PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Gino Pulang
Dua hari pasca insiden memalukan yang nyaris membuat Mina ingin mengganti identitas dan pindah ke Planet Mars, dokter akhirnya menyatakan bahwa Gino sudah jauh lebih baik dan diperbolehkan pulang. Lagipula, berlama-lama di dalam kamar VIP rumah sakit yang serba putih dan membosankan itu tampaknya membuat tingkat stres Gino meningkat. Bocah itu mendadak jadi sangat rewel. Hampir setiap jam dia menangis menyayat hati, merengek minta pulang ke rumah.
"M-Mama... ayo pulang... Ino idak mau... di cini... hiks... Pucing..." rengek Gino pagi itu, air matanya menggenang di pelupuk mata sambil tangannya mencengkeram erat kerah baju Mina.
"Iya, iya, sayang. Hari ini kita pulang, kok. Cup, cup, jangan nangis lagi, nanti gantengnya ilang," bujuk Mina dengan nada selembut mungkin.
Mengenai hubungan Mina dan Arsenio selama dua hari terakhir? Dingin bagai es di kutub utara. Mina benar-benar membatasi diri dan memilih untuk tidak banyak bicara lagi jika tidak benar-benar terpaksa. Jangankan mengobrol santai seperti saat makan nasi Padang malam itu, bertatapan langsung dengan Arsenio saja membuat seluruh bulu kuduk Mina meremang karena malu. Kejadian salah urat soal bra kekecilan itu sukses membungkam sifat ceria dan sembrono nya untuk sementara waktu.
Apalagi, ada satu momen kemarin siang yang hampir membuat Mina ingin lenyap ke dasar lautan terdalam. Saat seorang perawat wanita masuk untuk memeriksa sisa cairan infus Gino, perawat itu sempat melirik ke arah dada Mina, lalu melemparkan senyuman menggoda yang sangat sarat akan makna tersembunyi. Senyuman yang seolah memperjelas kalimat, “Oh, jadi ini Nyonya yang ukuran bra-nya diurusin suami sampai bikin heboh satu lantai?”
"Sialan, bener-bener mau mati aja gue rasa!" umpat Mina dalam hati setiap kali mengingat lirikan perawat itu.
Di sisi lain, Arsenio sebenarnya tidak terlalu ambil pusing soal insiden pakaian dalam tersebut. Fokus pikirannya justru tersita oleh hal lain yang jauh lebih mengganggu logikanya sebagai seorang pria berdarah dingin. Arsenio berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati, Sejak kapan dirinya sudi berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Alicia selama berhari-hari tanpa merasa mual?.
Biasanya, jangankan duduk berdekatan, mendengar suara langkah kaki Alicia di koridor rumah saja sudah cukup untuk membuat Arsenio merasa muak dan buru-buru pergi. Namun saat ini, entah sejak kapan, sepasang mata Arsenio justru seolah terkunci dan tidak bisa lepas dari sosok wanita yang tengah berjalan di sampingnya tersebut.
Saat ini mereka sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke arah parkiran mobil. Mina tampak berjalan dengan langkah agak berat karena harus menggendong Gino di dadanya. Bukannya Arsenio tidak menawarkan bantuan. Tadi sebelum keluar kamar, Arsenio sudah mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil alih sang putra.
"Gino, kemari dengan Papa. Biar Papa yang menggendong mu," ucap Arsenio dengan nada formal yang diusahakan selembut mungkin.
Namun, respons Gino sungguh di luar dugaan dan sukses membuat Arsenio pundung alias merajuk dan sedih di dalam hati. Gino langsung membalikkan badannya, memeluk leher Mina erat-erat seolah Arsenio adalah penjahat yang ingin menculiknya.
"Idak mau! Mau... cama Mama aja! Papa... n-nakal!" tolak Gino lantang dengan bicaranya yang masih agak gagap, membuat Arsenio mematung di tempat dengan tangan menggantung di udara.
Arsenio merasa hatinya agak tercubit. Bagaimana bisa? Dia adalah ayah kandungnya, pria yang membiayai seluruh hidupnya dan tidak pernah melayangkan satu pun pukulan pada tubuh mungil itu. Sedangkan Alicia? Wanita itu adalah ibu tiri yang selama ini jelas-jelas menyiksanya! Mengapa sekarang putranya justru lebih memilih berlindung di balik ketiak sang penyiksa?.
