NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Bungkam dalam Sorot Kamera

Kilatan lampu kilat dari kamera para pemburu berita seketika menyambar bagaikan petir di pagi buta ketika gerbang besi besar kediaman Dirgantara perlahan terbuka. Puluhan mikrofon dari berbagai stasiun televisi swasta langsung disodorkan ke depan, berebut ruang di antara jeruji pagar. Di belakang barisan wartawan, tiga orang petugas kepolisian berseragam rapi berdiri mendampingi dua pria berjas necis—tim pengacara yang diutus langsung oleh Herman Wijaya.

Suasana mendadak riuh rendah. Suara teriakan para wartawan yang saling melempar pertanyaan provokatif menggema di sepanjang jalanan komplek.

"Pak Baskara! Apakah benar Anda melakukan penyiksaan psikologis pada putri kandung Anda?!"

"Ibu Kinanti! Benarkah Anda dalang di balik diusirnya Ibu Chynthia dari rumah ini?!"

"Apakah betul pengadilan telah mengeluarkan surat perintah penjemputan paksa?!"

Di tengah kepungan yang begitu intimidatif, Baskara melangkah keluar dengan ketenangan yang mengerikan. Mengenakan kemeja batik formal dengan potongan tegas, tubuh tegapnya menaungi Kinanti yang berjalan di sampingnya. Tangan besar Baskara tidak sedetik pun melepaskan genggamannya pada jemari Kinanti. Gadis sembilan belas tahun itu, meskipun jantungnya berdegup kencang melihat lautan manusia di depannya, memilih untuk menegakkan punggungnya. Wajah datarnya terpasang sempurna, memancarkan aura ketegaran yang luar biasa untuk gadis seusianya.

Di belakang mereka, Pengacara Ikhsan berjalan dengan tenang sembari menjinjing sebuah tas kulit tua yang berisi berkas-berkas krusial.

Salah satu pengacara keluarga Wijaya, seorang pria berkacamata bernama kuasa hukum perwira, melangkah maju dengan senyum culas yang teramat kentara di depan kamera media. "Selamat pagi, Pak Baskara. Kami datang bersama pihak kepolisian untuk menjemput klien kami, Natasha Dirgantara, berdasarkan surat laporan darurat atas dugaan KDRT psikologis anak di bawah umur. Dan sesuai tuntutan hukum, saudari Kinanti Larasati harus segera mengosongkan rumah ini demi keselamatan mental anak!" ucapnya dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar terekam jelas oleh seluruh pemirsa televisi.

Para wartawan semakin beringas, kamera-kamera video kini di-zoom secara penuh ke arah wajah Kinanti, bersiap mengabadikan momen kehancuran dan air mata dari sang nyonya muda yang dituduh sebagai wanita licik.

Baskara berhenti tepat tiga langkah di depan barisan pengacara tersebut. Pria matang itu mengedarkan pandangan elangnya ke arah kerumunan wartawan. Alih-alih marah atau panik, Baskara justru mengeluarkan sebuah tawa rendah yang dingin, terdengar sangat meremehkan melalui pengeras suara mikrofon yang berada di dekatnya.

"Kalian membawa polisi dan media ke rumahku sepagi ini hanya untuk memamerkan kebodohan hukum kalian?" tanya Baskara, suaranya yang berat, dalam, dan penuh otoritas seketika membuat keriuhan para wartawan mereda. Atmosfer di depan gerbang mendadak berubah mencekam.

Baskara melirik petugas kepolisian yang berdiri di belakang pengacara Wijaya. "Pak Polisi, Anda datang ke sini untuk menegakkan hukum atau untuk menjadi alat propaganda sirkus dari seorang konglomerat kota yang frustrasi karena bisnisnya kalah saing?"

Pimpinan petugas kepolisian itu tampak salah tingkah. "Maaf, Pak Baskara, kami hanya mendampingi pelapor berdasarkan bukti rekaman suara yang diserahkan oleh Ibu Chynthia—"

"Bukti rekaman suara?" potong Kinanti tiba-tiba. Suara gadis itu terdengar sangat jernih, tenang, dan tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun di depan puluhan kamera yang menyorotnya. Kinanti menatap lurus ke arah pengacara Perwira. "Maksud Anda, rekaman suara ilegal yang diambil oleh anak tiri saya yang dihasut untuk mencuri kotak kayu saya? Rekaman yang sudah dipotong dan diedit oleh tim kalian untuk memanipulasi fakta di depan hukum?"

