Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembok Yang mulai luluh
"Apartement Milik Rio"
Terlihat Gedung menjulang tinggi, ini adalah kawasan elit orang kaya.Seorang pria yang sedang, sempoyongan di bantu seorang wanita.
Pria itu meracau dengan nada yang serak.
" Ya tuhan" Ucap gadis itu seolah kewalahan membopong Pria tegap dan badan yg tinggi 180 cm." heh berhentilah meracau, kamu menjengkelkan sekali " Ucap Gadis itu siapa lagi kalo bukan siska.
" lantai berapa apartementmu ?" Ucap Siska.
" lantai lima , dekat lift " Ucap Rio parau dan setengah sadar.
Siska menghela napas panjang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Berat badan Rio yang solid benar-benar menguji batas kesabarannya. Dengan sisa tenaga, ia menyeret tubuh pria itu menuju panel lift di lobi yang megah itu. Lampu kristal di atas kepala mereka berkilau dingin, kontras dengan kekacauan yang sedang mereka alami.
Ting.
Pintu lift terbuka. Siska hampir terjungkal saat memasukkan Rio ke dalam kabin sempit itu. Ia segera menekan tombol lantai lima. Rio menyandarkan punggungnya pada dinding kaca lift, matanya terpejam rapat, napasnya masih berat dan tidak teratur. Aroma alkohol bercampur dengan wangi maskulin dari parfum Rio membuat kepala Siska sedikit pusing, namun ada sesuatu yang aneh,ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul di dadanya, perasaan yang seharusnya tidak ia miliki untuk pria semenyebalkan ini.
"Rio... bangun sebentar," bisik Siska, menepuk pipi pria itu pelan. "Kita sudah sampai."
Rio membuka matanya separuh. Pandangannya kabur, tetapi ia bisa melihat siluet Siska yang tampak cemas di bawah cahaya lampu lift yang redup. Bibirnya bergerak lemah, membentuk senyuman miring yang khas-senyuman arogan yang biasanya membuat Siska ingin menamparnya, namun kali ini terlihat rapuh.
"Siska..." gumam Rio, suaranya parau. Tangannya yang besar secara refleks meraih pergelangan tangan Siska, menggenggamnya cukup kuat hingga gadis itu tersentak. "Jangan... pergi."
Jantung Siska berdegup kencang. Sentuhan tangan Rio terasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mencoba melepaskan genggaman itu, tapi Rio justru menariknya lebih dekat, membuat jarak di antara mereka menyusut drastis. Siska bisa merasakan hembusan napas Rio di wajahnya.
"Aku tidak akan pergi, bodoh. Aku sedang membawamu pulang," sahut Siska, meski suaranya bergetar. Ia berusaha menjaga nada bicaranya tetap tegas, menutupi kepanikan di dalam hatinya.
Lift berhenti di lantai lima. Pintu terbuka, menampilkan koridor apartemen yang sunyi dan mewah. Siska menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian untuk kembali membopong Rio keluar. Namun, sebelum ia sempat bergerak, Rio sudah berdiri tegak, meski masih goyah. Dengan satu tangan memegang bahu Siska untuk keseimbangan, Rio menatap wanita itu lekat-lekat.
"Terima kasih," ucap Rio, kali ini nadanya lebih jernih, meski masih ada sisa kantuk dan mabuk. Matanya yang tajam menelusuri wajah Siska, seolah mencari jawaban dari pertanyaan yang tak terucap.
Siska mengalihkan pandangannya, pipinya merona merah. "Cepat masuk. Sebelum aku berubah pikiran dan meninggalkanmu di sini.
Udara pagi itu terasa ringan di kulit wajah Davina. Tanpa masker, ia bisa menghirup aroma tanah basah setelah hujan semalam dan wangi bunga melati dari taman depan PAUD Al-Ghazali. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, sebelum dunia berubah menjadi tempat yang penuh kecemasan. Ia menyesuaikan tas ransel kecil di punggung putrinya, Zahra, yang sedang asyik bercerita tentang mimpi indahnya tadi malam.
"Jadi, di mimpinya, Zahra terbang pakai sayap kupu-kupu, mah!" seru Zahra sambil melompat-lompat kecil, matanya berbinar cerah.
Davina tersenyum, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan pada orang lain selain anaknya. "Wah, hebat sekali Zahra. Pasti rasanya senang ya bisa terbang?"
"Iya! Tapi..." Zahra tiba-tiba berhenti, matanya tertuju pada sesuatu di depan gerbang sekolah. Senyumnya melebar semakin lebar. "Om Adit!"
Jantung Davina serasa jatuh ke perut. Ia mengikuti arah pandang putrinya, dan benar saja. Di sana, bersandar pada mobil hitam mengilapnya, berdiri Adit. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang pas di badan, membingkai tubuh tegapnya dengan sempurna. Kemeja putihnya bersih, dasinya longgar sedikit, memberikan kesan santai namun tetap elegan. Wajahnya yang tajam terlihat semakin ganteng dengan senyum hangat yang terukir saat melihat Zahra berlari menghampirinya.
