NovelToon NovelToon
Kegilaan Sang Immortal

Kegilaan Sang Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Ruang Ajaib
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.

Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.

Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pil Penyempurnaan Jiwa

Pada siang hari, Wang Chan berkeliaran di pasar.

Udara panas terasa menyengat, debu beterbangan di mana-mana, dan suara pedagang yang saling berteriak memenuhi sepanjang jalan.

Ia berjalan santai sambil melihat-lihat ke sekitarnya, mencari sesuatu yang ia butuhkan.

Wang Chan tidak akan membeli senjata magis. Setidaknya untuk saat ini, senjata magis bukan prioritas.

Tapi Pil Spiritual atau Pil Penyempurnaan Jiwa pasti akan menarik perhatiannya.

Pil semacam itu bisa membantunya meningkatkan fondasi kultivasi, memperkuat jiwanya, atau setidaknya memberi sedikit dorongan untuk keluar dari kebuntuan yang ia rasakan akhir-akhir ini.

Ia melihat beberapa pedagang yang tengah menawarkan pil-pil dengan berbagai bentuk dan warna.

Ada yang merah menyala, ada yang biru kehijauan, ada pula yang keemasan dan berkilau di bawah sinar matahari.

"Lihatlah, ini adalah Pil Naga Terbang!" seru seorang pedagang dengan suara lantang.

Pria itu berdiri di balik meja kayu yang dipenuhi puluhan botol kecil. Wajahnya bulat, kumisnya tebal, dan matanya menyipit seperti selalu tersenyum.

"Sangat nyaman untuk bermain bersama pasangan di malam hari sampai pagi. Dijamin kau akan tahan lama!"

Kerumunan orang-orang di dekat penjual itu langsung berdesakan.

Beberapa tertarik dengan apa yang ia tawarkan, ada yang tersenyum-senyum malu, ada pula yang tertawa terbahak-bahak sambil saling menyenggol teman di sampingnya.

Wang Chan menggelengkan kepala.

Pil jenis itu bukan yang ia cari. Ia sudah cukup sibuk dengan urusan kultivasinya sendiri, tidak perlu tambahan urusan lain yang lebih rumit.

"Lalu ini Pil Penyempurnaan Jiwa."

Wang Chan seketika mendekat mendengar itu.

Telinganya seperti berdiri, matanya langsung tertuju pada botol kecil berwarna hijau tua yang dipegang oleh pedagang itu.

Pil Penyempurnaan Jiwa. Ia sudah lama mencarinya, hampir sebulan berkeliling pasar, tapi selalu saja harganya terlalu mahal atau kualitasnya diragukan.

"Paman, berapa harga pil itu?" tanya Wang Chan sambil menyelip di antara kerumunan.

Pedagang itu menoleh, mengamati Wang Chan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Mungkin melihat pakaiannya yang sederhana, mungkin melihat usianya yang masih muda. Tapi senyumnya tidak berubah.

"Tidak mahal. Hanya sepuluh batu sumber!"

Beberapa orang di sekitar perlahan menggelengkan kepala.

Seorang pria paruh baya dengan janggut panjang berseru, "Sepuluh batu sumber? Itu perampokan!"

"Benar, jangan percaya dia!" sahut wanita di sampingnya. "Pil Penyempurnaan Jiwa seharga sepuluh batu sumber? Mana mungkin. Itu pasti palsu."

Wang Chan hanya menghela napas pelan. Ia tahu risikonya. Pasar seperti ini penuh dengan barang palsu.

Tapi ia juga tahu bahwa kadang-kadang, di antara tumpukan sampah, ada harta yang tersembunyi. Dan ia tidak punya banyak pilihan.

"Aku akan membelinya."

Ia menyerahkan sekantong batu sumber yang sudah dihitung.

Kantong kecil dari kain, berisi sepuluh batu sumber tingkat rendah, hasil tabungan dari beberapa misi terakhir.

Pedagang itu menerima kantong tersebut dengan senyum lebar. Matanya berbinar puas.

Dengan gerakan yang cekatan, ia memasukkan Pil Penyempurnaan Jiwa ke dalam botol kecil dari kayu, lalu menutupnya rapat.

Namun tidak hanya satu pil yang ia masukkan.

Tangannya bergerak cepat, mengambil pil lain dari laci di bawah meja, lalu memasukkannya ke dalam botol yang sama.

"Anggap saja ini bonus untukmu, bocah. Awet muda, dan sehat selalu."

Wang Chan hanya mengangguk dan mengambil botol itu. Ia tidak bertanya lebih lanjut tentang pil bonus tersebut.

Mungkin sesuatu yang berguna, mungkin juga sesuatu yang sama sekali tidak ia perlukan.

Tapi tidak sopan rasanya menolak pemberian, meskipun dari pedagang yang baru pertama kali ditemui.

"Terima kasih, Paman."

Ia memasukkan botol itu ke dalam cincin penyimpanannya, lalu berbalik meninggalkan kerumunan.

Di belakangnya, pedagang itu masih berseru menawarkan dagangannya pada orang-orang yang lewat.

Wang Chan tidak menoleh.

