NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cthulhu / Dunia Lain / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 - Ikan Berwarna Hitam

Suara guntur itu begitu mengerikan dan mengancam, suaranya begitu nyaring dan keras, seolah-olah ingin merobek langit. Walaupun Rostav berada di dalam kamar, dari mendengar suara guntur ini, dia tahu badai besar akan melanda kapalnya. Dia bahkan bisa mendengar suara angin yang begitu tinggi menabrak kapalnya, tidak hanya itu dia juga merasakan perubahan gelombang laut yang kini bahkan lebih liar dari apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Kapalnya terangkat tinggi dan terbanting berkali-kali, Rostav sendiri bersyukur karena kapal ini tidak terbalik bahkan setelah mengalami hal itu.

Suara hujan deras terdengar, itu menghantam kapal dengan suara yang bising.

Rostav tetap saja menutup telinganya, suara gemuruh guntur yang dapat menghancurkan gendang telinga terdengar puluhan hingga ratusan kali dalam satu detik.

"Sial, kalau badai ini tidak cepat berlalu, telingaku bisa hancur. Aku mungkin tidak akan bisa mendengar lagi nanti," Rostav mencerca langit dalam diam. Dia kali ini membenci langit, kenapa langit mendatangkan badai yang begitu besar ini ke arahnya? Bukankah lautan ini luas? Tapi kenapa badai itu seolah-olah mengincarnya, apakah ini semua hanya kebetulan?

Ya, meski begitu, tidak ada yang bisa dia lakukan selain bertahan untuk saat ini. Untung saja kursi dan meja ini tidak bergeming menghadapi badai, berbeda dengan barang-barang lain seperti kasur, lemari, pajangan, bahkan kepala kambing juga ikut terjatuh dan terombang-ambing di lantai. Dia tidak tahu apa alasannya, juga tidak ingin tahu. Yang jelas, berkat kursi ini, dia tidak perlu terlalu mengeluarkan banyak tenaga untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Masalahnya sekarang adalah, kapan badai ini akan berakhir? Rostav saat ini hanya bisa menenggelamkan kepalanya di celah diantara kedua tangannya, yang menutupi telinganya agar mengurangi dampak dari suara guntur itu. Walaupun dia berada di dalam kapal dan telinganya tertutup, suara guntur yang begitu menyiksa tetap terdengar di telinganya, bahkan sesekali telinganya terasa nyeri, memaksa Rostav untuk menekannya dengan lebih kuat.

Badai menjadi lebih kuat seiring waktu, gelombang laut menghantam kapal berkali-kali, membuatnya oleng berkali-kali, dan hampir terbalik berkali-kali. Tapi entah kapal ini terbuat dari apa atau kebaikan apa yang dilakukan Rostav hingga memiliki keberuntungan seperti ini, kapal ini tetap bertahan dari terpaan badai. Tetap berdiri kokoh, layarnya tetap terbuka lebar.

Karena badai berlawanan arah dengan kapal, angin kencang yang mengarah ke kapal membuat kapal terdorong ke belakang, dan karena gelombang laut yang tinggi dan besar menghantam kapal berkali-kali, kapal ini telah berpindah haluan ke arah utara, dari yang sebelumnya ke arah selatan.

Hal itu membuat kapal bergerak dengan cepat berkat bantuan dari angin badai. Hanya saja, karena kekuatan anginnya yang terlalu kuat dan intensitas hujan yang tinggi, layar yang selama ini selalu terbuka tidak dapat menahan tekanannya. Layar raksasa berwarna putih itu robek cukup lebar, membuat kapal kehilangan momentum untuk bergerak.

Selama sepuluh menit, badai besar terus melanda kapal, sebelum akhirnya awan hitam pekat itu terus melesat hingga melewati kapal. Meninggalkan kapal dengan layar rusak itu terdiam di tengah-tengah lautan berwarna merah ini.

Menunggu selama beberapa menit lagi, Rostav akhirnya memberanikan diri untuk bangkit. Dia menyeka keringat di dahinya. Walaupun suhu bisa dibilang sejuk, bahkan dingin akibat dari badai besar itu, tapi Rostav yang selama ini berusaha untuk bertahan hidup tak bisa merasakan sejuknya sama sekali. Malahan, dia merasa panas sekaligus lega karena badai itu akhirnya telah pergi. Setelah menghembus napas, dia melihat sekeliling, melihat dampak yang ditimbulkan dari badai besar itu.

Raut wajahnya berubah menjadi kecut, sudut matanya berkedut. Dengan frustasi dia mengelus kepalanya dan berdiri, membersihkan semua kekacauan yang diakibatkan oleh badai besar itu. Dia meletakkan kembali kasur ke tempat aslinya, mendorong lemari ke tempat aslinya, dan memasang pajangan yang jatuh, termasuk kepala kambing.

"Hah, lagi-lagi..." dia menggerutu di dalam hati. Kemudian dia pergi ke dapur dan membereskan semua kekacauan yang ada di sana. Dia melakukan hal yang sama untuk ruang pembersihan dan ruang penyimpanan. Untuk kamar-kamar kosong... oh, siapa yang peduli dengan kamar kosong? Lagipula, Rostav tidak tinggal di kamar itu. Dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat sejenak. Membereskan kekacauan akibat badai cukup menguras tenaganya, apalagi membersihkan dapur dan ruang pembersihan, alat-alat di sana cukup banyak, memerlukan waktu lebih untuk membereskannya.

