NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Dansa di Istana

Lampu-lampu gantung dari kristal murni menggantung tinggi di langit-langit aula utama Istana Elgarth, menumpahkan cahaya keemasan yang berkilau di atas lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengilap bagai cermin. Musik klasik mengalun lambat dari balkon atas, berbaur dengan gemerincing cangkir perak dan bisikan-bisikan tertahan para bangsawan yang mengenakan pakaian terbaik mereka.

Di ambang pintu masuk, Aria Evander merasakan setiap mata di ruangan itu tertuju padanya. Gaun sutra berwarna biru malam yang ia kenakan berdesir lembut menyapu lantai, kontras dengan kulitnya yang pucat. Di sisinya, Pangeran Kael Ashford berdiri tegak, memancarkan aura naga yang begitu pekat hingga membuat beberapa bangsawan berpangkat rendah di dekat mereka secara naluriah mundur beberapa langkah.

“Tetap di dekatku,” bisik Kael, suaranya begitu rendah hingga nyaris tenggelam oleh gesekan biola.

Aria melirik sekilas ke arah jemari Kael yang bertumpu pada gagang pedang upacaranya. Buku-buku jari sang Pangeran tampak memutih, menandakan ketegangan yang tersembunyi di balik wajahnya yang sedingin es. Aria mengembuskan napas perlahan, mencoba meredakan debaran jantungnya sendiri.

“Aku tidak berencana pergi ke mana pun, Yang Mulia,” sahut Aria dengan nada jenaka yang dipaksakan. “Aula ini terasa lebih berbahaya daripada medan perang di perbatasan utara.”

Dari sudut matanya, Aria menangkap sekelebat bayangan perak. Duke Lucien Veritas melangkah keluar dari kerumunan dengan keanggunan seorang predator yang sedang bermain-main. Setelan hitamnya dihiasi sulaman benang perak yang membentuk lambang keluarga Veritas—sebuah mata yang terbuka. Senyum tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya yang pucat.

“Sungguh pemandangan yang langka,” kata Lucien ketika ia tiba di hadapan mereka. Ia membungkuk hormat, namun matanya yang gelap menatap Aria dengan binar yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. “Putri seorang Baron yang bangkrut, berjalan berdampingan dengan sang Putra Mahkota. Naskah malam ini tampaknya ditulis dengan sangat menarik, bukan begitu, Lady Evander?”

Aria merapatkan bibirnya. Ia tahu Lucien mengetahui rahasia tentang dunia ini yang tidak diketahui orang lain. Pria itu adalah teka-teki berjalan yang selalu mengawasinya dari balik bayang-bayang.

“Dunia ini selalu penuh dengan kejutan, Duke Lucien,” jawab Aria dingin, mempertahankan topeng ketenangannya.

Sebelum Lucien sempat membalas, kerumunan di bagian tengah aula mendadak terbelah. Langkah kaki yang teratur dan anggun terdengar mendekat. Evelyn Roselia berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan gaun putih bersih berenda emas yang membuatnya tampak seperti malaikat yang turun dari langit. Di belakangnya, beberapa pendeta agung dari Kuil Suci mengiringi dengan wajah-wajah yang tegang.

Evelyn berhenti tepat beberapa langkah di depan Aria. Matanya yang bulat, yang biasanya memancarkan kepolosan, kini menyiratkan kepuasan yang dingin.

“Lady Aria,” sapa Evelyn, suaranya cukup lantang untuk menarik perhatian seluruh isi ruangan. Keheningan mendadak merayap di dalam aula. “Senang melihat Anda kembali dengan selamat dari utara. Namun, desas-desus yang menyertai kepulangan Anda sungguh membuat hati saya cemas.”

“Desas-desus apa yang Anda maksud, Lady Evelyn?” tanya Aria, menyilangkan tangannya di depan dada. Ia menolak untuk terlihat terintimidasi.

Evelyn menghela napas panjang, sebuah gestur pura-pura sedih yang sangat meyakinkan. Ia memberi isyarat kepada salah satu pendeta di belakangnya. Pendeta itu maju sambil membawa sebuah kotak beludru hitam yang terbuka, memperlihatkan sebuah batu kristal pemurni berwarna merah redup.

“Kuil Suci menerima laporan bahwa para prajurit di perbatasan utara disembuhkan dari sihir distorsi bukan dengan mukjizat, melainkan dengan sihir hitam yang dilarang,” kata Evelyn, suaranya bergetar penuh simpati yang dibuat-buat. “Mereka mengatakan Anda menggunakan kekuatan yang tidak murni untuk memanipulasi kesadaran mereka. Kristal pemurni ini akan bereaksi jika ada sisa-sisa sihir hitam di sekitar kita.”

Kasak-kusuk langsung pecah di antara para bangsawan. Beberapa dari mereka mulai menatap Aria dengan pandangan jijik dan takut. Di Kekaisaran Elgarth, tuduhan mempraktikkan sihir hitam adalah hukuman mati tanpa pengadilan.

