Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGI MENINGGALKAN PASAR CIBINONG
Demi keamanan dirinya dan kelompoknya, Rian memutuskan untuk tidak tinggal lebih lama.
Instingnya terus memperingatkan bahaya.
Bukan bahaya dari zombie.
Bukan juga dari monster.
Melainkan dari sosok Pedagang Lintas Dimensi itu sendiri.
Makhluk tersebut terlalu misterius.
Terlalu kuat.
Dan yang paling penting...
Terlalu tertarik padanya.
Rian menggenggam kemudi mobil erat-erat.
Keringat dingin membasahi dahinya.
"Ayo kita pergi dan lanjutkan perjalanan."
Ucapannya terdengar tenang, tetapi orang yang mengenalnya cukup lama bisa mendengar sedikit ketegangan dalam suaranya.
Di belakang, pedagang tua itu masih berdiri di dekat gerobaknya.
Senyum tipis tetap menghiasi wajahnya.
Seolah mengetahui alasan sebenarnya mengapa Rian memilih pergi secepat ini.
Namun ia tidak berusaha menghentikan mereka.
Ia hanya melambaikan tangannya perlahan.
"Hehehe..."
"Sampai jumpa lagi, manusia yang menarik."
Rian tidak menoleh.
Bahkan tidak sedikit pun.
Ia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi pengemudi.
"Masuk semuanya. Sekarang."
Teman-temannya saling berpandangan.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi.
Namun melihat ekspresi Rian yang tidak biasa, tidak ada yang mengajukan pertanyaan.
Satu per satu mereka masuk ke dalam mobil.
Brummm!
Mesin tua itu langsung menyala.
Detik berikutnya, mobil melesat meninggalkan Pasar Cibinong.
Rian terus menginjak pedal gas.
Gedung-gedung yang rusak berlalu dengan cepat di sisi jalan.
Beberapa zombie terlihat berkeliaran.
Namun ia sama sekali tidak tertarik berhenti.
Bahkan sebuah supermarket besar yang masih terlihat utuh di depan mereka dilewati begitu saja.
"Biasanya kau pasti berhenti di sana," kata Ridho.
"Kita kekurangan persediaan."
"Kita cari tempat lain."
Jawab Rian singkat.
Nada suaranya membuat Ridho memilih diam.
Sekitar satu jam kemudian.
Barulah Rian mulai sedikit tenang.
Jarak mereka dari Pasar Cibinong sudah cukup jauh.
Bahkan gedung-gedung tinggi kota perlahan mulai berganti menjadi area pinggiran yang lebih sepi.
Rian akhirnya menepikan mobil di dekat sebuah minimarket kecil yang sudah hancur setengah.
Brak.
Pintu mobil terbuka.
"Kita istirahat sepuluh menit."
Semua orang langsung turun.
Rahma meregangkan tubuhnya.
"Punggungku hampir patah."
"Setidaknya kita masih hidup," sahut Budi.
Sementara yang lain beristirahat, Rian mengamati sekitar.
Tidak lama kemudian, beberapa zombie mulai mendekat.
Jumlahnya sekitar delapan ekor.
Level mereka masih rendah.
Namun bagi kelompok biasa, jumlah itu tetap berbahaya.
Rian mengeluarkan pisaunya.
"Kita bersihkan."
"Siap!"
Kali ini suasana berbeda dibanding sebelumnya.
Tidak ada lagi kepanikan.
Tidak ada lagi ketakutan berlebihan.
Mereka sudah mulai terbiasa bertarung.
Slash!
Ridho menebas satu zombie.
Crack!
Indah membekukan dua lainnya.
Rahma menahan pergerakan musuh menggunakan akar tumbuhan.
Sedangkan Nadia bergerak cepat di antara celah-celah pertarungan.
Beberapa menit kemudian.
Semua zombie berhasil dibersihkan.
Kristal-kristal jiwa segera dikumpulkan.
Jumlahnya memang tidak banyak.
Namun setiap kristal tetap sangat berharga pada tahap awal kiamat.
Rian memasukkan hasil rampasan ke dalam cincinnya.
Lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Begitulah pola mereka selama beberapa jam berikutnya.
Menemukan tempat yang masih memiliki persediaan.
Membersihkan zombie.
Mengumpulkan kristal.
Kemudian bergerak lagi.
Tanpa disadari, kerja sama kelompok mereka semakin baik.
Bahkan Budi dan Ridho mulai mampu mengombinasikan kemampuan mereka.
Api dan es yang sebelumnya digunakan secara terpisah kini mulai dipakai secara bergantian untuk mengontrol medan pertempuran.
Menjelang sore.
Langit perlahan berubah jingga.
Matahari yang tertutup awan gelap memberikan cahaya redup yang membuat dunia terlihat semakin suram.
Saat itulah.
Cincin di tangan kiri Rian kembali bereaksi.
"...?"
Rian langsung menunduk.
Panas.
Meski tidak sekuat sebelumnya, cincin itu jelas memberikan reaksi.
Mobil perlahan melambat.
"Ada apa?" tanya Nadia.
Rian tidak langsung menjawab.
Tatapannya tertuju ke arah sebuah jalan kecil yang bercabang dari jalan utama.
Jalan itu menuju kawasan perumahan yang tampak sepi.
Tidak ada manusia.
Tidak ada suara.
Namun cincin itu terus terasa hangat.
Semakin lama semakin jelas.
Jantung Rian berdetak sedikit lebih cepat.
Reaksi seperti ini tidak pernah muncul tanpa alasan.
Pada kehidupan sebelumnya, setiap kali cincin tersebut bereaksi, selalu ada sesuatu yang bernilai besar di dekatnya.
Bisa berupa artefak.
Bisa berupa material langka.
Atau bahkan peluang yang mampu mengubah masa depan seseorang.
"Belok ke sana?"
Tanya Ridho.
Rian terdiam beberapa saat.
Kemudian mengangguk perlahan.
"Ya."
Mesin mobil kembali menyala.
Mereka memasuki jalan kecil tersebut.
Semakin jauh masuk, suasana menjadi semakin sunyi.
Rumah-rumah di kiri dan kanan terlihat kosong.
Sebagian pintunya terbuka.
Sebagian lagi penuh bekas darah.
Tidak ada satu pun tanda kehidupan.
Lalu...
Tiba-tiba.
Panas dari cincin meningkat drastis.
Hampir seperti saat berada di dekat Pedagang Lintas Dimensi tadi.
Ekspresi Rian langsung berubah serius.
"Berhenti."
Mobil segera berhenti.
Semua orang menoleh ke arahnya.
Rian turun perlahan.
Tatapannya tertuju pada sebuah rumah dua lantai yang berada di ujung jalan.
Rumah itu terlihat biasa.
Bahkan terlalu biasa.
Namun cincin di tangannya terasa hampir terbakar.
Seolah sedang berteriak.
Di sana.
Benda yang dicari berada di sana.
Rian menatap rumah tersebut selama beberapa detik.
Kemudian sudut bibirnya perlahan terangkat.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Pasar Cibinong, ia benar-benar merasa bersemangat.
Karena ia tahu.
Apa pun yang tersembunyi di dalam rumah itu...
Nilainya kemungkinan tidak kalah besar dibanding Kartu Teleportasi yang baru saja ia dapatkan.