NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Keesokan harinya, Yua berjalan menuju kediaman Jinsei sambil membawa sebuah kotak kecil di tangannya. Sedari tadi, senyum tipis terus menghiasi wajahnya. Sesekali ia melirik kotak itu dengan penuh perhatian, seolah benda tersebut sangat berharga baginya.

“Dia pasti akan suka.”

Pikiran itu terus terngiang di benaknya. Karena terlalu fokus memandangi kotak kecil tersebut, Yua tidak menyadari keadaan di sekelilingnya. Saat melewati sebuah belokan, tubuhnya tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang.

Bruk!

Kotak kecil itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai. Yua pun ikut terjatuh akibat benturan yang tidak terduga itu.

“Maaf, apa Putri baik-baik saja?” tanya Yua panik.

“Astaga.. lain kali perhatikan langkahmu.”

Pandangan Putri Hikari tertuju pada kotak kecil yang terjatuh tidak jauh dari kakinya. Dia membungkuk, mengambil kotak tersebut, lalu menyerahkannya kembali kepada Yua.

“Sepertinya benda ini yang membuatmu tidak fokus.”

Putri Hikari memperhatikan ekspresi Yua yang tampak berbeda dari biasanya. Wajah Yua terlihat lebih cerah, bahkan sulit menyembunyikan kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya.

“Kau terlihat sangat bahagia hari ini.”

Ucapan itu membuat Yua sedikit tersipu. Dia segera menerima kembali kotak tersebut dan memegangnya erat.

“Benarkah? apa terlihat jelas, kalau begitu aku permisi dulu.”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Yua segera melanjutkan perjalanannya. Langkahnya tampak lebih cepat dari biasanya, seolah dia tidak ingin membuang waktu sedikit pun.

Putri Hikari menatap punggung Yua yang semakin menjauh. Ada sesuatu yang terasa janggal sekaligus menarik perhatiannya.

Yua bukan tipe orang yang mudah menunjukkan perasaannya. Namun hari ini, kebahagiaannya terlihat begitu jelas bahkan tanpa perlu diucapkan.

Rasa penasaran pun perlahan muncul dalam benak sang Putri.

Tanpa Yua sadari, Putri Hikari mulai mengikuti langkahnya diam-diam. Dia ingin mengetahui apa yang membuat Yua begitu bersemangat.

Tak lama kemudian, langkah Putri Hikari mendadak terhenti. Matanya membelalak lebar saat menyadari ke mana tujuan Yua sebenarnya.

“Kenapa dia ke sini?”

Rasa penasarannya yang semula kecil kini semakin besar. Dengan hati-hati, dia bersembunyi di balik tembok dan mengamati dari kejauhan.

Di paviliun, Jinsei sedang duduk santai menikmati angin pagi. Tak lama kemudian, Yua menghampirinya. Kotak kecil yang dibawanya sejak tadi disembunyikan di balik tubuh, seolah dia ingin memberikan kejutan.

Dari balik tembok, Putri Hikari terus mengintip tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

“Yua, apa yang membuatmu kemari? hmm.. kau pasti merindukanku, ya?” goda Jinsei sambil tersenyum tipis.

“Merindukanmu? Jelas tidak,” balas Yua sambil tertawa kecil.

“Jangan berbohong. Katakan saja, tidak usah malu.”

Jinsei kemudian menyadari gerak-gerik Yua yang tampak mencurigakan. Tatapannya menyipit saat melihat salah satu tangan gadis itu terus berada di belakang tubuhnya.

“Apa yang kau sembunyikan itu?”

Yua tersenyum lalu akhirnya memperlihatkan kotak tersebut.

“Tada.. coba tebak apa ini?”

Jinsei menatap kotak itu beberapa saat sebelum tersenyum kecil.

“Wah.. apa itu untukku?“

Yua menyerahkan kotak itu kepadanya. Begitu tutupnya dibuka, sorot mata Jinsei langsung berubah. Di dalamnya terdapat sepasang gelang dengan warna yang berbeda namun memiliki bentuk yang serasi.

“Indah sekali.. sepasang gelang.”

“Yang merah milikmu, dan yang biru muda milikku.” ucap Yua.

Senyum Yua tampak tulus saat mengucapkan kalimat itu. Tanpa ragu, mereka saling memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan masing-masing.

“Gelang ini adalah tanda bahwa kita akan selalu bersama, apa pun yang terjadi di mana pun dan kapan pun itu. Jadi jangan pernah kau lepaskan.”

