NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : SALAH PAHAM

Setelah sosok lelaki tua dan Putri Larasati menghilang di balik tikungan jalan, suasana di sekitar perlahan kembali tenang. Orang-orang yang tadi berkumpul menyaksikan keributan satu per satu melanjutkan urusan masing-masing. Meninggalkan Bayu dan Karta berdiri sendiri di tempat itu, masih tertegun memikirkan peristiwa yang baru saja berlalu.

Bayu baru saja mengatur napasnya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang karena kejutan dan rasa ingin tahu yang memuncak. Ia hendak melangkah maju sedikit, berharap sempat memanggil atau setidaknya melihat ke mana arah mereka pergi. Namun belum sempat kakinya melangkah, suara lantang yang penuh ketegasan terdengar dari kejauhan.

“Awas saja kau kalau kita bertemu lagi!”

Bayu segera menoleh. Di ujung jalan yang sepi, Larasati berhenti sejenak. Ia memutar badannya sebentar sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi pinggang. Wajahnya masih tampak memerah menahan kesal dan kekecewaan. Matanya melotot tajam ke arah tempat Bayu berdiri, seolah ingin menanamkan ancaman itu dalam ingatannya.

Sebelum Bayu sempat membuka mulut, mengangkat tangan memberi isyarat, atau mengucapkan sepatah kata pun untuk menjelaskan lagi, Larasati sudah memutar badannya kembali. Ia melangkah cepat menyusul lelaki tua itu, menghilang sepenuhnya dari pandangan.

Bayu hanya melongo terpaku, mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. Rasa bingungnya makin menjadi-jadi.

"Semuanya sudah jelas, Karta sudah mengaku, pertarungan sudah berhenti, tapi kenapa masih ada ancaman seperti itu?" batinnya bertanya-tanya.

Ia ingin sekali mengejar, ingin sekali berdiri di hadapannya lagi dan berkata dengan tegas bahwa ia bukan orang yang buruk seperti yang dibayangkan. Namun ia sadar sudah terlambat. Jarak sudah makin jauh, dan keramaian di jalan kembali mengalir seperti biasa, memisahkan mereka seolah tidak pernah ada pertemuan di antara keduanya.

Belum sempat Bayu memikirkan jalan apa yang harus ditempuh selanjutnya, dari balik tiang kayu warung yang agak menjorok ke jalan, Karta muncul dengan senyum lebar dan menyeringai nakal. Ia melangkah santai mendekati Bayu, tangannya memegang gagang pisau yang terselip di pinggang. Matanya berbinar penuh rasa ingin tahu dan sedikit iseng.

“Wah, wah… baru saja selesai bertarung, terus diberi pesan perpisahan yang berkesan juga ya,” kata Karta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, suaranya terdengar menggoda.

“Tapi jujur saja, Kang, tadi saya lihat dia itu cakep banget, pakaiannya indah, gerakannya luwes… tapi galaknya bukan main ya!”

“Kalau marah, matanya menyala seperti bara api yang siap melahap apa saja. Pantas saja dia dijaga ketat, tidak heran kalau dia bisa bertarung secepat itu.”

Mendengar ucapan iseng itu, kesabaran Bayu yang mulai pulih kembali seketika luntur. Tanpa berpikir panjang, ia mengangkat tangan kanannya, menjitak bagian ubun-ubun kepala Karta dengan cukup keras namun tidak sampai menyakitkan.

“Aduh! Sakit, Kang Bayu! Kenapa dijitak sih?” teriak Karta sambil memegang kepalanya, membungkuk sedikit karena rasa perih yang terasa di kulit kepalanya. Wajahnya berubah dari senyum iseng menjadi cemberut kesakitan.

“Kan cuma bicara apa yang terlihat mata saja, bukan mengada-ada!”

Bayu menghela napas panjang, lalu menatap Karta dengan pandangan setengah marah setengah khawatir.

“Kamu ini benar-benar tidak ada rasa hormat, ya!”

“Kita baru saja lolos dari masalah besar, masih dibayangi kesalahpahaman yang belum selesai, dan malah bicara seenaknya.”

“Cakep atau tidak itu bukan urusan kita sekarang!”

“Yang jelas, dia sudah mencap kita berdua — terutama aku — sebagai orang yang tidak tahu tata krama, orang yang berani menghina wanita terhormat, dan mungkin juga orang yang pandai bersembunyi serta licik!”

Karta mengusap kepalanya yang masih terasa perih, lalu menegakkan badannya lagi sambil sedikit menunduk malu.

“Ya sudahlah, cuma bercanda kok… Tapi jujur saja Kang, menurutku kesalahpahaman ini sudah terlanjur mengakar, tidak bisa dibersihkan hanya dengan bicara saja sekarang.”

“Sudah dua kali dia melihat kita dalam situasi yang salah, dan dia makin yakin dengan dugaannya sendiri.”

“Bahkan setelah mengaku tadi, dia tetap tidak percaya sepenuhnya, kan?”

