NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Dibuang Suami, Dicintai Presdir Tampan.

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Suami
Popularitas:17.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.

Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Jawaban itu membuat kedua orang tuanya saling berpandangan dan entah kenapa mereka merasa bangga, sangat bangga. Sarapan pun akhirnya dimulai dan membuat para pelayan mulai menyajikan berbagai makanan. Namun suasana pagi itu terasa jauh lebih hangat dibandingkan sebelumnya.

Mereka mengobrol, membahas hal-hal sederhana dan untuk pertama kalinya setelah malam yang menghancurkan itu, Kanisha terlihat benar-benar hadir di sana. Bukan sekadar tubuhnya tetapi juga pikirannya, hingga beberapa saat kemudian, Rendra akhirnya meletakkan garpunya lalu menatap putrinya.

"Kanisha."

Wanita itu langsung mengangkat wajahnya.

"Iya, Pa?"

Rendra tersenyum tipis.

"Papa mau ngajak kamu ke kantor hari ini."

Kanisha terdiam sementara Dahlia ikut memperhatikan. "Sudah terlalu lama kamu ninggalin perusahaan." Tatapan Kanisha berubah serius. "Papa mau kamu balik lagi ke kantor." Pria itu bersandar perlahan ke kursinya. "Balik bantu papa ngurus Winata Group."

Ruangan mendadak hening, Dahlia menunggu jawaban putrinya begitu juga Rendra. Beberapa detik berlalu lalu perlahan senyuman tipis muncul di bibir Kanisha. Senyuman yang membuat kedua orang tuanya langsung memahami jawabannya bahkan sebelum wanita itu berbicara.

"Kanisha mau, Pa."

Deg, Dahlia langsung tersenyum lebar sementara Rendra terlihat sangat puas. Kanisha mengangguk sekali lagi yang kali ini terlihat lebih mantap.

"Mulai hari ini..." Tatapannya terlihat jauh lebih kuat. "Kanisha akan kembali bekerja."

Sinar matahari pagi menyinari wajahnya dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kanisha tidak lagi terlihat seperti wanita yang hancur karena cinta, melainkan seorang wanita yang sedang bersiap mengambil kembali dunia yang pernah ia tinggalkan.

Sementara itu...

Jauh dari hangatnya suasana yang sedang dirasakan Kanisha bersama kedua orang tuanya di kediaman keluarga Winata, keadaan di kediaman Mahendra justru berbanding terbalik. Rumah besar yang biasanya terasa tenang itu pagi ini dipenuhi suara tangisan seorang anak kecil yang sejak semalam tidak pernah benar-benar berhenti.

"Nggak mauuuuu...!"

Tangisan Naira kembali menggema di seluruh ruang keluarga. Gadis kecil itu duduk di atas sofa sambil memeluk boneka kelincinya erat-erat. Wajah mungilnya sudah sembab, matanya merah, hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis. Sejak Kanisha pergi semalam, Naira hampir tidak berhenti menangis. Bahkan ketika akhirnya tertidur karena kelelahan, gadis kecil itu tetap terbangun beberapa kali hanya untuk kembali menangis dan memanggil nama yang sama.

"Mama..." Air mata kembali mengalir di pipinya. "Naira mau mama Kanisha..."

Di depannya, Selena yang sejak tadi berusaha membujuk mulai merasa kepalanya berdenyut. Sejujurnya kesabarannya sudah berada di batas paling akhir. Sejak pagi ia sudah mencoba berbagai cara untuk menghentikan tangisan putrinya dengan merayunya akan membelikan mainan baru, membelikan boneka, membelikan cokelat bahkan membiarkan Naira memilih berbagai barang yang biasanya tidak diperbolehkan. Namun semuanya sia-sia karena setiap kali Naira berhenti menangis beberapa menit, anak itu akan kembali mengingat Kanisha lalu semuanya dimulai lagi dari awal.

"Naira sayang..." Selena berusaha tersenyum. "Lihat deh, mama beliin boneka baru buat kamu."

"Nggak mau!"

"Naira bisa main sama mama."

"Nggak mau! Tante bukan mama, Naira!"

"Nanti kita jalan-jalan ya?"

"Nggak mauuuuu!" Tangisan Naira semakin keras. "Naira mau mama Kanisha!"

Deg, urat di pelipis Selena langsung berkedut.

Nama itu lagi, Kanisha lagi. Sejak semalam yang keluar dari mulut anak itu hanya nama Kanisha, seolah selama ini semua yang ia lakukan tidak berarti apa-apa, seolah dirinya hanyalah orang asing, padahal ia adalah ibu kandung Naira. Ia yang melahirkan anak itu, Ia yang mengandungnya selama sembilan bulan, Namun sekarang? Anaknya sendiri justru terus mencari wanita lain dan kenyataan itu membuat Selena semakin kesal.

"Naira!" Suara Selena akhirnya meninggi dan membuat beberapa pelayan yang berada tidak jauh dari sana langsung terdiam.

Gadis kecil itu ikut terkejut, tangisnya bahkan sempat berhenti sesaat. Namun hanya sesaat karena beberapa detik kemudian air mata kembali mengalir yang membuat Selena berdiri sementara dadanya naik turun menahan emosi.

"Cukup!" Bentaknya. "Nggak usah sebut-sebut nama Kanisha terus!"

Naira langsung membeku. Matanya yang merah menatap Selena dengan takut namun Selena yang sudah kehilangan kesabaran tetap melanjutkan.

"Mama capek dengernya!" Tangannya mengepal. "Dari semalam yang kamu cari cuma Kanisha! Kanisha! Kanisha! Dia bukan mama kamu! Mama kamu adalah aku."

