"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.
Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas hari pertama
Gema azan Subuh yang syahdu lamat-lamat terdengar dari pelantang suara masjid desa yang jauh, membelah keheningan fajar di Desa Sukamukti. Kumandang itu sekaligus menjadi alarm alami bagi seluruh penghuni posko KKN.
Satu per satu pintu kamar terbuka. Dalam waktu singkat, dua belas mahasiswa yang masih bermuka bantal namun sudah berwudu itu berkumpul di ruang tengah. Suasana dingin mencekam khas jam lima subuh di tengah sawah mendadak terasa lebih hangat karena kehadiran mereka.
Karpet panjang kembali digelar. Wisnu, yang sudah rapi mengenakan baju koko dan sarung, kembali berdiri di depan sebagai imam. Di belakangnya, barisan saf laki-laki terbentuk, termasuk Arman yang berdiri di ujung saf, mencoba fokus sepenuhnya pada ibadah meski pikirannya masih terngiang kejadian di depan kamar mandi tadi.
Sementara itu, Kanaya berada di saf perempuan bersama Mely dan Lisa. Ia mengenakan mukena putihnya, mencoba menata hatinya yang sempat goyah agar bisa beribadah dengan khusyuk.
"Allahu Akbar..." Suara Wisnu terdengar mantap memulai salat, memimpin sebelas orang lainnya dalam keheningan subuh yang sakral.
Di luar, langit perlahan berubah dari hitam pekat menjadi biru tua keunguan. Setelah salam terakhir diucapkan dan doa bersama selesai dipanjatkan, beberapa anggota tampak masih duduk berzikir, sementara yang lain mulai meregangkan otot-otot yang kaku.
"Oke, kelompok satu!" Wisnu berbalik setelah merapikan sajadahnya, menatap ke arah Kanaya, Lisa, dan Arman yang masih berada di ruang tengah. "Habis ini kita langsung bagi tugas di dapur ya, biar sarapan siap sebelum jam tujuh."
Kanaya mengangguk pelan. Pertemuan canggung subuh ini baru saja dimulai, dan kini ia harus bersiap menghadapi beberapa jam ke depan di dalam dapur yang sempit bersama orang-orang dari masa lalu dan masa depannya.
Suasana dapur posko yang berukuran tidak terlalu besar itu mendadak sibuk begitu matahari pagi mulai mengintip dari balik bukit. Cahaya fajar yang masuk lewat ventilasi menyinari empat anggota kelompok satu yang kini sudah berkumpul untuk menunaikan tugas piket pertama mereka.
Wisnu, dengan jiwa kepemimpinannya yang cekatan, langsung mengambil kendali untuk membagi tugas agar tidak ada yang canggung atau kebingungan.
"Oke tim, karena ini hari pertama dan kita butuh menu yang cepat tapi mengenyangkan, gimana kalau kita bikin nasi goreng gila sama dadar gulung? Bahannya kemarin kan sudah lengkap kita beli," usul Wisnu sambil membuka kardus logistik di sudut dapur.
"Setuju banget, Kak Wisnu! Pas banget perut udah keroncongan," sahut Lisa dari Geografi yang langsung bergerak mengambil wajan besar dan menyalakan kompor gas. "Aku bagian yang megang spatula ya, bagian goreng-goreng."
"Kalau gitu, aku yang bagian potong-potong bumbunya, Lis," timpal Kanaya. Ia melangkah menuju meja konter dapur, meraih pisau dan talenan, lalu mulai mengupas bawang merah dan bawang putih yang diambil dari kantong belanjaan. Rambut sebahunya ia ikat rapi ke belakang agar tidak mengganggu pekerjaannya.
Melihat kedua perempuan itu sudah berbagi tugas, Wisnu menoleh ke arah Arman yang sejak tadi berdiri agak canggung di dekat pintu dapur. "Man, lo bisa bantu angkat galon air yang baru ke dispenser depan? Sama sekalian minta tolong ulek cabai sama merica buat bumbu nasi gorengnya, ya. Bisa, kan?"
Arman mengangguk pelan. "Bisa, Wis."
Arman pun melangkah mendekat ke arah meja konter, mengambil cobek batu yang terletak hanya berjarak beberapa jengkal di sebelah posisi Kanaya berdiri. Keberadaan Arman yang begitu dekat membuat Kanaya sempat menahan napas sejenak. Aroma sabun berpadu sisa air wudu dari tubuh Arman entah bagaimana masih terasa familier di indra penciumannya.
Dapur yang semula sunyi kini dipenuhi riuh suara pisau Kanaya yang beradu dengan talenan, denting ulekan Arman, serta suara minyak panas dari kompor Lisa. Di antara kesibukan itu, Wisnu dengan luwes sesekali menghampiri Kanaya, membantu mengambilkan kecap atau sekadar melempar candaan kecil yang membuat Kanaya tersenyum nyaman.
Dari sudut matanya, sambil terus mengulek cabai dengan ritme konstan, Arman merekam setiap interaksi manis itu. Dadanya berdenyut perih melihat bagaimana Kanaya bisa tersenyum lepas pada Wisnu—senyuman hangat yang sudah sangat lama tidak pernah Kanaya tunjukkan lagi kepadanya sejak hubungan mereka hancur. Di dapur sederhana yang dikelilingi enam petak sawah itu, Arman kembali dipaksa menelan pil pahit akibat kesalahannya di masa lalu.