NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uang 50 Juta

Satura terbaring meringkuk di balik selimut, berusaha menenangkan napas yang masih memburu. Detak jantungnya masih berpacu cepat.

Kenikmatan yang sedari tadi meledak begitu dahsyat kini perlahan memudar. Satura berbalik, menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.

Wanita di sebelahnya bergumam pelan, suaranya lembut, namun ia hampir tak mendengarnya. Bahkan nama wanita itu pun tak lagi teringat di benaknya. Rasa malu dan bingung bercampur menjadi satu.

Kenapa ia bisa merasa begini?

Ia datang ke sini untuk mencari pelarian, untuk melepaskan penat. Ia sudah meyakinkan diri bahwa kenikmatan sesaat ini cukup, setidaknya bisa menjadi jeda dari segala beban yang menindasnya. Namun kini, setelah puas, kesendiriannya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

Wanita itu bergerak sedikit, sama sekali tak menyadari gejolak yang Satura rasakan. Satura buru-buru memalingkan wajah, menyembunyikan ekspresinya. Dadanya terasa sesak saat air mata kembali menetes.

Ia tak mengerti dari mana datangnya kesedihan ini, tapi rasanya begitu menyakitkan. Dalam diam itu, Satura sadar, sekeras apapun ia mencoba mengisi kekosongan itu, rasa itu akan selalu kembali. Dan kali ini, kehampaan itu terasa jauh lebih dalam.

...***...

“Sudah ku transfer 50 juta ke rekeningmu. Kabari kalau butuh lagi.”

Vandini merasakan perih yang saat membaca pesan itu. Rasa kesal dan bingung perlahan menguar di dadanya. Ia menghela napas panjang lalu meletakkan ponselnya. Namun belum sampai semenit, alat itu kembali bergetar.

“Kurang? Mau kutambah lagi?”

Hanya dalam beberapa hari terakhir, Satura terus mengirim pesan soal uang. Pria itu bersikeras menyuruhnya mengambil uang dari rekening bersama, dan kini bahkan mulai mentransfer langsung dari tabungan mereka ke rekening pribadinya.

Vandini selesai menidurkan anak-anak, berusaha mengusir perasaan tak nyaman itu, tapi pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di kepalanya, membuatnya semakin gelisah setiap kali Satura menghubungi. Ponselnya kembali berdering, kali ini panggilan masuk. Vandini menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, lalu mengangkatnya.

“Halo, Satura,” ucapnya berusaha terdengar tenang.

“Vandini, bagus kalau kamu angkat.” Suara Satura terdengar datar dan kaku. “Aku cuma mau mastiin, kamu sudah terima transferannya kan? Aku baru saja kirim tambahan 5 juta. Buat jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak buat anak-anak.”

Vandini terdiam sejenak, rasa kesal kembali merambat. “Iya, Satura, sudah terima.”

“Begini, aku cuma mau mastiin kamu gak kekurangan apa-apa,” desak Satura, nada suaranya menyiratkan urgensi yang dipaksakan. “Aku gak mau kamu pusing mikirin uang atau susah bayar tagihan.”

Vandini mengatupkan rahangnya kuat-kuat. “Satura, kami baik-baik saja. Aku dan anak-anak... kami gak butuh uang terus-menerus begini.”

“Baik-baik aja?” Satura mengulang kata itu seolah terdengar tak masuk akal baginya. “Vandini, ayolah. Aku gak mau kamu harus berpikir dua kali cuma buat beli makan atau bayar keperluan sekolah mereka. Ini ... ini kan hal yang seharusnya kulakukan.”

“Hal yang seharusnya kamu lakukan?” Vandini membalas, nada suaranya mulai tak bisa menyembunyikan kekesalan. “Satura, uang gak akan menyelesaikan semua masalah ini.”

Ada keheningan sejenak di ujung telepon, lalu terdengar helaan napas panjang. “Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, Vandini. Aku sedang bertanggung jawab di sini.”

Rasa frustrasi Vandini memuncak, jari-jarinya mengepal kuat memegang ponsel. “Satura, kamu menganggap semua ini cuma soal uang. Kamu telepon seenaknya, kirim transferan ini-itu... seolah-olah ini urusan bisnis. Menurutmu cuma itu yang aku butuhkan?”

“Vandini, jangan konyol,” potong Satura dengan nada kesal. “Aku sedang berusaha membantu, tapi sikapmu seakan aku melakukan kesalahan besar. Kamu harusnya gak ... Gak sekeras kepala ini menerimanya.”

Vandini terpana, amarahnya mulai mendidih. “Aku gak butuh uangmu! Aku butuh suamiku! Kamu jauh lebih peduli soal setoran dan transferan daripada peduli pada kami selama ini.”

Lagi-lagi hening. Saat Satura berbicara lagi, suaranya terdengar lebih pelan dan ragu. “Begini ... aku pikir kamu pasti senang tahu kondisi keuangan kita aman. Bukannya... bukannya tu yang paling penting sekarang?”

Jempol Vandini menekan layar ponsel begitu kuat hingga ia takut alat itu akan pecah. Apa benar begini cara pikir suaminya?

Apa uang bisa menutupi semua luka yang ia buat?

“Satura, kamu selalu terobsesi soal uang, tapi rasanya... rasanya hati ini gak pernah berarti apa-apa buatmu.”

Kesunyian menyergap di seberang sana. Akhirnya Satura bersuara, suaranya terdengar tercekat. “Vandini ... itu gak adil. Aku... aku cuma pingin bertanggung jawab. Aku sedang berusaha menjadi laki-laki,” ucapnya dengan suara yang mulai pecah.

Vandini menatap layar ponselnya, terpukul mendengar alasan itu. “Menjadi laki-laki?” ulangnya dengan nada penuh cemoohan. “Jadi menurutmu begitu caranya? Kamu pikir dengan jadi 'pemberi uang', melempar uang ke aku seenaknya, semua kesalahanmu bisa hilang begitu saja?”

“Vandini, apa lagi yang harus kulakukan?” suara Satura terdengar membela diri. “Bertanggung jawab, memastikan kamu dan anak-anak terpenuhi kebutuhannya?”

Vandini terkekeh sinis. “Menjadi laki-laki itu bukan soal uang, Satura. Laki-laki itu tahu cara menghargai dan setia pada istrinya.”

“Ya sudah,” gumam Satura terdengar sangat frustrasi. “Kalau begitu aku salah...”

“Bukan, Satura,” potong Vandini cepat, amarahnya meledak. “Kamu gak cuma salah. Kamu sudah membuat pilihan. Dan pilihan kamu di luar sana memilih jalan itu, aku di sini, di pernikahan ini, sendirian.”

“Aku pikir itu yang kamu mau,” suara Satura terdengar seperti bisikan. “Aku kira ... rasa aman... aku pikir itu udah cukup.”

“Gak!” bentak Vandini, emosinya meluap. “Rasa aman itu bukan soal uang, Satura! Soal kepercayaan! Soal tahu kalau ada orang yang benar-benar ada buat kamu, yang gak akan mengkhianatimu, dan gak meninggalkanmu sendirian menanggung semua akibat dari ulahmu!”

Keheningan yang berat membentang di antara mereka. Beban yang terucap terasa begitu menyakitkan. Vandini menunggu, tangannya gemetar memegang telepon

Satura tak menjawab sepatah kata pun. Rasa marah yang membara membuat Vandini tak lagi sanggup berpikir panjang. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menjauhkan ponsel dari telinga dan menekan tombol merah dengan tegas. Layar menjadi gelap seiring helaan napasnya yang bergetar, namun tekad di hatinya kini terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!