NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tekad Yang Bulat

Kasandra tampak gugup mendengar pertanyaan Fisya.

Senyum di wajahnya perlahan memudar. Tangannya tanpa sadar saling menggenggam erat.

Jason yang melihat perubahan wajah Kasandra langsung menyela.

"Kasandra, ini sudah malam. Kamu harus pulang sekarang."

Jason berdiri sambil tersenyum canggung.

"Ayo, biar aku antar pulang. Kamu tadi tidak membawa mobil, kan?"

Ucapan Jason jelas bermaksud mengalihkan pembicaraan.

Namun Fisya sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, tatapannya tetap tertuju kepada Kasandra.

Tatapan yang tenang, tetapi membuat Kasandra merasa seperti sedang diinterogasi.

Beberapa detik kemudian, Fisya mengalihkan pandangannya kepada Jason.

Lalu kembali menatap Kasandra.

Ruangan mendadak sunyi.

Tak ada seorang pun yang berani berbicara.

Akhirnya Fisya menarik napas pelan.

"Baiklah."

"Kalau kamu memang tidak ingin menjawab pertanyaanku, aku tidak akan memaksamu."

Kasandra langsung mengembuskan napas lega namun belum sempat ia benar-benar tenang, Fisya kembali berbicara.

"Tapi ingat satu hal semua kebohongan... cepat atau lambat pasti akan menemukan jalannya untuk terbongkar."

Kalimat itu membuat wajah Jason dan Kasandra langsung menegang.

Kasandra buru-buru memaksakan senyum.

"Fisya..."

"Kita ini sudah bersahabat sejak lama, kamu tahu siapa aku."

"Aku tidak pernah punya niat buruk kepadamu."

"Aku hanya sangat menyayangi Tina"

"Bagiku, Tina sudah seperti anakku sendiri."

"Percayalah."

Fisya tersenyum tipis, senyumnya sulit diartikan.

"Aku percaya..."

Kasandra langsung tersenyum lega namun kalimat Fisya berikutnya kembali membuat jantungnya berdegup kencang.

"...Aku hanya berharap kamu tidak sedang keliru."

Kasandra mengernyit.

"Maksudmu?"

Fisya menatap lurus ke matanya.

"Jangan sampai suatu hari nanti..."

"...Kamu menyesal karena terlalu mencintai sesuatu yang sebenarnya bukan milikmu."

Ruangan kembali sunyi.

Kasandra menelan ludah.

Entah mengapa ucapan itu terdengar seperti sindiran yang sangat dalam.

Jason segera melangkah ke depan.

"Sayang! Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi."

"Ini sudah malam Kasandra juga harus pulang."

Fisya mengangguk pelan.

"Tentu."

Kasandra segera mengambil tasnya.

"Ya sudah, Fisya, aku pulang dulu"

"Aku juga harus melihat Agnes di rumah."

Fisya mengangguk sambil tetap menggendong Tina.

"Iya, pulanglah, lihat Agnes."

"Dia putrimu satu-satunya anak yang akan memanggil dan mengenalmu sebagai ibu."

Kasandra kembali terdiam.

Fisya melanjutkan dengan suara tenang.

"Jangan terlalu sibuk memperhatikan anak orang lain..."

"... Sampai lupa memberikan kasih sayang kepada darah dagingmu sendiri."

"Kasihan Agnes, dia masih sangat kecil dan dia lebih membutuhkan pelukan ibunya daripada siapa pun."

Kasandra hanya mampu tersenyum kaku.

"Iya..."

"Aku akan lebih memperhatikannya."

Fisya kembali menatapnya.

"Aku harap begitu."

"Karena tidak semua penyesalan datang ketika kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya."

"Ada penyesalan yang datang ketika semuanya sudah terlambat."

Kalimat itu membuat Jason dan Kasandra saling berpandangan.

Keduanya merasakan sesuatu yang aneh.

Seolah-olah...

Fisya mengetahui lebih banyak daripada yang mereka kira.

Namun mereka tidak memiliki bukti bahwa Fisya benar-benar mengetahui rahasia pertukaran bayi itu.

Jason segera menarik Kasandra untuk keluar

"Ayo, kamu pulang, aku antar"

Kasandra mengangguk pelan.

Sebelum keluar dari kamar, ia menoleh sekali lagi ke arah Tina yang berada dalam pelukan Fisya.

Tatapannya penuh kerinduan.

Sementara Fisya membalas tatapan itu dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya.

Dalam hati Fisya berkata,

"Tataplah Tina sepuasmu, Kasandra."

"Sebentar lagi... kamu akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan karena ulahmu sendiri."

Kasandra dan Jason akhirnya meninggalkan rumah itu

Begitu keluar dari rumah keluarga Alexander, Kasandra langsung melepaskan tangan Jason dengan kasar.

"Kenapa kamu menarik aku seperti itu?" bentak Kasandra dengan wajah kesal.

Jason menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang memperhatikan mereka.

"Pelankan suaramu!" desis Jason.

"Kalau sampai Fisya mendengar, habislah kita."

Kasandra menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Memangnya aku peduli?"

Jason langsung menatap tajam.

"Kamu yang membuat Fisya mulai curiga!"

Kasandra tertawa sinis.

"Aku?"

"Iya, kamu!"

Jason mulai kehilangan kesabaran.

"Sudah kubilang jangan datang ke rumah ini."

"Jangan menemui Tina dulu dan jangan juga mencariku tapi kamu tetap datang!"