Ia berjalan menyusuri pasar yang semakin ramai. Di kanan kirinya, orang-orang lalu lalang dengan urusan masing-masing.

Seorang ibu menarik anaknya yang rewel, dua orang pemuda tertawa bercanda sambil membawa pedang di punggung, seorang nenek tua menawarkan manisan di sudut jalan.

Wang Chan tidak tahu apakah pil yang baru saja ia beli asli atau palsu.

Tapi setidaknya, ia sudah mencoba. Dan itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

Tangannya menyentuh cincin penyimpanan di jari manisnya.

"Pil Penyempurnaan Jiwa," gumamnya pelan. "Kuharap ini benar-benar berfungsi."

Langkahnya terus berjalan, meninggalkan pasar, menuju rumah.

Matahari di atas kepalanya semakin panas.

Pada suatu jalan, di sebuah gang sempit yang harus dilalui Wang Chan untuk pulang, seseorang terlihat berdiri menghalangi.

Cahaya matahari nyaris tidak bisa masuk, hanya sedikit celah dari atas yang menerangi jalan setapak yang becek.

Orang itu mengenakan pakaian hitam dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan topeng sederhana menutupi wajahnya.

Hanya matanya yang terlihat, dua bola mata yang merah karena amarah atau mungkin keputusasaan.

Wang Chan hanya menatapnya sekilas, lalu hendak pergi. Ia tidak punya waktu untuk urusan orang asing di gang gelap.

"Berhenti!" seru orang itu.

Suaranya berat, parau, seperti orang yang sudah lama tidak minum.

Kekuatan spiritual langsung terpancar dari tubuhnya, menekan udara di sekitar mereka.

Wang Chan bisa merasakannya, berat, mencekik, seperti tangan raksasa yang menekan dadanya dari luar.

"Bocah, berikan pil yang kau beli sebelumnya!"

Wang Chan memutar bola matanya malas. Jadi ini masalahnya.

Orang ini pasti melihatnya membeli pil di pasar tadi, dan sekarang mencoba merampoknya di tempat sepi.

"Kenapa? Kau menginginkannya?" suara Wang Chan santai, dingin, tidak terpengaruh oleh tekanan spiritual yang mencoba mengintimidasinya. "Kalau begitu beli sendiri."

"Kau!"

Pria itu mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.

"Serahkan atau mati! Aku tidak sedang main-main. Aku sangat memerlukan pil itu untuk istriku!"

Wang Chan mengernyit. Ada getar keputusasaan di suara itu, bukan sekadar kemarahan.

Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa orang ini mencoba merampoknya.

"Lalu apa hubungannya dengan aku? Kita tidak saling mengenal. Pil ini adalah milikku. Jika kau menghalangi lagi, aku tidak akan diam saja."

Kekuatan spiritual orang itu semakin menguat. Udara di gang sempit itu terasa seperti akan meledak.

Debu-debu kecil di tanah mulai bergetar, dan dinding-dinding bata di samping mereka meretakkan suara pelan.

"Beraninya kau!"

Bwushhh!

Kekuatan spiritualnya meledak. Gelombang tekanan menyebar ke segala arah, membuat beberapa batu kecil terlempar dan pecahan lumut beterbangan.

'Ranah Transformasi Roh?' gumam Wang Chan dalam hati.

Tangan pria berpakaian hitam itu mengepal lebih erat.

Urat-urat di lengannya menonjol, dan dari sela-sela jarinya, energi spiritual berwarna keabu-abuan mulai berputar seperti kabut beracun.

"Hiaaaagh!"

Dengan cepat ia melesat. Tubuhnya yang besar bergerak dengan kecepatan yang tidak terduga, mengejutkan untuk ukuran sebesar itu.

Tinjunya mengarah lurus ke wajah Wang Chan, disertai dengan ledakan Qi yang keras.

Wang Chan hanya memutar tubuhnya sedikit untuk menghindar.

Gerakannya minimal, hampir tidak terlihat. Tinju itu melesat melewati pipinya hanya sejauh satu jari.

Serangan lanjutan datang lagi. Pria itu tidak memberi jeda. Satu pukulan, dua pukulan, tiga pukulan.

Semuanya membabi buta, tanpa pola, tanpa teknik. Hanya amarah dan keputusasaan yang menggerakkan tangannya.

"Serahkan padaku!"

Wang Chan menghindari semua serangan dengan gerakan kecil.

Tubuhnya bergoyang seperti ilalang yang ditiup angin, selalu berada satu inci di luar jangkauan tinju lawan.

Kemudian, dengan satu lompatan mundur, ia menciptakan jarak.

"Kalau mau, ambil sendiri."

Kekuatan spiritual mulai terkumpul di tangan Wang Chan. Tapi bukan seperti biasanya. Energi yang muncul kali ini berbeda.

Hitam. Pekat. Berputar di telapak tangannya seperti pusaran kecil yang menyerap cahaya di sekitarnya.

Pria itu mundur selangkah. Matanya yang merah kini terbuka lebar, campuran antara terkejut dan ketakutan.

"Ada apa dengan kekuatan spiritual itu? Siapa sebenarnya kau?!"

Wang Chan tersenyum kecil.

