Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di tengah perjalanan, ponsel Jati bergetar. Ia menepi sejenak untuk membaca pesan singkat dari Pak Gunawan:
"Tuan, pengerjaan renovasi rumah Nona Gayuh sudah dimulai. Atap sudah ditutup terpal sementara untuk perbaikan total. Area steril."
Jati menyimpan kembali ponselnya. Ia menoleh ke arah Gayuh yang masih memegang erat paper bag butik tadi.
"Tryas, sepertinya kita belum bisa kembali ke rumah singgahmu sekarang. Tadi aku lewat sana, sepertinya ada perbaikan jalan dan kabel di depan gangmu," bohong Jati dengan sangat lancar agar Gayuh tidak pulang dulu dan melihat para pekerja suruhannya.
Gayuh sedikit terkejut. "Oh, ya? Pantas saja tadi pagi rasanya banyak orang mondar-mandir."
"Karena kita belum bisa pulang, dan perutku mulai berisik. Aku lapar," ucap Jati sambil memegang perutnya.
"Ada rekomendasi makanan enak? Tapi yang benar-benar khas, bukan makanan mal."
Mendengar tantangan itu, mata Gayuh berbinar. Sebagai warga lokal yang jarang makan di restoran mewah seperti Tryas yang asli, ia tahu persis di mana harta karun kuliner kota ini berada.
"Ada nasi campur di dalam pasar besar. Rasanya luar biasa, lauknya lengkap, dan sambalnya juara dunia. Tapi, tempatnya masuk ke dalam pasar yang agak becek dan ramai. Kamu mau makan di sana?" tanya Gayuh ragu, takut "pria ojol" di depannya ini sedang ingin makan di tempat yang lebih tenang.
Jati justru tertawa renyah. "Boleh, boleh banget! Aku ini kan tukang ojek, pasar itu sudah seperti rumah kedua bagiku. Ayo, tunjukkan jalannya."
Mereka pun meluncur menuju Pasar Besar. Sesampainya di sana, Jati memarkir motornya di antara deretan motor pedagang sayur.
Bau khas pasar—perpaduan antara rempah, ikan segar, dan keramaian manusia—menyambut mereka.
Gayuh memimpin jalan dengan lincah, melewati lorong-lorong sempit di antara kios kain dan bumbu dapur.
Jati mengikuti di belakang, sesekali tangannya secara refleks menjaga bahu Gayuh agar tidak tertabrak kuli panggul yang lewat.
"Nah, ini dia!" seru Gayuh sambil menunjuk sebuah kedai sederhana yang dikerumuni orang.
Meja-meja kayu panjang dan kursi plastik memenuhi area itu.
Di balik etalase kaca, tumpukan daging empal, telur petis, serundeng, dan sambal goreng krecek tampak begitu menggoda.
"Dua porsi ya, Bu. Nasi campur spesial, lauknya paru sama telur balado" pesan Gayuh dengan luwes.
Jati duduk di kursi plastik yang sedikit goyang, menatap sekeliling dengan perasaan hangat.
Ia melihat bagaimana Gayuh begitu menyatu dengan suasana pasar, sangat kontras dengan gaun butik yang tadi ia pegang.
"Kamu sepertinya sangat hafal tempat ini," puji Jati.
Gayuh tersenyum tipis, hampir saja ia keceplosan bilang bahwa ia sering ke sini saat uang royalti novelnya belum cair.
"E-eh, iya. Aku sering ke sini kalau mau cari inspirasi untuk film hororku tadi!"
Jati hanya mengangguk-angguk sambil menahan senyum.
"Film horor lagi," batinnya geli.
Tak lama kemudian dua piring nasi campur legendaris tersaji di depan mereka.
Aroma wangi dari nasi hangat dan bumbu rempah yang pekat membuat mereka tak sabar untuk memulai suapan pertama.
Suasana di kedai nasi campur itu begitu nikmat. Jati tampak sangat lahap menyantap paru dan telur balado, sementara Gayuh mulai merasa sedikit rileks. Namun, ketenangan itu seketika pecah saat seorang ibu pedagang bumbu dapur yang melintas tiba-tiba berhenti di depan meja mereka.
"Lho, Mbak Gayuh! Jam segini baru makan, Mbak? Bagaimana kelanjutan novel yang kemarin? Duh, saya nangis lho baca bab yang terakhir," sapa ibu itu dengan suara cempreng yang cukup keras.
Gayuh tersedak butiran nasi. Wajahnya langsung pucat pasi.
Ia melirik Jati yang kini menghentikan kunyahannya dan menatapnya dengan kening berkerut.
"E-eh... maaf, Bu? Sepertinya ibu salah orang" jawab Gayuh dengan suara bergetar, mencoba memberi kode lewat mata agar pedagang itu pergi.