Kasandra melangkah mendekati Jason.

"Karena aku merindukan anakku!"

Suara Kasandra mulai bergetar.

"Aku sudah sembilan bulan mengandungnya."

"Aku yang melahirkannya lalu setiap hari aku hanya bisa melihati potonya saja, apa kamu tahu bagaimana rasanya?"

Jason terdiam beberapa saat namun wajahnya tetap dingin.

"Kamu harus bersabar karena itu kemauan kamu"

Kasandra menggeleng.

"Tidak! Aku hampir tidak sanggup lagi, aku memang ingin hartanya Fisya tapi aku juga ingin bisa mengurus Tina juga"

"Tadi saat menggendong Tina..."

"...aku ingin memeluknya lebih lama."

"Tapi Fisya merebutnya dariku."

Jason mengusap wajahnya dengan kesal.

"Itu akibat ulahmu sendiri."

Kasandra menatap Jason tajam.

"Jangan menyalahkanku! Atas semua yang sudah terjadi"

Jason langsung memegang kedua bahu Kasandra.

"Cukup! Ini bukan tempat untuk bertengkar."

"Semakin lama kita di sini, semakin besar kemungkinan Fisya mencurigai kita."

Kasandra akhirnya menghela napas panjang.

"Baik."

Jason membuka pintu mobil.

"Masuk."

Beberapa saat kemudian...

Mobil melaju meninggalkan rumah keluarga Alexander.

Suasana di dalam mobil sangat sunyi tak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Kasandra terus menatap ke luar jendela, sementara Jason fokus menyetir.

Hampir sepuluh menit berlalu...

Kasandra akhirnya memecah keheningan.

"Jason."

"Hm?" Jawab Jason singkat

"Aku mau tanya sesuatu." Ucap Kasandra

"Tanya saja." Jawab Jason

Kasandra menoleh perlahan.

"Kamu benar-benar yakin..."

"...Saat kamu menukar bayi kita waktu itu tidak ada seorang pun yang melihat?"

Jason menjawab tanpa ragu.

"Tidak ada."

"Rumah sakit waktu itu sangat sepi hanya ada aku dan seorang perawat yang sudah kubayar."

Kasandra masih belum puas.

"Kamu benar-benar yakin?"

Jason mengangguk mantap.

"Sangat yakin."

"Aku sendiri yang memastikan keadaan sekitar sebelum masuk ke ruang bayi."

Kasandra menggigit bibir bawahnya.

"Lalu perawat itu?"

Jason tersenyum tipis.

"Tenang, dia sudah menerima uang dalam jumlah besar setelah itu dia langsung mengundurkan diri dari rumah sakit."

"Kami juga sudah sepakat untuk tidak pernah saling menghubungi lagi."

Kasandra masih tampak gelisah.

"Bagaimana kalau suatu hari dia berubah pikiran?"

Jason menggeleng pelan.

"Itu tidak mungkin karena dia tahu risikonya kalau dia sampai membuka mulut..."

"...Dia juga akan ikut terseret dan dipenjara."

Kasandra masih belum terlihat tenang.

Entah mengapa...

Ucapan Fisya tadi terus terngiang di kepalanya.

*"Semua kebohongan... cepat atau lambat pasti akan menemukan jalannya untuk terbongkar."*

Kasandra memejamkan matanya sejenak.

"Jason... Aku merasa takut."

Jason menoleh sekilas.

"Takut apa?"

"Aku merasa... Fisya seperti mengetahui sesuatu." Ucap Kasandra

Jason langsung tertawa pelan.

"Itu hanya perasaanmu."

"Tidak mungkin Fisya tahu kalau dia benar-benar tahu, dia pasti sudah melaporkan kita ke polisi." Lanjut Jason

Kasandra mengangguk pelan.

"Mungkin kamu benar."

Namun jauh di lubuk hatinya...Perasaan tidak tenang itu justru semakin kuat.

***

Di kediaman Fisya, suasana malam itu terasa begitu sunyi

Namun, di balik ketenangan itu, Fisya bergerak dengan cepat, tatapannya tajam, seolah telah mengambil keputusan yang tidak bisa lagi diubah.

"Bik Lili," panggil Fisya.

"Ya, Bu," sahut Bik Lili sambil menghampiri.

"Semua barang yang sudah dipacking, sudah siap?" Tanya Fisya

"Sudah, Bu. Tidak ada yang tertinggal." Jawab bik Lili

Fisya mengangguk pelan.

"Bagus."

Ia menarik napas panjang sebelum kembali berkata

"Sekarang Bik Lili bersiaplah. Sebentar lagi Sebastian akan menjemput kita."

Bik Lili tampak bingung.

"Kita mau ke mana, Bu?"

"Nanti akan saya jelaskan di mobil. Yang penting, kita harus pergi dari rumah ini secepatnya." Nada suara Fisya terdengar tenang

Tetapi menyimpan ketegasan yang membuat Bik Lili tidak berani bertanya lebih jauh.

"Baik, Bu," jawabnya patuh sebelum bergegas mengambil tas miliknya.

Tak lama kemudian, suara deru sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumah.

Fisya melirik ke arah jendela dan bibirnya tersenyum tipis.

"Sebastian sudah datang..."

"Ayo bik kita pergi dari sini malam ini juga sebelum Jason datang" ucap Fisya dengan langkah terburu-buru

1
Anisa Nur Afifah
balikk lgii buatt bacaa😍
Anisa Nur Afifah
bagusss kakkk
Queen_Fisya08: terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!