Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.
Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.
"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."
"Dasar tidak waras!"
"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."
Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.
"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"
Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan Suamimu Dan Menikahlah Denganku!
"Demamnya sangat tinggi, tapi kami sudah mencoba menyuntikkan penurun panas. Semoga setelah ini suhunya segera turun," ucap sang dokter kepada Kayden.
Pria itu sedang berdiri dengan posisi bersedekap dada sambil menopang dagu, sebuah gestur yang menunjukkan kecemasan mendalam di balik wajahnya yang kaku. Matanya tak lepas menatap ke arah Zayra yang tengah tertidur lelap. Gadis kecil itu tampak begitu rapuh dengan jarum infus yang tertancap di punggung tangan mungilnya.
"Apa ini terjadi karena ingatannya kembali? Bisakah Anda melakukan sesuatu agar ingatannya tidak kembali?" tanya Kayden pelan. Ia menurunkan tangannya, menatap dokter dengan pandangan menuntut yang terselubung ketakutan.
Dokter itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh empati namun tidak menjanjikan keajaiban. "Saya tidak bisa memastikan, apalagi mencegah ingatannya kembali, Tuan. Itu adalah hak Nona Zayra. Otaknya akan secara alami memanggil kembali memori tentang hal-hal yang dia rasa tidak asing. Dia anak yang ceria, aktif, dan sangat menggemaskan. Jika memang ingatannya mulai pulih, Anda mungkin harus menjelaskannya secara bertahap padanya. Kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya dari seorang anak."
Kayden mengangguk pelan, meski hatinya berkecamuk. "Terima kasih, Dok," ucapnya singkat.
Ia melangkah mendekati ranjang pasien. Di sana, Zayra, bocah dengan pipi gembul yang biasanya selalu memanggilnya dengan riang, kini hanya bisa terlelap dalam pengaruh obat. Kayden terdiam, memori tentang awal pertemuan mereka kembali berputar di kepalanya. Pertemuan yang diawali oleh bau aspal panas dan suara dentuman yang menghancurkan kehidupan seseorang.
Empat bulan yang lalu, di sebuah sore yang mendung. Kayden duduk di kursi belakang mobil mewahnya, baru saja menyelesaikan urusan bisnis di Jakarta.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Kayden pada Elvar, asistennya yang duduk di sebelahnya sembari sibuk menatap layar iPad.
"Hanya pertemuan dengan Tuan Carol, Tuan," balas Elvar tanpa mengalihkan pandangan.
"Gantikan jadwalku, katakan aku ada urusan mendadak jadi—"
CKIIITT!
BRAKKK!
Suara decitan ban yang beradu dengan aspal diikuti dentuman keras memotong kalimat Kayden. Mobil yang dikendarai Kayden mengerem mendadak, membuat tubuhnya terdorong ke depan. Di depan mereka, sebuah mobil tampak kehilangan kendali, berguling beberapa kali sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan tol dengan sangat keras. Asap mengepul dari kap mobil yang hancur.
Mata Kayden membelalak. Namun, bukan mobil yang hancur itu yang mencuri perhatiannya, melainkan sesosok kecil yang tergeletak di tengah jalan, hanya beberapa meter di depan depan mobilnya. Bocah itu terlempar keluar dari jendela mobil saat kecelakaan terjadi.
Tanpa menunggu instruksi, Kayden membuka pintu mobil dan berlari menghampiri sosok kecil itu. Darah mengalir dari dahi bocah itu, namun ia masih bernapas. Di dalam mobil yang hancur, kedua orang tuanya sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"El, cepat panggil ambulans! Sekarang!" teriak Kayden, suaranya memecah kesunyian jalan tol yang mencekam.
Sejak hari itu, Kayden memutuskan untuk merawat anak itu setelah di kabarkan jika orang tua gadis kecil itu tak dapat di selamatkan. Ia memberinya nama Zayra, memberinya identitas baru, dan menjaganya seperti darah dagingnya sendiri. Ia tidak peduli jika dunia menganggapnya gila, ia hanya ingin menyelamatkan satu nyawa yang tersisa dari tragedi itu, sekaligus mengisi kekosongan di hatinya yang ditinggalkan oleh wanita yang tak bisa ia miliki.
"Tuan, urusan administrasi Nona Zayra sudah selesai." Ucap Elvar yang datang setelah mengerjakan tugas yang Kayden perintahkan.