Jinsei menundukkan pandangan sejenak ke arah gelang yang kini melingkar di tangannya. Senyum lembut terukir di wajahnya.

“Baiklah. Akan kupastikan gelang ini selalu ada bersamaku.”

Pemandangan itu membuat Putri Hikari terdiam.

Awalnya dia hanya penasaran. Namun semakin lama dia melihat kedekatan mereka, semakin sulit pula perasaannya untuk tetap tenang. Tanpa sadar, jemarinya mengepal erat.

“Jadi inikah alasan Jinsei selalu bersikap dingin kepadaku?”

Selama ini dia selalu berpikir bahwa Jinsei hanya tidak pandai menunjukkan perasaan. Dia berharap suatu hari nanti Jinsei akan melihatnya bukan sebagai seorang putri, melainkan sebagai seorang wanita.

Namun kenyataan yang ada di hadapannya menghancurkan harapan itu dengan begitu mudah. Tatapannya kembali tertuju pada gelang merah yang melingkar di tangan Jinsei.

Bukan sekadar hadiah.

Bukan sekadar perhiasan.

Melainkan simbol ikatan yang tidak mampu dia miliki.

Dadanya terasa sesak. Perasaannya bercampur aduk antara marah, sedih, kecewa, dan cemburu. Untuk pertama kalinya, Putri Hikari merasa kalah sebelum sempat menyatakan perasaannya.

Dia memalingkan wajah. Tak sanggup melihatnya lebih lama, Putri Hikari berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Semakin jauh dia berjalan, semakin berat pula langkahnya.

Namun meski berusaha pergi, bayangan Jinsei yang tersenyum saat menerima gelang dari Yua terus terulang di dalam pikirannya. Seolah menjadi pengingat bahwa hati Jinsei telah ditempati oleh seseorang yang bukan dirinya.

Di tengah perjalanan, tanpa sengaja dia menabrak Fumiro. Tubuhnya hampir terjatuh ke kolam di samping jalan, namun dengan sigap Fumiro menarik tubuhnya sebelum tercebur. Kini mereka berdiri sangat dekat di tepi kolam, saling menatap dalam kecanggungan.

“Kau baik-baik saja, Tuan Putri?” tanya Fumiro pelan.

Putri Hikari tersentak dari lamunannya. Dengan cepat dia mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih dipenuhi emosi.

“Terima kasih... aku harus pergi.”

Tanpa menunggu jawaban, dia segera berbalik dan melangkah pergi.

Sesampainya di kediamannya, Putri Hikari langsung berlari menuju kamar. Begitu pintu tertutup rapat, air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya mengalir tanpa bisa dibendung. Isak tangisnya yang lirih membuat seorang dayang yang berjaga di luar segera masuk dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Tuan Putri? ada apa? mengapa Putri menangis?” panggilnya lembut.

Putri Hikari menundukkan kepala. Jemarinya mencengkeram erat kain gaun yang dikenakannya.

“Apa ada seseorang yang benar-benar peduli padaku?” lirihnya dengan suara bergetar.

Dayang itu terdiam sejenak, lalu berjalan mendekat. Dengan hati-hati dia memeluk sang putri dan membelai rambutnya perlahan.

“Jangan berkata seperti itu, Tuan Putri,” ujarnya lembut.

“Hamba sangat peduli kepada Putri.”

“Kenapa aku selalu tidak beruntung dalam segala hal? aku juga ingin bahagia.. walau hanya sedikit.” katanya di sela-sela isakan.

Dayang itu mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

“Tuan Putri akan selalu bahagia kapan pun itu.”

Untuk beberapa saat, hanya suara tangis pelan yang memenuhi ruangan. Kemudian, tanpa sengaja, pandangan sang dayang jatuh pada telapak tangan kanan Putri Hikari.

Matanya langsung membesar.

“Darah?”

Dua segera meraih tangan sang putri.

“Tuan Putri terluka? tunggu sebentar, hamba akan mengambil obat!”

Putri Hikari menatap telapak tangannya yang ternoda merah.

“Luka ini.. tidak sebanding dengan rasa sakit yang selama ini kurasakan.” gumamnya lirih.

Dayang itu segera mengambil kain bersih dan mengusap noda darah tersebut dengan hati-hati. Namun setelah noda merah itu hilang, tidak tampak sedikit pun luka ataupun goresan pada kulit sang putri.

Dayang itu mengembuskan napas lega.

“Syukurlah. Ternyata hanya noda darah. Putri tidak terluka.”