"Salah orang bagaimana toh? Ini Mbak Gayuh penulis novel itu kan? Yang sering belanja bumbu di tempat saya!" lanjut si ibu tanpa dosa.
Gayuh tertawa kaku, tawanya terdengar sangat dipaksakan.
"Aduh, Bu. Sepertinya wajah saya memang pasaran ya. Saya sering sekali dikira mirip penulis itu. Padahal saya ini Tryas, Bu. Tryas!"
Si ibu pedagang itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung melihat reaksi Gayuh, lalu pergi sambil mengomel pelan.
Setelah orang itu menjauh, Gayuh segera menenggak teh hangatnya sampai tandas, mencoba menetralkan rasa panik yang membakar dadanya.
Jati meletakkan sendoknya, menopang dagu dengan kedua tangan, lalu menatap Gayuh dengan tatapan menyelidik yang mematikan.
"Aneh ya..." gumam Jati pelan.
"Kenapa orang-orang di pasar ini sering sekali mengira kamu itu penulis? Padahal baru tadi aku menunjukkan profil Gayuh Leksananingtyas di ponselku saat di kedai pizza. Dan itu pun tidak ada fotonya."
Gayuh menelan ludah dengan susah payah. "I-iya ya, Jat? Kebetulan yang aneh sekali."
"Apa wajahmu memang pasaran, atau kamu punya aura puitis yang kuat sampai semua orang menyangka kamu pencipta cerita?" pancing Jati lagi. Nada suaranya terdengar polos, namun matanya berkilat jahil.
Gayuh yang sudah salah tingkah setengah mati hanya bisa mengangguk-angguk cepat sambil merapikan sisa nasi di piringnya.
"Mungkin, ini efek film horor yang kuceritakan tadi, Jat! Iya! Karena aku sering riset di tempat-tempat seperti ini dengan muka melas, orang jadi mengira aku ini penulis yang sedang menderita," jawab Gayuh dengan logika yang semakin tidak masuk akal.
Mendengar alasan "film horor" itu lagi, Jati merasa ada sesuatu yang menggelitik di tenggorokannya.
Ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit melihat bagaimana penulis hebat di depannya ini mengarang skenario paling konyol sedunia demi menutupi identitasnya.
Namun, Jati menahan tawa itu dengan kuat hingga wajahnya memerah. Ia berdeham kecil untuk menutupi kegeliannya.
"Ooh, jadi aura 'menderita' untuk riset film horor ya? Hebat sekali totalitasmu, Tryas," ucap Jati sambil tersenyum penuh arti.
"Ayo habiskan makanannya. Setelah ini kita harus pastikan 'rumah singgahmu' sudah aman dari perbaikan kabel."
Gayuh mengangguk patuh, merasa beruntung karena Jati tampaknya kembali percaya pada bualannya, tanpa tahu bahwa pria di depannya ini sedang menghitung detik sampai kebenaran itu terungkap sepenuhnya.
Setelah puas menyantap nasi campur di pasar, matahari mulai tergelincir ke ufuk barat.
Jati kembali memacu motornya menyusuri jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu jalan. Namun, sebelum berbelok menuju arah kontrakan Gayuh, Jati menghentikan motornya di depan sebuah gerobak martabak yang sangat ramai pembeli.
"Rasanya ada yang kurang kalau pulang tidak membawa buah tangan," ucap Jati sambil mematikan mesin motor.
"Bagaimana kalau martabak?"
Gayuh turun dari motor dengan wajah yang bertekad.
Ia tidak ingin terus-menerus merasa berutang budi, apalagi setelah "hadiah" baju dari butik tadi.
Ia segera melangkah maju sebelum Jati sempat mengeluarkan dompetnya.
"Kali ini biar aku yang membayarnya, Jati. Kamu sudah bekerja keras seharian, setidaknya biarkan aku yang mentraktir camilan ini," ucap Gayuh tegas.
Jati menatap Gayuh sejenak, lalu sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Baiklah, kalau itu maumu, Tryas."
Mendengar nama itu disebut, Gayuh sempat tertegun sesaat, namun ia segera menguasai diri.
Ia menghampiri sang penjual martabak dengan luwes.
"Pak, beli martabak telur dua ya, yang spesial. Dagingnya yang banyak," pesan Gayuh dengan nada ceria.
"Siap, Mbak! Ditunggu sebentar ya," jawab penjual itu sambil mulai beraksi dengan adonan di atas loyang panas.
Aroma gurih telur dan daging yang menyatu dengan daun bawang mulai menyeruak, menggoda selera siapa pun yang lewat.
Gayuh menoleh ke arah Jati yang berdiri menyandar di motor sambil memperhatikannya.
