NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingatan Yang Hilang

Suara hitungan mundur terus terdengar.

00:59:59

Setiap detik terasa semakin berat.

Di depan panel utama, Aluna berdiri diam.

Dua pilihan terpampang di hadapannya.

Mengembalikan seluruh ingatan.

Atau menghancurkan semua data Proyek Takdir.

Namun tidak ada satu pun pilihan yang terasa benar-benar aman.

"Nona..."

Darren memandang Aluna dengan cemas.

"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi."

Aluna menatap layar.

"Aku tahu."

"Tapi kalau aku terus tidak tahu..."

Ia berhenti.

"Aku akan terus hidup dengan pertanyaan yang sama."

Niel berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Tidak memaksa.

Tidak mengarahkan.

Hanya menunggu.

Karena kali ini...

pilihan harus berasal dari Aluna sendiri.

_______________________________________

Adrian mendekati Niel.

"Kau yakin membiarkannya memilih?"

Niel tetap menatap Aluna.

"Ya."

"Bagaimana kalau dia mengingat sesuatu yang membuatnya membencimu?"

Niel terdiam.

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada ancaman apa pun.

Namun jawabannya tetap sama.

"Aku lebih takut dia membenci dirinya sendiri karena tidak pernah tahu kebenaran."

Adrian memperhatikan Niel.

Untuk pertama kalinya...

Ia melihat bahwa anak kecil yang dulu mencoba menyelamatkan Aluna masih ada.

Hanya saja sekarang...

dalam tubuh seseorang yang sudah dewasa.

_____________________________________

Aluna menutup matanya.

Dan perlahan...

potongan ingatan kembali muncul.

Sebuah ruangan putih.

Suara mesin.

Tangisan.

Ketakutan.

Namun di antara semuanya...

Selalu ada satu orang.

Niel kecil.

Anak laki-laki yang selalu menggenggam tangannya.

Anak laki-laki yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Air mata perlahan jatuh.

"Aku ingat sedikit."

Niel langsung menatapnya.

"Apa yang kamu ingat?"

Aluna membuka mata.

"Kamu."

Niel terdiam.

"Kamu selalu ada."

"Kamu selalu mencoba membawaku pergi."

"Tapi..."

Aluna menunduk.

"Ada sesuatu yang terjadi setelah itu."

__________________________________________

Tiba-tiba layar utama berkedip.

Sistem mendeteksi sesuatu.

MEMORI PARSIAL TERHUBUNG.

Semua orang langsung melihat ke layar.

Adrian terkejut.

"Dia berhasil mengaksesnya."

Darren menatapnya.

"Tanpa memilih?"

Adrian mengangguk.

"Karena ingatannya mulai kembali sendiri."

Niel melihat Aluna.

"Aluna..."

Namun sebelum ia mendekat...

sebuah cahaya muncul dari panel.

Aluna memegang kepalanya.

Rasa sakit menyerang.

"Niel..."

Pria itu langsung menangkapnya.

"Hei."

"Lihat aku."

Aluna membuka mata perlahan.

Dan saat itu...

tatapan mereka bertemu.

Namun sesuatu berubah.

Aluna melihat Niel bukan sebagai pria yang baru dikenalnya.

Tapi sebagai seseorang yang sudah menunggunya selama bertahun-tahun.

"Kamu..."

"Aku ingat."

Suara Aluna bergetar.

"Aku ingat hari terakhir kita di sini."

___________________________________________

Semua layar tiba-tiba berubah.

Sebuah rekaman baru muncul.

Rekaman yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Di sana terlihat Niel kecil berdiri di depan beberapa ilmuwan.

Wajahnya penuh kemarahan.

"Kalian bilang akan melepaskan dia!"

Salah satu ilmuwan menjawab,

"Kami tidak bisa."

"Dia adalah bagian penting dari proyek."

Niel kecil mengepalkan tangannya.

"Lalu aku yang menggantikannya."

Semua orang terdiam.

Termasuk Niel dewasa.

"Apa..."

bisiknya.

Rekaman berlanjut.

"Kau tahu konsekuensinya?"

tanya ilmuwan itu.

Anak kecil Niel mengangguk.

"Aku tahu."

"Asalkan Aluna bisa pergi."

__________________________________

Aluna menatap layar dengan mata berkaca-kaca.

"Niel..."