"Hah, hah..." Rostav mengambil napas panjang berkali-kali saat dirinya berbaring di atas kasur. Dia melirik ke alat pancing di sudut ruangan, tapi dia terlalu lelah untuk memancing. Jadi, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya dan tertidur hingga siang hari.

Terbangun karena rasa lapar, Rostav bangkit dari kasurnya dan mengambil alat pancing di sudut ruangan lalu membuka pintu. Dia pergi ke ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa roti keras, sebagian dia makan dalam perjalanan menuju dek, sebagian lagi disimpan untuk dia gunakan sebagai umpan.

Ketika tiba di dek kapal, dia malah fokus kepada layar yang telah robek itu. Hal itu semakin membuat kepala Rostav pusing, seolah-olah ingin meledak. Baru setengah hari dan dia sudah dilanda berbagai kesialan, sungguh, apakah langit membencinya?

"Jika layar ini rusak, siapa yang bisa memperbaikinya? Apa aku pernah menjahit? Tidak, kalaupun aku pandai menjahit, bagaimana caraku menjahit layar sebesar ini. Apakah ada jarum dan benang yang cukup untuk menjahit layar selebar ini? Sungguh menyedihkan," Rostav mengacak-acak rambutnya dan lebih memilih untuk pergi ke bagian samping dek kapal. "Lebih baik aku memancing. Tidak hanya bisa menenangkan pikiran, juga bisa mengenyangkan perut."

Dia mematahkan roti keras dan memasangnya di kail pancing, lalu mendorong alat pancingnya hingga benang berwarna perak itu meluncur jauh.

Rostav duduk di lantai dek kapal sambil bersandar di pagar, menunggu ikan memakan umpannya. Sambil menunggu dia memakan satu lagi roti keras sambil bergumam dalam hati, 'persediaan daging ikan hanya tersisa sedikit. Aku dengan terpaksa harus memakan roti keras ini lagi, walaupun rasanya membuatku tidak berselera, tapi lebih baik dari pada tidak makan apa pun. Aku harus menghemat persediaan daging, karena itu adalah makanan yang paling layak untuk dimakan. Kurasa aku harus lebih sering memancing supaya stok daging selalu banyak. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa menjadi terlalu serakah kadang dapat mendatangkan bencana. Lebih baik mancing sewajarnya saja.'

Walaupun dia berkata begitu, tapi sudah satu jam berlalu dan belum ada ikan yang menggigit umpannya. Tidak, sepertinya kata-kata itu kurang tepat. Ada beberapa ikan yang memakan umpannya, tapi tidak sampai menelannya terlalu dalam, hanya mencicipi ujungnya saja. Rostav beberapa kali tertipu dengan trik licik ikan-ikan di sini.

Dia memasangkan roti keras lagi ke kail pancing, dan menunggu lagi.

Dua jam telah berlalu, tapi dia belum mendapatkan satu pun ikan. Dia kini berdiri sambil menggenggam pancingannya dengan erat, pandangannya fokus terarah ke ujung pancing.

"Ada dua alasan kenapa aku memancing. Pertama, dengan memancing aku bisa mendapatkan ikan, dan sepertinya ikan-ikan di tempat ini memiliki ukuran monster. Dengan itu aku bisa bertahan selama beberapa hari hanya dengan satu ikan. Kedua, alasan aku memancing adalah untuk menenangkan pikiran. Tapi kini, setelah tiga jam lamanya, bukannya mendapatkan ikan atau ketenangan, aku hanya mendapatkan hikmah dan kekesalan. Apakah ikan-ikan ini tidak ada yang lapar?" saat dia menggerutu, pancingannya tiba-tiba bergerak. Rostav tidak langsung menariknya, melainkan menunggunya selama beberapa saat, sebelum akhirnya memencet tombol dan menarik pancingannya dengan kuat.

Pada momen itu, sebuah ikan berukuran genggaman tangan melayang di udara, dan terjatuh di papan dek kapal.

"Ya!" Rostav bersorak pada dirinya sendiri karena akhirnya mendapatkan tangkapan. Tapi raut wajahnya yang sebelumnya ceria tiba-tiba berubah saat melihat ikan hasil tangkapannya itu.

"Hah?" dia berjongkok tepat di dekat ikan itu. Ikan itu terlihat lemah, bahkan tak ada niatan untuk melawan. "Ikan macam apa ini? Aku tidak pernah melihatnya bahkan di buku," Rostav menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

Ikan itu berukuran kecil, sebesar genggaman tangan. Penampilannya sangat aneh, seluruh tubuhnya bersisik hitam, dengan sebuah lubang besar di bagian tengah. Di dalam lubang itu, terdapat bola hitam kecil yang berputar dan dikelilingi oleh cahaya.

Rostav awalnya hanya menyentuh tubuh ikan itu dengan ujung jarinya, karena merasa tak berbahaya, dia akhirnya memberanikan diri untuk memegangnya secara penuh dan mengeluarkan kail pancing di dalam mulutnya. Tepat saat dia melepaskan kail pancing itu, ikan hitam itu melayang di udara dan dengan kecepatan tinggi melesat masuk ke bagian dada kiri Rostav, masuk ke dalam jantungnya.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!