"Satu untuk aku, dan satu lagi untuk kamu bawa pulang. Jadi kalau nanti malam kamu lapar saat istirahat, kamu sudah punya makanan enak."
Jati mengangguk perlahan. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya melihat perhatian kecil itu.
Baginya, martabak telur ini jauh lebih berharga daripada jamuan makan malam mewah yang biasa ia hadiri di hotel berbintang.
Di balik kedoknya sebagai pria biasa, ia mulai sadar bahwa ia tidak hanya menyukai karya tulis wanita ini, tapi juga menyukai cara wanita ini memperlakukannya sebagai seorang manusia, bukan sebagai ahli waris kekayaan.
"Terima kasih ya. Kamu tahu saja kalau aku memang sering lapar tengah malam," sahut Jati pelan.
Sambil menunggu martabak matang, mereka berdiri berdampingan di trotoar.
Gayuh sesekali bersenandung kecil, merasa lega karena sandiwara hari ini berjalan lancar, tanpa menyadari bahwa sebentar lagi ia akan dikejutkan oleh kondisi rumahnya yang sudah berubah total akibat "perbaikan kabel" yang dijanjikan Jati.
Suasana hangat di depan gerobak martabak itu seketika pecah saat ponsel di dalam tas Gayuh bergetar hebat.
Gayuh merogoh tasnya dan melihat nama "Tryas Adiguna" berkedip di layar.
Dengan perasaan was-was, ia menjauh sedikit dari Jati dan mengangkat telepon itu.
"Halo, Tryas?" bisik Gayuh pelan.
Suara cempreng dan angkuh Tryas langsung meledak dari seberang telepon, volumenya cukup keras hingga suaranya bocor keluar dari speaker ponsel.
"Gayuh! Bagaimana? Kamu masih bersama laki-laki ojek itu? Duh, aku benar-benar tidak habis pikir ya, kenapa Papa bisa-bisanya mengenalkan pria kelas bawah seperti itu padaku. Pasti dia bau matahari dan keringat, kan? Hiiy, membayangkannya saja aku mau muntah! Cepat selesaikan urusanmu dan pulang, jangan sampai bau miskinnya menempel di baju-bajuku yang kamu pakai!"
Wajah Gayuh memucat. Ia melirik ke arah Jati yang masih berdiri membelakanginya, tampak sibuk memperhatikan penjual martabak yang sedang membolak-balik adonan.
"Dia tidak seperti itu, Tryas!" potong Gayuh dengan suara bergetar.
Dadanya terasa sesak membela pria yang selama seharian ini telah memperlakukannya dengan begitu baik.
"Jati itu orang yang sopan, pekerja keras, dan, dia tidak bau seperti yang kamu bilang! Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia!"
"Heh? Kamu kok malah membela dia? Ingat ya, kamu itu cuma pengganti! Jangan baper sama tukang ojek!" cibir Tryas sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Tangan Gayuh gemetar. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Ia merasa sangat sakit hati mendengar Jati direndahkan sedemikian rupa, padahal Jati adalah satu-satunya orang yang membuatnya merasa dihargai belakangan ini.
Jati, yang sebenarnya memiliki pendengaran sangat tajam dan sudah menyadap sebagian besar informasi tentang keluarga Adiguna, mendengar setiap kata hinaan yang dilontarkan Tryas. Rahangnya mengeras sesaat, namun ia segera menenangkan diri.
Ia pura-pura tidak tahu. Ia tetap berdiri tenang, membelakangi Gayuh seolah-olah fokusnya hanya pada uap panas martabak yang mengepul.
"Nona, ini martabaknya sudah jadi," suara penjual martabak memecah keheningan.
Gayuh segera menghapus air matanya dengan cepat dan menarik napas panjang.
Ia mencoba memasang wajah ceria kembali meski matanya sedikit kemerahan. Ia membayar martabak itu dan menghampiri Jati.
"Ini, Jat. Martabaknya. Ayo kita pulang," ucap Gayuh dengan suara yang sedikit serak.
Jati berbalik, menatap mata Gayuh yang sembab dengan tatapan yang sangat lembut—tatapan yang menyembunyikan kekuatan besar seorang penguasa bisnis yang baru saja memutuskan sesuatu di dalam kepalanya.
"Terima kasih, Tryas," jawab Jati pelan, sengaja tidak bertanya kenapa matanya basah.
"Ayo, aku antar kamu kembali ke rumah 'singgahmu'. Langit sudah mulai gelap."
Jati merasakan perasaannya yang sakit ketika melihat Gayuh menangis
"Suatu hari nanti, wanita yang menghinaku itu akan sujud meminta maaf kepadamu, Gayuh. Dan saat itu terjadi, kamu tidak perlu lagi meneteskan air mata untuk membela pria ojek ini." ucap Jati dalam hati.