Pria itu sendiri tidak mampu berkata apa-apa.

Karena selama ini...

ia mengira dirinya kehilangan masa lalu.

Ternyata...

ia pernah memilih kehilangan dirinya sendiri demi seseorang.

___________________________________________

Hitungan mundur berhenti.

00:00:30

Lalu muncul satu tulisan baru.

MEMORI UTAMA TERBUKA.

Semua lampu mati.

Kemudian sebuah suara terdengar dari sistem.

Suara yang membuat Adrian dan ayah Niel langsung berubah.

"Jika kalian mendengar ini..."

"Berarti Niel gagal menghapus semuanya."

Niel membeku.

Karena suara itu...

bukan suara ayahnya.

Bukan suara Leon.

Tapi suara seseorang yang lebih mengejutkan.

Suara dirinya sendiri.

"Aku adalah Niel dari masa lalu."

"Dan ada satu hal yang harus kalian tahu..."

Layar menyala.

Menampilkan wajah Niel dewasa...

tetapi dengan ekspresi berbeda.

"Aku bukan korban dalam permainan ini."

"Aku adalah orang yang memulainya."

___________________________________________

Ruangan itu seakan berhenti bergerak.

Tidak ada suara.

Tidak ada yang berbicara.

Semua orang hanya menatap layar yang menampilkan wajah Niel.

Namun bukan Niel yang sekarang.

Melainkan seseorang dari masa lalu.

Seseorang yang terlihat lebih dewasa.

Lebih lelah.

Dan membawa tatapan seseorang yang sudah mengetahui terlalu banyak hal.

"Aku bukan korban dalam permainan ini."

Kalimat itu terus terulang di kepala Niel.

Tidak mungkin.

Selama ini ia percaya bahwa dirinya hanyalah seseorang yang terseret dalam rencana orang lain.

Tapi sekarang...

ternyata ada bagian dari dirinya yang terlibat sejak awal.

"Apa maksudnya?"

Suara Aluna terdengar pelan.

Niel tidak menjawab.

Karena dia sendiri tidak tahu.

___________________________________________

Rekaman kembali berjalan.

Niel dalam layar menatap kamera.

"Jika kalian melihat rekaman ini..."

"Berarti ingatan kalian berhasil kembali lebih cepat dari perkiraan."

Ia berhenti sebentar.

"Aku tahu kalian akan marah."

"Aku tahu kalian akan merasa dikhianati."

Tatapan di layar menjadi semakin serius.

"Tapi aku melakukan ini karena tidak ada pilihan lain."

Adrian mendekati layar.

Wajahnya terlihat penuh kekhawatiran.

"Dia membuat rekaman ini..."

Niel menoleh.

"Kau tahu?"

Adrian diam.

Dan kali ini diamnya terlihat seperti rasa bersalah.

"Kau tahu semuanya?"

tanya Niel lagi.

Adrian menghela napas.

"Sebagian."

"Sebagian?"

Niel tertawa kecil.

"Semua orang selalu hanya tahu sebagian."

_________________________________________

Rekaman berlanjut.

"Aku menemukan sesuatu tentang Proyek Takdir."

Suara Niel masa lalu terdengar.

"Proyek ini bukan dibuat untuk memprediksi masa depan."

"Tapi untuk menciptakan masa depan tertentu."

Aluna mengerutkan kening.

"Menciptakan?"

Niel melihat layar.

"Mereka tidak ingin mengetahui jalan hidup manusia."

"Mereka ingin mengubahnya."

Suasana langsung berubah.

Jadi selama ini...

Mereka bukan hanya mengamati takdir.

Mereka mencoba mengendalikan takdir.

__________________________________

Layar menampilkan beberapa dokumen.

Nama-nama.

Data.

Rencana.

Lalu muncul satu kalimat.

SUBJEK A-07 ADALAH KUNCI PERUBAHAN.

Aluna menatap tulisan itu.

"Kenapa aku?"

Tidak ada jawaban.

Sampai rekaman Niel berkata,

"Karena Aluna memiliki sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan."

Niel dewasa menatap layar.

"Pilihan."

Semua terdiam.

"Semua manusia dalam proyek ini bisa diprediksi."

"Tapi tidak dia."

"Setiap kali mereka mencoba menentukan keputusannya..."

"dia selalu memilih sesuatu yang tidak masuk perhitungan."

Aluna perlahan menatap tangannya sendiri.