"Baiklah, terima kasih Elvar," ucap Kayden.
Ia hendak melangkah menuju ruang rawat Zayra kembali, namun langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Elvar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku harus ke London malam ini. Jaga putriku dengan nyawamu, Elvar," ucap Kayden tegas.
Elvar mengerutkan keningnya dalam. "London? Bukankah tidak ada jadwal pertemuan di sana besok, Tuan?"
Kayden tidak menjawab. Ia hanya melangkah pergi dengan langkah lebar, meninggalkan asistennya yang kebingungan. Perjalanan ke London kali ini bukan tentang angka atau saham. Ini tentang luka lama yang kembali terbuka setelah ia menerima laporan dari mata-matanya.
.
.
.
.
Sesampainya di London, Kayden mengendarai mobil sewaan menyusuri jalanan kota yang bersih. Di sebuah sudut jalan yang tenang, ia menghentikan mobilnya. Matanya tertuju pada seberang jalan. Di sana, di depan sebuah kafe mewah, ia melihat seorang pria yang sangat ia kenal, Raka sedang menggandeng mesra seorang wanita muda yang bukan Zira.
Kayden beralih menatap layar ponselnya, membandingkan foto yang dikirim informannya dengan pemandangan di depannya. Senyum sinis terukir di bibirnya. Raka tampak begitu bahagia dengan wanita yang tengah mengandung itu, seolah-olah istrinya yang sedang menderita di rumah tidak pernah ada.
"Jadi benar, ya ... ada sesuatu yang busuk sedang terjadi pada cintaku," gumamnya pelan.
Ia kembali melajukan mobilnya menuju sebuah lokasi lain yang sudah ia hafal di luar kepala. Sebuah toko bunga besar yang menjadi tempat pelarian Zira belakangan ini. Zira, wanita yang ia cintai sejak lama, wanita yang seharusnya ia lindungi, justru berakhir dengan pria pengkhianat seperti Raka.
Kayden memarkirkan mobilnya tepat di depan toko bunga itu. Ia turun dengan karisma yang mengintimidasi, melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma mawar dan lily. Pelanggan sedang cukup ramai hari itu, namun mata tajam Kayden langsung menemukan sosok yang ia cari.
Zira Falisha. Wanita itu sedang tertunduk, merangkai bunga dengan telaten sembari melayani pembeli dengan senyum manis yang dipaksakan. Rambutnya yang indah jatuh menutupi sebagian wajahnya yang tampak sedikit pucat. Kayden berjalan mendekat, berdiri tepat di depan meja kasir tempat Zira berada.
Zira masih tidak menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya tanpa mendongak.
"Bisa aku memesan bunga lily putih? Yang paling segar," ucap Kayden dengan suara baritonnya yang dalam.
Zira tersentak. Suara itu begitu akrab di telinganya. Ia perlahan mengangkat pandangannya, dan seketika matanya membelalak tak percaya. Jantungnya berdegup kencang melihat pria yang seharusnya berada ribuan mil jauhnya kini berdiri di hadapannya dengan senyum tipis.
"Kay? Kamu ... bagaimana bisa kamu ada di sini?!" Zira hampir menjatuhkan gunting bunganya. Ia tidak menyangka Kayden akan menemukannya di tempat persembunyian ini.
Kayden tidak menjawab pertanyaan itu. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah meja, menatap tepat ke dalam manik mata Zira yang berkaca-kaca. Suasana di dalam toko bunga itu mendadak hening, bahkan pelanggan lain seolah membeku merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul.
"Ceraikan suamimu dan menikahlah denganku, Kak," ucap Kayden dengan suara lantang dan penuh penekanan.
Zira terng4nga, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa basa-basi, tanpa sapaan hangat, seperti sebuah serangan langsung ke pusat jantungnya. Para pelanggan lain di toko itu ikut berbisik, terkejut mendengar lamaran yang begitu blak-blakan dan intens dari pria asing yang tampak sangat berkuasa itu.
"Kamu tahu apa yang kamu minta," bisik Zira.
"Aku tahu persis apa yang aku inginkan," balas Kayden tanpa ragu. "Dan aku tidak akan pulang tanpa jawaban iya darimu."
Degh!
______________
Maap lama langsung triple hihi