Adit berjongkok, membuka kedua tangannya lebar-lebar. Zahra menerjang pelukan pria itu dengan antusias.
"Halo, Gadis Kecil!" sapa Adit, suaranya berat namun lembut. Ia mencium kening Zahra, lalu mengacak-acak rambut gadis kecil itu dengan gemas. "Kamu hari ini cantik sekali. Apakah kamu membawa sinar matahari bersamamu?"
Zahra tertawa renyah, tawa yang jernih dan tanpa beban. "Iya, Om! Aku bawa sinar matahari buat Om Adit juga!"
" pantas saja , silau sekali melihat kecantikanmu hari ini " Ucap Adit.
" Om juga ganteng " Ucap Zahra tidak berbohong.
Davina berjalan perlahan mendekati mereka, kakinya terasa berat. Ia membenci bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap kehadiran Adit—jantungnya berdegup lebih cepat, napasnya menjadi pendek. Ia membenci bagaimana pria ini masih bisa membuatnya merasa tidak stabil, padahal ia sudah berusaha keras membangun tembok tinggi di sekeliling hatinya.
"Pagi, Davina" sapa Adit, mendongak menatap Davina. Matanya yang tajam menelusuri wajah wanita itu, seolah mencari tanda-tanda kelelahan atau kesedihan yang biasanya Davina sembunyikan. "Kamu tidak pakai masker lagi." Ucap Adit sedang menyindir Davina.
"Aku sudah bosan berpura-pura," jawab Davina dingin, meski suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha menjaga jarak, baik secara fisik maupun emosional. "Dan apa urusanmu di sini, Adit?
Adit berdiri tegak, merapikan kerah jasnya dengan gerakan lambat. Ia tersenyum tipis, senyuman yang dulu pernah membuat Davina jatuh cinta, namun kini hanya membuatnya waspada.
"Aku mengantar kenzo sekalian berjuma dengan zahra. Dan..." Adit melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tajam Davina, "...aku juga ingin memastikan kamu baik-baik saja.
Kalimat itu menghantam dada Davina lebih keras daripada tamparan. Lelah. Ya, itulah kata yang paling tepat menggambarkan hidupnya. Mengurus Zahra sendirian, bekerja paruh waktu, menghadapi tetangga yang kadang bertanya terlalu banyak, semua itu menguras tenaganya hingga ke titik terendah.
"Aku baik-baik saja," jawab Davina singkat, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Adit menghela napas, matanya menunjukkan rasa sakit yang tertahan. Ia tahu Davina berbohong. Ia tahu betapa beratnya beban yang dipikul wanita itu.
"Davina," ucap Adit pelan, suaranya rendah sehingga hanya Davina yang bisa mendengar. "Jangan bersikap seperti ini. Aku tahu kau lelah. Aku tahu kau kesepian. Izinkan aku membantu. Setidaknya, biarkan aku mengantarmu pulang nanti. Kita bisa bicara tenang tentang mengenai tawaranku kemaren , Bagaimana menurutmu ? Ucap Adit.
Davina menelan ludah, merasa terjebak. Ia ingin menolak, ingin mengatakan tidak, tapi Zahra sudah menggandeng tangan Adit, menatapnya dengan mata penuh harapan.
"mah , boleh kan Om Adit jemput kita nanti? Om Adit janji mau beli es krim!" pinta Zahra polos.
Davina menatap putrinya, lalu menatap Adit. Ada ketulusan di mata pria itu, ada juga rasa sakit yang ia kenali dengan baik. Rasa sakit karena cinta yang tak pernah sepenuhnya mati.
"Lihat nanti," bisik Davina akhirnya, suaranya hampir hilang terbawa angin. "Sekarang, Zahra harus masuk kelas."
Zahra mencium pipi Ibunya, lalu melambaikan tangan pada Adit sebelum berlari masuk ke gerbang sekolah. Davina tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung kecil putrinya menghilang di balik tembok sekolah.
Ketika ia berbalik untuk pergi, Adit masih berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang tak kunjung pudar.
"Aku akan membantumu dan terus ada disisimu" ucap Adit pelan. "Selama yang kau butuhkan."
Davina tidak menjawab. Ia berjalan cepat menuju mobilnya, meninggalkan Adit yang tetap berdiri tegak di sana, seperti patung penjaga yang tak kenal lelah. Namun, di dalam mobil, Davina menangis. Menangis karena lelah. Menangis karena takut. Menangis karena sebagian dari hatinya masih berharap bahwa Adit benar-benar bisa menjadi tempat pulang yang ia cari selama ini.