Mendengar ucapan Kinanti yang teramat berani dan langsung menembak ke inti masalah, para wartawan langsung heboh. Kasak-kusuk mulai terdengar di antara mereka.

"Apa maksud Anda dengan manipulasi fakta, Ibu Kinanti?!" teriak salah seorang wartawan senior.

Baskara memberikan kode dengan anggukan kepala kepada Pengacara Ikhsan. Dengan sigap, pria paruh baya dari kampung itu mengeluarkan sebuah perangkat tablet layar lebar dari dalam tas kulitnya, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar bisa ditangkap oleh seluruh kamera media yang sedang melakukan siaran langsung.

"Perhatikan layar ini baik-baik," ucap Pengacara Ikhsan dengan suara tegas khas orang hukum. "Ini adalah rekaman video CCTV asli, utuh, dan tanpa sensor dari ruang kerja Pak Baskara pada malam kejadian. Visualnya sangat jelas. Di sini terlihat saudari Natasha mengaku dengan jujur bahwa dia menyelinap ke kamar utama atas perintah ibunya, Chynthia Wijaya, untuk mencuri barang pribadi Ibu Kinanti guna mencari-cari kesalahan."

Layar tablet itu memutar adegan di mana Natasha menangis dan berlutut, bukan karena disiksa secara psikologis, melainkan karena tertangkap basah melakukan tindakan kriminal di dalam rumah dan menangisi fasilitas mewahnya yang dicabut sebagai konsekuensi logis dari ayahnya.

"Kami dari tim hukum Pak Baskara dan Ibu Kinanti," lanjut Ikhsan dengan nada menuntut yang kuat, "telah resmi mendaftarkan gugatan balik ke Polres satu jam yang lalu atas pasal pencemaran nama baik berat, pemberian keterangan palsu di bawah sumpah, serta manipulasi barang bukti elektronik terhadap saudari Chynthia Wijaya dan seluruh tim hukumnya yang terlibat dalam pembuatan draf tuntutan palsu ini!"

Jebakan hukum yang disusun matang oleh keluarga Wijaya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik di depan jutaan pasang mata yang menonton siaran langsung tersebut. Wajah pengacara Perwira yang tadinya tersenyum culas seketika berubah menjadi pucat pasi tanpa darah. Tubuhnya mendadak kaku, sadar bahwa karir hukumnya berada di ujung tanduk karena telah mempermalukan institusinya sendiri dengan membawa bukti palsu ke depan publik.

Para wartawan kini berbalik arah secara beringas, mencecar tim pengacara Wijaya.

"Pak Perwira! Apakah benar klien Anda melakukan rekayasa digital?!"

"Apakah ini bentuk keputusasaan dari Wijaya Group karena boikot pasokan gabah mereka di kampung gagal total?!"

Baskara melangkah maju satu langkah, aura alpha male-nya yang dominan mengintimidasi siapa saja yang memandangnya. Dia menatap tajam para petugas polisi. "Sekarang, Pak Polisi, jika Anda masih ingin menjalankan tugas dengan terhormat, silakan ambil berkas laporan balik kami dari Pengacara Ikhsan, dan silakan datangi kediaman Chynthia Wijaya untuk menjemputnya atas tuduhan kriminal. Rumahku bukan tempat untuk drama murahan."

Petugas kepolisian itu dengan tergesa-gesa menerima berkas dari Ikhsan, meminta maaf secara formal kepada Baskara, lalu memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk segera membubarkan diri dari pelataran rumah. Tim pengacara Wijaya pun lari terbirit-birit memasuki mobil mewah mereka di bawah kejaran para wartawan yang terus menuntut klarifikasi.

Setelah kerumunan media dibubarkan paksa oleh supir dan penjaga keamanan komplek, gerbang besi kembali ditutup rapat. Keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti halaman rumah utama.

