Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pagi berikutnya, Ryden dan Elira berpamitan dengan penduduk desa yang telah menjadi begitu hangat menyambut mereka, membawa perbekalan tambahan dan sebuah Log Pose sederhana yang dihadiahkan seorang nelayan tua yang kebetulan memiliki cadangan alat navigasi tersebut dari perjalanan Grand Line sebelumnya.
"Log Pose ini akan mengarahkan kalian ke pulau terdekat berikutnya," jelas si nelayan tua sambil menunjukkan cara kerja jarum kompas khusus itu. "Ingat, begitu sampai di pulau tujuan, kalian harus menunggu jarumnya terkunci ke arah baru sebelum melanjutkan perjalanan. Terburu-buru di Grand Line hanya akan membawa petaka."
Ryden menerima pelajaran itu dengan seksama, menyadari betapa pentingnya detail kecil semacam ini yang mungkin tidak sepenuhnya ia ingat dari kehidupan sebelumnya. Dengan Log Pose baru terpasang di pergelangan tangannya, mereka berdua kembali berlayar, meninggalkan pulau bercuaca ganjil itu dengan kenangan hangat dan sebuah belati misterius sebagai kenang-kenangan berharga.
Beberapa hari berlayar membawa mereka melewati perairan yang relatif tenang, memberi Ryden kesempatan untuk kembali fokus berlatih mengendalikan kekuatannya. Ia mulai bereksperimen dengan kombinasi baru antara Retakan Ruang dan Remukan Ruang, mencoba memahami lebih dalam bagaimana kedua kemampuan itu bisa saling melengkapi dalam pertarungan mendatang.
"Kau benar-benar tidak pernah berhenti berlatih, ya?" komentar Elira suatu sore, mengamati Ryden yang basah kuyup keringat setelah sesi latihan intensif di geladak kapal.
"Dunia ini penuh bahaya yang tak terduga," jawab Ryden sambil mengatur napas, duduk beristirahat di samping Elira. "Semakin kuat aku, semakin besar peluang kita berdua untuk bertahan hidup menghadapi apa pun yang menanti di depan."
Percakapan mereka terhenti ketika Log Pose di pergelangan tangan Ryden tiba-tiba bergetar pelan, jarumnya mulai bergerak stabil mengarah ke satu titik pasti—tanda bahwa mereka telah cukup dekat dengan pulau tujuan berikutnya. Di kejauhan, siluet sebuah pulau besar mulai terlihat, dengan formasi bebatuan unik menjulang tinggi di sepanjang garis pantainya, memberikan kesan misterius yang langsung menarik perhatian keduanya.
"Pulau apa itu?" tanya Elira penasaran, mengamati formasi bebatuan aneh yang menyerupai patung-patung raksasa alami.
Ryden menyipitkan mata, mencoba mengingat detail dari peta kasar Grand Line yang pernah ia pelajari selama bertahun-tahun. Nama pulau ini tidak sepenuhnya asing baginya, meski ia tidak yakin sepenuhnya apakah ingatannya tentang tempat ini masih akurat mengingat betapa banyaknya penyimpangan yang telah terjadi sejauh ini dalam perjalanannya.
"Aku punya firasat ini bukan pulau biasa," gumam Ryden pelan, insting waspada mulai muncul dalam dirinya.
Sesuatu tentang formasi bebatuan itu terasa familier, membangkitkan kembali kepingan ingatan samar tentang sebuah pulau khusus yang pernah ia baca dalam kisah aslinya—sebuah tempat yang seharusnya menjadi wilayah terlarang bagi kaum pria.
Tidak mungkin, pikirnya, jantungnya mulai berdegup lebih kencang menyadari kemungkinan yang terbentang di hadapannya. Jika benar ini pulau yang kupikirkan, kita berdua mungkin baru saja memasuki wilayah yang paling berbahaya sekaligus paling tak terduga sepanjang perjalanan kita.
"Ryden? Kau baik-baik saja?" Elira memperhatikan perubahan raut wajah Ryden yang tiba-tiba menegang, nada khawatir jelas terdengar dalam suaranya.
"Kita mungkin perlu berhati-hati ekstra kali ini," ucap Ryden akhirnya, mengarahkan kapal mereka mendekat perlahan sambil tetap waspada terhadap setiap kemungkinan yang bisa muncul kapan saja. "Aku punya firasat kuat bahwa pulau ini menyimpan lebih banyak kejutan dari yang pernah kita hadapi sebelumnya."
Kabut tipis mulai menyelimuti sekeliling kapal mereka saat semakin mendekat ke garis pantai, formasi bebatuan raksasa yang menyerupai sosok-sosok wanita perkasa berdiri megah menyambut kedatangan mereka—sebuah pemandangan yang akan segera mengungkap salah satu babak paling penting dan mengubah hidup dalam seluruh perjalanan Ryden Vale di dunia One Piece.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara terompet kerang, tanda peringatan kuno yang telah lama tidak pernah dibunyikan untuk kedatangan tamu tak diundang berjenis kelamin pria—sebuah pertanda bahwa petualangan Ryden akan segera memasuki babak yang benar-benar tak terduga.