan dibuang jika tidak menuruti keinginan orang lain!"

"Siapa yang memaksamu?!" Gyantara mendekat lagi, suaranya meninggi tanpa sadar. "Katakan padaku! Aku akan melindungimu! Aku akan membereskan siapa pun yang berani mengancammu! Kenapa kamu selalu menolak bantuanku? Apakah kamu tidak percaya padaku? Atau kamu tidak percaya pada diri sendiri?!"

Adelia terdiam. Bagaimana ia menjelaskan bahwa pelindung yang ia butuhkan justru adalah orang yang sedang ia tipu? Bagaimana ia meminta bantuan pada pria yang sedang dijadikan sasaran pemerasan oleh keluarganya sendiri? Ia tidak sanggup. Beban itu terlalu berat untuk diucapkan.

"Kamu tidak bisa melindungiku dari semuanya," bisiknya akhirnya. "Ada hal yang hanya aku yang bisa selesaikan sendiri. Dan aku minta... tolong jangan tanya lagi. Cukup aku yang menanggungnya."

Kata-kata itu membuat Gyantara terdiam. Ia menatap Adelia lama sekali, dan perlahan kemarahan di matanya berubah menjadi kekecewaan yang dalam. Ia merasa seolah-olah ada tembok tinggi yang tak bisa ia tembus di antara mereka. Semakin ia berusaha mendekat, semakin gadis itu menjauh.

"Baiklah," katanya pelan, suaranya dingin dan jauh. "Jika kamu begitu ingin menyelesaikannya sendiri, silakan. Aku tidak akan lagi ikut campur urusanmu. Aku tidak suka dipandang sebagai orang asing di rumahku sendiri."

Tanpa menoleh lagi, Gyantara berbalik dan berjalan cepat menuju ruang kerja. Pintu ruangan itu ditutup dengan bunyi dentuman yang pelan namun terasa menghancurkan hati Adelia. Gadis itu merosot ke lantai, menangis sejadi-jadinya hingga bahunya terasa sakit. Ia ingin memanggilnya kembali, ingin berlari memeluknya, tapi kakinya terasa berat dan mulutnya terkunci rapat oleh rasa bersalah yang tak bertepi.

Malam itu suasana rumah terasa sepi mencekam. Biasanya mereka makan malam bersama, bercerita, atau sekadar duduk berdampingan. Tapi malam ini, Gyantara makan di ruang kerja, dan Adelia menolak makan sama sekali. Rama yang melihat ketegangan itu hanya bisa diam dan menghela napas panjang. Ia tahu ada sesuatu yang besar sedang menyiksa keduanya, tapi ia juga belum berhak membuka rahasia itu.

Menjelang tengah malam, Adelia memberanikan diri berjalan mendekati pintu ruang kerja. Dari celah kaca, ia melihat Gyantara duduk menatap foto pernikahan mereka di meja. Wajahnya tampak lelah dan bingung. Hatinya terasa perih melihatnya. Ia tahu Gyantara marah karena khawatir, bukan karena ingin menyakitinya. Tapi kebohongan ini memaksa mereka saling menyakiti tanpa alasan yang jelas.

Ia mengetuk pintu pelan. "Mas..."

Gyantara menoleh, lalu membuang muka kembali ke arah jendela. "Masih ada yang perlu dikatakan? Atau kamu datang untuk menyuruhku berhenti bertanya lagi?"

Pertanyaan dingin itu membuat Adelia menelan ludah. Ia melangkah masuk perlahan. "Aku... aku minta maaf tadi sudah membentakmu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... sangat takut."

"Takut apa?" Gyantara menatapnya tajam. "Takut aku tahu siapa kamu sebenarnya? Takut aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu yang sangat besar sampai kamu rela kita bertengkar seperti ini?"

Adelia terdiam. Air matanya mengalir deras. Ia tidak bisa menjawab. Keheningan itu adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi Gyantara.

"Pergilah istirahat," kata Gyantara akhirnya dengan suara berat. "Aku butuh waktu sendiri dulu. Aku tidak ingin bicara sesuatu yang nanti aku sesali."

Adelia mengangguk lemah, lalu berjalan keluar dengan langkah gontai. Malam itu ia tidur sendirian di kamar besar yang terasa begitu kosong. Ia tahu pertengkaran kecil ini bukan sekadar salah paham sesaat. Ini adalah tanda bahwa benang-benang kebohongan itu mulai melilit erat, melukai siapa saja yang tersangkut di dalamnya—termasuk pria yang mulai ia cintai dengan segenap jiwanya.

Di ruang kerja, Gyantara masih terjaga. Ia memegang selembar foto lama Adelin yang ia temukan di laci—Adelin yang dulu berani, lincah, dan selalu memeluknya saat ada masalah. Ia membandingkannya dengan wanita yang ada di sana sekarang: lembut, pendiam, penuh rahasia, dan selalu tampak menderita. Ia semakin yakin ada sesuatu yang salah, tapi ia belum sanggup menghadapi kenyataan yang mungkin menyakitkan itu.

Dan di kamar tidur, Adelia memeluk dirinya sendiri erat-erat, berharap mimpi buruk ini segera berakhir. Ia tidak tahu bahwa pertengkaran ini hanyalah awal dari badai yang jauh lebih besar yang sedang menanti mereka.

1
Tere Rere
watak Adelin menurun dari kedua orang tuanya yg otaknya cuman separuh 😡
Tere Rere
bersyukur masih ada Tama dan Julian di saat Adelia terpuruk🥹
Tere Rere
GYANTARA bangke😡
Tere Rere
Adelin jahat banget😡😭
Tere Rere
Adelin sialan😡
Tere Rere
ao ao😍🤭
Binar Jingga
Huhuhu 🥹
Tere Rere
yg pengen nangis cuslah baca ISTRI PENGGANTI karya Binar jingga. nyesek banget jadi Adelia🥹
Binar Jingga: Wah terimakasih kak atas supportnya🥹🤗
total 1 replies
Tere Rere
Adelia🥹
Hasbia n Hasbia nn
pusing bcanya😮‍💨
Binar Jingga: Pusing kenapa kak?🙏🏻
total 1 replies
Tere Rere
ada orang tua yang sangat jahat seperti si Belinda dan YHOSEP ini/Sleep/
Binar Jingga: Huhuhu jahat yah…. Semoga ini terjadi cuman d dalam novel saajaa
total 1 replies
tia
jangan banyak omong suami durhaka 😁
Binar Jingga: Mohon bersabar😂🤣🤣🤣
total 1 replies
tia
jgn mao kembali dulu Adelia ,,,biarkan di hukum penyelan 😁
tia
kapok suami durhaka 😁
tia
keluar gila banget
tia: siap thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!