"Apakah mungkin putra ku memiliki gangguan penyakit mental tertentu?" pikir Arsenio berkecamuk, otaknya yang terlalu kaku mulai menganalisis skenario medis yang aneh.
Sebuah sindrom psikologis di mana korban justru merasa nyaman dan bergantung pada orang yang telah menyiksanya? Ini tidak bisa dibiarkan. Arsenio harus segera menghubungi Dokter Spesialis Anak (DSA) terbaik besok untuk memeriksa kondisi psikis Gino.
Sementara Arsenio sibuk dengan teori psikologi buatannya yang melantur, Mina di sebelahnya justru sibuk menahan rasa pegal. Di dalam gendongannya, Gino tampak sangat nyaman, tetapi jujur saja, Mina cukup keberatan dengan bobot tubuh anak tirinya ini. Meskipun usianya baru menginjak tiga tahun, Gino memiliki postur tubuh yang tergolong tinggi dan bongsor untuk ukuran anak seusianya. Tubuhnya padat berisi.
Mina melirik Arsenio dari sudut matanya, lalu beralih menatap wajah Gino yang sedang bersandar di bahunya.
"Dilihat-lihat, ini gen bapaknya kuat banget sih. Semua diserap habis sama si Gino. Badannya bongsor, hidungnya juga udah kelihatan bakal mancung banget nanti" batin Mina menganalisis.
"Tapi bentar... apa jangan-jangan waktu kecil Mas Arsenio ini juga modelan nya kayak Gino? Pria berwajah datar, kaku, dan dingin kayak kulkas dua pintu begini, dulunya pas balita gemes juga gak ya?" tambahnya lagi dalam hati.
Mina membayangkan Narendra versi tiga tahun yang memakai baju kodok, tapi dengan wajah yang tetap datar, cemberut, dan menatap orang-orang dengan pandangan mengintimidasi.
Mina langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, merasa ngeri sendiri dengan isi pikirannya.
"Nggak, nggak mungkin. Gak yakin gue kalau dia pas kecil imut. Yang ada mah amit-amit! Pasti pas bayi kalau nangis bukannya owek-owek, tapi langsung manggil pengacara," cicit Mina dalam hati.
"Ck!"
Mina tidak sengaja mendecak kesal karena pundaknya yang mulai terasa agak linu. Suara decakan kecil itu rupanya terdengar oleh Arsenio yang saat ini sudah berada di balik kemudi mobil mewah mereka. Ya, hari ini Arsenio memilih untuk mengemudikan mobilnya sendiri tanpa bantuan Pak Heru, karena dia ingin memastikan privasi keluarganya setelah badai keracunan makanan kemarin.
Arsenio melirik Mina sekilas dari balik kaca spion tengah saat mobil mulai bergerak membelah jalanan kota yang cukup padat.
"Apakah Gino terlalu berat untuk mu? Jika iya, letakkan saja dia di kursi penumpang belakang," ujar Arsenio, memecah keheningan di dalam kabin mobil dengan suaranya yang berat dan formal.
Mina yang duduk di kursi samping kemudi langsung mendekap Gino sedikit lebih erat.
"Nggak usah. Gino nya lagi nyaman tidur begini. Kalau dipindahin ke belakang, yang ada nanti dia bangun terus nangis histeris lagi. Capek gue dengarnya," jawab Mina dengan gaya bahasa santainya yang khas, tidak peduli lagi apakah Arsenio suka mendengarnya atau tidak.
Arsenio tidak membalas lagi. Pria itu kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan, kedua tangannya mencengkeram setir mobil dengan santai namun tegas.
Selama sisa perjalanan, suasana di dalam mobil kembali diselimuti oleh keheningan. Mina memilih untuk diam, menatap keluar jendela melihat pemandangan gedung-gedung bertingkat kota modern, sementara Arsenio tetap fokus mengemudi dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar dan sulit ditebak. Meskipun tidak ada obrolan di antara mereka, anehnya hal yang sempat berkecamuk di dalam dada Mina perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh rasa tenang yang asing saat melihat kedamaian Gino dalam dekapannya.
semngat update lagi ya kak