Kinanti menghela napas panjang, seluruh ketegangan yang menumpuk di pundaknya selama dua puluh empat jam terakhir rasanya menguap begitu saja. Dia menatap Baskara yang masih berdiri kokoh di sampingnya.

Baskara membalikkan tubuhnya, menatap istri kecilnya dengan sepasang mata elang yang kini telah melunak sepenuhnya. Tanpa memedulikan keberadaan Pengacara Ikhsan yang berpura-pura sibuk memeriksa catatan di sudut teras, Baskara menarik Kinanti ke dalam pelukannya. Dia mendekap kepala Kinanti di dadanya yang bidang, mengusap rambut hitam gadis itu dengan penuh kelembutan yang teramat posesif.

"Kau melakukannya dengan sangat baik, Kinanti," bisik Baskara, suaranya terdengar begitu hangat dan serak, memancarkan rasa bangga yang luar biasa. "Kau tidak gemetar sedikit pun di depan mereka."

Kinanti melingkarkan tangannya di pinggang Baskara, menyandarkan wajahnya di dada suaminya, menikmati detak jantung pria itu yang terasa konstan dan menenangkan. "Karena aku tahu, ada Om yang berdiri di depanku sebagai perisai. Aku tidak perlu takut lagi," sahut Kinanti jujur, sebuah pengakuan yang membuat senyum kemenangan di wajah Baskara kian melebar.

Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan, suasana berbanding terbalik 180 derajat. Layar televisi besar di ruang tengah menampilkan akhir dari siaran langsung skandal keluarga Dirgantara, di mana wajah pengacara keluarga Wijaya tampak dipermalukan habis-habisan oleh bukti CCTV Baskara.

Prang!

Sebuah gelas kristal berisi cairan alkohol mahal dibanting dengan beringas ke arah layar televisi oleh Chynthia. Wanita itu berteriak histeris, rambutnya yang tertata rapi kini berantakan akibat luapan amarah yang meledak-ledak. Wajah cantiknya berubah menjadi menyeramkan karena dendam kesumat yang pekat.

"Sialan!! Jalang kampung itu!! Bagaimana bisa dia menghancurkan semua rencanaku?!" jerit Chynthia, napasnya memburu dengan dada yang naik turun tidak teratur.

Di sofa seberang, Herman Wijaya duduk dengan wajah yang teramat gelap. Pria tua yang terbiasa mengendalikan segalanya itu kini tampak terpukul. Ponselnya sejak tadi tidak berhenti bergetar menerima laporan bahwa saham konsorsiumnya di kota mulai ikut goyang akibat sentimen negatif publik yang melihat keluarganya menggunakan cara-cara kotor dan hukum palsu untuk menindas pengusaha daerah. Malahan, beberapa jaringan pasar tradisional di daerah yang selama ini mereka kuasai mulai berbalik mendukung pabrik beras kampung milik Juragan Ramli secara masif.

"Baskara benar-benar sudah menutup jalan kita, Chynthia," ucap Herman dengan suara berat yang terdengar lelah sekaligus menyimpan kemarahan besar pada kecerobohan putrinya. "Hukum tidak bisa lagi menyentuh mereka. Bisnis kita di daerah pun mulai digerogoti oleh taktik akar rumput istri barunya itu. Kita kalah total."

"Tidak! Aku tidak mau kalah dari perempuan miskin itu, Papi!" potong Chynthia dengan mata yang memerah penuh kegilaan. "Kalau hukum tidak bisa mengusirnya, dan kalau bisnis tidak bisa menghancurkannya, maka aku sendiri yang akan memastikan perempuan itu menghilang dari dunia ini!"

Herman Wijaya mendongak, terkejut melihat kilat kegilaan di mata putrinya. "Chynthia, apa yang mau kau lakukan? Jangan bertindak bodoh—"

"Papi diam saja! Biar aku yang mengurus jalang itu dengan caraku sendiri!" bentak Chynthia sebelum menyambar tas tangannya dan melangkah keluar dari apartemen dengan hentakan kaki yang penuh dengan niat membunuh yang nyata. Wanita yang terlanjur terluka egonya itu kini sudah kehilangan akal sehatnya, bersiap melakukan tindakan nekat fisik yang paling berbahaya untuk menyingkirkan Kinanti dari sisi Baskara selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!