NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Rindangnya Pohon Cengkeh Tua

Satu tahun setelah malam megah di ibu kota itu berlalu.

Suara gemericik air irigasi yang jernih membelah ketenangan pagi di kaki Gunung Salak. Udara sejuk membawa harum bunga cengkeh yang sedang bermekaran, beradu dengan aroma tanah basah yang baru disiram gerimis subuh. Desa yang dulunya sepi dan sempat terancam oleh serakahnya lintah darat, kini tumbuh menjadi desa percontohan yang makmur, asri, dan penuh kehidupan.

Di halaman rumah panggung tua milik keluarga Ajo, sebuah bale-bale kayu baru yang cukup luas telah dibangun. Di sana, sebuah tumpakan nasi liwet hangat lengkap dengan ikan asin, sambal terasi, dan lalapan segar terhidang di atas daun pisang yang hijau mengkilap.

"Ajo! Jangan dinaikkan dulu anak itu ke atas bahu, nanti dia kaget!"

Suara lembut namun tegas itu datang dari Elsa. Sang Dewi Sinema Indonesia yang dulu selalu menghiasi layar lebar dengan gaun-gaun mewahnya, kini tampil sangat bersahaja. Ia mengenakan terusan kain katun yang nyaman, rambutnya diikat longgar ke belakang. Tangan lentiknya dengan telaten menyendokkan bubur halus untuk bayi laki-laki berusia tiga bulan yang berada di pangkuan Ajo.

Bayi itu—putra pertama Ajo dan Elsa—memiliki mata bulat yang jernih persis seperti ibunya, tetapi garis rahang dan ketenangannya sangat mirip dengan Ajo.

"Anak Jenderal tidak boleh manja, Elsa," kekeh Ajo renyah seraya mencium pipi gembil putranya. Pria itu kini benar-benar menikmati peran terindahnya: menjadi seorang ayah dan pengabdi tanah kelahiran.

Dari ujung jalan setapak, suara deru mesin mobil yang teratur terdengar mendekat. Dua SUV mewah berhenti di halaman rumah tua.

Pintu mobil terbuka, dan suasana mendadak riuh oleh gelak tawa.

Adam turun lebih dulu dengan gaya sok keren, mengenakan kemeja santai dan kacamata hitam. Namun, wibawa "CEO Kota"-nya seketika runtuh saat ia sibuk memanggul tas perlengkapan bayi yang besar di bahu kirinya, sementara tangan kanannya menggandeng putri kecilnya yang sudah pintar berjalan.

Di belakangnya, Juli melangkah anggun. Juli sang Kembang Desa yang kini menjadi bintang baru paling dicintai publik, tetap memancarkan kepolosan alami yang membuat Adam makin berlutut dalam cinta tiap harinya.

"Oom Ajo!" panggil Jimi yang keluar dari mobil kedua bersama Rina dan anak-anak mereka yang berlarian riang menuju bale-bale.

"Astaga, kalian ini datang seperti mau pindahan rumah saja," ujar Ajo tertawa sambil bangkit menyambut dua sahabatnya.

Adam melepas kacamata hitamnya, menyerahkan tas bayi ke meja, lalu menepuk bahu Ajo erat-erat. "Kapan lagi CEO AJA DISPOSA FILM bisa kabur dari tumpukan naskah film di Jakarta kalau bukan untuk makan nasi liwet di rumahmu, Jo?"

"Tahu tidak, Jo?" potong Jimi sambil mengambil potongan tempe goreng hangat. "Film terbaru produksi kita yang dibintangi Elsa dan Juli baru saja menembus lima juta penonton dalam dua minggu! Rekor baru lagi untuk perusahaan!"

Rina, Elsa, dan Juli yang duduk melingkar bersama anak-anak mereka di bale-bale terkekeh geli melihat tiga pria itu. Bagi Rina dan Elsa, tidak ada pemandangan yang lebih indah selain melihat Tiga Jenderal—Ajo, Adam, dan Jimi—bisa tertawa lepas tanpa ada lagi beban skandal, persaingan bisnis, atau luka pengkhianatan masa lalu.

Sore mulai menjelang, membawa pendar warna jingga keemasan yang menembus sela-sela daun pohon cengkeh tua. Anak-anak tertidur pulas di dalam rumah panggung, sementara tiga pasangan itu duduk berdampingan di bale-bale kayu luar, menikmati kopi tubruk panas dan dinginnya angin pegunungan.

Adam merangkul Juli yang menyandarkan kepala di bahunya dengan lesung pipit yang merona manis. Jimi meremas lembut jemari Rina yang selalu setia mendampinginya dari masa-masa sulit. Dan Ajo, melingkarkan tangannya di pinggang Elsa, membiarkan wanita yang sangat dicintainya itu menyandarkan kepala di dada bidangnya.

Ajo menatap tanah kebun keluarga di hadapannya—tanah yang pernah dibakar, pernah dicoba untuk direbut, namun kini berdiri makin kokoh dan memberikan kehidupan bagi ratusan warga desa.

"Dulu aku berpikir kejayaan adalah tentang berapa banyak penonton yang bertepuk tangan untuk karya kita di kota," bisik Ajo pelan, suaranya dalam dan sarat akan kedamaian abadi. "Tapi hari ini aku sadar... kejayaan sejati adalah saat kita punya tempat untuk pulang, sahabat yang tidak pernah membelakangi, dan cinta yang tetap tinggal ketika seluruh dunia pergi."

Elsa mendongak, menatap manik mata Ajo yang teduh, lalu tersenyum manis penuh rasa syukur. "Dan kamu sudah menemukan semuanya di sini, Ajo."

Di bawah naungan langit Gunung Salak yang kian meredup dipeluk malam, kisah panjang tentang air mata, pengkhianatan, perjuangan, dan persahabatan Tiga Jenderal telah tuntas dituliskan oleh waktu. Tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi ketakutan. Yang tersisa hanyalah kedamaian yang abadi, tawa yang murni, dan cinta yang akan terus mekar di atas tanah kelahiran mereka selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!