Evina adalah wanita biasa yang hidupnya penuh dengan luka. ketika kecil dia pernah dilecehkan oleh orang dekatnya. Ia juga harus menerima segala sakit fisik maupun mental karena keluarganya yang berantakan. Dan Fahri sang pujaan hatinya yang dia kira akan menyelamatkan hidupnya. Nyatanya justru menjadi puncak dari segala dukanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuisakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP.9 JATUH PADAMU
Evina duduk termenung di teras rumah pakde Suro. Memikirkan nasibnya. Apa yang harus dia lakukan? Apakah orang tuanya benar berpisah? Tentu itu hal yang sangat ia inginkan, namun sepertinya jika harus pindah ke Banyumas itu teramat berat untuknya.
“ Ngopo to nduk kok durung turu?”(kenapa sih nduk kog belum tidur?) tanya pakde Suro yang melihat keponakannya masih termenung di ters rumah.
“ Mboten pakde.” ( tidak apa – apa pakde) Jawab Evina singkat.
“ Wong tuwomu raksah mbok pikir, sing penting kowe mikirke sekolahmu wae,” ( kamu tak usah memikirkan orang tuamu. Yang penting kamu pikirin sekolahmu saja) ujar pakde menasehati.
“ Kulo nek pindah sekolah ting Banyumas, kedahe pripun ngoten pakde. Soale sak niki sampun kelas kaleh. Nek kulo pindah mengkih repot meleh kalih pelajarane,” ( saya kalau pindah sekolah di Banyumas rasanya bagaimana ya pakde. Soalnya sekarang sudah kelas dua. Kalau saya pindah nanti repot lagi soal pelajarannya) ujar Evina terlihat galau.
Pakde Suro memperhatikan keponakannya itu. Terlihat wajahnya sedang berduka, karena ingin melanjutkan sekolah.
“ Yo wes ngene ae, sementara kowe tetep sekolah dhisik. Ibumu ben tak kandanane, ojo mangkat Banyumas sek. Wes ben nyambut gawe ning Semarang. Sak ketemune, gawe sekolah kowe,” ( Ya sudah begini saja, sementara kamu sekolah dulu. Ibumu biar ku kasih tahu, jnagan berangkat ke Banyumas dulu. Biarlah kerja di Semarang. Kerja apa saja, untuk sekolah kamu)
Mendengar ucapan pakde Suro, Evina cukup lega. Perlahan – lahan raut wajahnya tampak seperti memiliki harapan. Ia tak bisa membayangkan harus pindah sekolah. Ia harus beradaptasi lagi dengan orang baru. Belum pejaran yang berbeda disetiap sekolah. Dan juga dia tak bisa berjumpa lagi dengan Fahri.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Sementara itu Fahri sedang galau memikirkan sesuatu. Dadanya terasa berdebar mengingat – ingat sebuah nama. Diusapnya wajahnya berkali – kali. Seperti tak percaya, hatinya bisa tergoda. Fahri tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang agamis. Orang tuanya mendidiknya dia untuk taat dalam agama.
Selama ini ia tak pernah tergoda untuk menyukai lawan jenis.
Tak berani ia bahkan berpikir terlalu jauh menyukai seorang gadis. Namun, kali ini sepertinya keimananya harus diuji. Seharian ini ia hanya memikirkan Evina. Entah mengapa selama dua hari tak masuk sekolah, Fahri merasa ada yang hampa.
Mau makan teringat Evina, mau tiduran teringat Evina. Mau mengerjakan tugas ingat bayang – bayang Evina.
Ia tak tahan dengan ini, namun Fahri tak menyadari apa yang ia rasakan. Dia berpikir mungkin karena sedang dalam kegiatan yang sama, maka dia merasa dekat dengan Evina.
Kumandang adzan memecah keheningan malam itu. Fahri bergegas untuk pergi ke mushola di dekat rumahnya. Sebelumnya ia mengambil sarung yang biasa ia pakai untuk sholat.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Keesokan harinya, Evina ternyata mulai berangkat sekolah lagi. Siska memeluknya dengan erat karena kerinduan terhadap temannya itu.
“ Vi, kenapa ngga masuk? Kamu tuh, ya bikin orang khawatir aja,” ungkap Siska bersemangat karena temannya telah kembali.
“ Ngga pa pa , ngga enak badan aja,” jawab Evina singkat. Siska buru – buru memegang dahi Evina. Namun ia merasakan tidak panas.
“ Ngga panas?” ujar Siska.
“ Ya, kan udah sembuh. Kalau masih sakit aku ngga berangkat, lah,” kata Evina
“ Oh, iya , ya.” Siska tersenyum memandangi temannya itu.
“ Eh, Vi, fahri nyariin kamu terus lho. Coba nanti siang kamu ke ruang pramuka deh. Katanya tinggal minta tanda tangan pembina sama kepala sekolah. Tapi katanya sih, harus berdua sama kamu,” kata Siska.
“ Oh, ya udah nanti pulang sekolah aku mampir ke ruang pramuka,” jawab Evina santai.