Air mata Naira kembali jatuh, tubuh kecil itu mulai gemetar.

"Naira cuma mau mama..."

"Dia udah pergi!" Bentak Selena. "Dan dia nggak bakal balik lagi ke rumah ini!"

Kalimat itu membuat tangisan Naira semakin pecah, anak kecil itu langsung menangis histeris.

"Mamaaa...!"

Tangisnya menggema di seluruh rumah sementara Selena memejamkan mata kuat-kuat. Ia benar-benar merasa kesal, sangat kesal karena yang ia inginkan setelah Kanisha pergi adalah hidup yang tenang bersama Arven, namun kenyataannya tidak seperti itu. Yang ia dapatkan justru seorang anak kecil yang terus menangisi wanita lain.

Di sisi lain rumah, tepatnya di ruang kerja pribadi milik Arven. Pria itu duduk santai di depan laptopnya, wajahnya terlihat datar seolah semua kekacauan yang sedang terjadi di rumah itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Padahal suara tangisan Naira bahkan terdengar sampai ke ruangan tempatnya berada namun Arven sama sekali tidak terganggu. Ia hanya mengetik beberapa hal di laptop sembari sesekali melihat layar ponsel lalu kembali memeriksa laporan presentasinya sebelum ia gunakan dalam pertemuan bisnis dengan klien pagi ini.

Ketika salah seorang pelayan masuk untuk menyampaikan bahwa Naira kembali menangis, respon Arven bahkan nyaris tidak berubah.

"Nggak berhenti nangis, Pak."

Pelayan itu terlihat canggung namun Arven hanya mengangguk.

"Nanti juga capek sendiri."

Pelayan itu terlihat bingung.

"Tapi sejak semalam..."

"Aku dengar." Potong Arven datar, pria itu menutup laptopnya perlahan. "Lagipula aku udah punya solusi."

Pelayan itu mengangkat alis.

"Solusi, Pak?"

"Aku bakal cari pengasuh buat Naira."

Jawaban singkat itu membuat pelayan tersebut terdiam. Arven lalu berdiri.

"Mungkin Naira cuma terlalu bergantung sama Kanisha." Pria itu merapikan manset kemejanya. "Kalau ada pengasuh baru, lama-lama dia juga terbiasa."

Dan sesederhana itu, tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa kehilangan, tidak ada sedikit pun usaha untuk memahami apa yang sedang dirasakan putrinya. Baginya semuanya hanya masalah kebiasaan, sebuah kebiasaan yang nanti akan hilang dengan sendirinya. Beberapa saat kemudian setelah menyerahkan Naira kepada salah seorang pelayan senior untuk dijaga sementara waktu, Selena akhirnya meninggalkan ruang keluarga. Ia benar-benar merasa lelah bukan karena mengurus anak, tetapi karena harus mendengar tangisan dan rengekan Naira tanpa henti sejak pagi.

Langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua, menyusuri koridor panjang kemudian berhenti di depan sebuah kamar.

Kamar utama.

Kamar yang selama lima tahun terakhir ditempati Arven dan Kanisha. Entah mengapa, saat berdiri di depan pintu itu, Selena sempat tersenyum kecil karena sekarang tidak ada lagi Kanisha, tidak ada lagi wanita itu di rumah ini. Selena mendorong pintu perlahan dan masuk ke dalam. Di dalam kamar, Arven yang barusaja kembali dari ruang kerjanya, langsung berdiri di depan cermin besar. Pria itu mengenakan setelan jas berwarna gelap.

1
Rain Aricia
Bagus banget sih ini, emosinya dapat. Mc nya gak menye2 dan langsung gerak🤩
Rain Aricia
Papanya aku suka, langsung gercep
Rain Aricia
Malu lah ya, masa jadi laki2 ga punya duit, mana dia selingkuh pake duit istrinya. Kocak kali dua sejoli ini🤣
Rain Aricia
Memang gilanya Arven itu, orang2 kayak gitu emang merasa ga ada dosa sih
Rain Aricia
Biasalah pa, ulahnya si lelaki tak tau diri itu
partini
si kamfreeet belum juga sadar
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: emang Gedeg itu si Arven kak, btw makasih ya udah mampir baca ke karya aku🙏😍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
The best 👍👍👍👍👍👍👍

dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terima kasih banyak kak 🙏😍
total 1 replies
Suhadi Mulyo
mampus
Suhadi Mulyo
alasannya itu Mulu kamu ven
Suhadi Mulyo
teruskan pak, buat mereka sadar dan tahu diri kl perlu.
Suhadi Mulyo
menantu apanya? anaknya sendiri selingkuh masa bapaknya nggak tahu
Suhadi Mulyo
kata siapa keluarga? udah enggak ya, sorry nih 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
tanya saja sama anakmu, pak.
Suhadi Mulyo
dengerin, makanya jadi orang itu yang punya sedikit rasa syukur, udah dikasih bantuan plus istri cantik malah banyak tingkah 🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
cowok selingkuh bermuka tebal🤣🤣🤣
Suhadi Mulyo
makanya jadi cowok tu jangan kebanyakan polah
Suhadi Mulyo
nggak malu ta pak sampe datang ke besan cuma mau nanya soal bantuan? waduh bapak anak nggak ada malunya
Suhadi Mulyo
kalau begini terus kerjaannya mereka, ya bangkrut lagi perusahaannya.
Suhadi Mulyo
kamu nggak denger ya ven apa kata asisten kamu tadi? udah red flag, tuli juga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!