Kael melangkah maju, menghalangi pandangan Evelyn dari Aria. “Jaga ucapanmu, Evelyn. Kau menuduh seseorang yang baru saja menyelamatkan perbatasan utara dari kehancuran.”

“Saya hanya ingin membersihkan nama baik Lady Aria, Yang Mulia,” sanggah Evelyn cepat, matanya berkaca-kaca. “Jika beliau memang bersih, kristal ini tidak akan bereaksi saat didekatkan padanya.”

Di dalam benak Aria, sebuah suara kecil terdengar.

“Aria, kristal itu telah dimantrai sebelumnya,” bisik Lumi, roh pena takdir yang bersembunyi di balik lipatan rambut Aria. “Evelyn telah menaruh setetes darah monster pemakan mana di dalamnya. Begitu kristal itu mendekatimu, ia akan menyerap mana suci milikmu dan mengubah warnanya menjadi hitam pekat, seolah-olah kau adalah pengguna sihir hitam.”

Aria mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya. Skenario yang licik. Evelyn ingin menghancurkannya di depan seluruh bangsawan kekaisaran, menjadikannya musuh publik dalam sekejap.

“Boleh aku melihat kristal itu lebih dekat, Lady Evelyn?” tanya Aria, melangkah keluar dari balik punggung Kael.

Kael sempat menahan lengannya, namun Aria memberikan tatapan meyakinkan yang membuat sang Pangeran perlahan melepaskan cengkeramannya.

Evelyn tersenyum tipis, mengangguk pada sang pendeta. Pendeta itu pun melangkah mendekati Aria, menyodorkan kotak beludru tersebut.

Saat kotak itu berada hanya beberapa jengkal dari dadanya, Aria memejamkan mata sejenak. Ia mengaktifkan kemampuan 'Penulis Takdir'. Di dalam ruang kesadarannya, selembar kertas putih tak terlihat melayang. Dengan bantuan Lumi, Aria menuliskan satu baris kalimat baru dalam naskah realitas ruangan itu:

*Kristal pemurni di dalam kotak mendeteksi kebohongan dan racun yang disembunyikan oleh pembawanya\, bukan targetnya.*

Energi hangat mengalir dari ujung jemari Aria, merambat melalui udara tanpa suara.

Seketika, kristal merah di dalam kotak itu mulai bergetar hebat. Alih-alih berubah menjadi hitam saat mendekati Aria, kristal itu mendadak mengeluarkan cahaya biru terang yang menyilaukan, sebelum akhirnya memancarkan asap hitam pekat yang berbau busuk langsung ke arah wajah pendeta yang membawanya dan Evelyn yang berdiri di dekatnya.

Evelyn terpekik kaget, melangkah mundur sambil terbatuk-batuk. Pendeta yang membawa kotak itu menjatuhkan wadahnya ke lantai marmer dengan wajah pucat pasi.

“Apa... apa yang terjadi?” tanya Evelyn di sela batuknya, menatap kristal yang kini retak di lantai.

Aria tersenyum tenang, melangkah maju satu tapak. “Tampaknya kristal suci Anda mendeteksi sesuatu yang salah, Lady Evelyn. Namun, bukan pada diriku. Bukankah asap hitam itu hanya keluar ketika ada kebohongan atau zat beracun yang sengaja dibawa untuk mencelakai orang lain di dalam aula suci ini?”

Bisik-bisik di aula kini berbalik arah. Tatapan mengadili yang tadinya diarahkan pada Aria, kini tertuju sepenuhnya pada Evelyn dan para pendeta yang bersamanya. Beberapa bangsawan senior mulai menggelengkan kepala melihat tingkah laku putri keluarga Roselia tersebut.

Lucien Veritas melepaskan tawa rendah yang terdengar sangat terhibur. “Sungguh pertunjukan yang luar biasa. Tampaknya Kuil Suci perlu memeriksa kembali alat-alat pemurni mereka sebelum membawanya ke hadapan Kaisar.”

Wajah Evelyn memerah padam karena malu dan marah. Ia menatap Aria dengan kebencian yang mendalam, sebelum akhirnya berbalik cepat dan meninggalkan aula perjamuan, diikuti oleh para pendetanya yang tertunduk malu.

Aria mengembuskan napas lega yang panjang. Namun, kemenangan kecil itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, suhu di dalam aula mendadak turun drastis. Lilin-lilin di dinding bergoyang hebat, dan untuk sesaat, bayangan di sudut-sudut ruangan tampak memanjang dan bergerak sendiri.

Aria merasakan getaran dingin yang sangat ia kenal—sihir distorsi yang sama dengan yang ia temui di perbatasan utara. Matanya beralih ke arah singgasana kosong di ujung aula, tempat di mana Kaisar Magnus seharusnya berada. Di sana, di balik tirai beludru merah yang tebal, sebuah bayangan hitam pekat sedang mengawasinya dengan mata yang menyala merah darah.

Kael langsung menggenggam pergelangan tangan Aria, wajahnya kembali menegang. “Ada yang tidak beres. Kita harus pergi dari sini sekarang juga.”

Aria mengangguk pelan, menyadari bahwa dansa di atas pedang ini baru saja dimulai.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!