“Benarkah?” tanya Putri Hikari pelan sambil menarik kembali tangannya.

Tatapannya tertuju pada telapak tangan yang kini telah bersih.

“Kalau begitu.. darah ini berasal dari mana?”

Dia terdiam keheranan.

---

Di bawah langit sore yang mulai memerah, Kazura masih berlatih bersama Haru. Angin dingin berembus pelan melewati pepohonan, membuat suasana terasa tenang.

“Pertahananmu sudah jauh lebih baik, kau bahkan mampu menahan seranganku lebih cepat dari sebelumnya.” ujar Haru.

Kazura mengusap keringat di dahinya lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih.”

Haru menatapnya beberapa saat sebelum kembali berbicara.

“Sekarang tinggal satu hal lagi. Kau harus membuka energi yang tersembunyi di dalam jiwamu. Dengan begitu, kekuatan sihirmu akan meningkat dan kau bisa menghadapi makhluk kutukan.”

Kazura sedikit bingung.

“Lalu.. bagaimana caranya?”

“Apa yang paling kau sukai? sesuatu yang membuatmu merasa tenang atau memberimu alasan untuk bangkit saat terpuruk.”

Kazura terdiam. Angin dingin berembus pelan melewati rambutnya yang bergerak lembut tertiup udara. Tatapannya kosong menatap langit, seakan sedang melihat kembali kenangan yang selama ini terkubur jauh di dalam hatinya.

“Dulu… saat aku masih kecil, aku pernah berada di titik di mana aku kira semuanya akan berakhir.”

Haru langsung memandangnya serius, tetapi tetap membiarkan Kazura melanjutkan ceritanya.

“Aku tersesat sendirian di tengah peperangan. Saat itu hujan turun sangat deras, langit gelap, dan di mana-mana hanya ada suara teriakan dan dentingan pedang. Aku ketakutan, aku terus berlari tanpa tahu arah.”

Dia menggenggam erat ujung pakaiannya.

“Lalu seseorang menyerangku."

Kazura menunduk pelan.

“Sebuah pedang menusuk jantungku. Rasanya sangat dingin.. lebih dingin dari apa pun yang pernah kurasakan.”

Haru sedikit terkejut mendengarnya.

“Aku tersungkur ke tanah dengan penuh darah. Tidak ada siapa-siapa di sana, sendirian.”

Kazura tersenyum pahit.

“Waktu itu aku benar-benar percaya.. aku akan mati.”

Suasana menjadi sunyi. Hanya suara angin yang terdengar di sekitar mereka.

“Tapi saat aku membuka mata..”

Tatapan Kazura perlahan melembut.

“Aku berada di tengah hamparan salju putih.”

Matanya memantulkan cahaya langit.

“Tubuhku hampir membeku, tapi anehnya.. aku merasa tenang. Untuk pertama kalinya, rasa sakit di jantungku perlahan menghilang.”

Dia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.

“Di tengah salju itu, seseorang datang menghampiriku. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.. tapi aku yakin dialah yang menyelamatkan hidupku dengan kekuatan es.”

Kazura tersenyum kecil, senyum yang dipenuhi rasa hangat dan kesedihan sekaligus.

“Sejak saat itu aku mulai menyukai salju.”

Dia mengangkat tangannya perlahan, membayangkan dinginnya serpihan es di telapak tangannya.

“Dingin es membuatku merasa aman. Seolah salju memelukku dan berkata kalau aku masih boleh hidup di dunia ini.”

Haru menatap Kazura tanpa berkata apa-apa. Ada rasa kagum sekaligus iba di matanya.

“Mungkin.. itulah alasan kenapa sihir es memilihmu,” ucap Haru pelan.

Kazura tersenyum tipis sambil menatap langit.

“Karena di saat aku hampir kehilangan segalanya.. hanya dinginnya salju yang tetap menemaniku.”

Haru memandang Kazura dengan tatapan kagum.

"Perasaan itu akan menjadi sumber dari sihirmu.” ucap Haru.

Kazura tertawa kecil untuk mencairkan suasana.

“Hahaha.. terdengar aneh ya?”

“Menurutku itu luar biasa.”

Haru lalu melangkah mendekat dan menepuk bahu Kazura.

“Aku yakin kau bisa menguasai kekuatan itu. Dan aku akan membantumu membangkitkan sihir esmu sedikit demi sedikit.”

Kazura menatap Haru dengan mata berbinar.

“Terima kasih atas bimbinganmu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!