Sepulang sekolah Evina mampir dulu ke ruang pramuka. Namun ternyata pintu ruangan itu terkunci. Evina berinisiatif mencari Fahri ke kelasnya. Namun ternyata kelas Fahri sudah kosong. Evina putus asa dan hendak pulang saja. Saat melewati lorong kelas, terlihat sosok Fahri datang dari arah kantin.
Jantung Evina berdegup kencang melihat Fahri. ‘ Apa ini? Kenapa rasanya canggung sekali? Dadaku terasa sesak.’ Fahri yang melihat ke Evina segera menghampiri Evina. Tanpa meminta persetujuan, Fahri menarik tangan Evina dan membawanya kembali ke ruang pramuka. Saat itu, sungguh Evina terpaku. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengikut Fahri.
Fahri membuka ruang pramuka, mengajak Evina masuk. Ia menutup kembali ruangan itu tanpa menguncinya.
“ Ada apa, Ri?” tanya Evina, sehingga membuat Fahri jadi bingung harus berkata apa. Ia berusaha tetap tenang.
“ Kenapa ngga masuk sekolah?” tanya Fahri, namun matanya tak berani menatap Evina.
“ Cuma, lagi ngga enak badan aja, sih? Kamu nyari aku cuma mau ngomongin ini?” tanya Evina. Fahri benar -benar gugup. Ia bingung harus bagaimana. Tapi rasanya ia tak ingin menghentikan pembicaraan ini.
“ Siapa yang bilang aku nyariin kamu?” tanya Fahri kaku.
“ Siska, katanya kamu mau ngajuin proposal kemah ke pembina sama kepala sekolah,” jawab Evina. Evina pun sebenarnya tak kalah gugup. Hanya saja dia berusaha bersikap sewajarnya
“ Oh, itu, iya. Huufhht.” Fahri terlihat lega.
“ Kenapa sih, kog aneh gitu. Kamu lagi sakit?” tanya Evina.
“ Engga, engga, aku baik-baik aja. Sini aku tunjukin proposalnya,” tanpa sadar Fahri menggandeng tangan Evina.
Dua insan ini terpaku bersama. Sesaat terjadi keheningan di antara mereka. Fahri, langsung melepas gandengan tangannya. Evina pun tak kalah terkejut. Bukankah dia phobia pada laki – laki. Tapi kenapa dia tak bisa berbuat apa- apa ketika tangan Fahri menyentuhnya.
Muka mereka berdua menjadi merah karena malu. Dua orang yang punya pengalaman tentang asmara ini, saat ini sedang dilanda gejolak yang begitu memuncak.
“ Sorry, Vi. Ah, aku....” Fahri tak sanggup menyelesaikan kata – katanya.
“ Ah, iya,iya. Santai saja aku ngga kenapa – kenapa?” kata Evina canggung. Namun suaranya terdengar terbata.
‘ Apanya yang ngga kenapa – kenapa? Aku gugup sekali’ batin Evina
Fahri segera mengambil proposal yang ada di laci meja. Ia terlihat terburu – buru membuka proposal itu. Emosinya benar -benar tak dapat disembunyikan. Terlihat sekali tangannnya bergetar memegangi proposal itu.
Evina tertawa melihat tingkah Fahri. Ada apa dengan Fahri? Mengapa sepertinya gugup sekali.
“ Kamu habis dikejar hantu?” tanya Evina sembari terkekeh. Fahri seketika tersadar akan kecanggungannya.
“ Apa? Engga , mana ada hantu siang bolong begini,” jawab Fahri seraya meletakan proposal yang dipegangnya itu diatas meja.
“ La kenapa gemeteran begitu, sih? Gerogi?” ledek Evina.
“Gerogi kenapa?” tanya Fahri asal. Pandangannya sesekali mencuri ke arah Evina. Meski tak berani secara gamblang ia tunjukan.
“ Ya, udah deh. Kamu mau ke pak Sugeng kapan? Jangan hari ini, soalnya udah kesorean,” ujar evina mengalihkan pembicaraan. Ia juga tak ingin keadaan menjadi semakin canggung.
“ Oh, itu besok aja pas sebelum jam masuk,” jawab Fahri.
Evina tersenyum seraya mengangguk. Fahri merasa seperti terkena angin segar melihat Evina tersenyum manis sperti itu. Fahri sadar betul, Evina tidak cantik. Tapi ia merasa senyum Evina adalah senyum paling indah yang pernah ia jumpai.
‘’ Ngapain bengong, ayo pulang,” kata – kata Evina membuyarkan angan – angan Fahri.
“ Mau pulang bareng?” tanya Fahri terkejut. Ia berpikir Evina mengajaknya pulang bersama.
“ Oh, kamu masih mau disini? Ya, udah aku pulang duluan,” jawab Evina santai. Seketika senyum di wajah Fahri hilang. Wanita sastu ini kenapa mengaduk aduk hatinya dengan begitu cepat.
Terima kasih sudah bersedia membaca novel pertama saya. Semoga ceritanya enak untuk didengarkan ya...
Jangan lupa tinggalkan comment, like, vote serta beri rate pada episode ini. Terima kasih......
mampir juga di karyaku My Kids My Hero
mampir juga di karyaku
Kangen fahri evina,,