Jadi bukan kemampuannya.

Bukan karena dirinya istimewa secara fisik.

Tapi karena...

dia tetap memilih menjadi manusia.

_________________________________________

Tiba-tiba rekaman berubah.

Wajah Niel masa lalu terlihat lebih dekat.

"Aku tahu suatu hari nanti mereka akan menemukan cara untuk mengulang semuanya."

"Karena itu aku harus meninggalkan petunjuk."

"Kepada diriku sendiri."

Niel membeku.

Petunjuk.

Foto.

Catatan.

Pesan.

Semuanya mulai masuk akal.

"Aku sengaja menghapus ingatanku."

Kalimat itu membuat semua orang terkejut.

"Apa?"

bisik Niel.

Rekaman melanjutkan.

"Karena selama aku mengingat semuanya..."

"mereka bisa menggunakanku untuk menemukan Aluna."

Aluna menatap Niel.

Jantungnya terasa sesak.

"Jadi..."

"Kamu melupakan semuanya untuk melindungiku?"

Niel menatap layar.

Perlahan ia mengangguk.

Meski jawaban itu menyakitkan.

__________________________________________

Namun tiba-tiba...

layar berubah merah.

Sebuah peringatan muncul.

AKSES ILEGAL TERDETEKSI.

Adrian langsung menoleh.

"Dia menemukan kita."

Darren bersiap.

"Siapa?"

Adrian menjawab pelan.

"Leon."

Suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan.

Semua orang langsung diam.

Pintu perlahan terbuka.

Namun kali ini...

Leon tidak datang dengan senyum.

Wajahnya terlihat serius.

"Aku berharap kalian tidak pernah melihat rekaman itu."

Niel berdiri di depan Aluna.

"Kau takut?"

Leon menatapnya.

"Bukan."

"Aku khawatir."

Niel mengernyit.

"Kenapa?"

Leon melihat layar.

Lalu menatap Niel.

"Karena sekarang kau akan tahu..."

"kenapa Niel dari masa lalu memilih menghancurkan dirinya sendiri."

Ruangan kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya...

Leon terlihat seperti seseorang yang benar-benar takut pada kebenaran.

__________________________________________

Leon berdiri di depan pintu.

Tidak ada lagi senyum di wajahnya.

Tidak ada lagi sikap tenang seperti sebelumnya.

Dan hal itu membuat Niel semakin yakin...

ada sesuatu yang lebih besar dari yang mereka ketahui.

"Kenapa kau terlihat takut?"

tanya Niel.

Leon menatapnya lama.

"Karena beberapa kebenaran tidak seharusnya ditemukan."

Niel tertawa kecil.

"Lucu."

"Semua orang mengatakan hal yang sama."

"Kalian menyembunyikan semuanya dengan alasan melindungi."

Tatapannya mengeras.

"Tapi kalian tidak pernah bertanya apakah aku ingin hidup dalam kebohongan."

Leon terdiam.

Karena kali ini...

Niel benar.

__________________________________________

Aluna melihat rekaman yang masih terpampang di layar.

Wajah Niel masa lalu.

Pesan yang ia tinggalkan.

Pengorbanan yang ia lakukan.

Semua perlahan menyatukan kepingan yang selama ini hilang.

"Niel..."

Pria itu menoleh.

"Apa?"

Aluna tersenyum kecil meski matanya masih berkaca-kaca.

"Terima kasih."

Niel terdiam.

"Untuk apa?"

"Karena dulu..."

"Aku tidak tahu apa yang terjadi."

"Tapi kamu tetap memilih melindungiku."

Niel tidak menjawab.

Namun untuk pertama kalinya...

ia merasa sedikit lega.

___________________________________

Tiba-tiba sistem berbunyi.

DATA TERAKHIR AKAN DIBUKA.

Semua layar berubah.

Satu file muncul.

PROYEK TAKDIR: ORIGIN

Adrian langsung berubah ekspresi.

"Tidak..."

Niel menoleh.

"Apa?"

Adrian menatap file itu.

"Itu bukan bagian dari proyek."

"Lalu apa?"

Adrian menjawab pelan.

"Itu adalah awalnya."

Lampu ruangan kembali berkedip.

Dan di layar muncul satu kalimat terakhir.

"Untuk memahami takdir..."

"Kalian harus mengetahui siapa yang menciptakannya."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!