Bayu terdiam mendengar kata-kata itu. Ia mengakui kebenarannya. Kesalahpahaman itu sudah terlanjur terbentuk sejak kejadian pertama. Saat selendang terlepas dan Karta bersembunyi, kesan buruk itu mulai tertanam. Lalu saat Larasati mencurigai pengakuan itu sebagai alasan, dan melihat Bayu hanya mengelak tanpa melawan, kesan itu semakin kuat dan menjerat seperti tali yang diikatkan dengan erat.

Sekarang, setelah pertarungan berakhir dan dia pergi dengan ancaman, jelaslah dalam benaknya: di mata Putri Larasati, Bayu sudah dicap sebagai pemuda yang kurang ajar, licik, dan berniat buruk.

“Benar juga katamu, Karta,” jawab Bayu perlahan, suaranya terdengar berat.

“Tali kesalahpahaman ini sudah terlanjur terjadi. Semakin kita berusaha menjelaskan dengan kata-kata, rasanya justru semakin membuatnya ragu dan semakin percaya pada dugaannya sendiri.”

“Sekarang apa yang bisa kita lakukan? Kita datang ke kota ini punya tujuan, bukan untuk terlibat perselisihan dengan keluarga istana atau bangsawan, apalagi sampai punya musuh.”

Karta menggaruk kepalanya yang sudah tidak gatal lagi, lalu berpikir sejenak dengan wajah serius.

“Kalau begini terus, kita bisa saja dicari dan diperiksa oleh penjaga istana nanti, bukan?”

“Apalagi dia adalah putri yang terhormat, pasti banyak orang yang siap membantunya jika dia melaporkan kita.”

“Kita berdua hanya orang biasa dari desa, tidak punya kedudukan apa pun di sini. Kalau sudah terlanjur dicap buruk, nanti langkah kita ke mana-mana akan diawasi dan dipersulit.”

Pikiran itu membuat suasana hati Bayu menjadi suram. Ia melihat ke arah keramaian pasar yang masih sibuk. Orang-orang berlalu lalang dengan urusan masing-masing, tidak ada yang tahu bahwa dua pemuda sederhana ini baru saja terjebak dalam masalah yang bisa mengubah nasib perjalanan mereka.

Ia teringat pesan Mbah Surya sebelum berangkat: “Berhati-hatilah di tengah keramaian. Mata dan telinga banyak yang mengawasi, dan satu kesalahan kecil bisa menjadi masalah besar jika tidak ditangani dengan bijak.”

Ternyata pesan itu terbukti benar. Bahkan kesalahan itu terjadi bukan karena niat jahat, melainkan hanya ketidaksengajaan dan kepanikan sesaat.

Namun di balik rasa gelisah itu, ada satu hal yang masih menyisakan tanda tanya besar dan sedikit harapan: lelaki tua tadi. Sikapnya yang tenang, caranya menghentikan pertarungan hanya dengan isyarat tangan, dan yang paling penting — ukiran yang sama persis dengan yang ada di busur serta pisau mereka.

Apakah itu kebetulan? Atau justru menjadi jalan keluar dari jerat kesalahpahaman ini?

Bayu menoleh ke arah Karta, wajahnya mulai tenang kembali meski rasa khawatir masih ada.

“Memang kita sudah dicap buruk di matanya untuk saat ini. Kita tidak bisa memaksa dia percaya hanya dengan kata-kata.”

“Tapi ingat satu hal: kebenaran tidak akan selamanya tertutup. Mungkin saja peristiwa ini bukan akhir, melainkan awal dari pertemuan yang lebih besar lagi.”

“Dan lelaki tua itu… dia seolah mengenali tanda yang kita bawa. Itu petunjuk yang tidak bisa diabaikan begitu saja.”

Karta mengangguk setuju, meski wajahnya masih terlihat cemas.

“Kalau begitu, apa rencananya sekarang? Kita lanjutkan perjalanan, atau cari tahu dulu siapa mereka sebenarnya?”

“Kita lanjutkan perjalanan kita sesuai rencana,” jawab Bayu tegas.

“Tapi tetap waspada dalam setiap langkah. Kita sudah terlihat oleh mereka, dan kemungkinan sudah mencatat keberadaan kita.”

“Jangan bertindak gegabah, jangan menarik perhatian. Biarkan waktu dan peristiwa berikutnya yang berbicara, bukan hanya mulut kita.”

Mereka berdua pun melangkah lagi menyusuri jalan pasar. Kali ini dengan langkah yang lebih hati-hati dan pikiran yang lebih terbebani. Kesalahpahaman yang semakin menjerat menjadi beban yang harus ia bawa, namun sekaligus menjadi pengingat agar mereka tetap berjalan di jalur kebenaran. Karena hanya dengan sikap yang lurus dan tindakan yang adil, noda dan kesan buruk itu akan terhapus dengan perlahan — jika memang takdir bisa mempertemukan mereka kembali.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!