"Aku?"

Ia mengepalkan tangannya. Energi hitam itu menyusut masuk ke dalam kepalan tangannya, menghilang, tapi meninggalkan tekanan yang justru semakin berat.

Kakinya bertumpu pada tanah becek.

Lalu, dalam satu dorongan, ia melesat.

Wushh!

Satu gerakan. Cepat. Terlalu cepat untuk ditangkap oleh mata telanjang.

Pria berpakaian hitam itu terjatuh ke tanah dengan bunyi yang berat. Tidak mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya.

Satu lengannya mati rasa, dadanya terasa sesak, dan kakinya tidak bisa digerakkan.

Ia hanya bisa terbaring di tanah becek gang sempit itu, terengah-engah, sambil menatap langit-langit yang remang-remang.

Sementara itu, Wang Chan hanya berjalan santai setelah menjatuhkannya. Ia bertingkah seolah tidak ada yang terjadi.

Tangannya dimasukkan ke dalam saku jubahnya, langkahnya tenang, napasnya teratur, seperti baru saja berjalan-jalan biasa di taman.

Pria itu tidak mati. Wang Chan sengaja menahan diri.

Ranah Transformasi Roh bukan lawan yang bisa dianggap enteng, tapi pria ini terlalu buta oleh emosi.

Serangan-serangannya tidak terarah, tanpa strategi, dan itu yang menjadi kelemahannya.

Wang Chan melangkah keluar dari gang sempit itu, meninggalkan pria bertopeng yang masih terbaring lemas di tanah.

Cahaya matahari sore menyambutnya kembali, hangat, terang, sangat kontras dengan kegelapan gang tadi.

Ia menghela napas pelan.

"Pil Penyempurnaan Jiwa memang menarik perhatian banyak orang," gumamnya.

Ia menepuk-nepuk bajunya, membersihkan debu yang menempel, lalu melanjutkan perjalanan pulang.

Di belakangnya, pria itu perlahan bangkit dengan susah payah.

Satu tangannya memegang tembok, tubuhnya masih goyah, dan matanya menatap ke arah Wang Chan yang sudah jauh.

"Siapa sebenarnya bocah itu?" bisiknya dengan suara serak.

Tapi tidak ada yang menjawab.

Hanya angin sore yang berembus pelan, membawa debu dan daun-daun kering melewati gang sempit itu.​

1
yayat
wah2 baru belajar sebntr tp sudah nunjukin perubhn besar berarti harus swring kultivasi ganda ni sama ketiga wanitanya biar cept ningkt lg ahaaay
Cecilia: kalau kultivasi ganda nanti di alam atas lebih sering wkwk
total 2 replies
syarif ibrahim
kayaknya bakalan kalah wang Chan nih.... /Frown//Grimace//Cry/
syarif ibrahim
terlalu cepat ya... /Determined/🤭🙏
yayat
akan kn wang chen menang n menjadi musuh keluarga wen
Cecilia: ehehe, ikuti terus kisahnya kak
total 1 replies
yayat
wah adenya mlh belain wang chen ni suka sepeetinya
yayat
ada yg cemburu ni kayanya
Windhana Binar
Awal yg bagus Thor 👍👍👍👍
Cecilia: iyeyy
total 1 replies
yayat
yg 3 blm diberesin dah nambh lg ja ni penjhat kelamin ahaaay
yayat
wang chen jdi golongn hitam donk nantinya karna belajar ilmu iblis langit
yayat: boleh kita liat apa makin seru or mlh jauh dari expetasi
total 4 replies
yayat
jadi golongn hitam donk wang chen
Swushe
suka bangett mcnya, lagi males? ya kabur. ditantangin ya serius. asik banget lagi cara ngomongnya yang kadang ngawur wkwk
Swushe
Liu Chiyang >>>>>>> semua cewek. Mana ada guru sekelas dia? Cantik, anggun, strong, trus ketahuan coly sama muridnya sendiri 🤣🤣🤣 aku ngakak campur malu bacanya. Tapi justru itu bikin karakternya hidup.
yayat
wah wah 3 wanita ni sepeetinyw
yayat
pilnya campur obat perangsang ni
yayat
wah rada beda ya penyebutan ranahnya dengn yg lain2 lanjut
Cecilia: ehehe, nyoba ngambil dari TOHG sama my senior brother
total 1 replies
yayat
tingkatkn terus kekuatannya biar bisa melindungi yg disayang
yayat
lanjutlah sampai tamat ya
yayat
lari bersama susah bersama latihan bersama n hidup bersama asal jngn salh 1nya peegi jd ga seru nanti kurang greget
yayat
baru diawal alurnya dah alus mengalir ga ribet ga bikin mikir bacanya moga konsisten n terus jd lbh baik n bikin pembaca betah
Cecilia: siappp kak
total 1 replies
Mommy Chen Xi
Suka banget sama tipe MC gini. Bukan sok suci, bukan pahlawan yang rela mati buat orang lain. Pas desanya diserang, dia milih ninggalin yang lain. Brutal sih, tapi logis. Dia sadar diri lemah, makanya lari dulu, hidup dulu. Utama kan diri sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!